Dua hari setelah pernikahan itu, hujan turun tanpa peringatan. Jakarta diselimuti langit kelabu yang berat, seolah kota itu ikut menahan napas. Amanda berdiri di depan jendela kamar barunya, kamar yang kini ia tempati bersama Rangga sebagai istri, menatap garis-garis air yang berkejaran di kaca. Gaun pengantin sudah tersimpan rapi. Bunga-bunga ucapan memenuhi sudut rumah. Namun ada sesuatu di dadanya yang belum sepenuhnya tenang, seperti gema langkah lama yang belum benar-benar pergi. Rangga keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah. Ia menghampiri Amanda dari belakang, meletakkan dagunya di bahu istrinya. “Kamu capek?” tanyanya pelan. Amanda tersenyum kecil. “Sedikit. Mungkin… hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri.” Rangga mengangguk. Ia tidak memaksa. Dua tahun terakhir men

