Bab.3 Lembur Yang Melelahkan

1165 Words
Hari ini berlangsung panjang, lebih panjang dari yang seharusnya. Dari pagi yang penuh drama, hingga siang yang sibuk dengan rapat dan laporan, hingga akhirnya sore datang membawa kabar yang membuat Amanda tertegun. Sintia harus pergi. Tiba-tiba. Tanpa drama, tanpa pelukan berlebihan, tanpa memaksa Nalendra ikut. Hanya datang ke kantor dengan tergesa, memakai blazer mahal, dan wajah yang tampak sedikit panik. “Aku harus terbang malam ini. Papa bilang rapat besar di Melbourne dipercepat,” katanya sambil berjalan ke arah Nalendra yang sedang membaca laporan. Nalendra hanya menatap tanpa ekspresi mencolok. “Kapan balik?” “Mungkin seminggu. Atau dua. Entahlah. Papa belum pasti.” Sintia menautkan alis. “Kamu nggak keberatan, kan? Ini demi bisnis keluarga aku.” “Ya.” Nalendra mengangguk cepat. “Pergi aja. Nanti aku nyusul kalau ada perlu.” Itu saja. Tidak ada kecupan. Tidak ada pelukan. Hanya kalimat pendek, dingin, dan jarak yang terasa menebal di antara mereka. Sintia terlihat sedikit kecewa, tapi tetap pergi. Amanda melihat semuanya dari meja resepsionis lantai kantor. Entah kenapa, ia merasa lega, meskipun ia benci mengakuinya. Setidaknya hari ini… tidak ada suara “baby… baby…” lagi. Malam Lembur Hari berjalan sampai jam sembilan malam. Gedung kantor mulai sepi. Banyak karyawan sudah pulang, menyisakan beberapa orang yang masih menyelesaikan tugas. Amanda duduk di ruang dapur kecil yang biasa digunakan karyawan untuk rehat. Gelas kopinya sudah kosong sejak setengah jam lalu, tapi matanya semakin berat. Hari itu ia bekerja sejak pagi, mengurus banyak hal untuk Nalendra, termasuk beberapa dokumen penting untuk rapat besok. Sejujurnya, kepalanya berputar. Nalendra masih berada di ruangannya. Pintu tertutup rapat sejak pukul tujuh malam, dan Amanda beberapa kali mendengar suara langkahnya mondar-mandir, menandakan laki-laki itu juga stres dan lelah. Saat jam menunjukkan pukul 21.43, Amanda memutuskan keluar sejenak untuk mencari udara. Dapur kantor dingin dan terlalu sunyi. Hatinya makin sesak. Ia membawa ponselnya, berniat hanya duduk sebentar di tangga darurat dekat lift. Tempat itu sepi, dingin, dan cukup nyaman untuk sekadar mengistirahatkan kepala. Ia duduk di anak tangga keempat, menyandarkan kepala di dinding, memejamkan mata. Hanya sebentar. Sekitar lima menit, untuk merehatkan tubuhnya sejenak. Namun lelah yang ditahannya seharian langsung menyerangnya tanpa ampun.Dan Amanda tertidur. Di lantai atas, Nalendra menutup laptopnya dengan kasar. Rapat Zoom barusan benar-benar menguras tenaga. Ia hendak keluar untuk meminta Amanda membuat kopi atau mengambilkan dokumen lain. Tapi Amanda tidak ada di dapur. Tidak ada di meja kerja, toilet, baik di ruang arsip. Nalendra memicingkan mata. “Ini Amanda kemana sih? Dia nggak mungkin pulang tanpa bilang.” Ia menelepon ponsel Amanda.Nada sambung. Terdengar begitu dekat. Dari arah lift. Nalendra berjalan cepat menuju sana. Ia membuka pintu tangga darurat. Dan dia dibuat membeku. Amanda tertidur di anak tangga, dengan kepala bersandar di dinding, ponsel bergetar di tangannya akibat panggilan masuk. Napas Nalendra langsung turun naik. Ia mendekat perlahan. Pandangan itu yang selama ini ia hindari untuk terlalu lama menatapnya, kini tidak bisa lagi ia hindari. Amanda terlihat begitu lelah dan Rapuh. Dan cantik dengan cara yang menyakitkan hati Nalendra. Ia jongkok perlahan. Merapikan rambut Amanda yang jatuh di pipinya. Selama ini ia pura-pura tenang. Pura-pura menahan rindunya. Pura-pura kuat menghadapi kehadiran Amanda yang tiba-tiba kembali. Padahal hatinya hancur berantakan. Nalendra menyentuh pipinya perlahan. “Kenapa kamu balik lagi ke hidup aku, Manda” gumamnya lirih. Suaranya bergetar. “Aku nyakitin kamu, tapi sampai sekarang aku masih…” Kalimatnya tak selesai. Nalendra menunduk, kakinya terasa lemas. Air matanya jatuh satu. Ia segera mengusapnya, namun dua tetes lagi menyusul. Laki-laki itu menghela napas panjang, sesak. Selama ini ia ingin bicara, ingin meminta maaf, ingin jujur. Tapi situasinya… terlalu rumit. Ada masa lalu. Ada rahasia. Ada tunangan yang bukan pilihannya sendiri. Nalendra menarik napas berat… lagi dan lagi. Ia memandangi Amanda, wanita yang pernah ia renggut mahkotanya. Wanita pertama yang ia cintai. Wanita yang masih menggenggam sebagian hatinya tanpa sadar. Sampai pada akhirnya, kelopak mata Amanda bergerak. Ia membuka mata perlahan, mengerjap bingung. Nalendra langsung memalingkan wajah. Tangannya cepat-cepat mengusap pipinya, menghapus air mata yang tersisa. Amanda mengangkat kepala, suara seraknya keluar pelan: “Lho, Mas Nalen… kok tahu aku di sini?” Nalendra berdiri, menahan napasnya agar stabil. “Aku cari kamu. Kamu nggak ada di mana - mana , nggak tahunya kamu di sini.” Amanda buru-buru bangun, wajahnya malu setengah mati. “Ya ampun. Maaf, Mas. Aku cuma duduk sebentar, tapi malah ketiduran. Capek banget, beneran.” Nalendra menatapnya sebentar, mata laki-laki itu sedikit merah. Amanda tidak menyadarinya. Ia mengalihkan pandangan cepat. “Ya sudah… kayaknya kamu ngantuk. Ayo pulang. Aku aja yang nyetir ya.” Amanda langsung gelagapan. “Eh jangan, Mas. Ini kan tugas aku. Maaf ya, aku ketiduran. Aku masih bisa nyetir kok.” Nalendra menghela napas. “Manda.” “Hm?” “Bisa diam nggak, jangan bantah.” Amanda terkesiap. “Mas...tetapi.” “Ayo.” Suaranya tegas. “Pulang. Aku yang bawa mobil.” Amanda terdiam. “Kuncinya.” Nalendra mengulurkan tangan. Amanda menggigit bibir, masih ingin membantah. Tetapi melihat wajah Nalendra yang serius dan lelah, ia menyerah. Ia menyerahkan kuncinya. Nalendra menggenggam kunci itu dan berbalik menuju lift. “Ayo.” Amanda mengikuti pelan dari belakang. Saat pintu lift hampir menutup, Nalendra menahan sebentar dan menatap Amanda. “Nanti kalau kamu capek… bilang. Jangan maksain. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.” Amanda hampir terdiam. Ada nada yang berbeda di suara laki-laki itu. Ada ketulusan yang familiar. Yang dulu pernah menghancurkannya, tapi juga pernah membuatnya bahagia. Ia menelan ludah. “Iya, Mas.” Lift bergerak turun. Begitu Sunyi, tegang, namun terasa hangat, entah kenapa. Perjalanan Pulang Nalendra menyetir dengan tenang. Lampu jalan memantul di kaca mobil, menciptakan suasana redup yang membuat segalanya terasa melambat. Amanda duduk di kursi penumpang, memeluk tasnya. Hening terlalu lama. Akhirnya ia membuka suara pelan, “Maaf ya, Mas. Aku ketiduran di tangga.. Harusnya aku nggak sampe ketiduran begitu.” “Kamu capek,” potong Nalendra. “Aku tahu.” Amanda terdiam. Nalendra melanjutkan, “Aku juga capek. Tapi kamu sebenarnya yang paling capek dari semuanya.” Amanda mengerutkan kening, sedikit bingung. “Kenapa Mas bilang gitu?” Nalendra menggenggam setir lebih keras. Ia tidak menjawab. Kalau ia jujur, ia akan mengatakan: Kamu capek karena harus berurusan sama aku. Mantan yang nyakitin kamu. Mantan yang nggak punya hak untuk ngatur kamu lagi… tapi masih sayang setengah mati sama kamu. Tapi ia memilih diam. Karena luka lama itu… terlalu rumit untuk dibahas. Di lampu merah, Amanda menatap wajah Nalendra dari samping. Ia melihat garis rahang tegang, mata sedikit merah, dan napas yang pelan namun berat. Seolah laki-laki itu menahan sesuatu. Nalendra tiba-tiba berkata pelan, “Manda?” “Hm?” “Lain kali kalau kamu capek… bilang ke aku.” Amanda berkedip. “Kenapa Mas peduli?” Nalendra menoleh sebentar. Tatapan itu dalam. “Karena sampai sekarang… aku nggak pernah bisa berhenti peduli sama kamu.” Amanda tertegun. Napasnya tiba - tiba hilang. Hatinya bergetar. Namun ia tidak menjawab. Karena jika ia menjawab, semua bentengnya akan runtuh. Dan ia takut Nalendra masih punya kekuatan untuk menghancurkannya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD