BAB 9

1015 Words
"Na..." Yuna beranjak dari tempat duduknya, berniat pergi untuk meninggalkan Renan. Namun, dengan cepat Renan menarik Yuna ke dalam dekapannya. Tubuh Yuna membeku, mendapatkan kehangatan dari tubuh Renan. Napasnya menerpa tengkuk leher Yuna. Renan benar-benar memeluk Yuna dengan sangat erat. "Please jangan pergi, jangan hukum aku seperti ini Yuna," pinta Renan dengan suara yang gemetar. Yuna masih terdiam, buliran air matanya menggenang di pelupuk matanya. Rasa sakit itu masih membekas, dadanya terasa sangat sesak. "Yuna..." suara Renan semakin gemetar. Mendengar suara Renan membuat air mata yang sejak tadi Yuna bendung pun, terjun membasahi pipinya. Isak kan Yuna terdengar oleh Renan, tubuh Yuna ikut gemetar karena menahan tangis yang sangat hebat. "Nangis aja Na, nangis... Aku pastikan ini air mata kesedihan kamu yang terakhir," bisiknya tepat di telinga. Yuna memejam matanya, ingin sekali dia mengelak perkataan Renan. Dia sudah tidak ingin percaya, kemana selama lima tahun ini? Kenapa baru sekarang dia mencari dirinya. "Lepas, aku gak mau ada hubungan apa-apa denganmu mas!" tolak Yuna yang berusaha ingin lepas dari pelukkan Renan. Tapi, tenaganya tidak cukup kuat untuk melepaskan pelukan Renan. Energinya seolah hilang dan pada akhirnya hanya bisa pasrah. "Gak, aku gak mau kamu pergi lagi. Aku bakal perjuangin kamu Yuna, aku sekarang sudah tidak seperti dulu, lihat aku," tunjuknya pada diri sendiri setelah melepaskan pelukannya. Dengan mata yang masih basah, Yuna menatap mata Renan dengan lekat. "Maaf mas, tapi sikap Eyang kamu masih melekat di pikiran aku mas, aku gak mau kalau harus seperti dulu lagi," balas Yuna. Renan menghela napasnya kasar, bukan kesalahan Yuna, jika dia merasa seperti ini. Semua yang terjadi adakah kesalahan Renan sendiri. "Aku tau, semua begitu sangat sulit semuanya bagi kamu," ucapnya. "Tapi beri aku kesempatan Yuna, aku mohon," pinta Renan dengan tatapan memohon. Yuna melepaskan genggaman tangan Renan di lengannya. "Maaf mas tapi aku tidak bisa, butuh waktu berapa lama buat nyembuhinnya," papar Yuna. "Akan aku sembuhkan Yuna," ucapnya sambil menangkupkan wajah Yuna dengan kedua telapak tanganya. "Beri aku waktu mas, aku mohon," pintanya. Renan tidak ingin menyakiti Yuna kembali, "Baiklah kalau itu mau kamu, mas akan beri kamu waktu. Tapi ijin kan mas untuk tetap tahu keberadaanmu Yuna," mohonnya. Yuna menghelakan napasnya, mungkin lebih baik dia mengiyakan saja ucapan Renan. Nanti seperti apa itu urusan nanti. Yuna menganggukan kepalanya. Dalam hatinya dia berniat benar-benar akan pergi. "Aku ingin pulang," pinta Yuna. "Ayo kita pulang," ajak Renan yang menggenggam tangannya erat. Mereka pulang, namun Yuna tidak hapal dengan jalan pulangnya. Ia segera menoleh ke arah Renan. "Mas kita mau ke mana?" tanyanya. "Kamu pulang tinggal di apartemen aku saja, jangan di sana. Tempat itu terlalu kecil Yuna," ucap Renan. Yuna merasa jengkel pada mantan suaminya. "Jangan seenaknya mas, aku ingin kembali ke kosan ku sekarang!" pinta Yuna dengan nada tinggi. "Yuna tapi—" "Ok, akan aku pastikan kamu tidak akan menemuiku lagi mas!" ancam Yuna. Renan terdiam mendengar ancaman Yuna. Pada akhirnya dia mengalah, "Baiklah tapi kamu berjanji pada saya Yuna. Jangan menghindar lagi dari saya!" pinta Renan dengan menggenggam tangan Yuna. Yuna hanya mengangguk dengan tatapannya tetap ke depan. "Maafkan aku mas," batinnya. --- Pagi itu Renan berencana menjemput Yuna di kosannya, ingin mengajaknya sarapan pagi. Dengan wajah yang berseri, Renan mengetuk pintu kamar kosnya Yuna. Tidak ada jawaban sama sekali, jantung Renan berdegup kencang, takut jika Yuna pergi lagi. Renan mengetuk pintunya lebih keras, hingga seseorang yang berada di sebelah kosan Yuna keluar. "Maaf pak, mau ke siapa ya?" tanya seorang gadis yang lebih muda darinya. "Saya mencari Yuna, sejak tadi saya ketuk pintunya tidak ada jawaban," ucapnya. "Oh Yuna, tadi dini hari saya lihat Yuna pergi membawa kopernya. Tapi saya gak nanya dia mau ke mana, soalnya terlihat sangat buru-buru sekali," jelas gadis itu. "s**t!" Renan melayangkan pukulannya ke udara lalu mengusap wajahnya kasar. Harusnya dia tidak percaya begiti saja pada Yuna semalam. "Mba bener gak tau Yuna pergi ke mana?" tanya Renan lagi. Gadis menggelengkan kepalanya, "Tidak pak, coba bapak tanya sama bu Murni pemilik kos ini. Mungkin saja tahu," sarannya. "Oh iya, makasih ya mba." Renan langsung melangkahkan kakinya menuju rumah bu Murni. Tangannya langsung mengetuk pintu rumahnya sedikit kasar. Tidak lama pintu itu terbuka, dan menampakkan bu Murni. Wajah bu Murni cukup terkejut melihat Renan yang datang. "Kamu bukannya mantan suami Yuna?" "Iya bu, apa ibu tau Yuna pergi ke mana?" Tanya Renan to the point. Bu Murni menautkan ke dua alisnya. "Maksudnya? Bukannya Yuna ada di dalam kosnya?" ucap bu Murni. Renan menggelengkan kepalanya, "dia tidak ada di sana Bu, kata teman kosnya. Yuna pergi pagi sekali, memang ibu tidak tahu?" Tanya Renan dengan tatapan curiga. Bu Murni segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Saya tidak tahu, Yuna tidak izin pergi pada saya. Hanya saja semalam dia membayar uang kos bulan ini," jelas Bu Murni. "Jadi dia tidak berpamitan dengan ibu?" Bu Murni kembali menggelengkan kepalanya, "Tidak, ini bukti chatnya semalam pada saya." Bu Murni memperlihatkan ruang chatnya dengan Yuna pada Renan. Renan segera mengambil ponsel Bu Murni dan membaca pesan tersebut. "Apa boleh saya menghubungi Yuna lewat ponsel ibu?" tanya Renan. Bu Murni menganggukkan kepalanya, "boleh silakan saja." Renan segera menghubungi Yuna melewati ponsel Bu Murni. Namun sayang, nomor Yuna sudah tidak aktif lagi. "Sialan!" umpat Renan frustasi, ia segera memberikan ponsel bu Murni. "Bagaimana?" tanya Bu Murni dengan wajah khawatir. "Nomornya sudah tidak aktif lagi bu," ucap Renan dengan nada kesal. "Astaga ke mana anak itu?" ucap Bu Murni sangat khawatir. "Apa kalian bertengkar?" tanya bu Murni, menghakimi Renan. Seolah Yuna pergi ini pasti karenanya. Renan segera menggelengkan kepalanya. "Tidak bu, kami tidak bertengkar," elak Renan. "Ya Tuhan, ke mana dia pergi. Kasian sekali nasibnya," gumam Bu Murni. "Bu, ini nomor ponsel saya. Saya mohon pada ibu, jika yuna memberikan kabar, tolong beritahu saya," pinta Renan. Bu Murni hanya menganggukkan kepalanya, "Begitu juga dengan kamu ya Renan, tolong beritahu saya ya nak." Renan pun segera menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu saya permisi Bu." Renan segera pergi meninggalkan rumah Bu Murni. Di dalam mobil dia memukul setir mobilnya. Dia sangat menyesal telah membiarkan Yuna pulang ke tempat kosnya. Jika tahu begini Renan tidak akan membiarkan Yuna pulang. "Yuna di mana kamu?" ___________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD