Bab 17

739 Words
Helena sudah semakin menerima Grace, meskipun dia sedikit berat hati karena latar belakang mereka benar-benar berbeda jauh. Pernikahan Xavier dan Grace sendiri sudah dekat dan hanya kurang satu minggu lagi. Grace masih bekerja dan tidak mau cuti terlalu lama, Xavier sendiri tidak bisa mencegahnya, dia sendiri senang saat menjemput dan mengantarkan Grace ke kantornya sehingga dia memiliki waktu luang dengannya. "Grace tidak kerja? Kenapa?" Tanya Xavier saat dia berada di rumah Grace dan ternyata orang tuanya mengatakan jika Grace tidak bekerja hari ini. "Dia sedang tidak enak badan, memang wajahnya sedikit pucat," ucap Magie memberitahu. "Aku sudah mengajaknya ke dokter tapi dia tidak mau, coba kau temui dia dan bujuk dia, mungkin saja dia mau ke dokter karena aku khawatir kepadanya." Ucap Magie Xavier tentu saja mengamgguk setuju, dia juga khawatir jika mendengar Grace sakit. Xavier berjalan menuju kamar Grace. Dia lebih dulu mengetuk pintunya karena tidak mau Grace mengomel nantinya. Dia mengetuk beberapa kali namun tidak ada jawaban dari Grace yang membuat Xavier khawatir dan akhirnya membuka handle pintunya. Saat masuk, Grace tidak ada di ranjangnya, dia melihat sekitar yang tidak ada Grace di sana, namun saat ingin keluar, dia mendengar suara di kamar mandi yang membuat Xavier akhirnya berbalik dan igin melihatnya. Suara di kamar mandi semakin keras ketika dia mendekatinya, dia membuka sedikit kamar mandi yang ternyata Grace memang ada di sana dan sedang muntah. Xavier yang terkejut langsung membukanya, "Jangan ke sini." Ucal Grace mencegah Xavier untuk masuk, namun kali ini tidak di dengarkan olehnya, Xavier tetap masuk dan bahkan memijat Tengkuk leher belakang Grace agar sedikit lebih baik. Setelah selesai, Grace membasuh wajahnya, dia duduk lebih dulu di atas closet karena dia sedikit lemas dan pusing. "Aku sudah mencegahmu masuk. Seharusnya kau mendengarnya." Ucap Grace yang sebenarnya itu bentuk omelan. "Aku mencintaimu, Grace. Aku bukan mencintaimu dalam hal senang saja, semua yang terjadi kepadamu akan mendapatkan dukunganku dan perhatianku." Ucap Xavier namun Grace hanya diam saja. Dia menghela mafas panjangnya dan akhirnya berdiri hendak keluar dari kamar mandi. Namun kepalanya tiba-tiba saja semakin pusing dan bahkan hampir terjatuh jika saja Xavier tidak menangkapnya. Xavier akhirnya menggendongnya dan membawanya keluar. Grace tidak bisa menolak karena memang kepalanya benar-benar pusing. "Kita harus ke rumah sakit." Ucap Xavier. "Tidak! Aku tidak mau. Aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya kelelahan karena kemaren sempat mengambil lembur." Ucap Grace. "Meskipun kelelahan pun harus minum obat, atau paling tidak vitamin." Ucap Xavier. "Aku tidak mau." Ucap Grace yang tetap menolak. "Bagaimana jika aku meminta dokter pribadi yang datang ke sini? Kita tidak perlu ke rumah sakit." Ucap Xavier yang masih membujuknya. "Aku tidak mau karena aku merasa baik-baik saja." Ucap Grace yang masih kekeh untuk menolaknya. Xavier menghela nafas panjangnya dan akhirnya tidak bisa memaksanya. Namun dia menghubungi dokter pribadi keluarganya untuk mengirimkan obat untuk Grace. Dia mengatakan gejala-gejala yang di alami Grace dan membuat sang dokter mengerti. Tidak terlalu lama menunggu, obat itu langsung sampai dan Grace meminumnya. Dia menghela nafas panjangnya dan akhirnya tertidur karena dia juga mengantuk. Melihat Grace yang sudah tidur, Xavier hanya bisa memandanginya. Dia berharap jika sikap Grace akan berubah seiring berjalannya waktu. Xavier hari ini tidak ke kantor, dia rela menemani Grace bahkan ingin menyuapinya saat dia terbangun dan akan melakukan makan siang. "Kenapa kau masih di sini?" Tanya Grcae. Dia menolak untuk di suapi oleh Xavier dan memilih untuk makan sendiri. "Menemanimu, kau sakit." Ucap Xavier. "Aku sudah baik-baik saja, aku sudah mengatakan itu sedari tadi." Ucap Grace. "Kau seharusnya tidak perlu menemaniku, aku tau waktumu adalah uang, dan kau sudah membuang-buang uangmu hanya karenaku." Ucap Grace. "Aku rela meninggalkan semuanya saat kau minta, kau pasti tau apa artinya itu semua." Ucap Xavier namun akhirnya Grace terdiam dan tidak menjawabnya lagi. Setelah makan siang dan kembali meminum obat, Grace menghela nafas panjangnya dan malah bermain ponsel. "Aku mencintaimu, Grace." Ucap Xavier tiba-tiba. "Ya, aku tau! Kau tidak perlu mengulanginya." Ucap Grace. "Pernikahan kita sebentar lagi, aku jarap kau— "Jangan berharap lebih padaku, Xavier! Kau tau sendiri alasanku menerimamu," ucap Grace memotonf perkataan Xavier. "Memang aku sendiri yang memutuskan untuk menerimamu, tapi aku sangat mencintai Reyhan, bagiku kau adalah masa laluku, yang menyembuhkanku di mana dulu persoalan kita adalah dia, dia selalu setia dan bisa membuatku melupakan semuanya. Jadi tolong jangan berharap apapun dariku." Ucap Grace yang membuat Xavier akhirnya terdiam. Kata-kata Grace memang menusuk hatinya. Dia memang salah jika mengatakan akan berharap tentang pernikahan ini, padahal pernikahan ini sama sekali bukan kehendaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD