Merasa bersalah, Maria bergegas dan memeluk pria itu. "Maafkanku, Paman Sarkon! Aku berjanji akan menurut!" "Aku," suara yang familiar itu mengoreksi. Maria melepas pelukannya dan berdiri lebih dekat dengan walinya. Tangannya terulur menyentuh bekas luka yang memudar. "Apakah itu menyakitkan?" Suara kecilnya berbisik. Walinya menatap ke depan dengan ekspresi datar... Maria menatap persamaan ekonomi di layar laptopnya. Senyuman kecil terbentuk di bibirnya. Hari dimana gadis itu hampir terbunuh adalah hari dimana Sarkon menyadari bahwa seni bela diri adalah satu-satunya hal yang tidak dia ketahui, dan dia mulai berlatih jujitsu. Sebersit rasa bersalah meresap ke dalam benak Maria. "Apakah kamu mencoba membuatku bersalah?" Sikap Julie yang menjengkelkan membuatnya tersadar dari lamuna

