Jam sembilan tiga puluh semua orang mulai bertanya-tanya. Begitu pula Arielle. Hatinya terasa nyeri seketika. Ia takut, bagaimana kalau Zayne membatalkan janji untuk menikah. Bagaimana kalau laki-laki itu ternyata tidak mau datang? Apa yang harus dilakukannya? “Arielle! Aku datang!” Dari arah pintu sesosok laki-laki dalam balutan jas putih menerobos masuk. Wajah tampannya berkeringat dengan napas ngos-ngosan, berdiri sambil bertelekan pada meja. “Ki—kita menikah seka—rang.” Arielle mengembuskan napas lega, begitu pula para tamu yang lain. Robert bahkan meremas lembut bahu Zayne. Wajahnya yang semula menegang kini kembali santai. Para tamu undangan yang kebanyakan adalah para pegawai kantor pengacara Robert, mulai merapat. Begitu pula para WO yang menangani acara. Persiapan pemberkatan

