“Kamu sudah ke butik?” “Sudah, foto gaun pengantin aku kirim nanti sore di ponselmu. Biar kamu bisa sesuaikan.” Zayne mengangguk, menatap Arielle yang sibuk menyuapi si bayi. Kedekatan keduanya bukan pura-pura. Si bayi begitu bergantung pada Arielle dan gadis itu pun terlihat sangat tulus dalam merawat. Akan susah untuk memisahkan keduanya. “Kamu ingin mas kawin apa?” Arielle mendongak, menatap heran. “Mas kawin? Bukannya ada cincin?” Zayne menggeleng. “Beda, harus menyiapkan mahar. Sebutkan saja kamu mau apa?” Arielle tidak terpikirkan apa pun soal mahar. Ia akan menikah saja sebuah ide yang masih tidak masuk akal menurutnya. Bagaimana mungkin memikirkan soal mahar? “Nggak kepikiran,” gumamnya. “Bagaimana kalau tanya Pak Robert?” Zayne berdecak tak percaya. “Hei, yang akan menika

