BAB 9
Rey terduduk, wajahnya meringis menahan sakit. Darah hangat segera merembes, mengalir deras di sepanjang lengannya, membasahi kaus putih yang seketika berubah menjadi merah kelam. David dan temannya kabur tunggang langgang, lenyap ditelan kegelapan.
"Pak Rey!" Naya meraih tubuh Rey dengan tangan bergetar.
Panik. Air matanya jatuh bercampur dengan rintik hujan.
Naya menekan luka Rey dengan kedua telapak tangannya yang gemetar, berusaha menghentikan laju darah yang seakan tak ada habisnya.
****
Di Rumah Sakit
Naya terduduk lesu di bangku panjang depan ruang tindakan. Tangannya masih berlumur noda darah yang mulai mengering, seolah menjadi bukti nyata kekacauan yang baru saja terjadi.
Tante, malam ini saya tidur di butik. Saya akan menyelesaikan desain.
Pesan singkat itu ia ketik dan kirim pada Tante Ita—kebohongan kecil agar tidak ada yang khawatir.
"Nona Naya!"
Suara langkah tergesa memecah kesunyian. Pak Salim datang dengan wajah cemas.
"Pak Salim ..." Naya berdiri setengah tersentak.
"Bagaimana keadaan Presdir?" tanyanya penuh gelisah.
"Masih ditangani dokter, kita hanya bisa menunggu." Suara Naya lirih, hampir patah.
Tak lama, pintu terbuka. Seorang dokter keluar, melepas sarung tangannya.
"Bagaimana, Dok?" tanya mereka hampir bersamaan.
"Syukurlah, tusukan tidak terlalu dalam. Selama beliau tidak banyak bergerak, luka akan pulih lebih cepat. Sekarang kami akan memindahkan beliau ke ruang rawat inap. Silakan urus administrasinya."
Napas Naya jatuh lega, namun hatinya masih berguncang.
Ruang Naywat Inap VVIP
Rey berbaring miring, wajahnya pucat namun masih menyimpan sinar tegas.
"Pak Salim, sampaikan pada kakek kalau saya ada dinas luar. Jangan sampai beliau khawatir," katanya pelan, menahan sakit.
Pak Salim mengangguk, lalu melirik ke arah Naya yang duduk di sisi ranjang.
"Pak Salim, biar saya yang menjaga Pak Rey. Pulanglah dulu," ucap Naya.
Rey memberikan anggukan kecil agar Pak Salim menyetujuinya. Maka pergilah Pak Salim, meninggalkan mereka berdua.
Keheningan menelusup ke dalam ruangan, hanya terdengar bunyi detak mesin infus.
"Pak Rey ... maafkan saya. Gara-gara saya, anda—" suara Naya tercekat.
Rey tersenyum samar, walau wajahnya meringis menahan sakit.
"Tidak apa-apa. Seorang lelaki memang harus melakukan itu. Apalagi ... untuk wanita yang disukainya."
Naya membeku. Darahnya serasa berhenti mengalir. Wajahnya seketika memanas, jantungnya berdegup bagai genderang perang.
"A—apa ... anda perlu minum? Saya ambilkan." Ia beranjak, mencari celah untuk lari dari situasi yang menyesakkan d**a.
Namun tangan Rey yang hangat dan kokoh menahan jemarinya. "Duduklah. Panggil saya mas, bukankah itu kesepakatan kita?"
Naya menunduk, suara lirih keluar dari bibirnya. "Aku merasa tidak pantas ... setelah tahu alasan anda ingin dipanggil begitu."
Rey menatapnya dalam, seakan menelusuri seluruh dinding hati yang coba ia bangun. "Aku akan membuatmu pantas, kalau kamu mau menerima ... pernyataan cintaku."
Pipi Naya semakin merah. Ia mendadak berdiri, pura-pura sibuk. "Ah! Saya ambilkan minum dulu". Naya beranjak pergi tanpa membalas tatapan Rey yang intens ke arahnya sejak tadi, melarikan diri dari rasa malu dan canggung.
"Hei ... aku tidak butuh apa-apa, duduklah kembali"
Naya berlalu seolah tak mendengar, menyembunyikan wajahnya dan gerak tubuhnya yang jelas terlihat gugup.
Rey membaringkan badanya perlahan, matanya masih mengamati Naya yang berjalan menuju arah toilet. 'Katanya mau ambil minum' gumamnya dalam hati.
Di dalam toilet, Naya kembali mengatur napas yang mulai tidak beraturan akibat degub jangtung yang meningkat tiba-tiba.
Pagi Hari
Cahaya matahari menembus tirai tipis. Naya tertidur di sofa, wajahnya lelah namun tetap teduh. Rey bangun perlahan, memperhatikannya. Ada kelembutan yang merayap di d**a Rey saat menatap perempuan itu.
Pintu terbuka, Pak Salim masuk dengan beberapa paper bag. Naya terbangun kaget, mendapati Rey yang sudah duduk di tepi ranjang, masih mengenakan baju pasien.
"Eh pak Salim, dari tadi?" tanya Naya.
"Baru saja" pak salim mengatur paper bag di atas meja.
"Nona makan dulu, setelah itu silahkan pulang untuk istirahat, biar saya yang gan–".
"Pak Salim hari ini ada janji dengan anak dan istri kan?" belum selesai pak Salim menyelesaikan kalimatnya, Rey memotong.
"Janji?" Pak salim nampak bingung.
" iya, kemarin pak salim bilang kalau mau jalan-jalan dengan keluarga di hari minggu, saya sendiri tidak apa-apa pak Salim, lagian banyak perawat di rumah sakit ini". Rey mengatakan sambil mengerlingkan matanya sedikit, isyarat tertentu yang ia sampaikan ke pak Salim.
Pak Salim sejenak berpikir, tak butuh waktu lama ia memahami maksud sang presdir.
"Oh iya, saya datang hanya mengantarkan makanan dan pakaian ganti yang di pesan presdir, saya juga membelikan pakaian untuk nona Naya, maaf kalau mungkin sedikit kebesaran, khawatir kekecilan jadi saya sengaja membelikan ukuran yang sedikit lebih besar".
"Terima kasih pak Salim, Biar saya tetap disini yang menjaga presdir" Naya menawarkan diri.
'Yes!' kata Rey dalam hati.
"Kalau begitu saya pamit dulu presdir"
"Terimaksih pak Salim, hati-hati" kata Rey girang, merasa puas dengan pengertian pak Salim.
"Terimakasih Pak Salim" kata Naya mengantar langkah pak Salim keluar meninggalkan mereka berdua.
Setelah sedikit percakapan dan alasan Rey yang membuat Pak Salim pulang, tinggallah mereka berdua. Sunyi kembali melingkupi.
"Apa kamu bisa mengelap tubuhku dengan air hangat? Naysanya lengket," pinta Rey datar, tapi matanya menyimpan sesuatu.
Naya terdiam, jantungnya kembali berdegup cepat. Namun ia mengangguk, menuruti.
Perlahan ia membuka kancing baju pasien Rey. Jemarinya gemetar, sementara Rey duduk tenang, seperti anak kecil yang pasrah. Begitu kain itu terlepas, tubuh atletis Rey tersingkap. Luka di punggungnya masih terbungkus perban, namun auranya tetap memancar kuat.
Naya menahan napas. Wajahnya memanas, tapi ia mencoba bersikap biasa. Dengan kain basah, ia mengusap kulit Rey perlahan, penuh kehati-hatian.
Rey tak melepaskan tatapannya sedikitpun. Matanya menelisik, intens, seolah ingin menelanjangi rahasia hati Naya.
Naya berusaha menghindar, namun setiap kali matanya bertemu dengan tatapan Rey, jantungnya makin tak karuan. Jemarinya bahkan sempat kehilangan kendali, nyaris menyentuh luka Rey dengan kasar.
"Pelan saja," bisik Rey, senyumnya samar namun tajam.
Wajah Naya makin memerah. Tangannya gemetar, hatinya berkecamuk.