Celia terpaku, lap di tangannya terjatuh lagi. Mata kebenciannya kini dipenuhi kebingungan. Di tengah warung yang beraroma sisa masakan, tawaran itu terasa seperti ejekan paling kejam yang pernah ia dengar.
Celia menatap Alex, tidak percaya dengan tawaran yang baru saja ia dengar. Kebenciannya meluap.
“Kau sudah gila, Alexander?” tuntut Celia. Suaranya menusuk, tajam dan bergetar menahan amarah yang menyakitkan. “Sepuluh tahun lalu kau bersaksi bahwa aku pembunuh ibumu! Aku pembunuh ibumu!” Ia menekankan setiap kata dengan gigi terkatup, seolah meludahkan bara panas, bukan hanya racun.
Alexander hanya diam, ekspresinya tertutup, seperti tembok yang dingin.
Flashback Terbuka …
Ruang Persidangan, Sepuluh Tahun Lalu
Ruangan itu pengap, dipenuhi ketegangan yang menyesakkan. Di kursi saksi, Alexander yang masih remaja duduk tegak. Matanya bertemu dengan mata Celia di kursi terdakwa, tetapi ia segera memutus kontak.
“Saudara saksi,” ujar Ketua Majelis Hakim dengan nada datar yang berwibawa, “apakah Saudara yakin telah melihat Terdakwa, Celia Abigail Darsono, dengan sengaja mendorong almarhumah ibu Saudara dari tangga?”
Sebuah jeda yang terasa seperti selamanya menggantung di udara.
“Ya, Yang Mulia!” jawab Alex. Suara itu begitu tegas, tanpa keraguan sedikit pun, mematahkan harapan terakhir Celia.
Celia, yang sejak awal berharap Alex akan menjadi pembela utamanya, kekasihnya. Namun apa yang dikatakan Alex membuatnya terkejut dan hancur. Ia menggeleng keras, tidak mampu memproses pengkhianatan yang baru saja ia dengar.
“Ti-tidak … Dia berbohong! Bukan itu yang dia lihat! Itu kecelakaan! Dia tahu! Dia melihatnya dengan jelas!” Celia meracau panik, berusaha mati-matian meyakinkan siapa pun di ruangan itu.
“Terdakwa, harap tenang! Anda akan mendapat kesempatan untuk memberi kesaksian. Pengacara, mohon tenangkan klien Anda,” perintah Yang Mulia Hakim.
Celia mengabaikan sentuhan pengacaranya. Ia menggeleng putus asa, menatap Alexander dengan tatapan penuh kekecewaan, kepedihan, dan amarah yang baru lahir. Air matanya runtuh, jatuh beruntun membasahi pipinya yang pucat.
Flashback tertutup …
Alex sama sekali tidak gentar. Wajahnya datar, tetapi matanya memancarkan perhitungan yang dingin.
“Bukankah menempatkan musuh di dekat kita adalah bentuk balas dendam paling efektif?” jawab Alex tenang.
Celia menyeringai pahit, air matanya kering karena amarah. "Kau menawariku penjara baru? Hanya orang bodoh yang akan menerimanya."
Alex melangkah mendekat. "Aku akan merawat ibumu. Dokter terbaik, perawatan terbaik, biaya tak terbatas. Dan kau tidak perlu kembali menjadi p*****r di tempat kotor itu."
Tawaran itu menghantam tepat di kelemahan Celia. Ia terdiam, terbelah antara harga dirinya dan nyawa ibunya.
Celia menghela napas, ia menarik diri. "Pergilah. Ibu pemilik warung akan segera kembali."
Celia berbalik, bergegas melarikan diri ke arah dapur, meninggalkan Alex berdiri sendirian di tengah warung yang sepi, menatap punggung Celia yang kini menjadi sandera cinta dan dendamnya.
Di dapur, Celia berjongkok di tumpukan piring kotor yang menantinya untuk dibersihkan. Pertahanannya pun goyah, punggungnya bergetar di iringi air mata yang jatuh begitu deras, ia menangis mengingat begitu kejamnya dunia mempermainkannya.
Alex melangkah keluar dari warung Padang. Langkahnya terhenti di dekat ambang pintu mobilnya ketika ia mendengar suara-suara yang menarik perhatiannya.
Seorang wanita paruh baya, Bu RT, sedang berbicara dengan Bu Oki, pemilik warung.
"Eh, Bu," kata wanita itu dengan nada bergosip yang tajam, "Apa Ibu tidak tahu gadis yang Ibu pekerjakan itu seorang pembunuh?"
Bu Oki, yang sedang membereskan meja kasir, membalas dengan nada membela diri yang lemah, "Tahu, sih ... Tapi dia rajin dan sopan. Kerjanya bersih."
"Aduh, Bu," sela wanita itu, menggelengkan kepala. "Pembunuh itu tidak melihat tampang. Banyak orang yang pura-pura baik, ternyata pembunuh berdarah dingin."
Bu Oki hanya tersenyum getir, seolah sadar betul risiko yang ia ambil, tetapi terpaksa diam.
Wanita itu melanjutkan, nadanya kini semakin bersemangat dan menghakimi, "Saya ingatkan ya, Bu, waspada saja. Selain pembunuh, bapaknya itu koruptor. Hati-hati saja, jangan sampai uang Ibu dicolong!"
Alexander, yang semula hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba mematung. Ia tidak hanya mendengar, tetapi juga merasakan getaran setiap bisikan kejam yang ditujukan pada Celia. Stigma yang menempel pada gadis itu ternyata jauh lebih dalam dan brutal daripada yang ia bayangkan.
Alexander menarik tangannya dari gagang pintu, memasukkannya ke dalam saku celana panjangnya. Sorot matanya yang dingin kini tidak lagi kosong, melainkan dipenuhi kalkulasi yang tajam dan berbahaya.
Ia berbalik sejenak ke arah Bu Oki dan kerumunan ibu-ibu yang masih penasaran.
“Ibu itu benar bu, gadis itu, yang ibu pekerjakan itu, dia yang telah membunuh ibu saya, saran saya ibu segera memecatnya, sebelum terlambat dan anda menyesal.”
Alexander menyelesaikan kalimatnya dengan nada yang dibuat meyakinkan, lalu tanpa menunggu respons, ia segera memasuki mobilnya.
Saat mobil mulai menyala, Bu RT bergegas mendekat ke kaca mobil.
“Jadi yang di bunuh itu ibumu?” tanya Bu RT dengan nada berbisik penuh keingintahuan.
Alexander mematikan mesin mobilnya kembali, menatap Bu RT dengan raut wajah yang dipaksakan sedih.
“Iya bu, dan saya datang kesini karena tidak puas, dia hanya di hukum 10 tahun, padahal dia telah menghilangkan nyawa ibu saya.”
Bu RT langsung menoleh ke Bu Oki dengan tatapan kaget. “Tu kan … bu Oki …”
Bu Oki, yang wajahnya sudah berubah tegang, segera mengangguk. “Oke, saya akan segera pecat dia.”
Alexander akhirnya menarik pedal gas. Dari balik kemudi, ia menyunggingkan seulas senyum licik yang tak terlihat oleh siapa pun. Rencananya berjalan sempurna.
****
“Celia,” panggil Bu Oki dengan nada yang kaku dan sedikit tercekat, saat Celia baru saja selesai membereskan sisa pekerjaannya.
Bu Oki menyerahkan sebuah amplop. “Ini gajimu, dan sedikit tambahan untuk pesangon.” Ia mengucapkan kata terakhir sambil menunduk, wajahnya jelas menunjukkan rasa bersalah yang menusuk.
“Pesangon?” tanya Celia, suaranya tercekat dan matanya membulat terkejut, meskipun ia sudah menduga arah pembicaraan ini.
“Iya, mulai besok, kamu tidak perlu bekerja di sini lagi. Maafkan saya, Celia,” ucap Bu Oki, enggan menatap mata Celia.
Sejenak, udara terasa menipis di sekitar Celia. Namun, ia telah terlatih dalam menyembunyikan luka. Sudah terlalu sering ia di pecat tiba-tiba.
“Oh … iya, Bu. Tidak apa-apa,” jawab Celia, suaranya terdengar terlalu tenang, tegar yang dipaksakan. “Terima kasih sudah memberi saya kesempatan bekerja selama tiga minggu ini.”
Celia mengambil amplop itu, memasukkannya ke dalam tas usangnya, seolah amplop itu hanyalah selembar kertas biasa, bukan akhir dari satu-satunya tumpuan hidupnya.
“Kalau begitu, saya pamit dulu, Bu …”
Dengan langkah yang terasa berat, menyeret, dan mati rasa, ia berjalan menyusuri trotoar yang gelap. Napasnya mulai memburu, tercekat di tenggorokan. Ia berusaha keras menahan air mata yang hendak runtuh di balik kelopak matanya.
Namun, itu adalah upaya yang sia-sia.
Seolah ada bendungan yang jebol, isak tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Tubuhnya bergetar hebat, langkah kakinya menjadi tak terkendali. Tiba-tiba, kedua lututnya lemas seketika, dan ia pun jatuh berjongkok di atas trotoar yang dingin.
Tangisannya memecah keheningan malam, terdengar pilu dan menusuk. Ia menangis hingga paru-parunya terasa kosong dan dadanya sesak oleh kepedihan. Dalam keputusasaan yang meluap, Celia memukuli dadanya sendiri, seolah ingin merobek sumber rasa sakit yang menghantam batinnya.
Dari balik kemudi mobil mewahnya yang sunyi, Alexander mengamati tanpa ekspresi sosok rapuh Celia. Di bawah sorotan lampu jalan yang redup, gadis itu terduduk merosot di atas trotoar yang keras, tubuhnya bergetar hebat karena isak tangis yang tak tertahankan.
Alexander menyaksikan penderitaan itu, kehancuran total yang baru saja ia ciptakan, seperti menonton sebuah tayangan televisi. Ia tidak bergeming sedikit pun. Tidak ada penyesalan, tidak ada belas kasihan, hanya kepuasan yang dingin.