BAB 4

1327 Words
Arania bangkit dari tempat duduk nya, lalu ia menuju ke kamar yang sejak semalam ia tempati di rumah suami nya itu, belum terlalu jelas seperti apa rumah yang ia tempati saat ini, yang pasti yang Arania tau jika kamar yang Arania tempati saat ini adalah kamar tamu, bukan kamar utama atau kamar yang lain. Arania mendudukkan dirinya di tepi ranjang dengan kasar. " huft! " terdengar Arania menghembuskan nafasnya dengan kasar. tak lama kemudian air matanya mengalir dengan deras nya. Ya, lagi - lagi Arania menangis, matanya sudah bengkak karena menangis semalam kini entah akan setelah apa nanti nya dirinya kembali manangis. bohong jika dirinya baik - baik saja setelah semuanya terjadi tidak sesuai rencana nya, bohong jika Arania bisa menghadapi semuanya sendiri. tapi sekali lagi, ini keputusan Arania, ia tidak bisa kembali ke hari kemarin apalagi hari - hari sebelum nya dimana ia ingin menghapus bagian dimana dirinya bisa mengenal Haikal, pria b******k yang sudah membuat dirinya merasakan yang namanya sakit hati. " mama..." ucap Arania lirih air matanya semakin deras saat dirinya menyebut sang mama, ia tau keputusan nya sangat di tentang oleh orang tuanya, bahkan semalam saat dirinya akan di bawa langsung oleh suaminya kedua orang tuanya melarang, tapi melihat wajah suaminya yang tidak bersahabat membuat Arania lagi - lagi mengabaikan protes orang tua nya. sakit karena melihat kekecewaan di wajah kedua orang tua serta kakak laki - lakinya, di tambah sakit karena mendapat pengkhianatan dari orang yang di cintai nya. sungguh rasanya bagai di hantam dengan puluhan batu tepat pada bagian dadanya. Arania menepuk - nepuk d**a nya yang terasa semakin sesak, sangat sesak, tak ada kata yang mampu Arania ucapkan saat ini , selain menangis dan menyebut sang maha pencipta di dalam hatinya. hingga tanpa sadar Arania kembali tertidur karena kelelahan menangis. ------------ Ponsel Arania berdering tanpa henti, membuat Arania yang tadinya sempat tertidur menjadi membuka matanya. " ya ampun aku ketiduran " ucap Arania dengan suara serak nya. tangannya bergerak meraih ponselnya yang berada di atas nakas. tertera nama sang mama di layar ponselnya. " Mama " gumam Arania pelan, terlihat Arania berdehem berharap suara nya akan terdengar baik - baik saja di telinga sang mama setelah ini. Arania menerima panggilan telepon dari sang mama. " Ya Ma " ucap Arania " Sayang kamu baik - baik aja kan nak.. " terdengar suara Nyonya Tania mama Arania khawatir di sebrang sana terlihat Arania sekuat tenaga melipat bibirnya agar ia tak mengeluarkan suaranya, hanya karena mendengar suara sang mama lagi - lagi air mata Arania tumpah begitu saja. " Ara sayang, nak,, kamu masih di sana kan? " " Ara, jangan bikin mama khawatir " " Ara kasih mama alamat kamu, mama kesana sekarang " " mama mau jemput kamu pulang pokoknya " Ucap Nyonya Tania di sebrang sana " mamaaaa...hiks,," ucap Arania pada akhirnya, dan tumpah lah lagi tangis Arania, ia tak bisa menyembunyikan keadaan nya pada sang mama, Arania saat ini sangat ingin di peluk oleh sang mama. Sakit, hancur, kecewa dan marah menjadi satu dengan keadaan Arania saat ini. setelah cukup lama membiarkan Arania hanya menangis saja, terdengar helaan nafas dari Nyonya Tania di sebrang sana. " Ara sayang kamu tau apa yang mama, papa dan kakak kamu rasakan, sama seperti kamu nak, bahkan mungkin kami lebih hancur dari kamu, terlebih di saat seperti ini kamu tidak bisa kami peluk, kami harus bagaimana nak " ucap Nyonya Tania dengan nada seolah tengah putus asa. tak ada jawaban dari Arania karena Arania sendiri bingung harus menjawab apa, yang jelas Arania merasa bersalah pada keluarga nya karena selain sudah membuat malu keluarga nya karena ulah mantan calon suaminya kini Arania menambah kekecewaan pada keluarga nya dengan keputusan nya untuk menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya. " sharelok alamat kamu, atau kamu yang pulang " Ucap nyonya Tania pada akhrinya " mama..kata mama apa - apa harus ijin suami, Ara nggak bisa ijin untuk pulang, Ara juga nggak bisa ijin buat terima tamu sekalipun mama kan " Ucap Arania " Ara nggak punya nomor ponsel suami Ara " ucap Arania lagi dengan lirih dapat di bayangkan seperti apa nyonya Tania seperti apa di sebrang telepon setelah mendengar jawaban dari putrinya, antara gemas dan kesal menjadi satu, tapi satu yang nyonya Tania syukuri, yakni Arania putrinya yang sudah tau diri, jika dirinya sudah berstatus seorang istri dan tau apa yang harus di lakukan meskipun itu hal kecil, seperti meminta ijin contohnya.ya, meski di bilang pernikahan kedua nya terpaksa dan tanpa di duga. " Ara, ini mama harus gimana nak, mama khawatir sama kamu " Ucap nyonya Tania " Doain Ara ya ma, semoga Ara kuat, tapi besok Ara mau ijin sama Kak Biru, kalau mau ke pulang " Ucap Arania sehingga mau tak mau di iyakan oleh Nyonya Tania, dan harus bersabar tidak bisa bertemu dengan putri nya hari ini. " Ya sudah, kamu yang sabar ya nak , jaga kesehatan, nggak usah di pikirin lagi yang kemarin, sekarang kamu fokus belajar terima jalan hidup kamu yang sekarang " Ucap nyonya Tania panjang lebar. terlihat Arania mendengarkan wejangan yang di berikan oleh sang mama, meski sebenarnya ia tidak tau akan seperti apa rumah tangganya yang pasti ia akan mendengar kan apa yang di katakan oleh sang mama, mengingat semua yang di ajarkan sang mama selama ini selalu berguna untuk nya. setelah cukup lama ibu dan anak itu berbicara melalui sambungan telepon, sambungan telepon akhirnya terputus. membuat Arania menghembuskan nafas Zn nya dengan kasar, setidaknya ia merasa lebih baik dari sebelumnya. Arania memutuskan untuk mencuci muka nya lalu ia berniat akan melihat - lihat isi rumah suami nya ini untuk menghilang kan rasa bosan nya hari ini, mengingat dirinya masih dalam masa cuti pada pekerjaan nya. Arania keluar dari kamar, ia kaget saat melihat ada seorang wanita paruh baya yang terlihat tengah bersih - bersih di rumah suami nya. " Nyonya, maaf jika saya menganggu istirahat nyonya " ucap wanita paruh baya itu " loh, enggak kok, tapi kamu... " ucap Arania " saya Siti nyonya, saya yang biasa membersihkan rumah ini dan masak untuk Tuan Biru, saya hanya datang di pagi hari dan pulang di sore hari, cuma hari ini agak telat karena cucu saya tiba - tiba sakit jadi saya bawa ke klinik dulu, dan sudah mendapat ijin dari tuan Biru " ucap Wanita paruh baya yang mengaku bernama Siti. ia sudah tau siapa Arania karena dirinya sudah di beri tahu sebelumnya oleh Biru saat ijin tentang keterlambatan nya. " oh gitu ya Bi, sekarang bagaimana keadaan cucu bibi? " tanya Arania ramah. " sudah mendingan nyonya " jawab Bu Siti. " Syukurlah, kalau misal Bi Siti mau pulang lebih awal buat jaga cucu bibi juga nggak apa - apa Bi " ucap Arania. " tidak perlu nyonya, biar saya selesaikan dulu pekerjaan saya, saya sudah berpesan sama cucu saya, kalau ada apa - apa bisa menghubungi saya " jelas Bi Siti. " oh ya sudah kalau begitu, saya mau lihat - lihat rumah ini bentar bi , bibi lanjutkan saja pekerjaan nya " ucap Arania yang tak mau panjang lebar lagi bertanya tentang cucu Bi Siti, bukan tidak perduli tapi Arania tau batasan untuk bertanya banyak hal pada orang lain termasuk bertanya kemana orang tua cucu Bi Siti. " silahkan nyonya " ucap Bi Siti Arania mengangguk dan tersenyum lalu ia melangkah kan kaki nya mulai melihat - lihat isi rumah suami nya itu. Rumah berlantai dua, dengan suasana klasik yang hangat. Lantai kayu yang mengilap, gorden tebal berwarna krem menciptakan nuansa nyaman dan damai. Setiap detailnya bersih tanpa noda, Jendela - jendela besar membiarkan cahaya matahari masuk dengan leluasa, membuat setiap sudut ruangan terasa terang dan hangat. Furnitur tertata rapi, dengan aksen tanaman hijau yang memberikan kesan segar. Tidak ada barang yang berserakan, semuanya tertata di tempatnya masing-masing. dapat Arania simpulkan jika suaminya seperti nya merupakan orang yang rapi karena sejak tadi ia memang tidak melihat apapun yang tidak pada tempatnya,semua nya terlihat tertata rapi pada tempatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD