Baby sitter baru sudah datang, itu yang didengar Althea dari Marni saat wanita setengah baya itu ke warung dan tanpa sengaja berpapasan dengannya. Althea lega mendengarnya karena, Si Kembar ada yang menjaga, tapi perkataan Marni membuatnya mengernyit.
“Suasana rumah jadi kaku. Si Kembar sepertinya tersiksa karena peraturan yang ketat.”
“Peraturan bagaimana, Bi?”
“Banyak, Nona. Dari mulai bangun pukul berapa, duduk harus tegak, makan nggak boleh berisik apalagi sampai alat makan bunyi.”
“Bukannya itu bagus? Anak-anak jadi disiplin?”
“Memang, tapi sedikit menyiksa mereka. Lio dan Lia jadi makin murung dan kasihan anak-anak itu. Nangis melulu karena ingin main. Si Suster nggak ijinin ini dan itu, selama beberapa hari ini hanya makan, tidur, dan belajar.”
“Sebegitu menakutkan?”
Althea tercengang, hingga tak mampu berkata-kata. la tidak dapat membayangkan kalau Lio dan Lia yang masih kecil begitu dididik secara ketat. Namun, bagaimana pun juga itu bukan urusannya. Selama Evander tidak merespon apa pun, ia tidak boleh ikut campur.
“Si Kembar kangen sama Nona Althea. Manggil-manggil terus, tapi nggak boleh keluar.”
“Alasannya apa?”
“Di luar banyak virus, banyak orang jahat, dan Nona Althea orang luar. Nggak boleh sering-sering bergaul sama orang luar.”
Althea menghela napas panjang. “Mungkin untuk kebaikan anak-anak. Lagi pula, Suster itu katanya orang yang sangat berpengalaman?”
“Rekomendasi dari nyonya besar.”
“Ya sudah, semoga anak-anak baik-baik saja.”
Setelah bicara dengan Marni, pikiran Althea berkecamuk tentang kedua bocah kembar itu. Memang beberapa hari ini ia tidak bertemu mereka karena terlampau sibuk. Klinik ramai hingga nyaris tengah malam. Banyak pasien yang datang hingga dari pinggiran kota. Evander pun sama sibuknya. Mereka jarang bertukar kabar, dan karena Si Kembar tidak pernah menelepon, Althea mengira kalau anak itu baik-baik saja dengan Suster baru.
“Kenapa kamu murung?” tanya Yolanda, menatap Althea yang menyeruput kopinya dengan pandangan menerawang.
“Kangen sama anak aku,” jawab Althea.
“Bukannya tetangga sebelah?”
“lya.”
“Tinggal aja datang ke sana.”
“Nggak semudah itu.”
“Kenapa?”
“Karena ada pengasuh baru yang melarang mereka bergaul dengan orang luar.”
“Pengasuh ngatur-ngatur, piye ceritané iku?” Gania masuk, mengambil mengunyah Keripik Basreng dan duduk di sebelah Althea.
Althea menggaruk telinga, membuang cup bekas kopinya ke bak sampah. “Ya pengasuh, baby sitter, rekomendasi dari mertua bapak sebelah rumah. Jadi nggak enak kalau aku sembarangan ke sana, lagipula bapak Si Kembar kan duda. Jadi –”
“Wow, Althea! Tangkapan bagusl” Yolanda tertawa.
“Jangan-jangan itu pria yang jemput kamu?” tanya Gania.
“Yah, dia. Papanya Si Kembar.”
“Kaaan, Papanya Si Kembar. Terus kamu sekarang kangen sama Si Kembar. Besok-besok?” Gania mengerling jahil.
“Kangen papanya doong.” sahut Yolanda.
Keduanya terbahak-bahak, menggoda Althea tanpa ampun. Ruangan istirahat penuh dengan tawa mereka.
“Ngapain kangen papanya? Kalian lupa aku naksir Dokter Marvel?” jawab Althea dengan wajah masam.
Gania mengibaskan tangan. “Dokter Marvel, mah, anak kemarin sore. Duda itu lebih matang dan berpengalaman. Rasanya? Pasti lebih legit.”
“Kalaaah kuee.”
“Hei, bisa nggak kalian diam!” tegur Althea.
