Satu minggu bekerja di rumah keluarga Darwis terasa seperti tiga bulan penuh ujian bagi Amanda. Ia pikir tugasnya hanya menggantikan ayahnya sebagai pekerja rumah sekaligus membantu beberapa urusan luar, ternyata kenyataannya jauh lebih melelahkan.
Ia harus mengikuti jadwal ketat keluarga Darwis, memastikan semua kebutuhan siap, dan yang paling membuatnya ingin menjerit adalah, menjadi asisten pribadi sekaligus sopir langsung untuk Nalendra.
Nalendra Darwis.
Mantan pacarnya.
Masalah hidupnya.
Sumber sakit kepala barunya.
Setiap hari pria itu selalu menemukan cara untuk mengusik ketenangannya. Kadang lewat komentar menggoda. Kadang lewat tatapan yang membuat Amanda ingin melempar buku ke wajahnya. Kadang lewat ucapan, yang entah kenapa, selalu berhasil menyentuh sisi hatinya yang seharusnya sudah mati.
Namun Amanda bertahan.
Demi ayahnya.
Demi biaya rumah sakit.
Demi hidup.
Tapi pagi itu, semua kesabaran Amanda hampir pecah.
Kedatangan Pagi yang Mengganggu
Biasanya pagi di rumah Darwis tenang. Hanya suara burung, aroma kopi, dan langkah-langkah kecil para pekerja yang mulai menata rumah.
Tapi hari itu, suasana berubah tiba-tiba.
Suara derit ban mobil sport berhenti di halaman.
Pintu dibanting. Hak tinggi mengetuk marmer.
Parfum mahal menusuk hidung.
Amanda yang sedang menyiapkan dokumen di meja ruang keluarga mendongak. Dan ia langsung terdiam.
Sosok perempuan tinggi, ramping, berbaju ketat warna merah marun masuk begitu saja tanpa permisi. Rambut hitam bergelombang, lipstick merah menyala, kacamata hitam besar, dan aura arogan yang langsung memenuhi ruangan.
Perempuan itu berhenti tepat di depan Amanda.
“Kamu siapa?” suaranya dingin dan menyebalkan.
Amanda hampir tersedak. “Saya… Amanda, Bu. Aspri sekaligus supir.”
“Ohhh…” perempuan itu memotong sambil mengangkat dagu. “Asisten? Cocok.”
Ucapan itu saja sudah cukup membuat Amanda ingin memutar bola mata sampai lepas.
Namun ia menahan diri. Ia masih pekerja. Ia harus profesional.
Perempuan itu lalu melangkah masuk seolah rumah itu miliknya. “Mana Nalen?”
Amanda hanya bisa berkedip. “Mas Nalendra masih di kamar. Belum turun.”
Perempuan itu tersenyum miring. “Biasanya dia selalu cepat kalau aku datang.”
Dari nada suaranya saja Amanda tahu: perempuan itu sombong, genit, dan merasa menang.
Sialnya… dari balik tangga, terdengar suara langkah Nalendra.
Ia muncul dengan kemeja hitam dan rambut sedikit acak, terlihat seperti baru bangun tapi tetap saja menyebalkan tampan. Dan saat ia melihat perempuan itu, ekspresi Nalendra berubah, namun bukan senang. Lebih… tidak antusias.
“Sintia,” katanya datar.
Sintia, jadi itu namanya, langsung menempel di lengan Nalendra tanpa malu. “Baby… kangen aku nggak?”
Amanda yang berdiri di belakang sofa menegang.
Iya. Ia memang bukan siapa-siapa lagi bagi Nalendra. Iya hanya pekerja dan tidak berhak marah.
Tapi ia tetap merasa muak.
Sintia menyandarkan d**a di lengan Nalendra sambil mengelus pipinya. “Kita berangkat bareng ya, aku mau nunjukkin sesuatu ke kamu.”
Nalendra hanya mengangguk kecil, tidak menunjukkan ketertarikan apa pun.
“Baik, siap berangkat?” Amanda bertanya, mencoba terdengar biasa.
Nalendra bergerak mendekatinya. Justru semakin dekat. Terlalu dekat.
Amanda mundur sedikit, tapi Nalendra mencondongkan badan seolah menyita perhatiannya. Sintia sibuk mengecek ponsel, tidak memperhatikan.
Dan Nalendra membisikkan sesuatu pelan, tepat di telinga Amanda:
“Kalau cemburu bilang aja… nanti kita jalan bareng.” Napasnya hangat. “Aku masih sayang sama kamu, Manda.”
Hampir saja Amanda melempar map ke wajahnya.
Ia hanya membeku sambil menahan diri agar tidak melotot atau menjerit.
Begitu Nalendra menjauh, Amanda menghela napas panjang sampai dadanya sakit.
Ia ingin menjawab. Ia ingin memaki.
Ia ingin bilang Nalendra itu menyebalkan setengah mati. Tapi ia nggak ada daya, karena hanya pekerja. Ia hanya bisa diam.
Di Dalam Mobil
Perjalanan menuju kantor dimulai dengan suasana paling menjengkelkan yang pernah Amanda alami.
Sintia duduk di kursi depan, bersebelahan dengan Nalendra. Amanda di belakang kemudi, memegang setir erat-erat.
Dan sepanjang perjalanan. Sintia menempel pada Nalendra seperti lem.
“Baby, aku kangen banget sama kamu, tahu nggak sih?” Sintia memonyongkan bibir manja.
Tidak ada respons dari Nalendra.
“Baby? Kamu denger aku nggak?”
“Hm.”
“Hm? Cuma hm?? Ya ampun Nalen sayang, kamu capek ya?”
Nalendra tidak menjawab.
Amanda hampir berteriak dalam hati: kalau capek ya karena kamu berisik, Mbak!
Sintia kemudian menaruh kepalanya di bahu Nalendra. Lalu memeluk lengannya.
Parfum perempuan itu menusuk hidung Amanda, membuatnya semakin ingin membuka pintu dan loncat ke jalan raya.
Ia sangat muak. Tapi anehnya, Nalendra tidak membalas pelukan itu. Tidak memegang tangan Sintia. Tidak juga meraih pinggangnya seperti layaknya tunangan yang dimabuk cinta.
Nalendra hanya menatap ke depan. Wajahnya datar. Dingin.
Hening beberapa detik.
Hingga akhirnya Sintia bertanya ketus, “Nalen, kamu kok dingin banget sih hari ini? Kamu kenapa?”
Nalendra menjawab tanpa menoleh, “Banyak kerjaan aja.”
Alasan klasik.
Tapi dari nada suaranya, Amanda tahu: ada sesuatu yang lain. Nalendra tidak nyaman.
Tidak bahagia. Tidak menunjukkan kemesraan yang seharusnya terlihat dari pasangan bertunangan.
Amanda menggenggam setir lebih keras.
Bukan karena cemburu, ia tidak mau mengakuinya. Tapi karena ketidaknyamanan itu terasa menular.
Karena anehnya…
Nalendra bersikap dingin hanya pada Sintia.
Tapi pada Amanda? Dia selalu berusaha menggoda, mengusik, membuatnya salah tingkah.
Kenapa? Pertanyaan itu berkecamuk, tidak mau pergi.
Percakapan yang Mengganggu Pikiran
Saat lampu merah, Sintia kembali menatap Nalendra. “Nalen, aku beneran nggak suka kamu diem gini. Kita kan mau ketemu Papa kamu untuk bahas rencana tunangan resmi bulan depan, ingat?”
Jantung Amanda serasa tersayat.Rencana tunangan? Bulan depan?
Ia tiba-tiba merasa ingin muntah.
Nalendra merespons pelan, “Iya. Aku ingat. Nggak usah diulang - ulang juga.”
Nada suaranya bukan seperti nada seseorang yang bahagia.
Sintia memutar mata. “Astaga, tolong ya kalau di depan asistenmu kamu jangan cemberut gitu. Malu tau.”
Amanda menahan diri agar tidak tertawa pahit.
Asistenmu?
Kalau saja Sintia tahu masa lalu mereka…
Namun Nalendra malah menoleh sedikit ke arah Amanda. Tatapannya menangkap mata Amanda dari cermin tengah.
Dan ia tersenyum kecil. Senyuman lembut.
Senyuman yang sama sekali tidak ia berikan pada Sintia. Senyuman yang membuat perut Amanda mengerut.
Detik itu juga Amanda memalingkan wajah, mematikan ekspresi apa pun.
Nalendra seharusnya tidak bersikap begitu.
Ia tunangan orang. Hanya masa lalu Amanda.
Sesampainya di Kantor
Mobil berhenti di basement gedung tinggi milik keluarga Darwis Group.
Begitu pintu terbuka, Sintia langsung menarik lengan Nalendra. “Ayo, baby. Jangan bikin aku malu di depan Papa kamu, ya.”
Nalendra ingin menarik lengannya, tapi menahan diri. Ia tidak bergerak membersamai pelukan itu.
Amanda turun, membuka pintu belakang untuk mengambil map yang harus dibawa Nalendra.
“Manda," panggil Nalendra.
Amanda menoleh cepat. “Ya, Mas?”
Nalendra menatapnya lama sebelum berkata, “Nanti kamu tetap stay di kantor ya, karena lagi banyak kerjaan.”
Sintia mengerutkan kening. “Kenapa harus dia?”
Nalendra menoleh ke tunangannya itu, suaranya datar namun tegas. “Karena aku yang minta.”
Amanda terdiam. Sintia mendelik.
Nalendra kembali menatap Amanda, sedikit lebih lembut. “Kamu jangan pulang dulu ya.”
Amanda menelan ludah. “Baik, Mas.”
Sintia merengut, jelas tidak suka.
“Kamu tuh aneh, Nalen,” katanya ketus.
Nalendra hanya berjalan tanpa menjawab, seolah tidak peduli.
Amanda menunduk, memegang map kuat-kuat, mencoba menstabilkan napas.
Hari itu baru mulai. Tapi hatinya sudah kacau.
Ada sesuatu yang berubah.Pada Nalendra.
Pada dirinya.
Dan Amanda benci mengakui, bahwa
Nalendra masih punya kekuatan untuk menggoyahkan seluruh benteng yang ia bangun selama bertahun-tahun.