“Kamu kenapa, sih? Perasaan jadi sering jatuh?”
Tamara bertanya pada Althea yang meringis kesakitan. Klinik tidak terlalu ramai hari ini, ada kesempatan bagi Althea untuk beristirahat. Kakinya yang keseleo, meskipun tidak terlalu menyakitkan tetap saja nyeri.
“Namanya juga emak-emak. Kalau nggak luka karena anak, apalagi?”
“Siapa yang punya anak?”
“Aku.”
“Kapan adopsi kamu?”
“Ngaco!”
“Baru beberapa hari lalu. Adopsi anak, bonus bapak.”
Althea tersenyum, menyesap kopi dengan merk ternama yang baru ia beli saat perjalanan ke Klinik. Teman-temannya tidak ada yang percaya kalau ia sudah punya anak karena belum pernah bertemu Adelio dan Adelia. Bocah kembar yang menggemaskan itu, membuntutinya ke mana-mana dan memanggil ´mama' dengan nada yang manja. Althea sendiri, tidak kuasa menolak pesona Si Kembar.
Bisa dikatakan, ia tidak terlalu menyukai anak kecil. Bukan benci juga, hanya tidak terbiasa. Kedua bocah kembar itu bisa dikatakan berbeda, di hari ia menolong bocah itu saat hampir terserempet motor, hatinya sudah terpikat. Kenyataan kalau ternyata mereka punya papa yang luar biasa tampan, anggap saja sebagai bonus. Ponsel berdering, Althea mengangkat tanpa melihat siapa yang menelepon.
“Hallo,”
“Althea.”
Suara bariton Evander membuat Althea tersentak dan tersedak minumannya. la batuk-batuk tak berhenti.
“Althea, ada apa?”
“Nggak ada apa-apa, Pak. Kaget aja.”
“Baru juga telepon, kamu sudah kaget. Bagaimana kalau aku melamarmu?”
Althea merintih dalam hati. “Pak Evander.”
“lya, Althea.”
“Telepon ada apa?”
“Sore nanti aku akan menjemputmu pulang. Berikan Alamat klinikmu.”
“Pak, nggak usah,”
“Kakimu sakit. Kata satpam kamu ke Klinik tadi dengan taxi.”
“Memang, tapi aku nggak mau merepotkan.”
“Nggak ada yang repot. Berikan alamatmu sekarang dan tunggu aku jemput kamu.”
Evander memutuskan sambungan tanpa memberinya kesempatan untuk menolak. Dengan terpaksa Althea memberikan alamat Kliniknya. la tahu, maksud pria itu baik, tetapi tetap saja membuatnya kikuk. Althea berpikir, sepertinya sudah lama sekali seseorang tidak memperlakukannya dengan baik, seperti Evander. Setelah Papa dan Opanya meninggal, ia dipaksa hidup sendiri, mandiri, dan tidak mengharapkan belas kasihan orang lain. la menolak setiap perhatian yang diberikan untuknya, karena menganggap semua itu ada pamrihnya. Hingga lama kelamaan, ia tidak ada kedekatan dengan orang lain.
Pintu menjeplak terbuka, Gania menyerbu masuk. “Althea, ada saudara kamu datang!”
Althea bangkit dari kursi. “s**t! Kok dia bisa masuk?”
“Lagi pada sibuk, dia nyelonong aja.”
“Dasar resek!”
“Siapa yang kamu bilang resek?”
Calista muncul dalam balutan kaos dan celana panjang. Gadis itu berkacak pinggang di pintu, menatap galak bergantian pada Gania dan Althea.
“Sudah aku bilang, mau ke ujung dunia juga bakalan aku kejar kamu!”
Althea mendengkus, memberi tanda pada Gania untuk pergi. “Cinta banget kamu sama aku, sampai ke mana-mana harus ngikut?”
“GeeR banget kamu! Aku cuma mau sampein pesen mama kalau warisan itu”
“Bakalan jadi rebutan! Yap, aku paham,” sela Althea keras.
“Nah, kamu paham. Minggu depan bakalan ada pengacara yang hubungi kamu.”
Althea mengangkat sebelah alis. “Trus?”
Calista tersenyum sinis. “Kita lihat, apa kamu masih bisa ketawa kayak gini kalau kalah di pengadilan.”
Althea menghela napas panjang, menatap saudara sepupunya. la merasa heran, karena meski berbagi darah dari seorang kakek yang sama tapi sifat mereka sangat berbeda satu sama lain. la ingat, dari kecil sudah tidak akur dengan mereka. Tante dan sepupu perempuannya selalu berusaha untuk menindasnya. Semua soal rumah yang menjadi akar masalah.
Bangkit dari kursi, Althea berdiri menatang di depan Calista. “Kamu jual aku beli!”
“Sombong! Suatu saat nanti, pasti kamu bakalan nyesel Sudah nentang kita!”
“Aku bakalan lebih nyesel kalau nurut gitu aja dikibulin sama kalian!”
Calista berdecak, membalikkan tubuh dan keluar dari klinik tanpa pamit. Althea menatap punggung gadis itu hingga menghilang ke balik pintu. Matanya bertemu dengan tatapan kuatir teman- temannya. la menggeleng, memberi tanda pada mereka kalau dirinya baik-baik saja. Secara fisik ia memang sehat tapi jiwanya sakit karena amarah.
Evander menelepon saat tiba di gerbang klinik. la sengaja meminta pria itu tidak usah masuk ke area klinik tapi tidak diIndahkan.
“Aku tunggu kamu di halaman parkir.”
Evander mengirim pesan. Althea menyambar tas dan berpamitan pada teman-termannya. la mencari mobil Audi SUV milik Evander dan menemukannya tak jauh dari depan klinik.
“Pak, repot-repot aja,” ucap Althea sambil tersenyum saat Evander turun dan membantunya membuka pintu. Tindakan pria itu sangat menyentuh hatinya.
“Santai saja, Althea.
Evander membawa kendaraan keluar dari halaman parkir, tidak menyadari tatapan teman-teman Althea dari pintu klinik. Mereka penasaran, siapa yang menjemput Althea dan kaget saat melihat Evander. Meski dari kejauhan tetap saja sosok Evander yang tinggi dan tampan, sangat menonjol. Gania setuju, akan mengintrograsi Althea saat kerja besok.
“Bagaimana kakimu?”
“Sudah mendingan, Pak.”
“Perlu ke dokter?”
“Nggak, ih. Paling baluri minyak aja.”
“Yakin?”
“lya, Pak.”
Mereka berhenti bercakap-cakap saat kendaraan mencapai lampu merah. Laju mobil melambat dan berhenti bersama kendaraan yang lain. Jam pulang kerja, jalanan padat oleh kendaraan. Althea merasa sangat santai. Biasanya ia pulang kerja menaiki ojek, tapi hari ini berbeda. Naik mobil mewah, bersama pria tampan yang menjenmputnya, adalah kebanggaan tersendiri.
“Apa anak-anak hari ini meneleponmu?” tanya Evander, menoleh pada Althea yang menyandarkan kepala pada kursi.
“Sepertinya tiga kali,” jawab Althea.
“Kamu nggak terganggu?”
“Nggak, sih, Pak. Biasa aja. Kami mengobrol juga nggak lama. Sepertinya anak-anak itu merasa kesepian, mungkin karena di rumah hanya ada mereka dan pengasuh serta asisten-asisten.”
Evander mengangguk. “Memang, Bi Marni juga tidak bisa nemenin anak-anak setiap saat. Wajar kalau mereka kesepian.”
“Sudah mencari baby sitter baru?”
“Sudah, mertuaku yang mendapatkan.”
Althea tersenyum mendengar kata 'mertua', rupanya hubungan Evander dengan keluarga almarhumah istrinya masih baik. Meskipun sang istri sudah meninggal tapi Evander masih menjalin hubungan kekeluargaan dengan mertuanya. Tidak banyak orang yang bisa melakukan itu, karena biasanya setelah salah satu pasangan tiada, maka hubungan keluarga akan merenggang.
“Mau makan sesuatu sebelum pulang?
“Nggak, Pak. Kasihan anak-anak.”
“Benar juga, lebih baik kita makan di rumahku.”
“Eh, apa nggak ngrepotin.”
“Nggak, sih, harusnya. Kamu suka masakan apa? Atau kamu mau masak?”
“Satu-satunya yang aku bisa cuma bikin nasi goreng.”
“Bagus itu! Malam ini, kita makan nasi goreng.” Belum sempat Althea menyanggah perkataan, Evander menelepon Marni dan mengatakan pada wanita itu untuk tidak memasak. Cukup menyiapkan nasi putih dan bumbu-bumbu yang diperlukan.
Althea menghela napas panjang, mengacak rambut dan berpikir, kalau selalu kalah dalam setiap obrolan dengan Evander. Pria itu bisa memaksa tanpa terlalu kentara. Kalau menginginkan sesuatu, bisa sangat mendesak hingga lawan tak ada kesempatan untuk mengelak. ltu yang sekarang sedang terjadi padanya.
Tiba di rumah, mereka disambut oleh teriakan nyaring Si Kembar. Kedua bocah itu tertawa gembira melihat Althea. Althea merasa geli dengan diri sendiri, karena apa yang terlihat sekarang seperti pasangan suami istri pulang kerja dan disambut anak-anak mereka.
Setelah mencuci tangan Althea bergegas ke dapur untuk memasak nasi goreng, dibantu Marni. Nasi goreng sederhana dengan telur dan bumbu seadanya. Althea menambahkan sosi goreng, telur ceplok, dan kerupuk untuk pelengkap. Saat dihidangkan ke meja, kedua bocah itu berteriak enak. Mereka itu seperti supporter utama Althea.
“Mama, enaaak!”
“Pintar! Mamam sendiri, jangan disuapi, ya?”
“lya, Mama.”
Kedua bocah itu makan sendiri dengan lahapnya. Pada akhirnya satu piring tandas tak tersisa, begitu pula Evander.
“Masakanmu enak,” puji Evander.
Althea tersenyum, menepuk d**a dengan bangga. “lya, dong. Siapa dulu orangnya.”
“Mamanya Si Kembar.”
Keduanya berpandangan lalu bertukar senyum. Begitulah, kebersamaan malam itu diawali dengan sepiring nasi goreng dan diakhiri dengan Althea yang kelelahan tertidur di sofa ruang tengah. Tidak ada yang membangunkannya. Adelio bahkan mengambil selimut untuk menutupi tubuh Althea.
“Gud nite, Mama.”
Bocah itu mengecup kening Althea, di bawah tatapan sang papa yang tidak terbaca.