Dalam suasana hati yang masih buruk, Rita kembali membujuk Suaminya agar mau menyetujui program hamil menggunakan metode Ibu pengganti.
"Perempuan itu? Siapa???" Arman melirik sinis ke arah Istrinya, ia masih berusaha sabar mendengarkan kata-kata selanjutnya dari Rita.
"Namanya Maura, Mas. Dia kenalanku. Orangnya nggak aneh-aneh kok!" Dengan entengnya Rita menjawab.
Mendengar itu, Arman hanya menggelengkan kepalanya. Ia memijat pelipisnya, pelan, memikirkan Istrinya yang di luar nalar. "Ternyata dia sudah merencanakannya dengan matang!" Batin Arman, memijat pelipisnya.
"Sudahlah, aku mau mandi dulu!" Daripada melanjutkan perdebatan dengan Istrinya, Arman memilih beranjak dari tempat duduknya.
"Besok, sabtu malam. Kita harus menemui Maura, Mas. Aku percaya sama kamu!" Ucap Maura, saat Arman mulai melangkahkan kakinya.
"Jangan mempercayaiku!" Tanpa menoleh kearah Rita, Pria itu berlalu begitu saja.
Membicarakan itu membuat Rita merasa lega. Ia lalu membuka ponselnya, terlihat sedang menghubungi seseorang. Tentu saja orang yang dia hubungi adalah Maura.
Ambisi Rita untuk memiliki anak sangat besar, hingga ia melakukan segala cara untuk memenuhi keinginannya.
**
Setiap hari, Maura menghabiskan waktunya untuk bekerja sebagai pengantar makanan. Ia tak malu meski harus berpanas-panasan, dan harus berperang dengan debu dan polusi.
Wajahnya yang Ayu, serta tubuhnya yang ramping, membuat Maura mudah menjadi pusat perhatian.
Ketika jam istirahat, ia menyempatkan waktu untuk menemui Ibunya yang masih koma. Maura makan siang di Rumah sakit, sambil menceritakan kesehariannya kepada Salmah__Wanita yang sudah lama berbaring. Maura percaya, suatu saat pasti akan datang keajaiban.
Saat Maura sedang fokus makan siang, tiba-tiba ia kedatangan seorang Dokter yang akan memeriksa keadaan Ibunya.
Maura yang sedang mengunyah makanan pun seketika menjadi gugup. Pipinya menggembung, karena di dalam mulutnya masih mengunyah makanan.
"Nggak apa-apa, Mbak. Lanjutkan saja makannya, saya cuma mau memeriksa keadaan Ibu Salmah aja kok." Ujar Dokter tampan bernama Martin.
Maura malu, ia menutupi mulutnya dan melanjutkan mengunyah makanannya. Memberi isyarat dan mempersilahkan Dokter Martin.
Tak lama, Maura pun meneguk air putih untuk menetralkan tenggorokannya. "Maaf Dokter, saya nggak tau bakal ada pengecekan. Bukannya biasanya jam 3 sore ya, Dok?" Ucap Maura, kini mendekat ke brangkar Ibunya.
"Benar. Kebetulan hari ini saya senggang, jadi saya datang lebih awal." Sahut Martin, sibuk mengecek detail kondisi Salmah.
"Sepertinya pemulihan pasca operasi Ibu Salmah sangat baik. Beliau mampu melawannya meskipun dalam keadaan koma" Tutur Martin, memberitahu.
"Benarkah, Dok? Apa Ibu saya akan segera sadar?" Mendengar itu Maura tentu sangat bersemengat.
"Benar Mbak Maura, kita hanya tinggal menunggu waktunya saja. Semoga Ibu Salmah segera sadar." Setelah selesai memeriksa keadaan Salmah, kini Dokter Martin pun pergi untuk mengecek pasien lainnya.
Disana, Maura menjadi orang yang paling senang, mendengar kabar baik tentang Ibunya. Ia menjadi semakin berterimakasih pada Rita, karena sudah memberi bantuan pada Maura.
**
Beberapa hari telah berlalu, Malam ini Maura telah berpakaian rapi karena akan bertemu dengan Rita.
Maura menggunakan rok span panjang berwarna coklat, serta blazer berwarna creame. Terlihat santai, namun juga sopan. Ia menggerai rambutnya yang berwarna hitam, dengan pita yang mencakup sedikit rambutnya ke belakang.
Maura menggunakan taxi online, untuk mengantarnya tiba di tujuan.
Tepat pukul 19:02, Maura tiba di Cafe alamanda. Ia berjalan sambil kedua matanya menatap sekitar, mencari keberadaan Rita.
"Ra, disini!" Ucapnya, dari kejauhan. Di lihatnya Rita menangkat tangan kanannya agar Maura melihat keberadaannya.
Sontak Maura pun tersenyum melihat Rita, lalu segera menghampirinya.
"Aku telat ya, Mbak?" Ucap Maura, ketika tiba di hadapan Rita. Pandangan matanya lalu tertuju pada seorang Pria yang duduk di samping Rita.
Ekspresi Maura seketika berubah, ketika merasakan dinginnya sikap Pria yang ada di samping Rita. Tanpa bertanya sekalipun, Maura tau siapa Pria itu.
"Hey, kenapa bengong. Ayo duduk!" Timpal Rita, meminta Maura untuk duduk.
Maura tentu duduk, dengan perasaan setengah canggung. "Nah, kenalin Ra, ini Suami aku. Mas kenalin, dia Maura." Ucap Rita, bergantian menatap Maura dan Suaminya__Arman.
Maura tersenyum ramah, menyapa Arman. Namun berbeda dengan Arman. Ia hanya menatap sinis Maura, dan menolak untuk bersalaman dengannya.
"Aku ngerasain banget, dinginnya orang ini. Gila! Apa aku benar-benar akan melakukan ini?" Batin Maura, merasa tidak nyaman.
"Maura, hari ini kita makan dulu, terus kita akan ketemu Dokter malam ini. Sekarang kamu pilih, mau pesan apa?"
Jangankan makan, minum saja Maura tidak nyaman. Hingga akhirnya, Maura hanya memesan camilan sebagai teman minum jus-nya.
"Sebenarnya apa yang di pikirkan Istriku? Dan apa pula tujuan perempuan ini mau menjadi Ibu pengganti?" Batin Arman, merasa bingung.
Maura dan Rita berbincang ringan, sambil menikmati makannya. Sementara Arman, ia hanya diam saja dan menyimak.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya menyelesaikan makan malamnya dan langsung menuju ke tempat Dokter Spesialis yang ada di Rumah sakit Ibukota.
Mereka bertiga masuk, dan membicarakan perihal yang akan Rita lakukan. Dokter Sony menjelaskan, bahwa masa pembuahan harus di lakukan dengan cara melakukan hubungan. Tidak ada cara lain selain itu!
Mendengar itu, Rita pun mengernyit sedih. "Apa tidak ada cara lain Dok? Misalnya disalurkan lewat suntikan?" Ucap Rita, menaruh harapan.
"Tidak bisa, Nyonya Rita. Saya tidak yakin cara seperti itu akan berhasil. Tingkat keberhasilannya sedikit. Jadi, jika anda tidak keberatan, anda boleh berdiskusi lagi. Bagaimanapun, ini bukan pilihan yang bagus untuk anda" Dokter Sony pun menyampaikan semuanya pada mereka bertiga.
Terlihat sekali raut wajah Arman sangat tidak nyaman. Ia merasa, Istrinya sudah kehilangan akal sehatnya.
"Mbak, sebaiknya kita batalkan saja ya. Saya nggak mau, Mbak." Tutur Maura, merasa demikian__Tak nyaman.
"Rita, sepertinya kita perlu bicara?!" Tiba-tiba Arman beranjak dari tempat duduknya, dan meminta Istrinya untuk keluar bersamanya.
Sejenak, Rita memberi isyarat pada Maura dan juga Dokter Sony. Dirinya lalu keluar, mengikuti Arman yang menuju ke tempat sepi yaitu tangga darurat.
Setibanya disana, Rita melihat Arman memijat pelipisnya. "Rita, sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Dengan kamu seperti ini, itu sama aja kamu nyerahin aku ke Perempuan lain! Apa kamu udah nggak cinta lagi sama aku?" Kini Arman meluapkan kekesalannya terhadap Rita.
"Mas, aku juga nggak mau lihat kamu sama perempuan lain. Tapi aku ingin punya anak Mas. Aku mau, kamu bantu aku berusaha dengan cara seperti ini. Plis, Mas!" Bukannya berpikir jernih, Rita justru malah semakin menjadi.
Apalagi saat mengetahui kondisi kesehatan Maura yang bagus. Rita menjadi semakin berambisi, untuk menjadikan Maura sebagai Ibu pengganti.
"Tapi Rit, kamu kan bisa mengadopsi bayi dari panti asuhan! Itu justru lebih baik, lebih mulia dari pada bertindak seperti ini!"
Keduanya beradu argumen secara langsung. Namun pada akhirnya, Arman mengalah dan keluar dari ruang tangga darurat tersebut.
Mereka berdua kini kembali ke ruangan Dokter Sony. Disana masih ada Maura yang menunggu mereka kembali.
"Gimana, Nyonya, Tuan?" tanya Dokter Sony, memastikan.
"Kami tetap akan melakukannya, Dok." Sahut Rita, menganggukkan kepalanya.
"Jadi kapan kami harus melakukan pembuahan???" Suara yang dingin, dengan wajah tanpa ekspresi, kini menatap lurus Dokter Sony.
"Soal itu, saya serahkan sama kalian?" jawab Dokter Sony.
Rita menatap Suaminya, lalu bergantian menatap Maura. "Bagaimana kalau malam ini? Saya siap kapan saja!!!" Ucap Arman, bersama amarahnya.
"Gimana Mbak Maura? Apa anda bersedia melakukannya malam ini???" Tanya Dokter Sony.
Deg....
*Next....