BAB 6

1341 Words
Di satu cafe, Renan dan Tama duduk berhadapan dengan seorang wanita yang mungkin seumuran dengan mereka. Perempuan tersebut tampak memakai baju office girl dengan di balut sweater berwarna maroon. Raut wajah Renan tampak heran dengan wanita yang ada di hadapannya itu, begitu juga dengan Tama. Ada rasa curiga di dalam hati mereka. "Jadi kamu kenal dengan Yuna?" tanya Renan membuka obrolan. Wanita yang bernama Risa itu pun mengangguk pelan, dengan senyum tipis. Namun, penuh kelicikan di matanya. "Iya saya kenal." "Teman kerjanya?" Kali ini Tama yang membuka suara. Lagi-lagi Risa mengangguk, "Iya saya temannya Yuna," jelasnya. "Siapa nama kamu?" tanya Tama. "Risa." Renan dan Tama saling tatap dan mengangguk paham. "Kalau begitu kamu tau di mana Yuna berada?" tanya Renan antusias. Sebelah alis wanita itu naik ke atas. "Tentu saya tahu alamatnya." Renan bernapas lega, saat mendengarnya. "Kalau begitu dimana alamat istri saya?" ungkap Renan, tentu saja membuat Risa terkejut. "Istri?" ucapnya mengulangi kata tersebut, dengan wajah tanda tanya. Tama yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Sebentar apa benar Yuna yang kamu kenal ini?" Tama mengeluarkan ponselnya dan melihatkan foto Yuna dengan Renan saat mereka menikah. Mata Risa membulat sempurna melihat foto tersebut. Ia meraih ponsel tersebut menatapnya bulat-bulat. "Iya dia Yuna yang saya maksud, jadi dia sudah menikah?" tanya Risa pada Tama. Tama meraih kembali ponselnya, ia menggaruk kepala belakangnya bingung menjelaskan yang sebenarnya. Takut saja duda yang ada di sebelahnya itu mengamuk jika di sebut mantan istri. "Hmm itu biar dia yang jelaskan." Tunjuk Tama pada Renan. Renan mencibikan bibirnya kesal. "Dimana Yuna sekarang?" tanya Renan dengan tatapan tajam. Risa menoleh ke arah Renan, dia tidak langsung menjawab pertanyaan pria tersebut. "Hmm, gimana ya. Saya takut kalau Yuna ma—" "Berapa yang kamu minta?" ucap Renan seolah tahu ke mana arah pembicaraannya. Tama menatap lurus ke arah Risa dengan tatapan selidik. "Tapi saya takut kalau Yuna marah sama saya," balas Risa dengan raut wajah ragu. "Saya pastikan kamu tidak akan ada sangkut pautnya. Yuna tidak akan tahu kalau kamu yang memberi tahunya," ucap Renan berusaha meyakinkan. Tapi, bukan itu maksud Risa. Ia sengaja ingin mengambil keuntungan dari kesempatan ini. "Apa saya bisa percaya kalian, saya tetap saja—" "50 juta apa cukup?" tanya Renan membuat Risa tercengang dengan jumlah yang cukup fantastis itu. Tama saja sampai langsung menoleh ke arah Renan, dengan mulut sedikit ternganga melihatnya. "Ren..." "Apa itu cukup? Atau masih kurang?" tanya Renan dengan sungguh-sungguh dia tidak peduli dengan berapa uang yang dia keluarkan, yang terpenting adalah info mengenai Yuna itu sudah membuat dirinya senang. Risa menggigit bibir bawahnya, sedikit menunduk dan memasang wajah sedih. "Sebenarnya saya ini tulang punggung keluarga. Saya janda harus menghidupi ibu dan ke tiga anak saya, apa lagi ibu saya sekarang sedang sakit-sakitan." Renan memejam kan matanya sebentar. Bukanya dia tidak tahu jika dirinya sedang dibodoh-bodohi, tapi info Yuna kini lebih penting dari itu semua. "Berapa yang kamu butuhkan? 100 juta cukup?" tawar Renan. Mata Risa berbinar-binar mendengar penawaran yang Renan berikan. Mendapatkan 100 juta hanya dengan memberikan informasi tentang Yuna. Tentu saja Risa bersorak sorai di dalam hatinya. "Hey kenapa bengong? Gimana dengan penawaran saya?" tanya Renan sambil melambaikan tangannya di depan Risa. Risa mengerjapkan matanya sudah membayangkan uang 100 juta ada di tangannya. Ia segera menganggukkan kepalanya cepat, menyetujui penawaran Renan padanya. "Saya terima, tapi tolong jangan sampai Yuna tahu kalau saya yang memberi informasi ini," ucap Risa. Renan mengangguk dengan wajah yang meyakinkan. Sedangkan Tama hanya bisa menghela napasnya kasar, temannya ini memang sudah gila jika itu mengenai mantan istrinya. "Baik, saya pastikan Yuna tidak mengetahui tentang ini. Jadi, di mana alamat Yuna sekarang?" tanya Renan. "Maaf, tapi apa saya boleh menerima cek itu lebih dulu?" pinta Risa tanpa sungkan. Tama sudah mulai cuti dengan wanita yang ada di hadapannya itu. Di saat Renan akan menyerahkan selembar cek lagi, dengan cekatan Tama menahan Renan untuk memberi uang tersebut secara percuma-cuma. "Kita akan memberikan uanh secara penuh, saat kamu benar-benar mengantar kami ke sana. Jangan coba-coba bermain dengan kami nona!" ancam Tama. Risa langsung menelan ludahnya kasar, untung saja