Bab 3. Ibu Pengganti

1646 Words
Pagi ini Maura dibuat tercengang oleh Rita. Sejenak ia mematung dengan permintaan Rita padanya, "A, apa ini sama dengan, kamu menyewa rahimku?" Sorot mata tajam Maura kini menatap Rita. Rita dengan gugup menggenggam tangan Maura, kedua matanya berkaca-kaca. Wajahnya bingung, ingin berbicara mulai dari mana. "Aku ingin punya anak, Ra. Sudah lima tahun pernikahanku, tapi aku..." Ucap Rita, menghentikan ucapannya di tengah-tengah. Ia menunduk, dan berhasil menitihkan air mata. Sebagai sesama Wanita, Maura lalu memeluk Rita dan menenangkannya. Sama seperti saat Rita menenangkan dirinya malam itu. "Itu pasti berat buat Mbak. Tapi, tindakkan itu nggak di benarkan Mbak. Apalagi ini menyangkut keluarga." Tutur Maura, memberitahu Rita dengan pelan. Maura pasti paham, bagaimana tertekannya Rita selama ini karena belum memiliki anak. Ia membiarkan Rita menumpahkan kesedihannya pagi ini. "Aku sudah melakukan semuanya, Ra. Tapi aku belum juga hamil. Suamiku jadi kesepian karena kita belum memiliki anak. Jadi, Ra, aku mohon, jadilah Ibu pengganti untuk anakku." Pinta Rita, memohon dengan sungguh-sungguh. Maura hanya bisa terdiam, tanpa menjawab apapun. "Ra, tolong." Kembali Rita memohon. "Tapi saya takut mbak. Saya takut menanggung resikonya. Apalagi kalau keluarga Mbak Rita tau, bisa-bisa saya di tuntut!" Meski bukan dari latar belakang keluarga berada, namun Maura memiliki pola pikir yang bagus. "Kamu nggak perlu khawatirkan itu, Ra. Aku akan bicarakan ini sama Suamiku. Kamu hanya perlu diam, dan menjadi Ibu pengganti." Ucap Rita, menaruh harapan pada Maura. Mereka saling berpelukan, menguatkan satu sama lain. " Ibu, maafin Maura." batinnya merasa bersalah. **** Beberapa hari telah berlalu, Maura telah mendapat pekerjaan di sebuah Restoran sebagai pengantar makanan. Dari pagi sampai malam, Maura dengan senang hati mengantar pesanan makanan ke tempat-tempat sesuai pesanan. Tengah hari setelah beristirahat, Maura kembali menyalakan sepeda motornya, bersiap untuk mengantar makanan lagi. Saat sedang fokus mengemudi, tiba-tiba ada sebuah mobil yang menyerempet sepion Maura. Akhirnya, kemudi Maura pun oleng dan membuatnya hampir terjatuh. "Huh, Bisa nyetir nggak sih? Dasar orang gila!!!!" Umpat Maura, setelah dirinya hampir jatuh. Beruntungnya ia baik-baik saja. Di sudut lain... Terlihat Arman Yudhistira baru saja turun dari mobilnya. Ia berjalan memasuki sebuah Cafe langganannya. Seperti biasa, Arman menjadi pusat perhatian para Wanita karena ketampanannya. Selain tampan, Arman juga memiliki postur tubuh yang proporsional. Tak ayal jika para Wanita senang melihatnya. Begitu masuk, Arman menghampiri seorang Wanita cantik, yang merupakan Istrinya, yaitu Rita Gunawan. Raut wajah kecewa terlihat, dari para Wanita yang sejak tadi memerhatikan Arman. "Apa kamu udah nunggu lama?" Tanya Arman, duduk di hadapan Rita. "Nggak kok, tapi aku cuma pesan minuman aja. Kamu mau pesan apa lagi, Mas?" Arman lalu memilih menu makanan yang akan ia pesan. Pria itu memesan camilan sebagai teman minum kopinya bersama Rita. Sesekali Rita menatap Suaminya. Terlihat ragu, tapi juga berani untuk mengatakan sesuatu. "Ada apa, Sayang? Apa kamu bicara sesuatu?" Tanya Arman, menyadari gelagat Istrinya. "Hm, makan dulu aja Mas." Rita mengurungkan niatnya untuk mengatakan sesuatu pada Suaminya. Mereka akhirnya makan siang bersama dengan nikmat, layaknya sepasang kekasih yang bahagia. Tak lama kemudian, Arman menyelesaikan makan siangnya. Begitu pun dengan Rita, yang kini meneguk air putih sebagai penutup. "Mas, aku mau ngomong." Arman bersikap biasa, ia tahu bahwa Istrinya memang akan menyampaikan sesuatu. "Gimana? Apa bulan ini mau liburan?" Ucap Arman, mengira jika Rita akan mengatakan soal Liburan. "Mas, aku nemuin cara, supaya kita bisa punya anak." Wajah Rita seketika berbinar, terlihat bahagia. Menunjukkan secercah harapan dari sepasang matanya. "Cara apa?" "Gini Mas. Aku udah konsultasi sama dokter tentang Surrogate mother. Aku juga udah nemuin seseorang yang cocok buat jagain anak kita." Sekali lagi, Rita menunjukkan senyum cerah di wajahnya. Arman terdiam, menghentikan gerakan tangannya saat mau meneguk minumannya. Sejenak, Arman melanjutkan gerakan tangannya. Ia meneguk segelas air hingga habis, lalu menghentakkan gelasnya di atas meja. "Sayang, apa kamu sadar sama apa yang kamu bicarakan?" Arman kini menatap serius, kearah Rita. Wanita itu mengangguk dengan mudahnya. "Ibu pengganti? Itu artinya aku harus membuahi Wanita lain? Kamu gila???" Arman marah dengan keputusan Istrinya yang dianggap sangat konyol. "Mas, aku tau! Tapi aku mau banget punya anak. Aku mau ada bayi di antara kita, Mas!" Merasa Suaminya menentang, Wajah Rita pun terlihat kecewa. "Aku nggak mau! Gila apa?!" Arman memalingkan wajah, menahan amarah. "Mas, aku mohon!" "Aku ada rapat siang ini, jadi aku harus kembali ke kantor! Kamu hati-hati pulangnya!" Arman segera pergi meninggalkan Rita sendirian. Rita sadar, bahwa tak mudah untuk membujuk Suaminya tentang hal ini. Ia lalu membiarkan Suaminya pergi sambil memikirkan semuanya lagi. Di perjalanan, Arman sangat marah dengan pemikiran Istrinya. "Sebenarnya apa yang dia pikirkan?" Pria itu mengemudi dengan kecepatan tinggi. Sedikit marah dengan rencana Rita yang di luar nalar. Karena mendapat penolakan dari Suaminya, Rita pun kembali ke Rumah. Suasana hatinya tidak baik, hingga ia memilih pulang. Namun setibanya di Rumah, rupanya ia kedatangan seorang tamu, yang tak lain ialah Sania Antika. Seorang Wanita paruh baya, berpenampilan elegan datang membawakan beberapa makanan untuk anak-nya. "Mama, kapan mama datang? Kenapa nggak menghubungiku?" Ujar Rita, ia lebih dulu memberi salam pada Sania__Ibu mertuanya. "Ah, mama pikir kamu lagi kerja, jadi Mama cuma mampir sebentar buat taruh makanan di kulkas kalian." Jawab Wanita yang biasa di sapa Ibu Nia itu. "Padahal mama nggak perlu repot-repot begini, mah" Rita kini membantu Nia, menata beberapa kotak makan ke dalam kulkas. Didalamnya berisi makanan favorit Arman. Nia tau, bahwa Menantunya sibuk mengurus perusahaan Ayahnya, sehingga ia kadang datang untuk membawakan lauk dan menaruhnya di kulkas. "Nggak apa-apa, lagian mama senggang jadi mama bisa menyiapkan ini buat Arman dan kamu." katanya, membuat hati Rita tidak enak. "Makasih ya, Ma. Maaf kalau aku belum jadi Istri dan memantu yang baik." Tutur Rita, tiba-tiba merasa sedih. Setelah meletakkan beberapa lauk ke dalam kulkas, mereka kini duduk di sofa sambil menikmati teh hangat. "Mama lagi liat apa?" Tanya Rita, saat melihat Ibu mertuanya tersenyum menatap ke layar ponselnya. "Ini, story teman Mama lagi liburan ke pantai sama cucunya. Kamu tau Tante Mala kan? Dia mau punya cucu lagi, jadi dia sibuk ngurus cucu pertamanya, em pasti repot banget yaa?" Sahut Nia, membuat Rita terdiam. Meski Nia tak bermaksud menyinggungnya, namun tetap saja Rita merasa tersinggung. Beberapa waktu kemudian, Ibu Nia akhirnya pulang. Lalu Rita kembali sendirian di Rumah. Suasana begitu sepi saat hanya ada Rita di rumah sebesar ini. Wanita itu tidak mempekerjakan seorang Art. Namun hanya tiga hari sekali, ada seseorang datang untuk bersih-bersih. Semuanya telah Rita handel sendiri. Setelah mandi, Rita berniat untuk memakai lotion dan duduk di tepian tempat tidur. Namun siapa sangka, tiba-tiba ia melihat sesuatu yang menyelip, di laci nakas, sebelah Arman tidur. Hal itu mengundang penasaran Rita dan berniat untuk membukanya. Seketika kedua pupil Rita bergetar, melihat sebuah topi bayi di dalam laci tersebut. "Maafkan aku Mas!" Rita menunduk, bersama air matanya. Topi bayi bermotif army, entah Arman dapat dari mana. Hal itu membuat Rita semakin merasa bersalah padanya. Selapang apapun Arman menerima keadaan Rita, dia pasti ingin memiliki Bayi. Tak berbeda dengan Rita, yang begitu lama mendambakannya. Disana, Rita kembali membulatkan tekatnya lagi untuk bisa memiliki anak melalui Ibu pengganti, yaitu Maura Nasya. ** Malam hari sekitar pukul 7 malam, Arman sedang dalam perjalan pulang. Di tengah-tengah kemacetan, ia melihat seorang Wanita sedang membantu Orang tua menyeberangi jalan. Akibat jalan yang pelan, membuat Jalan sedikit macet. "Apa di depan ada kecelakaan, Sen?" Tanya Arman, pada sekretaris pribadinya yang bernama Seno. "Sepertinya lansia menyeberang jalan, Tuan. Untung ada yang bantuin." Sahut Seno, menurunkan kecepatan. Arman lalu melihat seorang Wanita dengan sabar membantu lansia tersebut menyeberang jalan. "Tck, kalau udah lansia kenapa nggak duduk diam di rumah aja? Merepotkan!" Gerutu Arman, masih terbawa kesal dengan kejadian tadi siang. Seno hanya tersenyum getir, tak berani menjawab lagi ucapan Arman. Wanita yang membantu lansia menyeberang itu, rupanya ialah Maura. Ia sedang mengantar makanan, dan melihat Nenek Tua yang kesulitan berjalan. "Terimakasih ya, Nak." Ucap Nenek tersebut, pada Maura. "Ah, sama-sama Nek. Rumah Nenek dimana? Biar saya pesankan taxi," Ujar Maura, menawarkan. Rasanya prihatin, jika membiarkan Nenek tua itu berkeliaran sendirian. "Tidak perlu, sebentar lagi cucuku akan menjemput ku disini. Bukannya kamu sedang mengantar pesanan, cepat selesaikan pekerjaanmu saja." Nenek itu meminta Maura untuk meninggalkannya di tempat tersebut. "Baiklah, Nek. Kalau ada apa-apa, hubungi kantor polisi terdekat yaa? Aku pergi dulu, Nek.." Maura akhirnya pergi, melanjutkan pekerjaannya yang mungkin akan selesai sampai nanti malam. ** Tak lama kemudian, tibalah Arman di kediamannya. Disana, ia tentu disambut hangat oleh Rita. Beberapa makanan tersedia di atas meja makan. Melihat itu, Arman tau bahwa Ibunya pasti datang. "Apa Mama datang?" Tanya Arman, lalu duduk di samping Rita. "Iya, Mas. Tadi siang Mama datang bawain lauk, jadi aku siapin buat kamu. Makan dulu yuk?" Ucap Rita, lembut. Kemarahan Arman pun mereda, ia mengangguk dan menunggu Rita menyiapkan makanan untuknya. Mereka berdua lalu makan malam seperti biasa. "Mas, maafin aku soal tadi siang ya?" Tutur Rita, merasa bersalah. Arman lalu mengangguk pelan, memaafkan Rita dari kejadian siang tadi. "Jangan lakukan itu lagi, Yang. Aku ngga suka!" Katanya, sambil menggenggam tangan Rita dengan lembut. "Tapi Mas, apa kamu benar-benar nggak apa-apa kalau belum punya anak?" Arman mengangguk pelan, "Tapi kenapa aku liat topi bayi di laci nakas, Mas?" Perkataan Rita mampu membuat Arman terdiam sejenak. "Itu punya Dion, sayang. Dia meninggalkan topi anaknya waktu numpang di mobilku." Sahut Arman, menjelaskan. Rita terdiam, dengan perasaan yang tidak bisa di ungkapkan. " Kamu tau kan Mas, kita udah melakukan segala cara biar punya anak. Aku benar-benar ingin punya anak, Mas. Tapi apalah daya, kamunya nggak mau." Rita kembali mengungkit soal keinginannya dengan program surrogate mother. "Rita, apa kamu pikir ini lucu? Kamu mau, melihat aku berhubungan sama perempuan lain? Jangan gila kamu!" Arman kembali marah, namun tak meninggikan suaranya. "Aku mohon Mas, sekali aja. Aku akan bicarakan ini sama Dokter, agar mencari cara lain tanpa harus melakukan hubungan sama perempuan itu!" Ujar Rita, membujuk Arman lagi. Rita pikir, semua itu bisa dilakukan dengan cara menyuntikkan benih ke rahim Maura. Ia berharap Dokter bisa melakukannya dengan cara itu. "Perempuan itu? Siapa?" **** next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD