Sambil mengusap air matanya, Maura kembali beranjak untuk bergegas ke Rumah sakit. Masa bodoh uang dari mana, asalkan Ibunya selamat, Maura akan mencari uang kemanapun dirinya harus pergi.
Baru saja beberapa kali melangkah, tiba-tiba seorang Wanita menabrak Maura, hingga keduanya jatuh tersentak.
"Ma, maafkan saya!" Keduanya sama-sama mengatakan hal serupa. Dua Wanita dengan wajah yang sama-sama sayu, serta mata yang sembab kini bertemu
"Maaf, apa anda terluka?" Tanya Wanita itu, tak lain bernama Rita. Melihat kondisi Maura yang tak biasa, membuat Rita sedikit cemas.
"Saya baik-baik saja, Mbak. Mari, saya duluan." Tutur Maura, menganggukkan kepalanya sejenak, lalu kembali berjalan.
"Tunggu! Sepertinya anda terluka, anda mau kemana? Biar saya antar ke tujuan," Ujar Rita, merasa tak nyaman membiarkan Maura yang terluka pergi begitu saja.
"Nggak perlu Mbak, saya baik-baik saja." Dengan ramah, Maura menolak tawaran Rita.
"Saya akan mengantar anda, lagi pula ini sudah larut malam. Mari, " Akhirnya, Maura tak bisa menolak lagi tawaran Rita.
"Makasih ya, Mbak. Saya beruntung, bertemu orang-orang baik dari tadi." Tutur Maura, tersenyum getir. Kini ia telah memasuki mobil milik Rita.
"Nama saya Rita. Kamu pasti orang baik juga karena bertemu dengan orang baik." Rita kini mulai mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Disana, Maura terdiam. "Orang baik? Apa benar? Tapi aku telah melakukan pekerjaan kotor, gimana bisa aku orang baik?" Batinnya, menyangkal perkataan Rita tadi.
"Siapa nama kamu?" Demi memecah keheningan, Rita pun kembali membuka obrolan dengan Maura.
"Nama saya, Maura."
Mereka akhirnya berkenalan secara tak di sengaja. "Em, ngomong-ngomong, kamu mau kemana malam-malam begini?" Tanya Rita, sesekali melirik ke arah Maura.
"Apa dia di turunin di jalan ya, sama pacarnya?" Batin Rita, mengira jika Maura baru saja dinner dengan Kekasihnya.
"Saya mau ke Rumah sakit Bina bangsa Mbak, Ibu saya dirawat disana. Sekali lagi makasih ya Mbak, sudah mau di repotin." Tak hentinya Maura mengatakan itu.
"Sama-sama, Maura."
Perjalanan kini kembali berlanjut menuju ke Rumah sakit Bina bangsa. Selang beberapa menit kemudian, tibalah mereka disana.
"Makasih banyak ya, Mbak." Ucap Maura, sebelum turun dari mobil. Rita hanya tersenyum ramah, melihat kepergian Maura.
"Ah, aku harus kembali!" Gumam-nya, merasa sudah cukup lama dirinya keluar.
Rita kini kembali memutar balik mobilnya, namun tiba-tiba saja ia menyadari sesuatu milik Maura tertinggal di mobil.
"Tck, apa dia perempuan ceroboh? Gimana bisa di ngelupain ponselnya?" Gumam Rita, kembali menghentikan mobilnya.
Setelah terparkir, Rita akhirnya mencari keberadaan Maura untuk memberikan ponselnya. Saat dalam perjalanan, Maura sempat bercerita bahwa Ibunya menderita sakit jantung, sehingga Rita segera menuju ke ruangan spesialis jantung.
"Dok, tolong selamatkan Ibu saya!" Pinta Maura, memohon pada Dokter Irwan. Dokter yang selama ini menangani Ibunya.
"Saya akan berusaha, Maura. Silahkan kamu urus biaya administrasinya dulu." Katanya, membuat Maura semakin terisak. Saat ini, Maura sangat bingung harus berbuat apa.
Malam ini juga, Ibunya akan di Operasi. Sedangkan Maura harus membayar biaya Operasi yang tidak sedikit.
Setelah Dokter Irwan pergi, Maura mengusap air matanya dan mulai berpikir jernih. Saat ini tidak ada keluarga lain yang bisa ia andalkan. Ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri, untuk kehidupan Ibunya.
"Maaf, Maura. Aku nggak bermaksud menguping pembicaraan kamu sama Dokter. Aku cuma mau mengembalikan ponselmu yang tertinggal di mobil." Tiba-tiba, Maura mendengar suara Rita, yang kini berdiri di belakangnya.
Seketika itu, Maura mengusap air matanya. "Ah, Makasih Mbak." Maura kembali berusaha tegar, dan meraih ponsel miliknya dari tangan Rita.
"Maaf kalau aku lancang, Ra. Apa aku boleh tau, berapa biaya operasi Ibumu?"
Maura terdiam dan menatap Rita, Bukannya menjawab, Maura justru menangis terisak. Tak ada yang bisa Rita lakukan selain memeluk dan menenangkannya.
Setelah cukup lama menenangkan Maura, ia akhirnya sudah cukup tenang. Rita__Wanita yang baru saja ia temui hari ini pun, menjadi Orang yang melihat masa-masa sulit Maura.
"Aku akan membantumu, Maura. Aku akan membayar biaya Operasi Ibu kamu." Ujar Rita, sembari memegang kedua tangan Maura.
Mendengar itu, Maura pun tersentak kaget. 180 juta bukanlah jumlah uang yang sedikit. Kedua mata Maura kembali bergetar, menatap Rita. Seolah Rita adalah malaikat yang di utus Tuhan untuknya.
"Maafkan saya Mbak. Saya akan lakukan apapun untuk Mbak Rita, untuk membayar hutang budi saya sama Mbak." Kini Maura memegang erat tangan Rita, dengan sepenuh hati. Ia sangat berterimakasih, karena berkat Rita, Ibunya bisa segera melakukan tindakan Operasi.
"Soal itu, kamu bisa membayar saya pelan-pelan. Kalau begitu, mari kita urus." Rita kembali membawa Maura, menuju ke administrasi.
Rita Gunawan, adalah seorang Wanita kaya yang tak pernah merasa kekurangan. Memiliki latar belakang yang bagus, keluarga yang harmonis, serta Suami yang juga sangat kaya.
Uang 180 juta bukanlah hal besar bagi Rita. Namun begitu, setiap kelebihan pastilah selalu memiliki kekurangan.
Setelah hampir lima tahun menikah, Rita tak kunjung diberikan keturunan. Di keluarganya, hal itu cukup menjadi masalah.
Kegiatan sehari-harinya ialah mengelola Perusahaan Ayah-nya. Rita Gunawan, Wanita cantik dan sempurna itu, juga memiliki permasalahannya sendiri.
Setelah membantu Maura membiayai Operasi Ibunya, Wanita itu kini pulang ke Rumahnya.
Tepat pukul 12 malam, Maura disambut oleh Suaminya. "Kamu dari mana? Kenapa nggak menjawab telfonku?" Tanya seorang Pria, duduk di sofa dengan lampu yang redup.
Rita pun menghentikan langkahnya, saat mendengar suara Suaminya. Dari belakang, terlihat punggung lebar, mengenakan kemeja berwarna putih, dengan kancing paling atas yang terlepas.
Dilihat sekilas saja, Pria itu belum mengganti pakaiannya usai pulang bekerja. Di tangannya terdapat segelas minuman berupa anggur merah.
"Aku dari Apotik Mas, dan ada urusan mendesak juga tadi, jadi aku terlambat." Sahut Rita, kembali berjalan menghampiri Suaminya.
"Apa kamu membeli Vitamin? Atau Tespek lagi?"
Rita kembali terdiam. Suaminya bahkan sudah hafal dengan tujuan Rita pergi ke Apotik.
"Em, cuma untuk persediaan aja kok Mas." Sahut Rita, duduk di samping Suaminya.
Pria itu lebih dulu meletakkan gelasnya di atas meja, lalu mengusap lembut kepala Rita. "Kamu nggak perlu, setiap hari membeli itu semua. Aku nggak keberatan kok kalau kita belum punya anak!" Tutur Pria itu.
Dia adalah Arman Yudhistira, Suami Rita yang sangat baik padanya.
"Tapi itu kamu Mas. Aku, aku akan tetap berusaha agar kita segera punya anak. Kamu tenang saja."
Mendengar itu, Arman hanya lalu memeluk Istrinya dengan lembut. Selama ini, mereka telah mendapat banyak cemoohan dari beberapa keluarga, yang menyinggung soal anak.
Terlebih dari keluarga Arman, yang sangat mengidamkan seorang Cucu.
"Lebih baik sekarang kita tidur, Yuk. " Ujar Arman, lalu membawa Rita masuk ke kamar.
Malam ini, Rita tidak dapat memejamkan matanya. Berbeda dengan Arman, yang sejak seharian ini sibuk dengan pekerjaan, hingga membuatnya lelah dan cepat tertidur lelap.
Rita seolah merasa bersalah pada Arman karena belum juga hamil, setelah menuju tahun ke lima di Pernikahan mereka.
Tengah malam saat Arman terlelap tidur, Rita memilih beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di sofa. Ia membuka laptop dan mencari sesuatu cara, untuk bisa hamil.
Beberapa cara telah Rita lakukan, namun juga belum membuahkan hasil. Hingga akhirnya, sebuah tulisan muncul di layar laptop, agar bisa memiliki Anak.
"Surrogate mother? Apa ini cara yang bagus?" Gumamnya, merasa kaget juga saat Rita membaca artikel tersebut.
Dalam artikel menunjukkan sebuah kata Surrogate mother, yang artinya Ibu pengganti. Istilah tersebut merupakan, merujuk pada Wanita lain yang meminjamkan rahimnya, untuk membantu pasangan mendapat keturunan.
Namun, Surrogate mother sendiri masih menjadi hal tabu di Negara ini. Akan tetapi, Rita tampak tertarik dengan hal ini, sampai dirinya memikirkan siapa orang yang cocok untuk menjadi Ibu pengganti yang akan ia sewa rahimmya.
Pukul tiga pagi, tiba-tiba Rita mendapat sebuah pesan dari Maura. Pesan tersebut berisi, "Terimakasih, Mbak. Ibu saya telah selesai melakukan Operasi jantung. Berkat Mbak Rita, Ibu saya bisa melewati masa kritisnya. Saya berjanji akan membalas kebaikan Mbak Rita."
Sebelum berpisah, rupanya Maura sempat meminta nomor Rita, hingga kini ia bisa menghubunginya untuk berterimakasih.
Kemudian, Rita pun membalas pesan tersebut. "Besok, temui saya di halaman Rumah sakit. Ada yang mau saya bicarakan." Begitulah pesan yang di kirim oleh Rita.
****
Waktu telah berlalu begitu cepat. Pagi ini setelah Arman pergi ke kantor, Rita bergegas pergi ke Rumah sakit untuk menemui Maura.
Begitu tiba di Rumah sakit, Rupanya Maura sudah menunggu Rita sejak tadi. "Maaf, apa kamu menunggu lama?" Tanya Rita, duduk di samping Maura.
"Nggak kok, Mbak. Baru 10 menit aja." Sahutnya, merasa lega setelah operasu Ibunya berjalan lancar.
"Em, kamu sudah sarapan?"
"Sudah Mbak. Ngomong-ngomong, Mbak Rita mau bicara soal apa ya?" Tanya Maura, merasa sesuatu yang penting akan di katakan.
Sejenak, Rita lebih dulu menggenggam tangan Maura. "Begini Maura, soal uang itu..."
"Oh, soal uang mbak nggak usah khawatir. Aku sudah mendapat pekerjaan, dan aku janji akan membayar dengan cicil setiap bulannya, Mbak." Maura menyahutinya, meski Rita belum selesai bicara.
"Bukan, Ra. Soal uang itu, kamu nggak perlu mengembalikannya."
Maura tentu heran dan mengernyit, "Begini Maura, aku akan anggap uang itu lunas sah, tapi kamu harus melakukan sesuatu buat aku." Rita kembali memegang kedua tangan Maura, hingga membuat Maura semakin mengernyitkan dahinya.
"Sesuatu apa itu, mbak?"
"A, aku mau, aku mau menitipkan benih Suamiku di rahim kamu. Kamu hanya perlu mengandung selama 9 bulan, Ra dan aku akan mengasuhnya begitu dia lahir. Semua biaya akan aku tanggung. Kamu mau, Kan?"
Duarrrr!!!!
"A, apa maksud Mbak Rita? Apa itu sama dengan kamu menyewa rahim ku?" Maura tercengang bukan main dengan tawaran Rita.
Next....