“Bagaimana ini? Kamu lihat bukan? Si b******n itu berulah.” Seorang perempuan cantik, mendekati dengan langkah gemulai pada laki-laki yang duduk di sofa. “Kenapa, kamu galau?” “Tentu saja. Kamu jelas tahu karena tindakannya, semua rencanaku bubar!” “Bubar hanya satu bagian tapi tidak yang lain. Ingat, kamu cukup berkuasa juga di keluarga itu.” Si laki-laki mendesah, menatap pemandangan luar berupa gedung-gedung bertingkat dari tempatnya. Ia memangku jabatan yang cukup mentereng tapi tidak cukup untuk mendapatkan semua yang diinginkan. Bukan jabatan ini yang dimau, melainkan direktur perusahaan induk, dan Zayne sudah merebutnya. “Rasanya seperti bersaing dengan setan,” gumam si lelaki. Mengalihkan pandangan dan menatap langit-langit ruangan. Wajahnya menyiratkan kekesalan dan kekecewa

