BAB 12 Aroma kembang yang semerbak masih menempel di ujung hidung Rey ketika ia melangkah menuju kolam renang hotel malam itu. Dalam genggamannya, sebuah buket bunga berbalut pita merah elegan. Namun langkahnya terhenti ketika matanya menangkap gerakan samar—sebuah lambaian tangan di permukaan air, gelisah, nyaris tenggelam dalam riak tak beraturan. Hatinya mencelos. Itu Naya. Tanpa pikir panjang, bunga di tangannya jatuh berhamburan ke lantai, Rey berlari, dan dengan satu lompatan keras ia menerobos dinginnya air. BYURR! Air berhamburan tinggi, menyisakan gelombang panik. Rey meraih tubuh Naya yang mulai lemas, hampir tak berdaya. Di sela kesadarannya yang meredup, Naya masih sempat menatap samar wajah Rey, lalu kelopak matanya terpejam, tenggelam dalam pingsan. Dengan panik, Rey

