Pembohongan diri

2003 Words
Isabella menscroll layar ponselnya. Banyak pesan masuk dari Nando yang menanyakan bagaimana kondisi Isabella sekarang. Apakah dia sudah makan atau belum? Atau apa yang sakit, serta Isabella ingin makan apa. Sayangnya Isabella tidak tertarik memberikan balasan balik. Isabella kesal. Entah saat mengingat wajah Nando rasanya dia seperti menyesal. Kemungkinan juga karena selama ini Isabella sudah menanamkan kuat pada hatinya bahwa Nando berengsek, dia pembunuh Diana, Nando tidak layak dicintai. Juga semua olokan buruk yang tercipta untuk Nando. “Makan…” Beryl meletakkan semangkok bubur ayam. Setelah memutuskan keluar dari rumah sakit Isabella tinggal di apartemen Beryl. Ini hanya sementara saja. Mereka juga tidak tinggal sndirian. Ada Danis yang ikut menginap. Lalu satu suster yang bertugas menjaga Isabella saat semua orang sibuk di luar. Dan Danis sempat mengoloknya, "Lo dan Isabella kayak suami istri." “Ada suster. Lo nggak perlu selalu nemenin gue, Beryl.” Isabella juga tidak enak terlalu lama merepotkan. Juga kondisinya sudah berangsur membaik. “Gue tahu…” ujar Beryl. Laki-laki itu duduk di pinggiran kasur. “Prof.Warsono tadi telpon.” Helaan nafas gusar terdengar, “Terus, lo bilang gue disini?” mata Isabella memincing. Curiga pada tingkah Beryl. “Untuk sekarang sih enggak. Tapi kalau terlalu lama lo menghilang dia bakal kena serangan panik.” Beryl sangat tahu soal kepanikan orang tua. Meski mamanya belum terlalu tua tapi itu seringkali terjadi. Sampai papa dibuat kelimpungan sendiri saat Beryl tidak memberi kabar. “Setelah ini gue bakalan balik ke rumah.” Isabella memberi penjelasan. “Lo akan tetap tinggal disini.” Beryl menjelaskan. Sekalipun Isabella menolak, dirinya akan kekeuh memaksa. Bola mata Isabella bergerak tidak nyaman, “Lo suka sama gue, Ber?” Mendengar pertanyaan Isabella membuat posisi duduk Beryl tidak nyaman. Rasanya seperti duduk di tumpukan paku. “Gue nggak harus jawab untuk yang satu ini, kan?” kali ini Beryl tidak ingin menggunakan perasaannya. Dia harus terlihat biasa saja layaknya bagaimana sikap yang selalu Isabella tunjukkan padanya. “Lo suka gue!” Isabella menegaskan kalimatnya. Beryl menghindari tatapan Isabella. “Suka ataupun nggak suka. Nggak akan merubah apapun.” “Memang nggak akan merubah apapun. Tapi mengakui juga bukan kesalahan atau dosa besar.” Isabella jadi merasa dirinya sok banget. Dia sendiri yang terlalu percaya diri atau bagaimana nih. “Gue suka elo.” Hallo... Beryl ingin mengorek telingannya sendiri. Tidak sama sekali terkejut atas pernyataan Isabella. “Lo suka gue lindungin. Lebih daripada itu nggak ada perasaan apapun.” Beryl menegaskan. Lebih ke arah membenarkan. Isabella melotot tak suka, “Lo sok tahu…” “Gue sangat tahu.” Beryl menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Menahan ngilu di hati. Ini terasa aneh. Hubungannya dan Beryl berangsur membaik tapi sekarang laki-laki popular ini seolah membentengi diri. Beryl menjaga jarak dari Isabella. Tangan Isabella meraih lengan Beryl, memintanya untuk menghadap padanya. “Kenapa?” ujar Beryl mulai waspada Isabella menciumnya tanpa izin. Isabella menunjuk pada selimut yang terlepas di kakinya. “Tolonggg…ambilin.” ujarnya meminta tolong. Beryl bangkit. Dengan telaten menaikkan selimut. Tatapan keduannya beradu. Isabella mendekati wajah Beryl berniat menciumnya seperti biasa namun Beryl menjauh. Sontak saja menjadikan Isabella sangat malu. “Jangan ada sentuhan fisik diantara kita.” Beryl mulai jual mahal. Beryl melakukan ini karena setiap kali mereka bersama jantungnya berdebar tidak karuan. Juga Danis mengatakan semakin sering keintiman itu terjadi, yang ada perasaan Beryl semakin sulit dikontrol. Beryl akan semakin jatuh. “Biasanya juga nggak papa, kan?” Beryl menatap jengah perempuan satu ini. Isabella justru melihatnya dengan tatapan polos. “Apa yang sering lo kasih ke cowok lain bukan berarti akan menjadi hal lumrah juga bagi gue, Bella. Gue bukan orang yang dengan senang hati dicium hanya karena ingin. Seperti halnya gambaran elo terhadap Nando. Tolong lo buat pembatasan juga bahwa nggak semua cowok berengsek.” Beryl melontarkan isi hati. “Gue nggak seberengsek itu. Paham?” Beryl mengatakan pernyataan sekaligus pertanyaan. “Orang akan dengan senang hati berciuman kalau mereka suka sama suka.” Isabella mengadakan pembelaan. Tidak ingin kalah. “Itu orang lain, Bella.” Beryl menjeda kalimatnya. “Sorry sebelumnya kalau ini terkesan kasar. Tapi pekerjaan elo selalu mencium mereka meski tanpa dasar cinta.” Beryl memuntahkan kalimat jahatnya. Beryl harus melakukan ini agar Isabella mengerti batasan dan tingkah buruk. Isabella merasakan sesak setiap kali Beryl memperjelas pekerjaannya. “Lo keluar. Gue mau istirahat.” usirnya tak nyaman. Beryl ingin meminta maaf tapi melihat sorot tatapan kecewa itu. Rasanya Beryl juga kelimpungan begini. “Hubungin gue kalau butuh apa-apa.” Beryl memutuskan keluar kamar. Sepeninggal Beryl, Isabella menangis. Isabella benci mengakui bahwa sekarang dia lemah. Terlebih interaksi yang terjadi membuatnya sering bawa perasaan. “Harusnya elo nggak pernah datang dalam hidup gue, Beryl!” ujarnya dalam Isak tangis. "Hikssss...hikssss..." “Kenapa tingkah lo seperti jatuh cinta tapi elo seolah bertingkah tidak begitu.” “Gue pengen sesuatu yang jelas diantara kita. Apa itu salah?” Hari ini jadwal kuliah pagi kosong dan Beryl berinisiatif untuk membelikan Isabella makanan. Hanya sedikit perhatian. Namun bagaimanapun hati mengelak sepertinya sia-sia. Hubungan antara Beryl dan Isabella seperti tidak akan netral lagi. “Gue pengen sesuatu yang jelas diantara kita. Apa itu salah?” Beryl mendengar dengan jelas unek-unek Isabella. Karena Beryl tidak langsung pergi. Beryl terduduk meringkuk di depan kamar Isabella. “Tidak ada yang salah. Sayangnya gue nggak bisa menerima fakta bahwa elo menganggap gue sama dengan cowok lain.” Beryl terdiam beberapa saat. “Gue nggak seberengsek itu, Bella.” Beryl berujar amat pelan. _________________________________ “Ber…” Dan Beryl tidak tahu lagi apakah keputusannya benar atau salah. Setelah pergi ke kampus untuk mengisi kelas. Beryl justru menerima ajakan Aida guna pergi berkeliling sekitar kampus tidak jelas begini. “Lo lagi mikirin apaan?” Aida mengaduk minumannya di gelas. Mereka memutuskan mampir makan di warung ayam geprek. Beryl menatap sekitarnya melihat beberapa pengunjung rata-rata adalah mahasiswa tengah sibuk makan atau sekedar mengobrol. “Nggak ada, Da.” ungkap Beryl. Beryl baru menyadari posisi duduknya dan Aida sedekat ini. Juga wajah Aida yang memerah karena kepergok menatap Beryl terang-terangan. “Ber…” panggil Aida sangat pelan. Beryl ragu apakah benar barusan Aida memanggilnya atau imaginasinya saja. “Iya. Kenapa?” ujarnya kini menatap Aida lembut. Kalau melihat detail wajah Aida, Beryl jadi ingat pernah meninggalkan teman sekelasnya ini sendirian di mall waktu itu demi Isabella. “Daa...maaf buat yang waktu itu, ya?” “Apa?” Aida mendongak. “Sewaktu gue ninggalin elo sendirian di mall.” jawab Beryl terlihat merasa sangat bersalah. Seandainya papa Ezra tahu mungkin Beryl akan diamuk karena sudah beraninya memperlakukan Aida begitu tega. “Oke. Gue cukup mengerti posisi elo sewaktu itu kok. Lo bilang ada sesuatu yang penting, kan?” Beryl mengangguk lantas tersenyum. Memang ada yang penting tapi Beryl tidak bisa mengatakan itu soal video Isabella yang akan disebar Jesika. Omong-omong soal Jesika, Beryl ingat Danis kemarin mengatakan soal terjadi insiden antara sang sahabat dengan Jesika. Tapi Danis belum bercerita lebih mungkin nanti dirinya akan bertanya langsung untuk memecahkan rasa penasaran. Aida menatap Beryl sekilas. “Ada yang mau gue omongin.” katanya terdengar misterius. Namun membuat Beryl sangat penasaran. Beryl merasa akan terjadi sesuatu setelah ini. Perasaannya tidak karuan begini. “Gue suka sama elo, Ber…” Beryl diam kaku diposisinya beberapa detik. Apa barusan Aida tengah mengikrarkan perasaannya. Apa yang dibilang teman-teman sekelas mereka soal Aida benar. Kenapa Beryl menjadi tidak nyaman seperti ini. Beryl tidak suka Aida. “Lo mau nggak jadian sama gue?” Terdengar helaan nafas pasrah. Beryl tidak kuasa menolak. Hanya saja dia ragu apakah perasaannya ke Aida juga bisa tumbuh seperti yang Aida berikannya terhadapnya. Semoga saja bisa. ________________________________ “Lo terima dia sementara lo tahu perasaan elo nggak di dia, lagi?” Danis menjejalinya pertanyaan tepat saat Beryl enggan untuk kembali ke apartemen dan bertemu Isabella. Kejadian hari ini membuat Beryl stress tingkat tinggi “Bukan Aida cewek yang gue suka dulu. Tapi Anjani.” Koreksi Beryl agar Danis mengingat nama-nama orang yang pernah hadir di hidupnya. Pasalnya memang Danis cukup pikun saking banyaknya perempuan di sekelilingnya. “Ohhh…” Danis mengangguk seperti orang bodoh. Sadar dia menghancurkan moment curhat sahabatnya. “Nggak akan ada ending yang baik kalau sedari awal sudah dimulai dengan tidak baik.” Kalimat Danis terus terngiang di telinga Beryl. Tidak ada ending yang baik kalau awalnya saja sudah tidak baik. “Lo mau melamun sampai kapan?” Beryl menatap gelas air putih beserta obat milik Isabella. Sejak datang Beryl memang banyak melamun. Membuat Isabella jadi kebingungan sendiri. Isabella menerima obat dan segera meminumnya tanpa banyak bertanya. “Mulai besok biar mbak Ratih aja yang full ngurusin gue. Gue bisa kok sama dia. Dia juga baik.” Beryl hanya membalas dengan anggukan tanda dia setuju. “Yaudah. Mulai besok kemungkinan juga gue udah mulai full di kampus.” Beryl menatap Isabella juga layar laptop yang masih menyala di sampingnya. “Lo ngapain?” pertanyaan yang ditujukan pada aktivitas Isabella seharian ini “Nggak ngapa-ngapain sih. Cuma ngerjain beberapa proposal. Setelah itu nonton drakor.” Katanya memberi penjelasan “Jangan capek-capek.” Beryl juga tahu aktivitas Isabella dari suster Ratih. Namun dia merasa perlu tahu dari sang empunya langsung “Oke.” ______________________________ “Lo pacaran sama Aida, Ber?” Azlio menodong jawaban. “Sementara gue kira lo suka sama Isabella.” Tidak mengerti mengapa orang-oang disekeliling Beryl mengatakan dengan gamblang bahwa Beryl menyukai Isabella. Apakah sebegitu nampak sikapnya sampai mudah sekali dibaca. “Gue nggak pernah bilang kalau suka sama Isabella. Lo tahu darimana soal gue sama Aida?” Beryl penasaran kenapa bisa secepat itu hubungannya terpublikasi. Orang-orang sangat ingin tau. Azlio menunjukkan chat grup kelas. Lalu Beryl mengambil ponselnya sendiri di saku. Terdapat sekitar seribu chat yang belum Beryl buka dari grup kelas. Juga beberapa chat dari teman-temannya yang menanyakan kebenaran hubungannya dengan Aida. “Seperti yang lo lihat.” Pada akhirnya tidak mungkin Beryl mengelak. “Pasti tuh cewek yang nembak elo, kan?” Danis bergelimbung di kasur empuk Beryl. Sedari tadi mendengarkan dengan khidmat pembicaraan Beryl dan Azlio. Azlio ikut melakukan hal yang sama seperti Danis. “Gue juga ngerasa gitu. Lo terlalu nggak berani, Ber.” Plukkk… Danis menyentil kening Azlio. “Bukan dia nggak berani. Orang kalau nggak suka buat apa diajak pacaran. Sayang-sayangan tanpa status aja enak, mas Azlio…” Danis berujar enteng. Azlio mengaduh, “Emang dasarnya tangan nggak di sekolahin ya begini. Gue tuh cuma kasihan sama Aida. Nanti kalau dia broken lo emangnya mau tanggung jawab.” tidak tahu apa Azlio ini peka pada perasaan perempuan. “Ya jangan sampai luka, egeb.” Danis menimpali. “Ishhh…” Azlio sinis sendiri. “Lagian kalau dipikir Aida manis plus pinter juga. Cocok kalau jadian sama elo, Ber.” Mata Azlio menerawang ke atas. Membayangkan bagaimana kalau Beryl lagi jalan dengan Aida. Danis merangkul kepala Azlio, “Kalau Aida sama Beryl. Lo sama siapa?” "Ini pertanyaan apa sindiran ya?!" ujar Azlio. “Sama Isabella lah,” katanya penuh semangat tanpa menyadari tatapan membunuh yang Beryl tunjukkan. “Lo mau disantap Beryl?” Danis terkekeh, menaikkan turunkan alis. Azlio meringis, “Heheee…” tangannya menujukkan dua jari, “Nggak maksud kok, Ber. Bercanda doang gue.” Azlio menelan salivanya susah payah. Ribet juga kalau nyenggol orang kasmaran. “Lo jomblo muluk mending sama Jesika.” Kali ini Beryl menimpali. Daripada membahas dirinya alangkah lebih baiknya membahas soal Azlio bukan? Kali ini Azlio tertarik, “Capa tuhhh…” “Temannya Isabella.” kata Beryl. Danis berdecih, “Isabella lebih cocok sama elo, bro.” Danis tidak mau kalau targetnya akan diburu juga oleh teman-temannya. Bagi danis pantang untung bersaing bersama orang terdekatnya perihal perempuan. Lebih baik Danis mengalah atau orang lain yang harus mengalah. Itu mungkin juga akan dilakukan oleh orang-orang. “Kalau gue sama Isabella, Beryl bakal bunuh gue. Alamat nasib kuliah gue nggak selesai-selesai. Tapi kalau gue dekat sama Jesika harusnya sih nggak papa.” “Jesika punya gue. Jangan macam-macam kau, nak.” Danis memberikan ancamannya. “Gue sama suster aja deh, udah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD