DE JAVU

1782 Words
BAB 8 Sabtu malam Ponsel Naya di meja bergetar, dan suara berat namun tenang terdengar dari seberang sana. "Aku sudah di depan." Ucap Rey di balik telepon. “Oke, aku keluar”. Balas Naya. Naya menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantung yang berdetak tak terkendali. Ia berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya—celana jins longgar, kaos putih bersih, rambut sebahu diikat sederhana menyerupai ekor kuda. Di bahu kanannya tergantung tas kecil coklat yang sudah setia menemaninya bertahun-tahun. Penampilannya jauh dari kata glamor, tapi justru itulah dirinya yang sebenarnya. "Cie ... yang mau pergi kencan," Cua menyeringai dari ruang tamu, tatapannya penuh godaan. Naya hanya membalas dengan senyum samar, memilih diam. Ia segera melangkah keluar, membiarkan hatinya yang tak karuan tetap bersembunyi di balik senyum tipis itu. Di luar, di bawah cahaya lampu jalan yang kuning temaram, Rey berdiri menyilangkan kaki, sedikit bersandar pada mobil hitamnya. Penampilannya kasual namun mempesona: jins gelap, kaos putih polos, dilapisi jas slim fit navy tak berkancing yang menggantung santai di tubuhnya. Sosok presdir ambisius yang biasanya Naya kenal kini lenyap. Berganti pria muda dengan kharisma yang tenang, tubuh tegap, sorot mata teduh. Sesaat mata mereka bertemu, Naya merasa jantungnya kehilangan irama. Tangannya refleks mencengkeram tali tas yang tergantung di bahu, seolah itu satu-satunya pegangan untuk menahan gugup yang membuncah. "Hai." Sapa Naya lirih, nyaris tercekat di tenggorokannya. Rey menelisik penampilan Naya sejenak. Tatapannya dalam, menahan sesuatu yang bergetar. Naya berusaha terlihat biasa saja, tapi ia tahu—upayanya sia-sia. Kesederhanaannya justru menonjolkan pesonanya. Dan Rey, yang selama ini dikelilingi perempuan bergaun mahal dan parfum berlapis-lapis, justru terpikat oleh kecantikan alami itu. "Silakan." Rey membukakan pintu mobil untuk Naya. Naya masuk, tubuh mereka nyaris bersentuhan, membuat udara di antara mereka terasa rapat dan penuh kejutan listrik. Rey kemudian bergeser ke sisi kemudi. Dengan gerakan santai, ia melepaskan jasnya dan melemparkannya ke kursi belakang. "Bukankah ini kebetulan yang luar biasa?" Rey tersenyum tipis. "Kita seperti pasangan kekasih. Lihat saja—kaos putih, jins. Serasi sekali." Naya tersipu malu mendengar ucapan Rey, ia berpura-pura sibuk menatap layar dashboard untuk mengalihkan wajahnya. "Jadi ... kita mau makan di mana? Silakan tentukan." Tanya Rey. Jari lentik Naya menari di layar navigasi. "Kita makan di sini." Naya menunjuk titik tujuan pada GPS mobil. "Emmm ... oke." Rey terdengar ragu, tapi ia menuruti. Mobil melaju perlahan menembus keramaian kota. Di kursi penumpang, Naya tampak gelisah, seolah ada sesuatu yang tak terucap menyesaki dadanya. Ia menyibukkan diri dengan memainkan jemari—menautkan, memisahkan, lalu menggulung ujung kuku jari telunjuknya dengan jari yang lain—kebiasaan lamanya ketika gugup. "Kita parkir di depan minimarket itu saja," ucap Naya tiba-tiba, suaranya terdengar sedikit tergesa, sambil menunjuk minimarket di sudut pertigaan. Rey menoleh sekilas, alisnya terangkat tipis. "Kenapa tidak langsung saja? Di monitor masih ada tiga ratus meter menuju lokasi." "Ada gang kecil di sebelah minimarket. Kalau lewat situ lebih dekat, tidak sampai tiga ratus meter." Naya berhenti sejenak, ia menarik nafas, lalu menambahkan dengan nada lirih, "Mobil Anda terlalu mencolok ... yang akan kita kunjungi hanya sebuah warung kecil. Takutnya orang-orang jadi memperhatikan. Aku ... tidak akan bisa makan dengan nyaman." Alasan itu meluncur begitu tulus. Rey mengangguk, memahami kesederhanaan yang begitu melekat pada diri Naya. "Baiklah." Mereka turun dari mobil. Suasana malam terasa lembap setelah hujan sore tadi. Ketika melangkah ke dalam gang sempit, jarak tubuh mereka makin rapat. Sesekali bahu bersentuhan, dan lebih sering lagi ayunan tangan mereka saling bergesekan. Sentuhan-sentuhan kecil itu menyalakan percikan panas yang tak terucapkan, membuat degup jantung mereka berdetak lebih cepat dari langkah kaki. Rey menikmati setiap detik kedekatan yang tampak begitu wajar, sementara Naya hanya bisa menahan debar dengan wajah memerah tersipu. "Itu, sudah kelihatan warungnya," ujar Naya, menunjuk ke sebuah warung soto betawi yang terang-benderang dan ramai dipenuhi pengunjung. Aroma kuah yang mengepul di udara menyambut sejak jauh. "Ramai sekali. Itu tandanya enak, ya?" Rey menoleh, senyumnya tipis namun matanya menyimpan rasa ingin tahu. "Dan murah. Sesuai selera saya," jawab Naya, senyumnya penuh maksud, seolah sengaja ingin menguji pria di sampingnya. Rey terkekeh kecil. "Oke, mari kita coba." Di depan warung, Naya menyapa hangat, "Mang Agus." Penjual itu sibuk menyendok kuah ke dalam mangkuk, tangannya terampil, wajahnya ramah. "Eh, Mbak Naya. Tumben, Mas Hans nggak ikut." Nama itu membuat Rey menoleh, tatapannya menajam, seakan menimbang sesuatu yang tak ingin ia dengar. "Hans lagi sibuk persiapan buka cabang baru," jawab Naya tenang, meski ia menangkap perubahan ekspresi Rey. "Dua porsi ya, yang punya saya seperti biasa. Tanpa—" "Jeroan, bawang goreng, dan daun bawang yang banyak." Mang Agus menyela dengan tawa singkat. "Betul sekali." Ucap Naya dnegan ceria. "Kalau Mas ganteng ini bagaimana?" tanya Agus pada Rey. Naya melirik Rey sekilas, matanya nakal, seolah sengaja menikmati rasa kikuk yang melintas di wajahnya. "E— sama. Tanpa jeroan. Bawang goreng dan daun bawangnya biasa saja." Suara Rey terdengar lesu, seolah tak yakin harus menaruh mulutnya pada hidangan yang jauh dari meja makan berlapis marmer di rumahnya. Meja kayu reyot, kursi plastik yang goyah, cat dinding yang mengelupas—semua itu asing baginya. Sementara Naya sibuk mencari tempat duduk, matanya lincah menyapu seisi warung. "Kita di sebelah sana." Naya menunjuk bangku kayu panjang yang kosong di pojok. Rey hanya mengangguk, menahan napas pendek. Tak lama pesanan mereka tiba. Naya menyambut dengan mata berbinar, mencampurkan kecap dan sambal, mengaduk-aduk penuh semangat. "Ini, makanan favorit ku." Rey menatap mangkuknya, ragu. Tidak yakin dia mampu menyantapnya. "Cobalah pak Rey." Ucap Naya dengan nada menggoda. Rey menyendok perlahan, meniup kuah panas yang mengepul, lalu meneguknya. Sejenak ia terdiam. Rasa gurih yang meresap mendadak memecahkan keraguan yang tadi menempel. "Enak ..." gumam Rey, matanya melebar. Naya menoleh, tersenyum geli melihat ekspresinya yang polos. "Lebih enak dari buatan Pak Rudi," lanjut Rey, menyebut nama koki yang bekerja khusus di rumah besar kakeknya. "Syukurlah kalau anda doyan," balas Naya sambil menyuap mulutnya sendiri. "Doyan," Rey menegaskan, senyumnya tipis. Lalu menatapnya, "Dan jangan terlalu formal. Aku bukan presdir sekarang. Aku hanya Rey ... temanmu." Naya menahan helaan napas. "Maaf, mas— Rey." Lidahnya terasa canggung mengucapkan kata itu. "Oya, Kenapa kamu ingin dipanggil 'mas'? "Itu ... karena ibu ku orang Jawa. Sejak kecil aku suka mendengar beliau memanggil ayah dengan sebutan itu. Ada kehangatan di sana. Aku ingin, nanti ... istri saya juga memanggilku dengan panggilan yang sama." jawab Rey Naya tertegun. Ucapan itu seperti menembus dadanya, membuat jantungnya berdentum keras, wajahnya terasa panas, dan buru-buru ia tunduk, menyembunyikan pipi yang mulai bersemu. 'Aku kan bukan istrinya ... kenapa harus aku yang disuruh memanggil begitu?' gumamnya dalam hati. Mereka menyelesaikan makan dengan suasana hening yang penuh isyarat. Meja kayu panjang di warung itu masih menyisakan aroma sambal dan hangat kuah soto. Naya bangkit perlahan sambil tersenyum kecil, "Aku ke toilet sebentar ya." Rey hanya mengangguk, lalu berjalan ke arah kasir untuk membayar. Beberapa menit kemudian, Naya kembali, dan mereka keluar bersama, menyusuri trotoar yang diterangi lampu jalan kuning temaram. Udara malam terasa lengket, menempel di kulit. Mereka bercakap ringan, saling melempar gurauan kecil yang mencairkan keheningan. Namun, begitu tiba di mobil, Naya menepuk pelipisnya, wajahnya berubah. "Sepertinya aku harus balik lagi ke warung. Jam tangan ku tertinggal di toilet." Jam tangan itu bukan sekadar penunjuk waktu. Itu adalah pemberian Tante Ita, hadiah sederhana saat ia baru masuk kuliah. Murah harganya, rapuh pula—tak tahan bila terkena air, bahkan sudah beberapa kali rusak dan diservis. Namun, bagi Naya, benda itu adalah kenangan, bagian dari dirinya yang tak tergantikan. "Aku temani," kata Rey cepat, nada suaranya tegas. Naya menggeleng, tersenyum agar tidak menambah khawatir. "Tidak usah, cepat saja kok." Lalu ia berlari kecil, langkahnya tergesa menyusuri jalan kembali ke warung. Rey menunggu di mobil, menyalakan lampu kabin, sibuk mengecek ponselnya. Sementara itu, di sebuah lorong sempit menuju warung, dua laki-laki berdiri bersandar di dinding kusam, rokok menyala di jemari mereka, asap tipis melayang bersama bau alkohol. Naya mempercepat langkah, berusaha tidak menoleh. "Hei, cantik ..." suara berat itu memanggil. Naya tetap berjalan, matanya lurus ke depan. Namun langkahnya terhenti ketika telinganya menangkap namanya sendiri. "Naya Pratiwi." Tubuhnya kaku. Ia menoleh, dan salah satu dari pria itu melangkah maju. Tubuh jangkung, rambut berantakan, lengan penuh tato, wajahnya keras, namun senyumnya miring dan sinis. "Masih ingat Gue?" Ia mendekat, begitu dekat hingga napasnya yang bercampur alkohol terasa menusuk. Naya menatap lekat, dan ingatannya terlempar jauh ke masa SMA. "David …?" bisiknya hampir tak terdengar. David menyeringai, seakan puas karena dikenali. "Tambah cantik aja, Nay." Tangannya yang kasar tiba-tiba mengusap pipi Naya. Naya refleks menepis keras, matanya berkilat. "Apa-apaan lo?!" Kata-kata itu seperti cambuk. Senyum David memudar, berganti amarah. "Selain cantik, lo juga semakin sombong!" desisnya. Tangannya mencengkeram kedua bahu Naya, menekan kuat. Naya terperangkap, tubuhnya didorong ke dinding, wajah David semakin mendekat, penuh nafsu. "Lepaskan gue!" Naya meronta, kedua tangannya menahan wajah David yang berusaha memaksa mencium. Napasnya memburu, panik, matanya berair oleh rasa takut dan jijik. Tiba-tiba—BRUK! Sebuah tangan kuat menarik David ke belakang. Dalam sekejap, sebuah kepalan tangan menghantam wajah David dengan keras. Suara tulang beradu terdengar nyaring. Darah segar langsung merembes dari sudut bibirnya. David tersungkur ke lantai lorong yang lembap. Sesaat ia terhuyung, lalu bangkit dengan tatapan liar. "Baj*ingan!" umpatnya, dan ia melancarkan pukulan balik. Namun lawannya sudah siap. Rey. Dengan rahang mengeras dan mata menyala, Rey berdiri tegak, tubuhnya tegang bagai busur siap melepas anak panah. David mengayun tinju, tapi Rey menangkis dengan mudah, lalu membalas dengan serangan cepat yang membuat tubuh David kembali terhuyung. Lorong sempit itu menjadi arena pertarungan brutal. Suara pukulan bertubi-tubi, tubuh David yang jatuh bangun, dan napas Rey yang berat namun penuh kendali. David mencoba melawan, tapi keadaannya sudah miring sejak awal—terlalu banyak alkohol, terlalu lambat dibandingkan Rey yang dikuasai amarah bercampur naluri melindungi. Sekali lagi, Rey menghantamkan tinjunya, membuat David jatuh terkulai. "Pak Rey hentikan!" "Pak Rey sudah!" teriak Naya dengan suara bergetar. Seketika, kilasan masa lalu menyeruak tanpa ampun. Ingatan samar dari masa SMA berkelebat—peristiwa perkelahian di ruang kelas, saat Reno berdiri melindunginya dengan cara yang sama. De jà vu. Suasana malam yang diguyur hujan ini seolah menariknya kembali pada momen lama. Punggung itu ... tegap, terluka, tapi tak gentar—sama persis seperti punggung Reno dulu. Naya terpaku. Pandangannya kosong, namun hatinya berdegup kencang. Rey, yang kini berada di hadapannya, seolah menyatu dengan bayangan Reno yang perlahan memudar di ingatan. Rey semakin beringas. Tinju demi tinju menghantam David, hingga lelaki itu hampir tak berdaya. Napas Rey terengah, matanya menyala bagai binatang buas yang terpojok. Namun tanpa ia sadari, salah seorang teman David yang sedari tadi hanya menjadi penonton kini bergerak panik. Tangannya menggenggam pisau berkilat. Dalam keputusasaan menyelamatkan rekannya, ia menerjang dan— Srak! Pisau itu menancap di punggung kanan Rey. "TIDAKKKK!!!" jeritan Naya pecah, melesat menembus pekatnya malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD