BAB 5

1398 Words
Malam hari Arania terlihat gugup, ia tengah menunggu suami nya Biru pulang. meski Biru tidak meminta diri nya menunggu tapi Arania merasa dirinya harus melakukan hal itu. Arania mondar mandir di ruang tamu, sesekali dirinya mengintip dari jendela, untuk melihat suaminya sudah datang atau belum. setelah cukup lama menunggu, sebuah mobil Rolls - Royce Cullinan Black Badge Series II 2025 berhenti di parkiran rumah. Seorang Pria berpostur tubuh tinggi tegap dengan penampilan culun turun dari mobil. Ya, Pria itu adalah Biru Hanggara suami dari Arania. tatapan matanya tajam, ekspresi nya datar. memang benar Biru berpenampilan culun, tapi jika di lihat dengan jeli, darah keturunan asli perpaduan antara Hardi Hanggara dengan Ayudia Aluna Hanggara terlihat dengan jelas berada pada seorang Biru Hanggara. Sebelum membuka pintu, terlihat Biru menghembuskan nafas nya dengan kasar, tapi tak urung ia membuka pintu rumahnya juga, sebuah pemandangan yang tak biasanya terlihat di hadapan nya, dimana Arania tengah duduk bersendekap d**a di kursi dengan keadaan tertidur, Arania yang sejak tadi menunggu suaminya pulang justru kini tengah tertidur dengan lelapnya dengan posisi duduk di saat suami yang ia tunggu sudah pulang. Biru menatap Arania istri nya dengan tatapan yang sulit di artikan. tapi jika di lihat dari gerakan tubuhnya seperti nya Biru enggan membangunkan Arania. Dan benar saja, setelah cukup lama menatap istrinya yang tertidur dengan posisi duduk, bukan nya membangunkan Biru justru berlalu begitu saja tanpa memikirkan Arania yang sebenarnya sejak tadi sudah menunggunya pulang. setiba di kamarnya Biru langsung melempar tas kerjanya ke arah sofa tunggal yang ada di kamar nya begitu saja. lalu ia melepas kaca mata besarnya dan menaruhnya di atas nakas. " Dug! Dug! Dug! " Biru meninju tembok berkali - kali, tak perduli dengan rasa sakit di tangannya, Biru terus melakukan nya, " AH! " teriak Biru dengan kencangnya saat ia sudah menghentikan tinjuan nya pada tembok. Kamar Biru kedap suara sehingga Biru mau melakukan apapun tidak akan terdengar oleh siapapun yang ada di luar kamar. Biru duduk di tepi ranjang, tangan nya menarik rambutnya frustasi, entah frustasi karena pekerjaan atau karena pernikahan nya dengan Arania. setelah cukup lama, Biru beranjak dari ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. tak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk Biru membersihkan dirinya,karena Biru kini sudah membaringkan tubuh nya di atas kasur king size nya. meski sudah terlihat lebih segar namun tatapan mata Biru menunjukkan banyak kerumitan yang banyak berputar di kepalanya saat ini. Biru menutup matanya dengan sebelah lengan nya. " ku harap dia sudah bangun dan tidur di kamar nya " ucap Biru lirih, lalu setelah itu Biru memejamkan matanya untuk mengarungi mimpi dan mengistirahatkan tubuh nya sejenak. ------------- Biru terbangun di tengah malam, mendadak dirinya merasa haus, dengan malas - malasan Biru menggerakkan tubuh nya untuk duduk, ia menoleh dan mengeram karena melihat isi gelas di nakas kosong. sehingga mau tak mau Biru harus turun, untuk mengambil air ke dapur. saat Biru membuka pintu, tiba - tiba Biru merasa penasaran apakah istri nya Arania sudah pindah atau masih di ruang tamu. Dengan berjalan mengendap - endap Biru mengintip ke arah ruang tamu dan ternyata di sana masih ada Arania, namun posisinya kini bersandar tapi tetap duduk. " dia tidur apa pingsan, betah banget tidur duduk dari tadi " gumam Biru pelan. Biru melangkah ke arah Arania, setelah tiba di hadapan Arania Biru merasa bingung, harus membangunkan Arania bagaimana, tidak mungkin juga ia menggendong Arania ke dalam kamarnya. tiba - tiba Biru tersenyum karena menemukan ide untuk membangunkan Arania. kaki Biru menendang kaki Arania pelan, " hey, bangun " ucap Biru pelan " hey! bangun " ucap Biru lagi seraya menendang pelan kaki Arania hingga percobaan ketiga dengan suara yang lebih keras dan tendangan yang sedikit kuat akhirnya Arania terbangun. " hah? iya mama apa? " ucap Arania bingung. khas seperti orang pada umumnya yang lagi enak - enak tidur tapi di bangunkan. dengan wajah aneh nya Arania berusaha mengumpulkan kesadaran nya. " Kak Biru, sudah pulang " ucap Arania saat ia menyadari yang ada di hadapan nya adalah suaminya. " Tidur di kamar kamu sana " ucap Biru, lalu berlalu begitu saja dari hadapan Arania. Arania mengucek matanya berkali - kali untuk memastikan jika suami nya sudah tidak memakai pakaian kerja karena yang ia lihat barusan Biru sudah mengenakan piyama tidur. pandangan Arania beralih ke jam dinding yang tergantung di tembok, barulah ia menyadari jika saat ini sudah tengah malam, entah suami nya sudah datang sejak tadi atau barusan Arania tidak tau, ia memilih masuk ke dalam kamar nya sesuai perintah dari Biru. Sementara Biru yang tengah berada di dapur, merasa penasaran dengan apa yang ada di balik tudung saji di atas meja, saat Biru membuka nya mata Biru mendelik karena melihat makanan yang masih utuh serta dua piring yang sudah terletak di posisi masing - masing. " jangan - jangan dia belum makan malam lagi " ucap Biru pelan. Biru menghela nafas pelan, ia bingung harus bersikap bagaimana pada Arania, karena semuanya terjadi begitu saja tentu nya tanpa di rencanakan oleh Biru. -------------- " tok tok tok " " tok tok tok " Biru mengetuk pintu kamar Arania, belum lama menunggu Biru sudah membalik tubuh nya karena berpikir jika Arania sudah tidur, namun belum Biru melangkah, " ceklek " Suara pintu terbuka, membuat Bir kembali membalik tubuh nya. " Ada apa kak? " tanya Arania saat mendapati suami nya berdiri di depan kamar nya " kalau kamu tidak ngantuk, temani saya makan " ucap Biru lalu berbalik dan melangkah menuju ke arah dapur. Arania mengerjap berkali - kali, karena untuk pertama kali nya ia akhirnya mendengar suara suami nya berbicara dengan nya. sebenarnya yang kedua, tapi yang tadi tidak termasuk kata Arania karena tadi saat suaminya berbicara dan membangunkan nya, Arania masih setengah sadar. Arania tersenyum tipis, lalu ia mengikuti langkah suaminya menuju ke arah dapur. setiba nya di dapur, terlihat Biru sudah mengambil makanan nya sendiri dan langsung memakan nya begitu saja. ingin protes atau mau menawarkan untuk di hangatkan Arania tidak memiliki keberanian, sehingga mau tak mau Arania juga ikut langsung makan makanan yang sudah dingin itu. Tak ada pembicaraan di antara keduanya, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu, keduanya makan dengan tenang sampai keduanya sama - sama selesai makan. Terlihat Biru lebih dulu menyelesaikan makan nya, tapi ia masih tetap berada di posisi nya sambil bersendekap d**a, sementara Arania terlihat makan dengan posisi menunduk, dapat Biru lihat jika Arania makan dengan terburu - buru. Bagaimana tidak terburu - buru, makanan Arania masih banyak sementara Biru terlihat hanya menatapnya sejak tadi " uhuk - uhuk " Arania terbatuk karena tersedak, dengan cepat Arania meraih gelas yang sudah ia isi air sebelum nya dan meminum nya hingga tandas. " kalau masih mau makan, saya temani, kalau sudah kenyang jangan di paksa makan " ucap Biru. " sudah kak, kenyang " ucap Arania sambil menganggukkan kepalanya pelan. " Tidak usah di bersihkan, biar Bibi saja besok, kamu lanjut tidur " ucap Biru. kriet...derit suara kursi terdengar. Biru bangkit dari tempat duduk nya dan berlalu dari ruang makan tanpa menunggu Arania lagi. Arania masih tetap di posisi duduk nya seraya menatap punggung tegap itu sampai tidak terlihat lagi. " Maafkan aku kak Biru, sudah memaksa masuk di hidup kak Biru " ucap Arania lirih. Arania menunduk dan merem*s tangan nya, ia tau ia yang salah, jadi jika Biru bersikap dingin atau mungkin akan bersikap buruk padanya, mau tak mau ia harus menerima nya, sekali lagi Arania ingatkan di sini dirinya lah yang bersalah. Arania menghembuskan nafas nya dengan kasar, lalu Arania segera bangkit dari duduk nya lalu meninggalkan ruang makan untuk kembali ke kamarnya sesuai perintah Biru suaminya. setiba nya di kamar, Arania tidak langsung tidur, ia masih duduk di kursi yang berada di dekat jendela, Arania membuka jendela itu dan membiarkan udara malam menerpa wajahnya. Senyum cantik terbit di wajah gadis cantik itu, " semoga ini pilihan yang terbaik, apapun yang terjadi kedepan nya, semoga aku bisa melewatinya " ucap Arania. Sementara di lantai dua, Biru juga tengah duduk di kursi yang berada di balkon kamar nya, rambutnya terlihat acak - acakan, di tangan nya terdapat seputung rokok yang masih menyala dan berasap, tidak terlihat lagi Biru Si Pria Culun malam itu, yang ada terlihat Biru Pria yang tengah frustasi dan bingung dengan hidup nya, karena Biru bukan pria perokok, hanya saja jika sedang lelah dan kacau seperti sekarang barulah Biru akan menghisap yang namanya rokok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD