Bab 4

1113 Words
"Grace." George sang ayah bahkan sedari tadi memeluk putrinya yang menangis karena kondisi Reyhan saat ini. "Makanlah dulu, Sayang. Kau belum makan sedari tadi." Lanjurnya. "Dalam kondisi seperti ini, apa menurut Papa makanan akan masuk ke dalam tenggorokanku?" Ucap Grace yang akhirnya membuat George terdiam. Dia sangat mengerti perasaan putrinya ketika melihat di depan matanya kondisi Reyhan sangat memprihatinkan, bahkan tubuhnya penuh terpasang dengan alat medis yang membuat Grace semakin hancur. Dia bahkan tidak menyangka di saat di hari pernikahannya besok yang seharusnya bahagia namun dia mengalami kesedihan yang mendalam seperti ini. "Reyhan pasti baik-baik saja." Ucap Roni menenangkan Grace yang membuat dia meneteskan air matanya. "Kita harus berterima kasih juga kepada rekan kerjanya karenadia rela memberikan darahnya kepada Reyhan, padahal aku belum pernah melihatnya bersama Reyhan." Ucap Roni. "Rekan kerja?" Beo Grace yang di angguki oleh Roni. "Dia terlihat sangat khawatir dengan Reyhan, aku tidak tau mungkin mereka sebelumnya mengenal lama dan aku tidak tau itu." Grace hanya diam saja, dia bersyukur namun rasanya enggan membahasnya lebih dulu karena dia masih dalam suasana duka melihat calon suaminya terbaring lemah seperti ini. Tak lama dokter dan perawat masuk untuk memeriksanya, yang membuat Grace dan semuanya berdiri. "Bagaimana keadaannya?" Tanya Grace. "Kondisinya masih sama, Nona." Dokter sendiri sebenarnya cukup takjub dengan kondisi Reyhan yang masih bertahan, padahal seharusnya dia sudah meninggal sejak tadi karena lukanya yang sangat parah. "Tolong selamatkan dia. Aku mohon." Ucap Grace yang menangis. "Kami akan melakukan semaksimal mungkin, selebihnya hanya tuhan yang bisa berencana." Ucap dokter yang membuat Grace semakin sesak, dia jelas tau apa yang dimaksut oleh dokter, dengan kata lain, sebenarnya kondisi Reyhan sudah parah dan hanya menunggu keajaiban yang diberikan tuhan kepada Reyhan untuk bertahan hidup. Setelah memeriksanya dan akan pergi dari dari sana, nafas Reyhan terdengar berat yang membuat semuanya terkejut. Dokter sendiri juga terkejut dan langsung memeriksanya lagi, Reyhan membuka matanya dan melihat sekitar dan melihat ada calon istrinya yang menangis melihatnya. "G-grace— Grace langsung mendekat dan semakin menangis melihat Reyhan seperti ini. "Tenangkan diri anda, Tuan! Kondisi anda akan memburuk jika memaksanya." Dokter meminta Reyhan untuk tidak berbicara terlebih dahulu karena dia sedang memeriksa semua kondisinya. "Aku harus berbicara sesuatu kepadanya." Terdengar terbata-bata dan bahkan Reyhan mengucapkannya dengan sedikit susah. "Jangan berbicara dulu, kau harus baik-baik saja." Ucap Grace yang memohon. "X-xavier. Di mana dia?" Grace jelas saja terkejut karena Reyhan malah mencari Xavier. Mantan kekasihnya. "A-apa maksutmu? Tidak ada Xavier di sini. Jangan berbicara aneh-aneh dan membuatku takut." Ucap Grace. "Xavier adalah orang yang sedari tadi ikut menunggu Reyhan, bahkan dia juga yang mendonorkan banyak darah untuknya." Ucap Roni menyauti. Grace dan orang tuanya jelas saja shock, dia tidak tau sama sekali jika ada Xavier di sini dan bahkan sampai mendonorkan darahnya. "Tolong panggilkan dia." Ucap Reyhan yang bahkan menahan sakit, rasanya sakit luar biasa dan sepertinya memang dia tidak bisa menundanya. "Dia sedang istirahat karena mendonorkan banyak darah untukmu, kenapa kau mencarinya?" Tanya Roni. Reyhan tidak menjawab namun dia meringis dan seperti ingin dituruti. "Turuti saja, aku tau jika dia menahan sakit yang luar biasa, perlu kalian tau jika sebenarnya bahkan tubuhnya seharusnya sudah tiada, tapi entah kenapa dia masih bertahan namun kondisinya sudah sangat parah, mungkin dia ingin menypaikan sesuatu yang membuat tubuhnya akan ringan dan lega." Ucap dokter memberitahu. "Apa maksutmu mengatakan itu? Secara tidak langsung kau mengatakan jika calon suamiku akan tiada." Grace marah dengan perkataan dokter namun dia hanya diam saja karena bingung harus menjawab apa. Perawat memanggil Xavier yang memang sedang istirahat di sebuah tuangan, dia harus beristirahat setidaknya selama dua hari untuk memulihkan tubuhnya karena mendonorkan darahnya kepada Xavier. Xavier semdiri terpaksa mengikuti meskipun kepalanya pusing, bahkan wajahnya memucat karena memang baru beberapa jam yang laku darahnya didonorkan. Xavier memakai kursi roda karena dia memang tidak memiliki banyak tenaga, dia sedikit terkejut karena melihat ada banyak orang di sana dan bahkan ada Grace juga yang sedang menangis. Tatapan mereka sempat bertemu namun Grace memutuskannya. Begitupun dengan Xavier yang berfokus kepada Reyhan yang seperti menahan sakitnya. "Kau berusaha menyelamatkanku dengan mendonorkan darahmu, padahal kau bisa saja membiarkan aku meninggal sehingga kau bisa mendapatkan Grace kembali." Ucap Reyhan yang sejujurnya membuat semuanya terkejut. Bahkan Roni sang paman masih belum mengerti apa yang dikatakan keponakannya. "Kau memang harus hidup." Ucap Xavier. "Kenapa?" "Karena banyak orang yang mencintaimu." Jawabnya. Reyhan mengatur nafasnya, sakitnya kembali menyerangnya yang membuat Grace semakin menangis. "Tolong jangan berbicara apapun, kau sedang sakit." Ucap Grace sambil terisak. Suara Grace yang menangsii Reyhan sebegitunya membuat Xavier merasa hatinya gelisah namun dia tidak bisa berbuat apapun karena memang Reyhan calon suaminya. "Kenapa kau menyelamatkanku? Apa kau tidak ingin kembali pada Grace?" Tanya Reyhan. "Reyhan! Apa-apaan ini? Apa yang kau bahas ini." Grace jelas saja tidak suka dengan pembahasan Reyhan, bahkan seharusnya dia tidak memanggil Xavier dan memaksa untuk bertemu dengannya. "Aku sudsh tidak tahan, Sayang! Ini sangat sakit." Ucap Reyhan. "Kalau begiru jangan berbicara dan beristirahatlah. Demi aku. Aku mohon." "Justru aku harus mengatakan ini agar aku lega nantinya." Ucap Reyhan. "Tolong jaga Grace, aku mungkin tidak akan bisa menahannya. Tolong nikahi dia karena aku tau hanya kau yang bisa menjaganya dan memberikan cinta yang besar kepadany." Ucap Reyhan yang semakin membuat semuanya terkejut. "Reyhan—" bahkan Grace sampai menegur Reyhan karena tidak mnyangka jika dia akan mengatakan hal itu. "Kau sendiri yang harus menjaganya, apa kau tidak lihat kesedihannya? Dia mencintaimu tapi kau malah mengatakan yang tidak-tidak kepadanya." Ucap Xavier yang sebenarnya juga tidak menyangka jika Reyhan akan mengatakan hal itu. "Dia memang mencintaiku tapi aku tau kau masih sangat mencintainya. Aku memenangkan hatinya selama dua tahun ini yang sebelumnya hanya dirimu dihatinya." Ucap Reyhan. "Tidak! Tidak ada orang lain. Aku mencintaimu. Jika kau mengatakan yang tidak-tidak dan meninggalkan aku, maka aku akan pergi bersamamu." Ucap Grace. "Tidak, Sayang! Hidupmu harus terus berjalan. Kau harus bahagia." "Bagaimana bisa aku bahagia jika bahagiaku adalah bersamamu." Ucap Grace yang menangis, dia benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. "Tolong jaga dia, tolong jaga dia— Ringisan Reyhan membuat semuanya panik, bahkan Xavier meminta dokter untuk menyelamatkannya, "Darah di kepalanya tidak berhenti. Dok" Ucap perawat yang juga panik. "Ambil darahku sebanyak yang dia perlukan asal dia selamat." Ucap Xavier yang panik. "Tolong kalian keluar dulu, saya akan melakukan sebisanya." Ucap Dokter yang akhirnya semuanya pergi. Grace sudah menangis histeris, Xavier benar-benar tidak tega, dia memilih untuk sedikit menjauh karena tidak bisa melihat Grace seperti ini, Tak lama Dokter keluar, entah apa yang dikatakan Dokter kepada Grace dan keluarganya namun Grace langsung pingsan yang membuat Xavier terkejut dan menghampiri mereka. Dari ekpresi mereka, sepertinya Xavier bisa menebak apa yang sudah terjadi, namun dia merasa juga lemas karena dia tidak menyangka jika Grace akan benar-benar kehilangan Reyhan, pria yang akan menikah dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD