MAS REY

1188 Words
BAB 7 Rey terdiam sejenak dalam gelisah. Hatinya menimbang, antara mengubur rasa penasaran atau mengikuti dorongan yang tak tertahankan. Dorongan hatinya menang. Dengan gerakan tegas, ia memarkirkan mobil tepat di depan kafe. Setelah merapikan setelan jasnya, ia melangkah keluar dengan wibawa khas seorang presdir. Begitu pintu kafe didorong, denting lonceng menyambut Rey. Sorot matanya langsung menyapu ruangan. Di sudut kafe dekat jendela, ia menemukan Naya dan Hans duduk berhadapan, menunggu pesanan. Rey menahan seulas senyum tipis. Ia berjalan mendekat, berpura-pura seolah baru saja menyadari keberadaan mereka. "Nona Naya, Anda juga di sini?" suaranya terdengar ringan, namun mengandung nada yang sulit ditebak. "Presdir?" Naya sontak terperanjat, tubuhnya sedikit menegang. "Siapa, Nay?" bisik Hans dengan suara rendah, menoleh penuh tanya. "Presdir Pra–," Naya belum sempat ia menambahkan penjelasan, Rey sudah melangkah lebih dekat. "Saya temannya nona ini. Jadi ... bolehkan saya bergabung?" tanpa menunggu jawaban, Rey menarik kursi di sebelah kanan Naya dan duduk dengan percaya diri, gerakannya penuh kepemilikan yang tersamar. Beberapa detik kemudian, pramusaji datang dengan senyum ramah, menurunkan nampan berisi pesanan. "Satu americano, satu latte," katanya sambil meletakkan cangkir di meja. Naya segera meraih americano miliknya, mengecap aroma pekat yang langsung terangkat ke udara. Rey memperhatikan gerakan itu, pandangannya tak lepas dari bibir Naya yang menyentuh pinggir cangkir. "Oh, suka americano juga ya? Sama dong," ucap Rey dengan nada sok akrab dan seolah kebetulan. "Mas, saya americano satu ya, yang dingin," sambung Rey sambil menoleh ke pelayan. "Baik, mohon ditunggu sebentar." Pelayan menunduk lalu berlalu. Naya, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa aneh, bertanya, "Presdir, apa tidak sibuk?" Rey menoleh, menatap Naya lekat-lekat. "Panggil saja saya Rey. Kita kan ... teman." Senyum jahilnya muncul, penuh arti yang samar. Hans mengamati percakapan itu dengan tatapan dingin. Ada sesuatu dalam ekspresi Rey yang membuatnya tidak nyaman—seakan-akan lelaki itu datang bukan sekadar kebetulan, melainkan dengan tujuan yang lebih dalam. Rasa rivalitas yang sebelumnya samar kini menguar jelas. Hans tahu, mulai saat ini, kebersamaan sederhana dengan Naya tak akan pernah sama lagi. "Kalian berpacaran ya?" tanya Rey blak-blakan tanpa canggung. "Ya!---". Ucap Hans tegas. Sontak Naya menatap Hans kaget. "Itu yang saya harapkan sejak dulu". Ralat Hans. "Sekarang?" Rey menimpali. Tatapan mereka saling berperang, kedua laki-laki yang saling berhadapan, bertatap tajam dengan aura penuh gejolak persaingan. "Ah— segarnya … kalian gak minum". Naya mengatakannya dengan nada penuh kepolosan, berusaha mendinginkan suasana yang nampak memanas. Dering ponsel milik Hans mengurai keheningan. "Ya?-------- oke, tunggu aku segera ke situ". Hans menutup panggilan dan beranjak dari kursinya. "Nay, sepertinya gue harus pergi duluan, kapan-kapan saja kita ngobrolnya" "Ah, kenapa buru-buru" Naya mencoba menahan karena keengganannya ditinggal berdua saja dengan Rey. "Gue mau ngecek lokasi, rencana mau buka cabang baru" Hans berdiri sambil merapikan jasnya. Senyum tipis masih tersungging di bibirnya, meski sorot matanya sempat berpindah sekilas ke Rey—tatapan yang penuh pesan, seolah menitipkan peringatan. Setelah itu ia melangkah keluar, meninggalkan aroma persaingan yang masih menggantung di udara. Hening yang menggantung di antara mereka kian pekat, seolah udara di kafe itu menolak bergerak. Detak jam dinding terdengar lebih keras, denting sendok yang bersentuhan dengan gelas terasa seperti gema yang tak wajar. Naya menggenggam cangkir yang hampir kosong di depannya, jemarinya sedikit bergetar, seakan cangkir itu satu-satunya jangkar agar dirinya tak hanyut dalam arus tatapan Rey. Rey, dengan santai menyandarkan tubuhnya, masih menatap tanpa berpaling. Ada sesuatu dalam sorot matanya—tajam, berwibawa, namun juga teduh, Naya merasa tubuhnya seakan dipenjarakan oleh tatapan itu, semakin lama semakin sulit bernapas. "Bu–butik saya ada di dekat sini, apa Pak Rey mau mampir?" ucap Naya. Suaranya goyah, bergetar. Alis Rey terangkat sedikit. Sebuah senyum miring muncul di bibirnya, sinis sekaligus menggodanya. "Baik, saya akan mampir. Tapi ... tolong jangan panggil saya 'Pak'. Apa tampang saya seperti bapak-bapak?" Nada suaranya ringan, dan mengandung candaan. Naya terdiam, wajahnya memanas dan matanya buru-buru menghindar, menatap ke arah jendela yang menampilkan lalu-lalang orang di luar. Rey masih menatapnya, senyumnya makin tipis namun penuh arti, seperti seorang pemenang yang baru saja meraih sesuatu yang ia incar sejak lama. Dalam hatinya, Rey tahu ia berhasil—ia telah mengguncang gadis yang selama ini dikenal keras kepala dan berani, membuatnya gugup hanya dengan tatapan dan sedikit godaan. "Berapa umur mu?" tanya Rey. "Umur?" Naya merasa aneh 'ngapain dia tanya umur' gumamnya dalam hati. "28 tahun" Jawab Naya singkat. 'Masih muda sekali, sesuai dengan perawakannya namun wibawanya melebihi umurnya' kata Rey dalam hati. "Kalau begitu panggil saja saya mas, saya jauh lebih tua dari kamu, umurku 35 tahun" "Mas?" kedua alis Naya hampir menyatu, nampak keheranan. "Bukankah hal yang wajar memanggil yang lebih tua dengan sebutan mas?". Rey mendekapkan kedua tangannya di atas meja dan mendekatkan wajahnya ke muka Naya, hanya sekilan batas wajah mereka sekarang. "Ah– Baik" jawab Naya dengan sedikit memundurkan kepalanya ke belakang. "Baik apa?" Rey meminta penegasan. "Baik em—mas" Naya tersipu malu. Rey mengambil Ponsel di sakunya dan mengetik sebuah pesan. "Ting! Ting!" bunyi pesan masuk di Ponsel Naya Naya segera memeriksanya, ada pesan bertuliskan Mas Rey. "Itu nomor ku, tolong disimpan". Rey melempar senyum jahil ke arah Naya. —"Sabtu ini apa ada waktu luang? aku ingin mengajak makan malam" "Saya?" Naya mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkan ke mukanya sendiri. "Iya, siapa lagi, yang ada disini kan cuman kita berdua" Jawab Rey. 'Ni orang gini amat ya?, mulutnya ceplas-ceplos, bertindak sesuka hati pula' pikir Naya dalam hati. Sejenak Naya berfikir, bola matanya mengarah ke atap, seolah dia kan menemukan jawabnya disana. "Tapi—apa boleh saya yang menentukan tempatnya, saya tidak nyaman makan di tempat yang mewah". "Oke, silahkan kamu yang pilih tempatnya— aku akan menjemputmu di rumah". "Di butik saja, saya akan menunggu di butik". Cegah Naya cepat. Naya merasa enggan menjelaskan panjang lebar kepada tante Ita, andai Rey menjemputnya di rumah. Keputusan bijak untuk menyederhanakan situasi, pikirnya. "Oke" Jawab Rey. Naya menggenggam ponselnya erat, menatap layar yang baru saja menyala karena pesan Rey. Senyumnya yang jahil, nada suaranya yang penuh keyakinan, membuat d**a Naya terasa sesak oleh sesuatu yang tak bisa ia namai. Ada semacam debar aneh—antara gugup, kesal, sekaligus ... entah, rasa yang samar-samar menyerupai harapan. Rey menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi, matanya tidak pernah benar-benar lepas dari wajah Naya. Seolah-olah setiap gerak kecil Naya, setiap helaan napasnya, adalah sebuah tontonan yang tak boleh ia lewatkan. "Kalau begitu, sudah janji ya. Sabtu ini," ucap Rey mantap, suaranya tenang namun berlapis keangkuhan halus, seakan ia selalu yakin bahwa dunia akan menuruti keinginannya. Naya menunduk, jemarinya sibuk memainkan ponsel hanya untuk menghindari tatapan itu. "Ya ... Sabtu," jawabnya lirih. Suara yang ia keluarkan tak sebanding dengan hiruk pikuk yang menggedor di dalam dadanya. Di balik senyumnya, Rey menyimpan kepuasan tersendiri. Ia tahu dirinya sudah menanamkan sebuah jejak di hati gadis itu, sekecil apa pun. Dan jejak itu, ia percaya, akan tumbuh menjadi sesuatu yang tak bisa Naya abaikan. 'Kenapa dia harus muncul? Kenapa dia harus seberani ini?' batin Naya gelisah, matanya sesekali melirik wajah Rey yang begitu yakin, seakan dunia tak pernah menolaknya. Dan di dalam diri Naya, perang yang tak terlihat sedang berlangsung—antara hati yang mulai terpikat dan ketakutan yang ingin membungkam segalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD