Gadis Yang Memikat

1364 Words
Naya menuntaskan suapan terakhirnya. Ia merapikan piringnya ke samping, lalu menarik dokumen kembali ke hadapannya. "Pak Salim, boleh pinjam pena Bapak?" Pak Salim menoleh pada Rey, menunggu restu. Rey terdiam sebentar, lalu akhirnya mengangguk pelan. Gerakannya menyerupai seseorang yang akhirnya menyerah pada takdir. Begitu pena diberikan, Naya langsung menorehkan tanda tangannya dengan cepat, tanpa drama, tanpa ragu. Setiap goresan tinta terasa seperti garis pemutus, mengakhiri sesuatu sebelum sempat berkembang. Rey menghela napas panjang, hampir tak terdengar, namun cukup berat untuk menunjukkan perasaan yang tersembunyi. Pertemuan selanjutnya—yang ia harapkan—menggantung bagai fatamorgana. Makan malam pun usai. Tanpa banyak kata, Naya dan Cua berdiri. Sopir sudah menunggu, siap mengantar mereka kembali ke butik. Rey hanya bisa memandang punggung Naya yang menjauh, bagai cahaya yang terlalu cepat menghilang di balik gelap malam. **** Rey akhirnya tiba di rumah. Di sana, di atas sofa mewah berbalut kain beludru hijau, sang kakek sudah duduk menunggu. Seorang perawat setia berada di sisinya, seolah jadi bayangan yang tak pernah lepas. "Kakek belum tidur?" Rey meletakkan jasnya di sandaran kursi, suaranya pelan namun sarat kelelahan. "Kakek menunggumu." Suara kakek bergetar lembut, penuh kerinduan. "Kenapa kau terus-terusan lembur? Seharusnya sekarang waktumu bukan hanya untuk kerja, tapi mulai memikirkan untuk berkencan." Tangan tuanya yang berurat menepuk-nepuk sofa di sebelah kiri. Isyarat yang tak bisa ditolak. Rey berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba mengalir; betapa sang kakek masih setia menantinya pulang, meski tubuhnya kian rapuh. "Kali ini ada teman kakek yang cucunya siap menikah," lanjut sang kakek. Matanya berbinar, seakan ingin segera mempertemukan cucu kesayangannya dengan takdir yang baik. "Perempuan sederhana, biasa saja penampilannya. Bukankah kau bilang tak suka wanita glamour? Yang ini pasti sesuai seleramu." Kakek menyodorkan sebuah ponsel dengan foto seorang gadis terpampang jelas di layar. Rey melirik sekilas, lalu tersenyum samar. "Hari ini aku pulang malam bukan karena lembur. Aku makan malam dengan seorang gadis." Nada suaranya ringan, tapi matanya penuh arti. "Oh?" Kakek segera tegak duduk, semangat mudanya seakan bangkit kembali. "Kalau ini Cantik gak?" tanya sang kakek, atas foto yang ia perlihatkan kepada Rey. Rey menoleh, menatap layar ponsel itu sekali lagi, lalu berkata sambil menyunggingkan senyum nakal, "Cantik sih ... tapi lebih cantik yang barusan aku temui." Kakek tertegun, lalu wajah keriputnya mengembang dalam tawa kecil. "Jadi kau sudah punya pacar? Kenapa tidak bilang pada kakek?" Rey tertawa lirih, menggeleng. "Em ... belum. Aku masih berusaha mendekatinya kek." Dan dalam hatinya, wajah Naya menari-nari terbayang, menolak untuk pergi. "Kenapa kau tidak yakin? Wanita mana yang tak tertarik padamu?" Kakek menatapnya penuh keheranan. "Karena wanita ini ... berbeda. Dia tidak seperti yang lain." Suara Rey merendah, seolah hanya berbisik pada hatinya sendiri. Dia bahkan tak berdandan ketika aku ajak makan malam. Saat semua wanita sibuk menampilkan yang terbaik di hadapanku, dia datang dengan begitu sederhana ... tetap memesona tanpa perlu topeng. Senyum lirih terbit di bibir Rey, sekaligus membuat dadanya sesak. Ia sadar, rasa yang bersemayam di dalam hati bukan lagi main-main. Kakek menghela napas panjang, menatap cucu satu-satunya itu dengan rasa lega yang dalam. Akhirnya, ada seseorang yang mampu menarik hatinya … "Kalau begitu, gadis di foto ini bisa jadi pilihan kedua." Suara kakek lembut, seakan menutup percakapan. Rey berdiri, mengambil jasnya lalu menunduk hormat. "Baiklah. Tapi saat ini ... hanya dia yang ada di pikiranku." Dengan langkah perlahan ia menuju kamarnya, meninggalkan sang kakek yang masih tersenyum puas. Di kamar, selepas membersihkan diri, Rey merebahkan tubuh di atas kasur empuk. Namun bukannya terlelap, pikirannya justru melayang-layang. Bayangan wajah Naya hadir begitu jelas—sederhana, polos, namun justru membuatnya tak berdaya. Kenapa saya jadi begini? gumamnya dalam hati, senyum tipis tak henti-hentinya terbit di bibirnya. Malam itu, Rey tidak hanya tidur ditemani bantal dan selimut, tapi juga ditemani rasa baru yang samar namun menggetarkan: cinta yang perlahan bersemi. **** Beberapa hari kemudian. "Pak Salim, apa saja jadwal hari ini?" tanya Rey begitu ia duduk di kursinya, merapikan jas yang baru saja ia kenakan. "Jam delapan ada pertemuan dengan CEO Indo Putra Teknik, jam sepuluh rapat dengan PT. Pesona Beach membahas pembukaan resort di Bali, jam dua belas pertemuan sekaligus makan siang dengan—" "Batalkan saja yang jam dua belas sampai seterusnya. Saya mau makan siang di luar ... mungkin butuh waktu cukup lama." Rey memotong kalimatnya dengan nada datar, tapi sorot matanya menyiratkan sesuatu yang lain. Pak Salim sempat tertegun. "Tapi Presdir—" katanya tertahan, lalu mendadak mengerti. Bibirnya terangkat sedikit, seolah membaca isi kepala sang bos yang kini tampak berbeda dari biasanya. "Baik, Presdir. Saya akan sesuaikan jadwal yang baru," ucapnya penuh pengertian. Sepanjang rapat, Rey seperti terbelah dua: tubuhnya duduk di kursi pimpinan, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Berkali-kali pandangannya jatuh ke jam tangan di pergelangan, jarum-jarum seakan melambat sekaligus menertawakan kegelisahannya. Detik demi detik bukan lagi sekadar hitungan waktu, melainkan palu yang mengetuk d**a, menegaskan kerinduannya. Pak Salim yang sudah lama mengabdi hanya bisa mengamati sambil menahan senyum tipis. Ia tahu benar tanda-tanda seorang pria yang jatuh hati. Dan kali ini, Presdir Rey benar-benar tampak ... manusiawi. Begitu rapat berakhir, Rey langsung bangkit, langkahnya cepat meninggalkan ruang rapat. Pak Salim mengekor, dan saat memasuki ruang kerja, pandangan Rey langsung tertuju pada sebuah kotak kecil berhias pita, tergeletak anggun di atas meja. Ia meraihnya dengan hati-hati, seakan di dalamnya tersimpan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar hadiah. "Pak Salim, telepon Sule untuk siapkan mobil. Tapi kali ini ... makanlah di kantin bawah bersama Sule. Saya akan membawa mobil sendiri," ujar Rey sambil menepuk pelan kotak itu, senyum samar tersungging di bibirnya. Pak Salim menunduk, menahan tawa kecil yang hampir pecah. "Baik, Presdir." Rey menengok jam tangannya sekali lagi—12.30. Tanpa menunda, ia melangkah cepat, hatinya mendahului langkah kakinya. Mobil melaju kencang meninggalkan gedung, berbekal informasi dari Pak Hadi, tujuannya jelas: butik Modis Fashion. **** Di Butik Modis Fashion Cua tengah sibuk menata baju-baju di lemari display. Jemarinya cekatan, matanya berbinar setiap kali kain berwarna-warni tersusun sempurna. "Selamat siang, Cua ..." Sebuah suara berat menyapa dari arah pintu. "Eh, Hans ... sendiri?" Cua menoleh, sedikit terkejut. "Ya. Naya?" tanyanya singkat, matanya langsung menelusuri ruangan. "Ada di ruangannya." Ucap Cua. Hans mengangguk, melangkah pelan ke arah ruangan yang dimaksud. Ia berhenti di ambang pintu yang terbuka lebar, menyandarkan tubuhnya pada kusen kayu, membiarkan pandangannya jatuh pada sosok di dalam. Naya berjongkok di lantai, dikelilingi cahaya lampu yang menimpa wajahnya dengan lembut. Jemari lentiknya tengah sibuk merangkai manik-manik, menyulamkan kilau mungil itu ke sebidang kain salem yang menjuntai di manekin. Setiap gerakan tangannya begitu teliti. Hans menatapnya lama. Ada sesuatu dalam keseriusan itu—ketenangan sekaligus pesona yang tidak bisa ia jelaskan. "Serius amat ..." suara Hans terdengar dalam namun berbalut godaan ringan. Naya sontak menoleh, kaget tapi sekaligus tersenyum. Ia mengenali suara itu tanpa perlu berpikir. "Eh, Hans ... dari tadi?" tanyanya, sedikit salah tingkah. "Baru saja. Sibuk, ya?" Hans berjalan masuk, mendekat. "Gak juga," jawab Naya sambil merapikan kain di pangkuannya. "Mau minum kopi? Gue lihat ada kafe baru di sebelah butik." Hans merendahkan tubuhnya, ikut berjongkok di sampingnya, seolah ingin berada sejajar—baik dalam pandangan maupun perasaan. “Ah, iya, baru tiga hari ini buka. Ayo kita coba ke sana,” ujar Naya, berdiri. Ia menepuk-nepuk gaun sederhananya yang sedikit kusut karena terlalu lama jongkok. Mereka melangkah santai menyusuri trotoar. Hans melempar lelucon receh yang entah bagaimana selalu berhasil membuat Naya tertawa renyah. Tawanya tulus dan jernih, mengisi udara sore. Dari jauh, terpancar jelas rona bahagia dari gadis sederhana yang jarang menonjolkan diri itu. Namun, keceriaan itu tertangkap oleh sepasang mata lain. Dari balik kaca mobil hitam yang melaju perlahan, Rey menatap tajam. Roda mobil berputar melambat, seolah menyesuaikan ritme degup resah di dadanya. Pandangan Rey terpaku pada pemandangan yang seketika membuat hatinya panas: Naya berjalan begitu dekat dengan Hans, tertawa lepas, matanya berbinar dengan cara yang belum pernah Rey saksikan. Mobil Rey berhenti mendadak di tepi jalan. Ia mencengkeram kemudi dengan erat, rahangnya mengeras. “Apa dia pacarnya?” gumam Rey, suaranya hampir tak terdengar. Rasa asing, campuran cemburu dan ingin tahu, menyelinap di dadanya. Tanpa menyadari tatapan penuh bara itu, Naya dan Hans melewati mobilnya. Mereka menyeberang, lalu masuk ke kafe mungil. Lonceng kecil di pintu kaca berdenting nyaring menyambut mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD