Penjara Baru

1070 Words
Celia terbaring pasrah, matanya tetap terpejam. Ia memilih untuk mematikan perasaannya, membiarkan tubuhnya menjadi wadah kosong. Dunia seolah terus melukainya, dan kini, luka itu datang dari tangan yang dulu ia percayai sebagai cinta sejati. Alex mulai menelusuri tubuh Celia dengan sentuhan liar. Ia menaburkan ciuman-ciuman panas dan meninggalkan jejak kemerahan di kulit putih Celia, sebuah tanda kepemilikan yang dipaksakan. Napas Alex memburu, gairahnya sudah mencapai puncak. Ia menatap wajah Celia yang memejam, tampak tak bernyawa. “Kenapa kau hanya diam, Celia? Buka matamu. Lihat siapa yang sedang memilikimu sekarang.” tuntut Alex dengan suara serak. Celia membuka mata, hanya untuk menatap langit-langit, menghindari kontak mata. “Cepat lakukan saja,” ucap Celia ketus, suaranya dipenuhi kebencian yang dingin. Senyum licik tersungging di bibir Alex. “Aku sudah membayarmu mahal, Celia. Aku akan menikmati setiap detiknya dengan perlahan.” Ia menunduk, berbisik tajam di telinga Celia. “Milikmu basah. Itu tanda kau juga menikmatinya, bukan?” Tuduhan itu menghantam Celia, memaksanya menahan tangisan. Sebuah pekikan kecil lolos dari bibir Celia saat benda keras itu merobek pertahanannya. “Aggk!” Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah. “Sakit?” Alex berbisik lagi, kini dengan nada kepuasan yang kejam. “Ini tak seberapa, Celia. Aku akan memastikan kau lebih kesakitan lagi, agar kau tidak akan pernah lupa malam ini.” Alex mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang cepat dan keras. Celia tidak mengeluarkan suara, hanya bisa meremas kuat-kuat sprei sutra di bawahnya, menahan rasa sakit fisik yang luar biasa bercampur dengan rasa sakit atas harga dirinya yang terkoyak. Ia kembali memejamkan mata, membiarkan kegelapan merenggut kesadarannya. **** Keesokan Harinya … Fajar baru saja menyentuh langit, tetapi kamar hotel masih remang-remang. Celia membuka matanya. Ia berada dalam pelukan Alex. Wajah Alex tampak tenang dan damai dalam tidurnya, kontras dengan perbuatan kejamnya semalam. Celia melepaskan diri dari dekapan itu dengan gerakan yang sangat hati-hati. Ia menggigit bibirnya, menahan ringisan saat rasa perih menusuk di antara kedua pahanya. Dengan langkah terseok, ia berjalan menuju kamar mandi. Di bawah pancuran air hangat, Celia membiarkan air membersihkan tubuhnya, namun gagal membasuh rasa hancur di hatinya. Setelah selesai, ia kembali ke kamar, tubuhnya terbalut handuk. Ia berdiri di samping ranjang, menatap wajah Alex yang terlelap. Awalnya, ada sisa-sisa kelembutan dari memori lama yang muncul, tetapi dengan cepat, tatapan itu berubah menjadi kobaran kebencian. “Apa kau sudah puas sekarang?” bisiknya lirih, suaranya tercekat. “Kau membuatku mendekam selama sepuluh tahun di penjara, dan sekarang, kau memberiku penjara yang baru saat aku bebas.” Air mata Celia tumpah, namun ia tetap berdiri tegak. Ia tidak lagi menangis karena rasa sakit fisik, melainkan karena kesadaran bahwa ia telah kehilangan segalanya, termasuk martabatnya, demi pria ini. Celia segera mengenakan pakaiannya, tanpa menoleh lagi, ia melangkah keluar dari kamar hotel. **** Celia duduk di sisi ranjang Ibunya di ruang perawatan. Ia menggenggam tangan Ibunya yang kurus, menyunggingkan senyum yang dipaksakan. Ia berusaha keras menutupi jejak kepedihan dan kehancuran yang ia alami semalam. “Ma, dengarkan aku,” ujar Celia lembut. “Dua hari lagi, Mama akan segera dioperasi. Mama harus kuat dan cepat sembuh, ya.” Celia mengambil sebungkus anggur hijau dari tasnya. “Mama mau makan anggur? Aku sudah belikan anggur kesukaan Mama.” Mata Ibunya yang lemah bergerak, menatap Celia dengan penuh tanda tanya. “Operasi?” tanya Ibunya lirih, suaranya nyaris berbisik. “Kamu dapat biayanya dari mana, Nak? Itu pasti mahal sekali.” Celia menunduk sejenak, menelan gumpalan di tenggorokannya. Ia tahu ia harus berbohong. “Mama ingat bosku yang namanya Ibu Oki di tempat kerja?” Celia menjawab, mencoba terdengar ceria. “Iya, dia sangat baik, Ma. Dia meminjamiku uangnya. Katanya, nanti akan dipotong dari gajiku setiap bulan.” Napas Ibunya tertahan. Raut wajah yang tadinya khawatir kini berubah menjadi kelegaan dan rasa syukur yang mendalam. “Syukur Puji Tuhan …” Bisik Ibunya, air mata haru menetes di sudut matanya. “Ya Tuhan … terima kasih Engkau sudah mengirim orang-orang baik kepada putriku.” Celia hanya bisa membalas dengan senyum tipis, hatinya remuk. Ia mencium kening Ibunya. Kebohongan yang baru saja ia ucapkan adalah satu-satunya hadiah terindah yang bisa ia berikan, menyembunyikan kenyataan pahit bahwa ‘orang baik’ yang dimaksud Ibunya adalah mucikari, dan uang itu adalah harga dirinya. **** Alex terbangun perlahan. Ia merasakan sisi ranjang di sebelahnya sudah dingin. Celia sudah pergi. Ia bangkit, mengambil jubah mandinya. Saat pandangannya menyapu meja di sisi ranjang, ia melihat secarik kertas putih kecil tergeletak di sana. Alex mengambilnya. Tulisan tangan itu rapi, tetapi tegas, seperti setiap kata dipaksakan keluar dari kebencian. Isi surat itu berbunyi: Maaf, aku mengambil lima ratus ribu rupiah dari dompetmu. Aku butuh untuk ongkos taksi dan membeli sedikit buah-buahan untuk ibuku. Tolong potong dari uang lelang yang akan kau berikan padaku. — Celia. Alex membaca kalimat itu. Lima ratus ribu, uang yang jumlahnya begitu remeh. Senyum getir miring di wajah Alex. Ia meremas kertas itu di tangannya. Senyum Alex memudar, digantikan oleh sorot mata yang dingin dan penuh tekad. Ia melemparkan kertas itu ke lantai. "Kau pikir kau bisa lepas dariku, Celia?" gumam Alex pada ruangan yang kosong. **** Malam telah larut. Di sebuah warung makan Padang yang sederhana, Celia menyelesaikan tugasnya. Ia cekatan mengumpulkan piring-piring kotor di atas meja, bau rendang dan bumbu pedas memenuhi udara. Warung itu telah tutup, hanya pintu samping kecil yang terbuka, mengundang bayangan jalanan masuk. Saat ia sedang mengelap meja dengan gerakan cepat dan efisien, ia mendengar langkah kaki asing mendekat. Langkah yang terlalu teratur untuk pelanggan biasa. “Apa profesi sebagai p*****r tidak cukup menghidupi mu?” Suara itu. Alex. Nada mengejeknya langsung membangkitkan amarah dingin di d**a Celia. Celia tidak menoleh, tidak bereaksi. Ia terus mengelap permukaan meja dengan gesit, seolah-olah membersihkan remah-remah itu jauh lebih penting daripada pria yang berdiri di belakangnya. Alex kehilangan kesabaran. Ia meraih pergelangan tangan Celia, memaksanya menghentikan pekerjaan dan memperhatikannya. Celia menarik tangannya dengan sentakan kuat. Ia membanting lap basah yang ada di tangannya ke atas meja kayu dengan bunyi plak yang keras, sebuah isyarat kemarahan yang jelas. “Bukankah kita saling membenci?” tanya Celia ketus, akhirnya menatap Alex. Matanya tajam. “Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi.” Celia meraih lap itu lagi dan melanjutkan pekerjaannya, mencoba membangun dinding tak terlihat di antara mereka. Namun, Alex mendekat lagi. Kali ini, ia memegang kedua tangan Celia, menghentikan seluruh gerakannya. “Menikahlah denganku, Celia,” ucap Alex, suaranya rendah dan serius. “Ayo kita menikah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD