Sikap Grace kembali dingin saat terakhir kali mereka berdebat karena Xavier mengikutinya.
Xavier sendiri masih terus berusaha untuk meluluhkannya meskipun seringkali banyak penolakan yang dilakukan oleh Grace.
Sikap yang diberikan Grace kepada Xavier sampai terdengar di telinga Helen, sebenarnya melihatnya dia merasa tidak tega karena di aini sangat terlihat jika putranya yang mencintai Grace, namun Grace sama sekali tidak mencintainya.
Ada perasaan marah dan kesal, tapi dia tidak bisa berbuat apapun karena Xavier sendiri ingin selalu mencoba meluluhkannya.
"Sesekali ajaklah Grace ke sini, Xavier. Mungkin saja perlakuan lembut dari Mommy nantinya akan membuag dia luluh. Mommy juga ingin berusaha untuk mengambil hatinya." Ucap Helen saat mereka sarapan bersama,
Sekarang adalah hati wekend, sebenarnya hari ini adalah fiting baju pengantin mereka, namun Grace menolak untuk memakai baju pengantin yang dipilih oleh Xavier, dia memilih gaun pengantin yang akan digunakan saat pernikahannya dengan Reyhan.
"Aku akan menanyakannya nanti." Ucap Xavier yang di angguki oleh Helen.
"Bagaimana persiapannya?" Tanya Robert sang ayah.
"Karena ini hanya pernikahan tertutup, jadi semuanya sudah ada yang menghandlenya," ucap Helen menyauti yang dimengerti oleh Xavier.
Kurang dua minggu lagi, dan Xavier sejujurnya tidak sabar akan hal itu.
Setelah sarapan bersama, Xavier pergi ke mansion Grace seperti biasa, dia juga ingin menanyakan soal permintaan ibunya tadi yang menginginkan kehadiran Grave di mansionnya untuk berkunjung.
Namun saat tak lama Xavier pergi, Starla masuk ke dalam mansion untuk menemui Helen.
Robert yang melihat Starla dengan seenaknya masuk ke dalam mansionnya jelas saja marah, dia memanggil pelayan dan penjaga di luar untuk masuk ke dalam.
"Apa kalian tidak becus bekerja? Kalian membiarkan orang asing masuk begitu saja tanpa izin dariku." Ucap Robert.
Bahkan penjaga manaion Xavier langsung ketakutan, dia tidak mengira jika Starla yang biasanya datang bersama Nyonya mansion ini di anggap orang asing, padahal dulu dia sering datang dan tidak ada masalah.
"M-maaf, Tuan! Biasanya Nona Starla—
"Jangan jadikan kebiasaan karena orang asing tidak pantas masuk begitu saja di mansion orang lain." Ucap Robert namun pelayan dan penjaga mansion hanya bisa mengiyakan dengan takut-takut.
"Paman jangan berlebihan, aku di sini bukan untuk membuat keributan dan menganggumu, aku hanya ingon mengunjungi Tante Helena." Ucap Starla yang sebenarnya kesal dengan sikap Robert yang menurutnya sangat berlebihan.
"Nyatanya saat ada keluar dari mulutmu, mungkin akan bisa memicu keributan." Ucap Robert.
"Sudah, Dad! Tidak apa. Bagaimanapun Starla adalah anak temanku." Ucap Helen yang melerainya.
Robert menghela nafas panjangnya dan akhirnya membiarkannya, dia memilih untuk pergi ke kamarnya karena malas melihatnya.
"Terima kasih, Tante." Ucap Starla yang senang karena Helen masih bersikap baik kepadanya.
"Ada apa, Starla?" Tanya Helen.
"Tidak apa, Tante! Aku hanya ingin mengunjungimu," ucap Starla dengan senyuman.
"Sejujurnya aku masih berharap jika Xavier memilihku, aku sangat mencintainya, Tante.
"Akan lebih baik kau menerima menantu yang mencintai putramu, bukan yang dengan terang-terangan sebenarnya menolaknya. Aku kasihan dengan Xavier yang seperti berjuang sendirian." Ucap Starla.
"Cinta memang membutuhkan perjuangan, Starla. Aku sudah tidak bisa menentang mereka, Xavier sangat mencintainya, dan aku akan mendukungnya sampai mereka menikah nantinya." Ucap Helen yang membuat Starle mengepalkan tangannya.
"Tapi sikap Grace keterlaluan, Tante, dia seperti tidak menghargai usaha Xavier." Ucap Starla.
"Semua buruh proses, Starla. Aku mohon kau tidak menganggunya, cukup satu kali Xavier merasa hancur kehilangan Grace, aku tidak mau membuat Xavier kembali hancur karena kehilangannya lagi." Ucap Helena.
Starla semakin kesald engam jawaban Helena, sia merasa sia-sia saja datang ke sini, padhal sebelumnya dia juga bercerita tentang asal usul Grace yang berbeda dengan kehidupan mereka yamg pembisnis.
Helena sekarang benar-benar sudah tidak bisa dipengaruhi lagi, padahal dulumya Helen langsung terpengaruh kepadanya dan mau bekerja sama dengannya untuk memisahkam mereka.
*****
Di tempat lain, Xavier sudah berada di mansion Grace, di sana ternyata Grace sedang membuat kue dengan ibunya karena pemintaan George,
Grace yangs ebenarnya malas namun akhirnya menyetujuinya karena ini adalah hari libur.
"Putrimu sangat cantik, Paman." Ucap Xavier tiba-tiba kepad aGeorge yang berada di ruang tamu.
"Ya, dia memang snagat cantik, unruk itu kau selalu tidak bisa melepaskannya." Ucap George yang menyindirnya.
Xavier hanya tersenyum tipis sambil terus memandanginya.
"Kalian sudah fiting baju?" Tanya George.
"Grace menolak untuk memakai gaun yang aku pilih, dia ingin memakai gaun yang seharusnya akan dia pakai di pernikahannya dengan Reyhan." Ucap Xavier yang bercerita.
George sendiei terkwjut namun tidak bisa mencegahnya juga,
"Apa kau akan sabar menghadapi Grace? Kau tau sensiri mungkin ini akan lama." Ucap George.
"Aku bisa menunggunya selama bertahun-tahun, ketika aku mendapatkannya kembali, tidak mungkin bisa aku lepaskan begitu saja; aku akan beesabar demi meluluhkannya, aku yakin jika masih ada perasaan Grace kepadaku meskipun itu hanya sedikit." Ucap Xavier yang akhirnya membuat George tersenyum.
Dia tidak salah memilih Xavier karena memang terlihat jika Cavier sangat mencintai Grace.