dia benar-benar mengetahui tempat tinggal Yuna sekarang. Jika tidak? Bisa mati dia saat ini karena berusaha membohongi mereka. "Kenapa diam? Kamu tidak sedang membohongi kami kan?" desak Tama, karena melihat ekspresi Risa yang berubah. Risa memberanikan menatap Tama, yang kini sedang menatapnya. "Tentu saja saya tidak berbohong, kalian bisa ikuti saya. Akan saya antar ke tempat tinggal Yuna," ungkap Risa. Renan dan Tama saling tatap untuk waktu sebentar, Renan segera menganggukkan kepalanya pelan, untuk mengikuti Risa. "Ok, kalau gitu antar kami sekarang!" pinta Tama. Risa menyetujui permintaan Tama, ia segera bangkit dari tempat duduknya yang segera di ikuti oleh Renan dan Tama. "Kita pergi naik mobil saya saja," ucap Renan. Mereka segera berjalan menuju mobil Renan yang terparkir tidak jauh dari tempat cafe tersebut. Kini mereka sudah berada di dalam mobil Renan, tidak mau membuang-buang waktu Renan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menerobos jalanan ibu kota yang sudah menggelap. Di dalam perjalanan hanya terdengar suara mesin mobil. Tidak ada obrolan yang mereka bicarakan. Hingga akhirnya Renan membuka suara. "Alamatnya?" tanya singkat dengan siara baritonnya. Risa yang sedang meremas ujung bajunya, cukup tersentak dengan pertanyaan Renan. Satu hal yang dia takuti, kalau Yuna ternyata sudah pindah. Bagaimana Risa menjelaskan pada mereka? Karena hanya inilah alamat satu-satunya yang Risa tahu! "Hmm jl. Pahlawan, nanti masuk ke gang," jelasnya. Renan segera menambahkan kecepatan laju mobilnya. Dengan sangat lihai Renan menyusul pengendara lain, sampai Renan mendapatkan beberapa bunyi klakson dari pengendara lain karena mendahului secara tiba-tiba. "Ren, santai. Yuna gak akan pergi!" peringat Tama. "Yang ada nanti kalau kita kenapa-napa, malah lo gak bisa ketemu sama Yuna!" sambun Tama. Untungnya Renan mendengar ucapan Tama, ia mengurangi kecepatan laju mobilnya, demi bisa bertemu dengan Yuna. Hingga akhirnya mereka sampai di jalan pahlawan. Mobil Renan berhenti di depan gang yang tidak terlalu besar, hanya cukup di masuki sepeda motor. "Di sini?" tanya Tama yang menoleh sebentar ke arah Risa. "Iya di sini. Setau aku dia tinggal di sini," balasnya dengan ragu. "Ya udah ayo kita turun," titah Renan. "Tapi—" "Kamu cukup tunjukan saja dimana, setelah itu kamu boleh pergi," sambung Renan. "Ba-baiklah," jawab Risa dengan gugup. Mereka bertiga turun dari mobil, berjalan melewati gang sempit dengan minim cahaya. Renan tidak menyangka jika Yuna tinggal di tempat seperti ini. Andai dia bisa lebih dulu tahu keberadaan Yuna. Tidak akan Renan biarkan Yuna tinggal di tempat seperti ini. Kini mereka berdiri di depan sebuah kos-kosan dua lantai. Tempatnya bersih walaupun tidak besar. Renan menoleh ke arah Risa, "Ini?" "Iya di sini, cari saja nama Yuna. Mana bayaran saya?" pinta Risa yang ingin segera pergi dari sana. Renan berdesis pelan, tangan kanannya mengambil sesuatu di balik saku jas miliknya. Meraih sebuah cek yang dia berikan pada Risa sesuai perjanjian. "Ini." Renan memberikan dua lembar cek pada Risa. Tangan Risa segera meraih kertas berharga tersebut. "Terima kasih," ucapnya dengan senyum lebar dan mata yang berbinar-binar. "Tunggu, kalau kamu sampai membohongi kami. Ingat tidak sulit bagi kami untuk mencari kamu paham?" ancam Tama. Risa terkejut dengan apa yang di ucapkan Tama. Perasaannya mendadak tidak enak, takut apa yang Risa khawatirkan terjadi. "Silahkan saja tanya pada pemilik kos ini," ucap Risa dengan gugup. "Ok, kalau gitu kamu boleh pergi!" papar Renan, membuat Tama mengernyit. Risa pun segera pergi meninggalkan ke dua pria itu di sana, dengan langkah yang lebar. Tama masih menatap heran ke arah Renan. "Kok bisa?" "Diem lu!" cibir Renan yang melangkahkan kakinya menuju rumah pemilik kos. Kebetulan rumah pemilik kosan tersebut ada di samping. Jadi, tidak sulit bagi Renan untuk mencari keberadaan Yuna. Pintu terketuk beberapa kali, tidak ada yang membukanya. Renan kembali mengetuk pintu itu lagi sambil membuka suara. "Permisi..." Tidak ada sahutan dan tidak kunjung pula di buka. "Gaka da orang kali," ucap Tama. Renan mendesah pelan, ia tidak putus asa mencobanya kembali. Ia ketuk lebih keras, hingga pada akhirnya terdengar suara seorang wanita. "Ya, sebentar..." Tama dan Renan menghela napasnya lega, akhirnya perjuangan mereka tidak sia-sia. Pintu pun terbuka, terlihat seorang wanita cantik yang membukanya. "Ya, mau ke siapa—" ________________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD