“Bella…” panggil seseorang membuat atensinya yang sedang fokus pada beragam jenis sayuran teralih
Isabella mendongak menatap ketidakberuntungannya hari ini. Kenapa juga harus berjumpa Nando di saat dirinya sedang ingin sendiri.
“Ada apa?” kata Isabella dengan nada malas.
“Aku nyari kamu. Rumah. Kampus. Supermarket.” ungkapnya menyebutkan tempat-tempat yang sudah dia datangi guna menemukan Isabella. Nando sudah merindukan Isabella.
“Gue nggak menyuruh elo melakukan itu.” Terangnya melukai perasaan Nando.
Isabella merasa tidak pernah meminta Nando terus mencarinya. Repot-repot meninggalkan pekerjaan hanya untuk bersamannya. Itu berlebihan.
“Hubungan kita belum selesai.” tembak Nando kekeuh tidak mau berbicara
Hey, Isabella jadi malas meladeni Nando kalau begini caranya. “Gue tekankan kita putus.” Isabella lelah dan ingin segera sampai rumah. Tangannya bergerak mendorong trolly. Berdekatan dengan Nando, emosi Isabella meletup tidak karuan.
“Apa uang yang aku kasih ke kamu kurang sampai kamu lebih memilih laki-laki itu dibandingkan aku?” Nando berpikiran semua laki-laki yang pernah atau sedang mendekati Isabella semata-mata untuk ditarik layaknya mesin ATM.
Isabella menggeleng. “Nggak semua hubungan yang terjadi antara dua manusia. Laki-laki dan perempuan akan selalu melibatkan uang.” Isabella rasa dia tidak ingin Nando mengganggu Beryl. Isabella bergerak menurut versi terbaiknya. Menyelamatkan Beryl dengan caranya sendiri. "Tapi gue menjauhi elo karena alasan gue membenci elo." alasan tak diterima Nando.
“Kita harus menikah.” Nando berkata sangat santai.
Isabella meletakan kembali tissue di rak. Berbalik menatap Nando. “Menikah dengan orang yang udah membunuh saudara gue?” Isabella tidak mungkin sejahat itu. Misinya mendekati Nando adalah membuat laki-laki itu jatuh cinta, bertekuk lutut seperti sekarang, dan meninggalkannya.
“Kita pergi dari sini dan kita bicara.” Nando menarik paksa trolly Isabella dan memaksa untuk membayar semuannya.
Isabella sempat meronta memberikan penolakan tapi tenaganya kalah kuat dari Nando.
_______________________________
“Kamu harus makan atau nggak akan bisa pulang!” Nando memaksanya makan sementara Isabella diam tanpa berkutik setelah Nando membahas soal hubungan badan diantara mereka.
Kepala Isabella mendongak menatap perutnya yang masih datar. Apakah benar ada kemungkinan dia mengandung dan itu anak Nando?! Shitt, sepertinya Isabella salah langkah.
Tangan Nando mengelus lembut perut Isabella, “Kamu harus makan yang banyak supaya dia sehat dan berkembang dengan baik.” Telinga Isabella saja bahkan tidak nyaman mendengar kalimat Nando. Dirinya juga ogah mengandung darah daging si pembunuh ini.
“Gue nggak mungkin hamil.” Isabella kekeuh menolak pernyataan Nando. Menyingkirkan tangan laki-laki itu dari perutnya.
Tidak boleh sampai itu terjadi. Tak akan membiarkan pula sampai ada.
Nando terkekeh, “Apanya yang nggak mungkin?” ujarnya seolah mengerti jalan pikiran Isabella. Orang dewasa tentu saja akan paham apa yang akan terjadi saat hubungan badan sudah dilakukan tanpa alat pengaman.
Isabella membuang nafas kasar, dia harus memastikan sendiri. Pikirannya juga tidak enak karena hampir seminggu ini belum ada tanda-tanda datang bulan.
“Okay kalau kamu nggak mau makan.”
Nando menyodorkan minuman yang baru saja diantar pelayan, “Tapi minum aja, ya.” Pintanya memaksa. Seperti ada yang aneh dari cara Nando bersikap.
Karena faktor Isabella haus makanya dia menuruti saja.
Hampir setengah gelas Isabella menghabiskan minumannya.
“Dihabisin, ya?” Isabella menaruh rasa curiga pada Nando. Kenapa laki-laki ini malah memintanya minum terus apa ada sesuatu pada minuman itu. Isabella baru menyadari sekarang.
Pranggg…
Dengan segera Isabella membuang gelas di hadapannya. Siall, Nando menjebaknya. Kepalanya langsung terada pening sesaat dia hendak bangkit dari kursi.
“Kamu nggak akan bisa lolos dariku, sayang.” Samar-samar terdengar suara Nando
Isabella menyesal menuruti permintaan Nando untuk minum. Apa yang akan terjadi setelah ini.
Isabella terus berupaya pergi dari restoran. Tidak mau Nando melakukan sesuatu yang buruk saat dia tidak sadarkan diri. Tapi efek kerja obat lebih dasyat dan mengalahkan kesadaran Isabella.
Isabella pingsan dan tepat Nando menangkapnya agar tidak jatuh ke lantai.
Nando membopong tubuh Isabella untuk dibawa ke mobil.
“Kalian pergi sekarang.” Nando memerintahkan para pengawal untuk pergi. Dia harus melakukan sesuatu untuk mengikat Isabella. Membuat perempuan ini bertekuk lutut dan enggan berpisah darinya.
Nando memang berengsek, tapi dia menyukai Isabella lebih dari apapun. Nando jatuh cinta pada Isabella. Semua yang ada pada Isabella adalah bagian favoritnya. Dan Nando tidak akan pernah rela melepaskan Isabella.
Nando menatap tubuh Isabella dari wajah, turun ke leher jenjang, dan berakhir pada dua gundukan. “Kamu sangat manis, sweety.” Nando berkata sensuall. Kemungkinan besar saat Isabella sadar dia mengamuk atas perilaku Nando.
Brakkk…
Brukkk…
“Berengsek…”
“Singkirkan tangan elo dari tubuh Isabella, bangsaat!”
______________________________
“Mama mau masak brokoli nanti.” Beryl dengan amat sabarnya ikut kedua orang tuannya ke Supermarket. Berbelanja bulanan. Padahal dia bisa menunggu saja sambil berjalan-jalan tapi itu tidak Beryl lakukan. Tapi Beryl suka melakukannya. Tidak ada rasa keterpaksaan.
Ekor mata Beryl menemukan seseorang tengah berbincang di depan rak tissue dengan berbagai macam merk.
“Isabella?”
“Dengan siapa dia berbicara?” kekepoan Beryl mulai meningkat saat matanya berhasil menemukan jika Isabella tengah berbicara dengan Nando: itu benar Nando bukan?!
“Mereka masih bertemu?”
“Bukankah Isabella…” belum sempat Beryl melanjutkan pembicaraan sendirian. Isabella sudah digandeng Nando untuk pergi ke kasir membayar belanjaan
Beryl mendekati mama Elis yang sibuk memilih daging frozen, “Ma, Beryl pergi duluan.” Pamitnya berlalu mengikuti kemana Isabella dan Nando pergi.
Ezra muncul dengan seikat daun bawang, “Mau kemana dia, ma?” tanyanya pada sang istri. Tidak biasanya Beryl terlihat gelisah tanpa dasar.
“Mama juga nggak tahu. Ada urusan sama tugasnya di kampus mungkin.” jelas Elis pada suaminya.
Ezra mulai memikirkan banyak kemungkinan. Jelas saja Beryl tidak mungkin sampai terlihat kepanikan begitu hanya karena tugas kuliah. Ezra sangat mengenal putranya itu.
Pastilah berhubungan dengan Isabella. Ezra sempat melihat Isabella berada di tempat yang sama bersama seorang laki-laki ketika dia hendak mengambil sayuran.
Sementara di tempat lain Beryl terus mengikuti kemana Nando akan membawa Isabella. Sepertinya mereka pergi untuk makan karena mobil Nando berbelok di sebuah restoran.
Matanya juga menatap orang-orang yang berpakaian hitam. Itu pastinya bodyguard Nando.
Beryl memilih turun agar bisa mengawasi Isabella dengan jarak lebih dekat. Matanya awas melihat interaksi diantara Isabella dan Nando. Tapi meskipun Beryl berusaha mendekatkan diri tetap saja dia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Isabella dan Nando bicarakan.
“Mereka bicara apa, sih.” batinnya ingin tahu tapi Beryl tidak bisa untuk menampakkan diri dan hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.
Tangan Nando memegang perut Isabella dan perempuan itu menepisnya marah. Isabella lantas meminum minuman warna merah dan sepertinya Nando terus memaksa namun Isabella malah membuang gelas dengan sadis.
Beryl bisa menduga ada yang tidak beres jika dilihat dari bagaimana cara Isabella bersikap.
Isabella terlihat mengomel. Hendak beranjak pergi tapi Nando lebih dulu menangkapnya.
"Apa yang terjadi dengan Isabella?" Beryl khawatir. Isabella seperti tidak berdaya dan tidak bisa melakukan apapun kecuali berpegangan pada kursi. Menolak Nando yang hendak membantu.
Beryl memastikan penglihatannya benar atau salah. Nando membopong Isabella keluar dari restauran.
"Apa dia pingsan?" Batin Beryl bertanya-tanya. Kenapa Isabella bisa pingsan hanya setelah meminum minuman itu?
“Isabella kenapa? Ada masalah apa?!” pikirnya tidak menemukan jawaban sama sekali.
Mata Beryl membola melihat Nando memasukkan Isabella ke dalam mobil. Sementara para bodyguardnya pergi setelahnya. Hanya menyisakan Isabella dan Nando di dalam mobil.
Beruntungnya Nando bodohh. Dia belum menutup pintu mobil.
Brakkk…
Brukkk…
“Berengsek…” Beryl menemukan Nando tengah berbuat tidak senonoh pada Isabella. Benar-benar pelecehan ketika Isabella tidak sadarkan diri. Apakah selalu saja Isabella berakhir dengan pelecehan setiap tidak sadarkan diri. Kenapa orang-orang disekeliling Isabella begitu bernafsu.
“Singkirkan tangan elo dari tubuh Isabella, bangsaat!” amuk Beryl tidak mengijinkan Nando bergerak seujung kuku pun guna menyentuh Isabella.
Beryl memperhatikan Isabella menutup mata. Baju yang acak-acakan, dan apa ini.
Tangan Beryl otomatis mengambil kamera yang sudah Nando siapkan disana. Namun kalah cepat dari Nando.
Nando terbahak, “Lo kenapa sih selalu datang merecoki hubungan gue sama Isabella?” tidak pernah terpikirkan oleh Nando jika Beryl selalu ada di belakang Isabella.
Kali ini Beryl bersandar pada mobil Nando. “Kelakuan lo udah kayak binatang, cuk.” matanya melirik pada kamera di tangan Nando. Beryl cukup tahu bahwa rencana Nando akan membuat rekaman dengan Isabella tak sadarkan diri. Memvideo dan menyebarkan sampai menjadi konsumsi publik.
“Gue?” Nando menujuk dirinya sendiri, “Kayak binatang?” Nando kembali tertawa, “Lo mau bergabung sama kita. Main gundu bertiga misalnya.”
Shittt…
Beryl tidak menyangka seorang seperti Nando malah mengajaknya bergabung. Apa dia waras?! Dimana otak Nando yang setengah?!
“Lo sintinggg…” amuk Beryl
Nando tidak menggubris Beryl dan hendak masuk ke mobil membawa Isabella bersamanya.
Brughh…
Kamera Nando jatuh.
“Jangan pernah sentuh dia lagi.” Perintah Beryl memaksa. Beryl memungut kamera Nando.
“Jauhin dia bangsattt…” amuk Beryl menggebu tak terima.
Nando hendak merebut kamera miliknya. Namun tidak berhasil.
Brakkk…
Nando memukul Beryl hingga laki-laki itu mengaduh kesakitan.
Beryl mengusap sudut bibirnya yang terluka, "Nggak akan gue biarin lo sentuh dia seenak jidat." ucap Beryl dengan intonasi marah tangannya memegang erat kamera.
Nando tidak memperdulikan Beryl dia ingin kabur membawa Isabella tapi kalah cepat karena beberapa petugas keamanan berdatangan untuk menghentikan aksi keduanya.
"Shittt…" Nando berlari masuk ke mobil yang dikemudikan salah satu bodyguard. Sementara Beryl masih berdiri di tempat. Lalu beralih memeriksa keadaan Isabella.
"Apa yang terluka, pak?" tanya salah satu petugas.
"Tidak ada. Kami baik-baik saja, pak. Terima kasih." Beryl memakaikan jaket miliknya ke tubuh Isabella. Bagaimana bisa dia selalu berurusan dengan Isabella yang bermasalah.
Setelah berpamitan. Meminta maaf telah menyebabkan kekacauan. Beryl pergi dan memindahkan Isabella masuk ke mobilnya. Tidak lupa Beryl mengambil dua kamera yang tersimpan di mobil Nando beserta satu ponsel, dan flashdisk.
Semoga apa yang Beryl temukan bisa membuat Nando mendapatkan ganjaran.
Di suatu sore yang cerah. Jesika tengah sibuk pada berbagai macam perhiasan. Dua hari ini Jesika tinggal bersama dengan Danis. Hubungan mereka semakin dekat. Lebih dekat daripada yang Jesika bayangkan.
Tapi Danis mulai merasakan kecemasan karena dia takut tiba-tiba Madona datang dan terjadilah insiden perebutan dirinya. Tentu saja antara Jesika dan Madona. Memang kepercayaan Danis teramat tinggi pemirsah.
Ting...tong…
Danis menelan susah salivanya. Dengan segera dirinya meluncur untuk mengecek siapakah yang datang. Karena jika itu Madona bukankah terlalu cepat untuk kembali dari liburan di Bali.
"Siapa…" Danis hampir berteriak melihat kedatangan Beryl dengan wajah babak belur beserta Isabella dalam gendongannya.
"Masuk, cuk." ujarnya ikut panik sendiri. Masalahnya Danis sudah bisa menyimpulkan ada yang tidak beres jika sampai seorang Beryl babak belur begini.
Kyaaaa…
Jesika berteriak melihat kondisi wajah Beryl juga Isabella yang tak sadarkan diri dalam gendongannya.
"Kenapa sama lo berdua?" ucapnya kebingungan.
Danis mencegah Jesika untuk banyak bertanya. Karena itu akan semakin membuat ruwet.
"Jes, tolong lo gantiin baju Isabella." Beryl meminta tolong pada Jesika. Awalnya dia ingin bertanya lagi tapi Danis melotot memaksanya untuk bergerak sesuai permintaan Beryl.
"Ok. Lo bawa ke kamar deh." Jesika masuk ke kamar sementara Beryl dan Danis mengobrol di luar.
Danis membantu membersihkan luka di wajah Beryl. "Nando lagi?" Tebakan tepat
"Hmm… ishhh.. pelan-pelan cuk." Beryl meringis merasakan perih di area pipinya. Apalagi Danis sungguh tidak sabaran mengobati lukanya.
"Laki-laki apa aki-aki sih lo." Danis mengatai Beryl
"Sialannn…" Beryl terus mengumpat sementara Danis tertawa puas
"Kenapa bisa kayak gini?"
Beryl juga tidak mengerti, "Gue lihat Nando lagi melecehkan Isabella di mobil." jawab Beryl sementara matanya merem melek karena menahan ngilu dan sakit bersamaan
"Mereka indehoy di mobil."
"Ya. Tapi Nando pasang kamera di mobil buat merekam kegiatan itu. Sementara Isabella nggak sadar sama sekali." Beryl terdiam beberapa saat, "Isabella kayaknya diberi obat tidur atau apalah."
"Perlu gue panggilkan dokter Bayu?" Danis menawarkan. Terlihat jelas Beryl khawatir setengah mati.
"Iya. Gue takut Isabella kenapa-kenapa." Beryl mengutarakan kalimatnya
Danis tersenyum kecil. "Lo benar-benar jatuh cinta sama dia, bro."
"Gue nggak ngerti harus jawab apa." Beryl merebahkan diri di sofa panjang milik Danis. Sementara Danis segera menghubungi dokter Bayu untuk memintanya datang guna memeriksa keadaan Isabella.
"Memang benci dan cinta itu nggak beda jauh. Cuma beda pengucapan aja."
Beryl mengumpat mendengar sindiran sang sahabat.