bc

Rumah Teduh Di Tengah Badai

book_age16+
3
FOLLOW
1K
READ
revenge
love-triangle
family
boss
single mother
drama
bxg
city
musclebear
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

Venus selalu percaya, rumah tangga yang ia bangun bersama suaminya akan baik-baik saja—meski ada banyak hal yang diam-diam membuatnya takut. Sampai suatu hari, ketakutan itu datang dalam bentuk paling menyakitkan. Suaminya berselingkuh. Dalam satu malam, hidup Venus berubah. Pernikahan yang ia pertahankan runtuh, kepercayaan berubah menjadi trauma, dan cinta yang dulu ia banggakan kini hanya menyisakan luka. Di saat semua orang sibuk menyalahkan Venus, hanya Saga yang memilih tetap percaya padanya. Akankah Venus membuka hatinya kembali setelah luka yang begitu dalam tergores tanpa ampun?

"Aku yang diselingkuhin, tapi aku yang disalahkan atas semua yang terjadi. Apa itu adil?"

"Gak usah dengerin mereka. Mereka gak tahu, apa yang udah kamu lewati selama ini untuk bertahan."

chap-preview
Free preview
Prolog
POV Venus “Ya ampun… berantakan banget. Pasti ulah Mas Aji lagi.” Aku menghela napas panjang sambil memunguti pakaian kotor yang berserakan di ruang ganti. Satu per satu kumasukkan ke dalam keranjang laundry, lalu merapikan gantungan baju yang berantakan. Sudah seperti rutinitas harian—setiap kali Aji pulang kerja, ruang ganti ini selalu terlihat seperti habis diterjang badai kecil. Namun, saat tanganku hendak meluruskan jas abu-abu favoritnya yang tergantung miring, jemariku menyentuh sesuatu di dalam saku. Aku mengernyit. Tanganku merogoh ke dalam, lalu seketika membeku di tempat. Sebuah alat tes kehamilan. Tanganku langsung dingin. Perlahan, mataku turun pada dua garis merah yang terlihat jelas di sana. Seketika itu juga jantungku seperti dihantam sesuatu yang keras. Napasku tercekat. Untuk beberapa detik, aku hanya bisa menatap benda itu tanpa berkedip, seolah berharap mataku sedang salah melihat. ‘Tespek siapa ini?’ ‘Kenapa benda ini ada di saku jas Mas Aji?’ ‘Tidak… pasti ada penjelasan lain. Mungkin ini milik seseorang yang tidak sengaja tertinggal. Mungkin milik rekan kerja. Mungkin—astaga… tapi kenapa harus disimpan di saku jasnya?’ Pikiranku langsung dipenuhi berbagai kemungkinan yang ingin kutolak mentah-mentah. Dengan tangan gemetar, aku buru-buru merapikan sisa pakaian, meski pikiranku sudah tidak lagi ada di sana. Setelah selesai, aku melangkah cepat kembali ke kamar sambil menggenggam alat itu erat-erat. Aku duduk di tepi tempat tidur sambil merenung. Dadaku rasanya sangat sesak. ‘Apa aku tanya langsung sama Mas Aji aja? Atau diam dulu sambil mencari tahu? Tapi… gimana kalau semua ini hanya salah paham? Gimana kalau Mas Aji menyangka aku menuduhnya yang nggak-enggak?’ Aku menarik napas dalam, lalu menundukkan kepala. ‘Gimana… kalau ketakutanku selama ini jadi kenyataan?’ Aku langsung menggeleng keras, berusaha mengusir pikiran itu. Selama ini aku selalu berusaha menjadi istri yang baik. Aku percaya pada pernikahan kami, percaya pada Aji, percaya bahwa rumah tangga yang kami bangun akan baik-baik saja. Tapi sialnya, benda kecil di tanganku ini seolah sedang mengejek dan menertawakan semua keyakinan itu. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Aku butuh jawaban. Dan kali ini, aku tidak bisa terus berpura-pura semuanya baik-baik saja. Baru saja aku hendak bangkit untuk menyembunyikan alat tes kehamilan itu, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah kamar. Disusul suara Aji yang sedang berbicara melalui ponselnya. Refleks, aku menyelipkan alat tes kehamilan itu ke bawah bantal, lalu buru-buru berbaring dan memejamkan mata, pura-pura tidur. Jantungku berdetak begitu keras sampai aku takut suaranya bisa terdengar. Aku menahan napas, berusaha fokus pada percakapan di luar sana. Lalu, suara itu terdengar jelas. “Aku akan bertanggung jawab. Jadi tolong, rahasiakan ini dari siapa pun… termasuk mantan suamimu, dan juga Venus.” Dunia seakan berhenti berputar. Tubuhku membeku. Aku bahkan lupa bagaimana caranya bernapas. Kalimat itu menghantamku jauh lebih keras daripada dua garis merah tadi. Ini sudah bukan prasangka lagi, bukan ketakutan yang berlebihan, bukan juga pikiranku yang terlalu liar. Ini nyata. Suamiku benar-benar mengkhianatiku. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
659.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.3M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
897.5K
bc

A Warrior's Second Chance

read
317.0K
bc

Not just, the Beta

read
322.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook