Pembayaran Belum Lunas

1147 Words
Keesokan harinya … Celia duduk di tepi ranjang rumah sakit, dengan sabar menyuapi ibunya. Bubur hambar itu terasa berat di lidah, namun Ibunya menelan setiap suapan dengan susah payah. “Nona Celia,” sebuah suara lembut menginterupsi. Seorang suster berdiri di ambang pintu, tersenyum sopan. “Bisa ikut dengan saya sebentar ke bagian administrasi?” Celia membalas senyum itu, senyum profesional yang ia paksakan. “Baik, Sus.” Ia meletakkan kotak makan di meja samping ranjang. “Tunggu sebentar ya, Ma. Aku ikut Suster dulu,” bisiknya, mengusap punggung tangan Ibunya. Ibunya hanya mengangguk pelan. Tatapannya sayu, dipenuhi kelelahan dan rasa iba yang mendalam kepada putri tunggalnya. Ia tahu, di balik senyum itu, beban besar tengah dipikul Celia. *** Di Ruang Administrasi Suster itu menatap Celia dengan nada prihatin. “Nona Celia, kami mohon agar biaya operasi segera dilunasi. Dengan begitu, kami bisa segera mengajukan jadwal operasi untuk Ibu anda.” Hati Celia langsung mencelos. “Oh, iya, Sus. Sebentar,” jawabnya, berusaha menjaga ketenangannya. Ia buru-buru mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi mobile banking. Jari-jarinya gemetar saat memasukkan PIN. Ia menahan napas, berharap saldo terakhir dari ‘pekerjaan’ semalam sudah masuk. Namun, layar itu menunjukkan angka yang sama. Saldo belum bertambah. “Bentar ya, Sus,” kata Celia, sedikit menjauh dari meja suster. Wajahnya mulai menampakkan kepanikan. Ia segera menghubungi kontak yang ia simpan sebagai ‘Mami’. Tut ... Tut … “Halo, Mi?” Suara Celia tercekat. “Oh, Celia,” jawab suara di seberang sana, terdengar terburu-buru dan sedikit berisik. “Mi, kok sisa seratus lima puluh juta belum ditransfer, ya?” tanya Celia, matanya melirik cemas ke arah Suster. “Aduh … maaf, Celia. Gue lupa bilang, orangnya mau kasih tunai. Lo disuruh ketemu dia langsung,” ujar Mami santai, tanpa menyadari betapa pentingnya waktu saat ini. “Nanti gue chat alamatnya ya. Gue masih nemenin klien. Gue tutup dulu!” Sambungan diputus sepihak. Tak lama kemudian, sebuah notifikasi pesan masuk: ‘Ni alamatnya, lu datang aja ke sana’ Celia meremas ponselnya. Darah mendidih di benaknya, melenyapkan senyum ramah yang ia paksakan tadi. “Alex … kenapa kau terus-terusan menyulitkanku?” gumamnya dalam hati, penuh amarah dan frustrasi yang nyaris tak tertahankan. Celia menghampiri meja administrasi kembali, “sus, saya janji hari ini akan aku lunasi”. Ucap Celia sambil berpamitan pergi. Celia bergegas mengambil tas nya diruangan ibunya, dan ijin pamit kepada ibunya. Dengan menggunakan ojek online, Celia telah sampai di sebuah rumah besar, rumah yang ia kenal, Rumah yang waktu remaja sering ia kunjungi. Gerbang rumah besar itu terbuka secara otomatis, seolah tuan rumah sudah tau kedatangan Celia di rumah itu. Celia melangkah dengan gugup, ia menggenggam erat tali tasnya yang menyilang di d**a. Ia menghela napas panjang untuk meredakan rasa gugupnya. Dari arah berlawanan seorang pelayan wanita menghampirinya. “Nona Celia?”. Tanya pelayan itu. Celia hanya mengangguk. “Ayo ikuti saya, tuan muda sudah menunggu anda”. Ucap pelayan itu. Rumah itu tampak sama, walaupun sudah sepuluh tahun ia tidak pernah mengunjunginya, yang berbeda hanya pintu gerbang yang sudah otomatis. Celia memasuki rumah besar itu, ia mendadak terhenti ketika sampai di tangga, tragedi di tangga itu, sepuluh tahun yang lalu membuatnya masuk ke dalam penjara. Flashback Terbuka… Celia berdiri di ujung anak tangga paling atas, terengah-engah. Matanya sembab dan merah, sisa tangisan berjam-jam yang menghabiskan seluruh tenaganya. Namun, keputusasaan menggerakkannya. Ia harus menemui Om dan Tante—kedua orang tua Alex, harus mendapatkan penjelasan. Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh mencengkeram pergelangan tangannya. “Celia, jangan!” Suara Reva, Ibu Alex, terdengar mendesak dan setengah berbisik. “Kau tidak boleh menemuinya sekarang.” “Aku harus ketemu, Tante! Tolong lepasin! Om harus jelaskan semua ini!” Celia meronta, menarik tangannya sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkeraman Reva. Reva mengeratkan cengkeramannya. “Celia, jangan sekarang. Om sedang tidak bisa diganggu … Celia, dengarkan Tante!” Reva menariknya menjauh dari pintu kamar yang ia tuju. Celia sudah mencapai batasnya. Rasa sakit, pengkhianatan, dan keputusasaan bercampur menjadi amarah yang membakar. Dengan air mata yang kembali mendesak keluar, Celia menghentakkan tangannya sekuat tenaga. “Tante, LEPAS!” Hentakan itu begitu kuat dan tak terduga. Reva, yang hanya berusaha menahan, kehilangan keseimbangan di tepi anak tangga. Ia terhuyung, lalu tubuhnya jatuh terguling ke bawah, bentur demi bentur, hingga terhenti di lantai dasar. “Tante!” Jerit Celia dari atas, suaranya tercekat oleh keterkejutan yang menggantikan amarahnya. Di bawah tangga, Reva tergeletak tak bergerak, tubuhnya mulai bersimbah darah. Alex, yang baru saja tiba dan menyaksikan seluruh kejadian tragis itu, menjatuhkan semua yang dipegangnya. “Ma … Mama!” Teriak Alex, segera berlutut dan berusaha menyadarkan ibunya yang sudah tak sadarkan diri. Alex berlutut di samping ibunya. Namun, pandangannya tidak tertuju pada Reva yang bersimbah darah. Perlahan, ia mendongak. Iris matanya yang tajam, kini menyala penuh kebencian yang dingin, menghantam Celia di ujung tangga, seolah tatapan itu adalah sebuah peluru yang menuntut balas. Flashback tertutup … Celia melangkah ke dalam rumah megah itu lebih dalam, setiap pijakan kakinya di lantai marmer terasa berat. Langkahnya menuju tangga utama dipenuhi ketakutan. Itu adalah tangga laknat; tangga yang menyimpan memori paling menyakitkan dalam hidupnya. Seorang pelayan berjas rapi menyambutnya di lantai atas. “Silakan, Nona. Tuan sudah menunggu di dalam.” Pelayan itu membuka pintu ganda sebuah ruangan, kamar Alex. Tempat di mana dulu mereka sering menghabiskan sore, tenggelam dalam buku dan canda. Setelah mempersilakan, pelayan itu segera undur diri. Celia mematung di ambang pintu. Jemarinya dingin. Luka masa lalu yang dalam membuatnya enggan menyeberangi ambang pintu itu. “Masuklah. Kalau kau mau uangmu,” Suara berat Alex terdengar dari dalam, dingin dan tanpa basa-basi. Celia menghela napas, mengumpulkan sisa keberaniannya, lalu melangkah masuk. Alex berdiri membelakanginya, kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ia menatap kosong ke luar jendela besar, di mana langit sore mulai memudar. “Bagaimana perasaanmu setelah sepuluh tahun kembali ke rumah ini, Celia?” tanyanya, suaranya tenang, terlalu tenang. Alex berbalik, tatapannya yang tajam kini mengunci Celia. “Sangat menyenangkan,” balas Celia tegas, menyembunyikan getaran dalam suaranya. “Ternyata tidak ada yang berubah. Hanya ... perasaan kita yang berubah. Dulu cinta, sekarang saling membenci.” Alex tersenyum miring, sebuah senyum yang tak menjangkau matanya. Ia melangkah mendekat, perlahan, seperti predator. Jarak di antara mereka menyusut hingga hanya menyisakan beberapa inci. Aura permusuhan begitu kental hingga udara terasa sesak. “Aku tidak punya banyak waktu. Mana uangku?” Celia mengulurkan tangan kanannya, telapak tangan terbuka, menuntut dengan sorot mata menantang. “Hahahaha.” Alex tertawa renyah, tawa yang penuh ejekan, menusuk telinga Celia. “Aku akan memberikan uang itu,” katanya, suaranya kembali datar. “Tapi dengan satu syarat.” “Syarat apa?” Celia mengangkat dagunya. “Kau sudah mendapatkan yang kau mau, dan aku berhak meminta bayaran sesuai kesepakatan.” Alex membungkuk sedikit, suaranya berbisik namun tajam. “Kau harus menikah denganku. Baru aku akan berikan sisa seratus lima puluh juta.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD