BAB 11 "Dan ayah ku ... salah satu dari pelanggan ibu. aku tidak pernah tahu siapa dia." Naya menahan isak. Matanya memerah, namun ia memaksa air mata itu tetap tertahan. Tangannya gemetar, namun ia menyuapkan camilan ke mulut, berpura-pura tegar. Rey mencondongkan tubuhnya. "Apa kamu menyukaiku juga?" tanyanya pelan, penuh kerentanan. Naya tersenyum getir. "Dalam hubungan ... rasa suka saja tidak cukup, Pak Rey?" "Berarti kamu menyukaiku," desak Rey, nadanya nyaris memohon. "Jika iya, bagiku itu saja cukup." Namun Naya tetap bungkam, mengunyah camilannya dengan paksa, seolah suara Rey hanyalah angin lalu. Rey akhirnya kembali meraih tangannya, menghentikan geraknya. "Jawab dulu." Naya menunduk dalam-dalam. "Tidak!" jawabnya singkat, patah, menusuk. Sunyi menggantung. "Ada yang ha

