Tsunami, gempa bumi, dan gunung meletus

2003 Words
Setelah jam perkuliahan diputuskan untuk diganti hari lain dengan alasan jadwal dosen bertabrakan. Maka Isabella dan para sahabatnya lebih memilih makan bakso favorit mereka. “Mau bakso apa lo?” Isabella mengamati buku menu Sherly ikutan menatap beragam menu, “Gue bakso mercon.” ucap Sherly bersemangat “Gue keju.” Dhea mengutarakan pesanannya. “Lo apa, Bell?” “Bakso telur asin enak nggak ya?” batin Isabella bertanya-tanya. “Gue telur asin.” Isabella sudah menentukan pilihan. “Oke. Silahkan ditunggu kak. Untuk minumnya?” pelayanan siap mencatat pesanan. “Es teh dua. Es jeruk satu, mbak.” kata Isabella sudah hafal kebiasaan teman-temannya tanpa perlu bertanya. “Baik. Silahkan ditunggu sepuluh menitan ya kak. Terima kasih.” Pelayan menjauh untuk melayani pembeli yang lain. Isabella sibuk memainkan sedotan. Dhea sibuk pada game yang baru-baru ini dia gemari. Sementara Sherly sibuk dengan keranjang belanjaan online. Maklum sebentar lagi banyak promo 14:14 di situs belanja online yang pastinya menawarkan geratis ongkir. Sherly melengos menatap pintu masuk, “Eh Bell…” “Apa?” Isabella menatap Sherly lalu ikut beralih pada pintu masuk. Kedua mata Isabella membulat sempurna. Orang yang paling dia hindari berdiri disana. Berjalan ke arahnya. Tepat berhenti di depan Isabella. Buat apa sih kesini?! pikirnya kritis. Isabella menatap orang tersebut dari atas hingga bawah. “Dia mau nemuin gue?” batin Isabella kembali bertanya. “Bisa bicara?” Sherly dan Dhea ikut menatap laki-laki yang barusan datang. Sorot mata mereka jelas meminta penjelasan dari Isabella, seperti: “Ada hubungan apa lo sama dia?” “Gue lagi sibuk sama teman-teman gue. Lain kali aja deh.” Isabella beralasan. Bersyukur karena mereka makan makso tidak di area kampus. Melainkan di depan sebuah gang perumahan elite yang entah mengapa harga bakso tidak ikutan melejit baik. “Sebentar aja deh.” Pinta Beryl karena Isabella seperti berusaha menjauhinya “Mau pesan apa, kak?” pelayan menghampiri Beryl mau tidak mau laki-laki itu ikut duduk bergabung bersama teman Isabella di bangku yang sama pula. “Bakso campur.” kata Beryl asal. Tidak tahu juga apakah bakso itu akan enak atau tidak. Yang paling penting adalah bisa berbicara dengan Isabella. “Minumnya kak?” “Air aja.” ujar Beryl dan setelahnya pelayan pergi menyiapkan makanan Beryl menatap teman-teman Isabella dan tersenyum kikuk. “Lo beneran Beryl. Cogan hits yang sering masuk i********: cogan-cogan kampus?” mata Sherly berbinar. Tidak menyangka jika cogan yang sering dia like fotonya di i********: seganteng ini dalam jarak dekat. Lebay dikit boleh, kan, ya. Satu alis Beryl terangkat, bingung pada ucapan teman Isabella. “Gimana?” Sherly tidak perduli dia langsung mengarahkan kamera pada Beryl. Cekrek… Cekrek… Cekrek… “Sumpah lo ganteng banget aslinya. Nggak pakai fillter jauh lebih keren. Ya ampun mimpi apa gue bisa duduk satu meja sama mahasiswa top markotop di kampus ini.” Isabella mendesis, Dhea yang tahu kelakuan temannya hanya memutar bola mata malas lalu melanjutkan bermain game. “Foto bareng, ya?” Belum juga Beryl menjawab tapi Sherly sudah nyelongong mendekati Beryl dan mengarahkan kameranya. Isabella cukup tahu kalau Beryl tidak mungkin nyaman dengan situasi seperti ini. “Udah, Sher. Dia nggak nyaman lo perlakukan bak artis begitu.” Sherly seolah tersadar. “Sorry, ya, Ber. Khilaf.” ungkapnya nyengir tanpa dosa Isabella berfokus pada laki-laki di depannya, “Langsung aja ke intinya.” Perintahnya agar Beryl berbicara tanpa berbelit “Lo habis ketemuan sama Aida?” Beryl bertanya sangat hati-hati. “Lo tahu gue disini dari siapa?” Isabella panik sendiri. “Bukan hal penting juga. Jawab pertanyaan gue dulu.” Beryl menyebalkan saat terus menerus memaksa. “Ya. Gue ketemu sama dia. Kenapa?” pastinya perempuan yang jadi pacar Beryl akan kembali mendatanginya jika Isabella masih kekekuh bertemu dengan Beryl. Dugaan Beryl tepat, “Lo bicara apa sama dia?” nada bicara Beryl terlihat sangat penasaran. “Apa penting banget?” Isabella justru menembakkan kalimat mematikan Beryl bungkam tidak tahu harus menjawab apa. “Dimana-mana orang pacaran itu yang dimintain penjelasan ya pacarnya bukan orang lain. Lo gimana sih, nggak menjaga banget perasaan pacar elo.” Tukasnya sadis Beryl mendelik, dia bertindak spontan karena memang mencari jalan tengah soal mana dulu yang menjadi prioritas. Dan bertemu Isabella harusnya menemukan titik temu bukan?! “Gue ketemu elo ini artinya sedang berupaya menyelesaikan masalah.” “Masalah yang mana dulu, nih.” Sindirnya telak. Pasalnya Isabella merasa selama saling bertemu mereka tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah. Yang ada justru nambah beban masalah. “Aida ngomong apa sama elo?” pintanya cukup memaksa Isabella berbicara. Tapi Isabella kadung mengatakan kalimatnya untuk menjauhi Beryl di hadapan Aida. Juga seandainya Isabella berujar semuannya. Jelas akan menimbulkan gonjang ganjing bagi hubungan mereka. “Nggak ada. Lo mending diam makan. Atau gue pergi!” ancamnya pada Beryl Isabella menerima bakso dari pelayan lalu mulai fokus membumbuinya. Tangannya spontan mengambilkan sendok garpu untuk Beryl. “Mau sambal.” Isabella meladeni Beryl menuangkan dua sendok sambal ke mangkok laki-laki itu, “Kecap mau?” “Dikit aja.” Beryl terlihat polos dan menggemaskan. Sherly malahan belum sama sekali menyentuh makanannya karena terfokus pada tingkah Beryl. “Mau saos nggak?” Sherly ikut menawari namun mendapat gelengan dari Beryl. Membuat perempuan itu mendengus kesal. Sadar aksinya gagal menarik perhatian si Beryl. Mereka makan dengan khidmat. Diselingi candaan Sherly dan amukan Dhea saat Zico tiba-tiba datang bergabung bersama mereka. Zico terus menerus menggoda Dhea. Sementara Isabella tidak banyak berbicara. Juga Beryl yang terus menatap Isabella dengan tatapan yang sulit dijelaskan. ________________________________ Selesai dengan ritual makan. Beryl menahan Isabella agar ikut pulang bersamanya. Awalnya Isabella akan nebeng Sherly tapi karena Beryl berisik seperti lebah alhasil dia manut saja biar cepat kelar. “Jelasin ke gue, Bell.” Beryl ini memang tipe orang pemaksa sekali pemirsah. Isabella misuh-misuh di mobil Beryl. “Apaan sih, lo punya mulut buat bicara sama cewek lo. Ngapain malah nyulik gue kayak gini.” Isabella kesal pada sikap Beryl yang selalu seenaknya sendiri. Beryl membuang nafas kasar. Menatap Isabella sejenak lalu bermain pada ponselnya. Isabella menyaksikan tingkah Beryl dengan sabar. Melihat bagaimana kesalnya laki-laki ini karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Isabella. “Hallo, Daaa…” panggil Beryl pada seorang di seberang telepon. Isabella menebak orang itu adalah Aida. “…” “Ya. Bisa ketemu. Sekarang!” Hey, dia mengajak ketemuan orang seperti memerintahkan hewan saja. “…” “Oke. Gue kesana.” Beryl memutus panggilan telepon lalu bergerak melajukan mobilnya. Isabella sadar satu hal. Beryl akan mengajaknya bertemu sang pacar. Bencana datang. “Eee…” Isabella menepuk bahu Beryl agar laki-laki itu menghentkan mobilnya. Isabella tidak mau masuk dalam kisah rumit percintaan Beryl. Beryl tidak menggubris permintaan Isabella dan tetap mengendarai mobil dengan ketenangan. Shitt… “Masalah antara elo dan dia. Lalu gue harus ikutan dan jadi kambing congek begitu, hah?” teriak Isabella murka. Sebenarnya Isabella tidak mau teriak-teriak heboh begini jika saja Beryl bisa diajak berbicara pelan. Tapi memang orang ini egois, mau menang sendiri jadilah dia kesetanan. “Lo bisa diam nggak, sih.” Beryl mengusap telingannya yang memerah. Isabella barusan berteriak tepat di samping kupingnya. Dipikir Beryl ini budekk apa, ya. “Gue nggak akan diam. Bahkan kalau bisa gue bakalan teriak dan ngomong elo udah berani culik gue. Atau kalau perlu gue loncat nih.” Ancamnya pada Beryl dan malah mendapat kekehan. “Sialann, dia ketawa.” Batin Isabella. Matanya menatap luar jendela. Jalanan cukup sepi, kalau Isabella lompat nanti tidak ada yang menolong. Ketika memutuskan berteriak pun kemungkina sia-sia, siapa juga yang bisa mendengar suara dari dalam mobil. “Lompat sana!” Beryl memaksanya Isabella menggigit bibir bawahnya. Kesal sendiri pada pemikiran pendeknya. Juga pada orang gila di sebelahnya ini. “Seandainya gue mati. Lo orang pertama yang bakalan gue datangin.” Beryl ingin tertawa, melirik sekilas wajah kesal Isabella. “Gue nggak setakut itu juga sama elo.” “Gue mau turun disini, Berrr…” Isabella memohon dengan amat sangat “Ya udah turun aja, sih. Susah amat.” Beryl berkata santai “Lo nggak berhenti gimana ceritanya gue bisa turun. Lo pikir gue mau mati konyol gara-agar lompat dari mobil lo apa.” Desisnya disertai pisuhan segala hewan di kebun binatang. “Lo sendiri yang bilang mau lompat. Ya udah sana. Gue persilahkan.” Plakkk… Isabella memukul lengan Beryl. “Berhenti.” Perintahnya memaksa. Benar saja Beryl menghentikan laju mobilnya. Begitu hendak keluar membuka pintu, mata Isabella menemukan Aida ada di pinggir jalan raya. Sepertinya memang dia menunggu jemputan Beryl. Isabella kembali melengos menatap Beryl. “Maksud lo apa?! Lo mau gue jambak-jambakan sama pacar lo?” sindirnya tidak mengerti jalan pikiran Beryl. Mahasiswa yang katanya pintar ini. Tapi otaknya kenapa di taruh di dengkul kalau sudah berkaitan dengan perempuan. “Masuk, Da.” kata Beryl ramah disertai senyuman. Oh, Wow dia bisa senyum semanis itu tapi kalau dengan Isabella selalu saja kalap mengamuk. Isabella lebih dulu turun. Membalas senyum Aida sekilas lalu berjalan menjauh. Tapi tidak bisa. Beryl ternyata repot-repot turun menahan lengannya agar tidak pergi. Memaksa Isabella duduk di bangku belakang. “Lo sintinggg!” sembur Isabella saat Beryl menyeretnya seperti karung gabah _____________________________ “Jadi untuk alasan apa kita harus berbicara bertiga seperti ini?” Aida memulai obrolan. Oh, iya. Jangan lupakan wajah kesal Isabella. Seandainya posisinya hanya berdua dengan Beryl kemungkinan dia akan dengan senang hati menggigit kepala laki-laki sok itu. “Sebelum gue bicara. Apa ada masalah diantara kalian berdua. Dan ada sangkut pautnya sama gue?” Beryl melirik Aida lalu menatap Isabella dari kaca spion Isabella menunjukkan jari tengah. Hingga Beryl yang melihatnya dari spion terkekeh sejenak. Aida melengos ke belakang, “Lo yang bilang sama Beryl?” tembaknya seperti menuduh Isabella. Isabella harus sabar, “Buat apa juga gue bilang sama pacar elo soal pertemuan kita tadi. Nggak ada kerjaan banget sumpah.” Aida memberikan anggukan mengerti lantas tersenyum pada Isabella. “Hello, nih orang kenapa senyum terus. Ngeri sendiri lama-lama.” Batin Isabella “Diantara aku sama Isabella nggak pernah ada apa-apa, Beryl.” Aida berucap menggunakan nada yang kelewat lembut. Sampai Isabella melongo. Kenapa perempuan ini tidak mengamuknya atau Beryl. Malahan terus menerus bersikap baik. Juga senyuman menakutkan itu. “Oke…” Beryl mulai mengerti situasi. Kemungkinan besar faktor utama Aida menemui Isabella adalah karena cemburu. Beryl menepikan mobilnya memegang kedua bahu Aida. Sementara Isabella yang berada di kursi belakang mengernyitkan kening. “Tidak mungkin bukan dua orang ini bakalan cipika cipiki di depan gue. Kalau iya sungguh Beryl manusia nggak tahu malu.” “Dengerin baik-baik ya, Aida.” “Aku sama Isabella nggak pernah ada hubungan apa-apa. Kami berteman biasa nggak ada spesialnya juga. Soal kenapa aku sering ketemu sama dia dikarenakan faktor aku harus jagain Isabella dari mantan pacarnya yang berusaha menyakiti dia.” “Dan ini perintah dari Prof.Warsono. Isabella keponakan Prof.War.” Beryl menggunakan bahasa lembut. Isabella sempat berpikir kenapa Beryl tidak bisa sekalem itu saat bersamanya. Yang ada mereka kikuk dan kembali berdebat. “Aku percaya sama kamu.” “Widihhh, baru juga dibilangin begitu udah percaya aja bosss…” Isabella menatap keluar jendela saat Beryl memergokinya sedang menguping. “Lo nguping, ya?” Beryl menuduhnya “Hey, sialann. Gimana caranya gue pura-pura jadi budekk sementara lo ngobrol pas di depan wajah gue. Ya kali gue bilang enggak padahal lo tahu faktanya kayak gimana.” Teriak Isabella tidak terima. Harga diri dong bosss. “Heran deh. Tuh otak kemana sih. Bucin doang jadi bego.” “Ya udah lo turun!” Beryl mengusirnya dengan gampang. Sepet juga dengar omelan maha dasyat Isabella Isabella ingin sekali menonjok wajah orang ini. “Harusnya lo biarin gue turun dari tadi. Nyusahin banget sih jadi orang.” “Cerewett lo ah.” cibir Beryl kesal sendiri Beryl membiarkan Isabella turun dan bisa ditebak perempuan itu misuh-misuh di pinggir jalan. “Biasanya emang sering berantem?” Aida melontarkan pertanyaan saking kagetnya melihat interaksi diantara Isabella dan Beryl “Bukan lagi berantem. Udah tsunami, gempa bumi, gunung meletus.” jawab Beryl asal Aida bingung, “Bisa gitu, ya?” “Lupain aja. Yuk, aku anterin ke perpus kota.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD