Udara malam menusuk dingin, menyelinap di antara jaket tipis Amanda yang sudah tidak mampu menahan lelah. Pukul 23.30 terasa jauh lebih malam dari seharusnya.
Amanda turun dari mobil sambil menguap kecil, matanya setengah terpejam.
“Mas, aku pulang ya. Besok aku dateng lagi,” ucapnya pelan namun tetap sopan.
Nalendra yang sejak tadi mengamatinya dengan perasaan campur aduk akhirnya membuka suara.
“Manda… ini udah malem. Udah, kamu nginep aja di sini.”
Amanda langsung geleng.
“Nggak, Mas. Makasih. Aku nggak biasa tidur di tempat orang.”
Ia melangkah ke arah motornya, menyalakan mesin, suara matic kecil itu terdengar lirih namun cukup untuk mengisi keheningan antara mereka. Nalendra memijit pelipisnya, wajahnya tampak ragu, sebelum akhirnya berjalan cepat dan menahan stang motor Amanda.
“Manda, masuk. Udah malem. Bahaya. Kamu perempuan. Ini mau hujan juga.”
Nada Nalendra terdengar tegas sekaligus khawatir.
Namun reaksi Amanda justru berbeda. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap Nalendra dengan tatapan lelah bercampur kesal.
“Mas… udah deh. Kamu bisa nggak, jangan sok peduli? Aku mau pulang. Bukan lagi hak kamu kan? Di antara kita udah selesai.”
Kata-kata itu menusuk, tapi Amanda mengatakannya tanpa bergetar, seperti kenyataan yang sudah ia terima dan paksa dirinya untuk jalani.
“Udah, tolong kamu minggir. Makin kamu tahan aku, makin malem aku pulangnya.”
Nalendra terdiam. Kata-kata Amanda terasa seperti tamparan keras yang membuat jantungnya menciut.
“Manda…” panggilnya lirih.
“Udah, Mas. Besok pagi aku udah harus sampai sini lagi. Please… aku mau pulang. Aku capek.”
Napas Nalendra tercekat. Malam itu, wajah Amanda terlihat bukan hanya lelah, tapi rapuh. Dan justru karena rapuh itulah, hatinya terasa makin sakit melihat gadis itu memaksa menjadi kuat.
Hujan akhirnya jatuh. Rintik-rintik kecil mulai menepuk aspal, lalu berubah menjadi deras dalam hitungan detik. Amanda menundukkan wajah, memaki dalam hati. Nalendra masih di depannya, tidak bergerak sedikit pun. Seperti menunggu retakan kecil di hati Amanda untuk terbuka sedikit lagi.
Masih dalam hujan yang makin deras, Nalendra perlahan mengulurkan tangan dan mematikan mesin motor Amanda.
“Hujan, Manda,” ucapnya pendek.
“Masa kamu mau pulang hujan - hujan begini?”
Amanda menggigit bibirnya, menahan emosi yang ingin meledak.
“Nggak apa-apa. Aku bawa jas hujan.”
Ia membuka jok motornya dan mengambil jas hujan biru yang sudah agak kusut. Tangannya bergetar sedikit, entah karena dingin atau karena Nalendra yang masih menatapnya dalam-dalam.
Nalendra melangkah maju dan menahan tangannya.
“Manda… please. Sekali aja. Dengarkan aku. Aku cuma nggak mau kamu sakit.”
Suaranya serak, tampak seperti menahan hal yang jauh lebih besar dari sekadar rasa khawatir.
Amanda menatap Nalendra lama, sangat lama.
Seandainya ini dulu, seandainya hubungan mereka belum hancur oleh kesalahan dan luka… mungkin ia akan luluh.
Tapi ia bukan Amanda yang dulu.
“Mas…”
Nada Amanda merendah.
“Aku tau kamu baik. Tapi kebaikan kamu sekarang cuma bikin aku bingung. Aku mau pulang. Aku butuh ruang. Jadi tolong… jangan tahan aku.”
Nalendra memejamkan mata sebentar, seolah menenangkan badai dalam dirinya.
Saat dibuka, tatapannya penuh luka.
“Tapi aku sayang kamu, Manda…” bisiknya hampir tak terdengar, terbawa suara hujan.
“…masih sayang. Masih.”
Amanda menggigit bibir untuk menahan hatinya agar tidak goyah.
“Mas, jangan bikin aku makin susah. Tolong…”
Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia benar-benar terlihat ingin menangis.
Nalendra melihat itu. Dan ia akhirnya menyerah.
Perlahan ia mundur satu langkah.
“Baik. Kalau itu mau kamu… pulanglah.”
Kalimat itu berat, berat sekali.
“Besok hati-hati di jalan. Jam tujuh kamu udah harus di depan rumah, kan? Aku tunggu.”
Amanda menunduk. Tidak berani menatap mata laki-laki yang masih memegang hatinya itu.
“Ya, Mas. Makasih.”
Ia memakai jas hujan dengan tangan gemetar, menyalakan kembali motornya, dan melaju perlahan keluar dari pekarangan rumah Nalendra. Hujan mengguyur, suara mesin motornya terdengar semakin menjauh.
Nalendra berdiri diam, memandangi ekor lampu motor itu yang memudar di kejauhan. Hingga akhirnya hilang benar-benar hilang, digantikan suara hujan yang menggila.
Sesampainya di rumah, Amanda menggigil. Bukan hanya karena dingin, tapi karena ucapan Nalendra yang terus menggema di kepalanya.
“Masih sayang…”
Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Udah, Manda jangan bodoh. Jangan diinget,” gumamnya pada diri sendiri.
Namun tubuhnya tetap gemetar saat mengganti baju dan masuk ke kamar. Malam itu ia sulit tidur. Tidak hanya karena lelah, tapi karena hatinya kembali kacau, padahal ia sudah bersumpah tidak akan melihat ke belakang.
PAGI BERIKUTNYA
Amanda sudah berdiri tepat pukul 07.00 di depan rumah Nalendra, seperti biasa. Hanya bekas hujan, daun-daun basah dan udara pagi yang dingin.
Nalendra keluar rumah. Ia terlihat kurang tidur. Mata sedikit bengkak.
“Pagi,” ucapnya singkat.
“Pagi, Mas,” balas Amanda, berusaha biasa saja.
Tanpa banyak bicara, mereka masuk mobil dan memulai rutinitas. Sintia masih di Australia, dan suasana mobil jauh lebih sunyi tanpa suara rengekannya. Namun sunyi itu bukan membuat lega, malah membuat jantung Amanda berdebar aneh.
Nalendra beberapa kali meliriknya. Amanda pura-pura sibuk menatap jalan.
Sampai akhirnya Nalendra berkata lirih,
“Maaf… tentang semalam.”
Amanda hanya mengangguk.
“Udah lewat, Mas.”
Nalendra menatap ke depan, menggenggam setir mobil lebih kuat.
“Tapi… perasaanku ke kamu belum lewat.”
Amanda diam. Lalu kembali mengelap kaca mobil yang terkena hujan semalam.