“Aku, kalau dapat duda apalagi yang kaya, mau aja.” Yolanda menggoyangkan tubuh.
Althea dengan gemas mencubitnya. “ltu, karena kamu belum kenal Si Kembar. Adelio dan Adelia memang bocah baik, tapi tingkahnya benar-benar ajaib!”
“Althea, anak kecil akan luluh kalau diperhatiin, diperlakukan dengan tulus. Kalau anak-anaknya sudah cinta sama kamu, tinggal”
“Papanyaaa ... aaah! Jadi mau, sama duda.” Yolanda menyahut omongan Gania.
Pembicaraan mereka tentang duda berakhir saat seorang perawat datang menginfokan ada pasien dengan kondisi jelek yang datang. Althea dan kedua temannya segera beranjak menuju ruang tindakan untuk memeriksa kondisi pasien yang dimaksud. Hingga sore menjelang malam barulah Althea memutuskan untuk pulang.
Di pintu gerbang masuk komplek, Althea mampir untuk membeli nasi goreng untuk satpam komplek. Mobilnya melaju lambat menyusuri jalanan yang menggelap. Lampu-lampu berpendar di sisi jalan, tapi tidak sepenuhnya mampu mengusir kelam. Meski begitu, cukup untuk menuntun laju mobilnya agar tidak tersesat dalam malam.
Althea melewati rumah Evander, mengernyit saat melihat pagar sedikit terbuka. Mobil Evander tidak ada di parkiran, yang menandakan pria itu belum pulang kerja. la berpikir, barangkali Marni ke warung untuk membeli sesuatu dan lupa menutup pintu. la meneruskan laju mobilnya, tiba di depan pagar rumahnya yang menjulang, sebuah suara terdengar dari kegelapan beserta tubuh mungil yang diterpa sorot lampu mobilnya.
“Mama...”
Althea mengerjap, menatap sosok kecil di depan pagarnya.
“Lia, Sayaang. Ngapain kamu malam-malam di sini?”
“Kangen Mama.” Adelia mengulurkan tangan. Althea keluar dari mobilnya dan langsung membungkuk, meraih anak itu dalam pelukannya dan membelai punggungnya dengan lembut.
“Liaaa, malam begini keluar sendirian bahaya. Di mana sustermu?”
Adelio menggeleng, memeluk lengan Althea dengan erat.
“Aku antar pulang.”
“Nggak mau, Mama. Maunya sama Mama.”
“Nggak boleh, ini sudah malam. Nanti dicarin.”
Meskipun tidak tega melihat Adelia yang sepertinya enggan, Althea tetap menggendong anak itu dan membawanya pulang.
“Mamaa ....”
“lya, Sayang.”
“Nggak mau pulang.”
“Cup ... cup ... cup, ada mama.”
Sebenarnya, Althea merasa enggan memanggil diri sendiri mama. Namun, ia bisa merasakan dari tubuh Adelia yang meringkuk seolah ketakutan. la tidak tahu apa yang terjadi, kenapa Adelia jadi takut. Menggeser pagar terbuka, Althea masuk dan berhadapan dengan Adelia yang berdiri di dekat teras.
“Liaaa!”
Adelio bergegas menghampiri, mengulurkan lengan agar bisa digendong oleh Althea dan segera setelahnya ia juga masuk dalam gendongan Althea.
“Ayo, Sayang,” bisik Althea. “Sana, masuk!”
Si Kembar menggeleng kompak. “Nggak mau.”
“Kenapa?”
“Maunya sama Mama.”
Adelio tidak menjawab, membenamkan wajahnya ke lekukan bahu Althea dan menolak untuk turun. Menghela napas panjang Althea menatap ruang tamu yang benderang.
“Ayo, kita masuk saja. Aku antar ke kamar kalian.”
“Ada apa ini ribut-ribut, Adelia, Adelio?”
Seorang wanita berumur empat puluhan dengan seragam hitam, berdiri di depan pintu. Wanita itu menatap Adelio yang merangkul Althea dan mengernyit.
“Adelio, kamu manja sama siapa? Sini, turun.” Adelio menggeleng. “Nggak mauu!”
“Adelia, ingat peraturan nomor sepuluh, Sayang. Jadi anak tidak boleh manja, harus mandiri.”
“Nggak.”
Adelio mempererat pelukan, membuat Althea meringis karena lehernya tercekik. Di depannya, si Suster menurunkan tangan karena tertolak dan menatap Althea dengan pandangan bertanya-tanya.
“Kamu siapa?”
Althea menghela napas, mencoba melonggarkan sedikit cengkeraman kedua bocah itu dari lehernya. “Aku, tetangga sebelah. Aku akan bawa mereka ke kamarnya.”
Si Suster menggeleng. “Turunkan saja dia, biar aku yang bawa. Lagi pula, mereka masih harus belajar.”
Althea mengernyit. “Eh, kamu nggak lihat anak ini lagi ketakutan? Masa disuruh belajar?”
“Mereka hanya manja. Biasa itu. Peraturan dalam belajar, tepat waktu, itu penting!”
“s**t!” Althea memaki dan menutup mulut saat melihat Adelia menatapnya. la harus menjaga kata-kata saat ada di depan anak-anak.
Si Suster menyipit, bersedekap dengan angkuh. “Wanita seperti kamu, yang terbiasa berkata kasar, nggak seharusnya dekat dengan anak-anak. Akan mempengaruhi pola pikir mereka.”
Althea mendengkus keras. “Eh, kamu, dari tadi diajak ngomong sopan nggak bisa. Siapa kamu, berani-beraninya nilai aku?”
“Aku Suster penjaga anak-anak ini, sudah seharusnya bersikap tegas untuk melindungi mereka.”
“Melindungi? Dari apa? Dari siapa? Jangan-jangan dari kamu sendiri? Kenapa bisa mereka ketakutan?”
“Sudah aku bilang, dia hanya manja”
“Justru itu, bocah lagi manja harusnya disayang, dikasih pengertian, bukan disuruh belajar!”
“Kamu hanya tetargga, jangan mengatur-aturku yang jelas kerja di sini?”
“Siapa bilang aku hanya tetangga?” Althea tersenyum tipis.
“Apa maksudmu.”
Althea membelai punggung Adelio dengan lembut, disertai bisikan. “Sayang, mama janji akan temani kamu bobo. Sekarang, turun dulu, ya?”
Kedua bocah itu mendongak. “Beneran, Mama?” Tanya Adelia.
“lya, Sayang. Mama janji.”
Tanpa berpikir dua kali, keduanya turun dari pelukan Althea. Berdiri dengan mencengkeram tangan Althea. Althea mengangkat dagu, tersenyum ke arah suster. “Tahu, 'kan? Aku siapa? Mama Si Kembar! Sekarang, kamu minggir! Aku mau temani anak-anakku,”
Si Suster menatap bingung, pada Althea lalu beralih ke kedua bocah kembar itu.
“Tunggu, aku jelas tahu kalau pemilik rumah ini, Tuan Evander adalah duda. Ba-bagaimana mungkin ada mama Adelio?”
“Memang begitu,” celetuk Adelia tak acuh. “Kamu bingung, 'kan, Sus? Sama, aku juga.”
Merasa dipermainkan si Suster merentangkan tangan di depan pintu. “Tinggalkan mereka di sini, biar aku saja yang bawa masuk. Kamu, pulang!”
Althea mendengkus, memegang erat tangan Adelio. Sudah terlanjur masuk dalam peperangan, pantang untuk mundur. “Kalau aku nggak mau gimana?”
Mereka berdiri berhadapan dengan sangat dekat. Si Suster memperhatikan penampilan Althea dari ujung kepala hingga kaki, lalu berucap mengejek. “Pesolek ternyata. Jangan-jangan tukang mabok juga. Wanita sepertimu, tidak layak mengasuh anak apalagi menyebut mama Adelio!”
Tangan Althea yang bebas mengepal. la berniat melayangkan pukulan saat pintu gerbang membuka dan kendaraan Evander masuk. Ketegangan makin bertambah, kala pria itu turun dari mobil, mendekat dengan satu alis terangkat.
“Ada apa ini? Althea, kamu di sini?”
Mereka menatap Evander secara bersamaan. Adelia maju, menyambut sang papa dan berujar pelan.
“Pa, mereka ribut.”