Danis terkejut bukan main saat mendapati Madona duduk gelesotan di depan pintu apartemen miliknya. Seingat Danis hari ini bukanlah jadwal mereka berjumpa. Juga tatapannya jatuh pada paper bag di tangan Madona. Itu adalah hal yang paling Danis hindari. Mengerikan.
“Madona…” sapa Danis memanggil perempuan yang entah layak dianggap apa. Ketika menganggap hubungan mereka berpacaran sebenarnya itu terlalu berlebihan. Mungkin sebutan teman kencan, friend with benefit adalah definisi tepat.
Madona yang sedari tadi sibuk bermain ponsel. Seketika menoleh ke samping kiri.
“Danissss…” teriak Madona excited.
Mata Danis terus memperhatikan apa yang ada di tangan Madona. Semoga itu bukan makanan perusak lambung. Danis tidak sanggup menelannya jika sampai dugaan itu benar.
“Aku bawain kamu, cake.” Madona menyodorkan satu tangan memegang paper bag. Senyumnya cantik sekali, Danis akui itu tetapi masalah sebenarnya ada pada hasil masakan perempuan ini.
“Heheee…” Danis nyengir. Menerima paper bag pemberian Madona.
Bersiap saja setelah ini dia akan menghubungi dokter Bayu atau meminta dengan paksaan agar Beryl datang untuk memapahnya bolak balik ke kamar mandi.
Musibah apa lagi ini. Sabarlah hatimu, Danis.
Danis menelan ludah susah payah, “Gue nggak akan mati, kan, setelah makan ini?” batinnya miris. Semoga tidak.
Madona merengkuh tubuh Danis memeluknya sangat manja. “Nggak mau ngucapin sesuatu gitu sama aku?” kodenya agar Danis sadar diri.
“Makasih.” Danis hampir melupakan kalimat penting saat mendapat sesuatu dari orang lain. Terlebih ini dari Madona, ya, terima kasih sajalah karena sudah sering membuat Danis keluar masuk rumah sakit.
Setelah ini mungkin akan lebih baik lagi dengan kalimat, "Terima kasih. Tak usah kesini lagi." Tapi tidak Danis lontarkan. Tentu akan menyakiti sang Madona.
“Aku nggak disuruh masuk, nih?” Danis hampir lupa juga kewajiban menyambut tamu.
Danis menghela nafas pasrah, tidak ingin Madona masuk ke tempatnya. Sayangnya Danis tidak bisa apa-apa.
“Yuk, masuk.” Ini lebih sulit daripada yang Danis pikirkan. Seolah gerbang neraka sudah ada di hadapannya. Tinggal menyiapkan diri saja.
Madona tidak mungkin pergi sebelum memastikan Danis memakan masakan buatannya. Itu terlampau sering terjadi. Danis bisa gila lama-kelamaan.
Kenapa takdir justru mempertemukan dengan perempuan modelan Madona. Body oke, servis mantap, tapi masakan bikin sekarat. Salah apa dirimu ini Danis.
“Kamu mau minum apa?” Danis menawarkan sebagai bentuk basa basi.
Penting diingat memuliakan tamu adalah hal baik. Ketimbang menyiksa tuan rumah seperti yang dilakukan Madona. Benar-benar nggak ada akhlak.
“Emmm… nggak usah repot-repot, Nis. Aku cuma sebentar kok. Setelah ini harus terbang ke Bali buat kondangan. Teman aku mau menikah.” Madona menjelaskan dengan raut wajah tidak enak. Lain halnya dengan Danis, dia terlihat sumringah.
“Selamat kau Danis. Terbebaslah dikau dari makhluk bernama Madona ini.” Danis senang bukan kepalang.
"Kamu mau ikut?" Madona menawarkan ajakan.
Tidak, Danis lebih aman tinggal disini saja. Berdekatan dengan Madona bukan menyenangkan malah membahayakan nyawa sendiri.
"Aduhh… aku banyak meeting Madona, sayang. Lain kali saja ya." Alasan cukup efektif. Madona tidak mungkin memaksanya jika sudah berkaitan dengan pekerjaan.
"Aku mengerti." ujar Madona sangat pengertian.
“Disana lama nggak?” Danis harus terus berbasa basi nih. Juga berjaga-jaga jika sampai Madona tiba-tiba mendatanginya. Membawa banyak bingkisan makanan hasil dari memasak sendiri. Itu musibah.
Madona bersandar di bahu Danis. Mereka berdua duduk di sofa panjang. “Apa aku nggak usah datang aja, ya. Aku temenin kamu seharian ini.”
Masalah ditambah musibah sama dengan guncangan. Pencernaan Danis bisa terguncang begini caranya.
Danis menggeleng cepat, menolak sebisa mungkin agar Madona tidak boleh membatalkan acaranya.
Madona harus pergi!!!
“Kamu harus tetap datang, Madona. Kasihan, kan, temanmu."
"Nanti kamu menikah temanmu itu juga nggak mau datang dong semisal kamu absen dengan alasan nggak jelas begini.” Danis memberi semangat dirinya sendiri untuk meminta Madona tetap pergi. Harus berhasil. Semangat Danis!
Usir Madona sejauh mungkin.
Madona menggeleng lalu mendongak menatap wajah Danis, “Aku masih kangen banget sama kamu, Nis.” Madona menangis. Tidak ingin jauh dari laki-laki yang dia suka.
Danis kelimpungan sendiri, “Oke-oke. Kamu mau bagaimana sekarang, honey?” Danis pasrah lah kalau Madona sudah merengak macam bayi gede begini. Tahan Danis jangan pakai emosi.
“Gimana kalau kamu temenin aku shopping dulu. Habis itu baru aku berangkat.” Wajah Madona secerah matahari di pagi hari.
Itu lebih baik daripada makan cake buatan Madona. “Oke…” kata Danis berpasrah diri. Setidaknya menyenangkan Madona lebih dulu sebelum mengusirnya jauh-jauh.
“Tapi kamu harus makan cake aku dulu.”
Danis tidak mau. Itu akan membuatnya mencret tiga hari tiga malam seperti waktu itu. Danis enggan memakan racun atau apalah itu. Danis benci hasil masakan Madona.
“Hmmm, gimana kalau aku makan cake ini nanti. Setelah aku selesai kerja.” Danis menatap arlojinya, “Kayaknya aku harus segera datang ke pertemuan, sayang.” Danis pulang untuk tidur, bersantai, semalam dia tidur di tempat Beryl dan baru kembali hari pagi ini. Memang enak sekali menjadi bos itu. Bebas masuk kantor jam berapapun.
Madona berpikiran sejenak, “Oke. Aku biarin kamu sibuk sama pekerjaanmu itu. Tapi harus di makan, ya.”
“Awas aja kalau nggak sampai di makan!” ancamnya penuh peringatan. Tidak rela Danis tidak memakan jerih payah usahanya.
“Iya pasti aku makan. Nggak mungkin nggak aku makan dong. Ini kan buatan kamu. Special buat aku.” Danis jijik pada kalimatnya sendiri. Namun itu lebih baik karena berkata kasarpun akan menimbulkan masalah baru.
Cuppp…
Madona mencium bibir Danis sekilas. “Jaga diri ya, sayang, selama aku pergi. Jangan lupa mamam karena untuk beberapa hari ke depan aku nggak bisa kontrol makanan kamu.” Madona mulai perhatian. Tidak mau Danis sampai sakit kalau lupa makan.
“Oh, iya nggak apa-apa sayang. Aku pasti jaga diri dan mamam dengan baik.” ujar Danis senang sekali. Kesempatan langka bisa bebas begini.
Yess, akhirnya untuk beberapa waktu depan Danis bebas dari Madona. Danis ingin melompat-lompat saking senangnya tapi itu nanti saja. Yang penting Danis harus mengusir Madona dengan cara paling harus sekalipun.
Danis merangkul bahu Madona. “Yukk, aku antarin shopping.” Danis seolah menang lotre karena Madona bisa jauh darinya, akhirnya mimpi Danis menjadi kenyataan.
Madona ingat hasil usahanya. “Kamu incip sedikit cake-nya, dongg.” rengeknya tak mau pergi tanpa memastikan Danis makan.
Danis mendelik, “Nanti saja ya, sayang. Ayo keburu mall nya tutup.” Tangan Danis menarik paksa Madona agar segera keluar dari apartemen.
Perempuan ini harus dengan segera diusir. Bencana terlalu lama berada di apartemen miliknya.
“Tapi yangggg…” nada Madona sangat manja. Tidak rela. Tidak ikhlas cake buatannya tidak di rasakan Danis.
Danis membuang nafas. Sabar, Nis. Sabar.
“Udah nggak apa-apa. Aku bisa makan itu nanti sayang.” Danis terus bergerak pada pengusiran Madona, “You are my priority.” ujarnya penuh penekanan. Agar Madona luluh. Semacam pengusiran halus.
____________________________
“Lo dimana?” Danis menerima telepon dari Beryl ketika dia berada di bandara menunggu keberangkatan Madona.
Mata Danis terus menatap pada tiga koper milik Madona, itu adalah idenya juga. Danis mengusulkan agar Madona juga sekalian berlibur guna menyenangkan diri sendiri karena perempuan itu sudah sering repot-repot memasakkannya.
Alhasil, Danis berhasil membujuk setelah dua jam. Juga dengan kesepakatan semua biaya liburan Madona ditanggung Danis sepenuhnya. Itu bukan masalah besar sekarang. Karena masalah berikutnya sudah datang.
“Jesika… dia keracunan cake yang ada di tempat elo.” kata Beryl panik diseberang sana.
“What the f…” hampir saja Danis mengumpat namun bisa tertahan karena Madona memberikan peringatan untuk selalu berkata baik. Alhasil menurutlah Danis pada Madona. Jika dia membangkang bisa rugi keluar masuk rumah sakit.
Danis mulai berpikir positif. Tidak ingin gegabah. Jika sampai membuat Madona gagal berangkat menangislah dirimu Danis.
“Oke. Sekarang dia dimana?” Danis berujar sembari mengelus rambut pirang Madona.
Danis memang tipe laki-laki yang suka memanjakan perempuan. Bersikap lembut dan tak suka kekasaran.
“Di apartemen elo. Udah diperiksa dokter Bayu dan kayaknya masalahnya sama seperti yang sering elo keluhkan.”
Fyuhhh…
Danis membuang nafas lega. Paling tidak dia bisa selamat dari sakit perut yang menyiksa akibat memakan masakan Madona. Biarlah nanti Jesika dia yang urus.
“Oke temenin dia dulu. Setelah ini gue kesana.” Tutupnya lalu fokus ke Madona lagi.
Danis harus sabar menunggu jadwal keberangkatan Madona atau perempuan satu ini tidak akan pergi.
“Kamu hati-hati, ya, disana. Kabarin kalau uangnya habis. Nanti langsung aku transfer.” Danis seperti biasa sangat murah hati. Dermawan dan tak sombong.
Madona memeluk manja Danis, “Kamu nggak mau nyusulin aku juga?” ucapnya dengan raut wajah sedih dibuat-buat.
Padahal Danis yakin Madona sangat gembira mendapat kesempatan berlibur.
Tidak, Danis tidak akan menyusul Madona. Dia berjauhan dari Madona saja jarang-jarang. Masak iya kesempatan berjauhan tidak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Rugi banyak dong.
“Yaudah. Peluk aku lagi.” Pintanya manja
Sabar Danis, sabar…
Orang ganteng memang selalu diuji dengan kesabaran.
________________________________
Prakkk…
Jesika melemparkan tas miliknya ke arah Danis begitu laki-laki itu datang. Sungguh Jesika tidak habis pikir. Bagaimana bisa cake yang hanya dua gigitan saja membuatnya mual dan diare terus menerus. Racun apa yang ada di dalamnya.
“Lo ngeracunin gue, ya?” Jesika mengamuk tak terima.
Danis angkat tangan mencoba meminta pertolongan Beryl yang terlihat memungut tas Jesika.
“Sumpah… Jess. Nggak ada gue ngeracunin elo.” Danis menggaruk kepalanya, “Itu bukan cake yang gue beli.” sanggahnya mencari pembelaan.
“Terussss?” mata Jesika melotot meminta penjelasan. Dia sakit perut. Sakit sekali.
“Itu dari teman gue.” Danis beralasan. Tidak mungkin dia akan secara gamblang mengatakan cake itu pemberian Madona karena bisa tambah murka si Jesika.
“Sialannn, lo…” Jesika merasakan mulas di perut dan segera berlari ke kamar mandi.
Danis dan Beryl saling bertatap satu sama lain. Terlihat begitu nelangsa dua laki-laki ini.
“Kenapa nggak lo buang?” Beryl melucurkan kalimatnya. Heran juga bumbu apa yang sering dipakai Madona sampai membuat segala bentuk masakan jadi racun meski rasanya nikmat.
Danis pernah memakan setengah cake buatan Madona dulu. Hasilnya luar biasa menyakitkan.
“Gue nggak sempat buang.” Danis frustasi sekarang. “Gue bahkan harus mencoba seribu satu cara supaya Madona pergi. Sampai akhirnya gue paksa dia liburan.” Danis terlihat kuat biasa gentleman. Mengusir dengan cara halus.
Beryl tidak salah degar bukan, “Lo minta dia liburan?”
“Ya.” kata Danis pasrah, “Demi apapun gue nggak sanggup terus dekat sama Madona. Bisa mati muda gue.” gidiknya ngeri membayangkan setiap hari Madona membuatkan racun untuknya.
“Lo nggak mau menikah sama Madona?”
“Sama siapa?” Danis balik bertanya menatap Beryl bingung.
“Madona lah.” kata Beryl memelankan suara. Takut Jesika juga ikutan mendengar.
Danis menolak cepat. “Gila aja, ya. Lo mau sahabat elo mati konyol?” Danis tidak akan lagi menuruti permintaan Madona untuk makan setelah perempuan itu kembali.
Beryl nyengir kuda, lalu duduk nyaman di sofa. Menatap cake yang masih untuh. Mungkin Jesika hanya memakannya sedikit. Jadi terlihat makanan itu seperti belum disentuh sama sekali.
“Kenapa ngelihatin?” Danis menemukan Beryl menatap ke arah cake beracun, “Lo mau nyoba?” tawarnya menggoda Beryl.
“Lo gila. Pengen gue ikutan sekarat?” Beryl hanya penasaran saja pada apa yang ada di dalam cake bukan pada rasanya.
“Lagian lo ngelihatin terus.” kata Danis.
Beryl mengelak, “Cuma penasaran bumbu apa yang sering Madona pakai buat ngercaunin elo.”
“Sialann, lo…” umpatnya dan keduannya tertawa
“Huhhh, leganyaaaa…” Jesika keluar dari kamar mandi. Menatap dua manusia yang melihatnya takjub.
“Teman lo beli dari mana sih, cake modelan kayak begitu?” Jesika kembali pada Danis. Sementara Beryl hanya sebagai pendengar saja. Dia akan bergerak begitu dibutuhkan.
Danis tidak tahu harus menjawab apa.
“Nggak tahu. Dia cuma ngasih dan nggak bilang apa-apa.” Dustanya tidak berani mengatakan bahwa cake itu hasil masakan sendiri. Takut Jesika akan mengamuk dan menuntutnya.
“Acara kita malam ini batal dong.” Jesika terlihat sedih membuat Danis kelimpungan.
Beryl tidak mengerti apa yang tengah Jesika bicarakan. Tapi dia bisa menyimpulkan kalau dua orang ini ada janji temu. Lalu gagal total karena cake beracun milik Madona.
“Kita bisa makan malam disini aja.” Danis mengutarakan idenya.
“Nggak romantis…” gerutunya dengan wajah cemberut.
“Ya gimana dong. Elo kan juga lagi sakit.” Danis menjelaskan.
Jesika misuh-misuh pada Danis, “Semua juga gara-gara teman lo.” Jelas sekali raut wajah kecewa Jesika mudah terbaca.
Beryl sekarang tahu bahwa dua manusia ini sedang pada fase pendekatan. Beryl berharap semoga mereka jadian dan Jesika tidak menerornya lagi. Oh, lebih tepatnya tidak membuatnya harus pulang pergi menjemput Jesika.
“Maaf…” terlihat sekali Danis menyesal dan merasa bersalah.
Tidak pernah dalam hidup Beryl melihat sorot kesedihan di mata Danis disebabkan oleh perempuan. Namun kali ini berbeda. Penyebabnya adalah Jesika, rival Isabella.
“Gue balik, ya.” Beryl tidak mau menjadi obat nyamuk orang-orang ini.
Jesika menatap Beryl. “Makasih sayangkuh. Udah nemenin aku dan panggilin dokter.”
Danis menatap Beryl kesal. Seolah berkata, “Lo gebet cewek gue?”
“Sama-sama.”
Beryl mendekati Danis lantas membisikkan sesuatu, “Lo tahu semua soal gue. Nggak ada tikung menikung disini.” Wajah Danis berubah sumringah. Dia hampir melupakan fakta soal hubungan Beryl dan para perempuan-perempuannya.
“Thanks, ya. Hati-hati.” Pesannya pada Beryl sebelum sahabatnya itu pergi.
“Jangan kelepasan.” Pesan balik Beryl pada Danis dan dibalas deheman dari Jesika.
Danis beralih pada Jesika yang ikutan menatap kepergian Beryl. “Masih sakit?” ucapnya sangat perhatian.