Beryl duduk di kursi panjang sesaat setelah Isabella masuk ke ruangan operasi. Untung saja Beryl juga cepat menyelesaikan administrasi. Pikirannya melayang saat dimana dirinya dengan amat paniknya membopong Isabella keluar dari rumah Nando.
Juga keadaan perempuan itu yang terbilang tidak baik-baik saja. Kondisinya mengerikan.
Ini aneh. Tapi Beryl merasakan cukup kalap di waktu bersamaan. Bisa-bisanya mulutnya sendiri berkata pada Nando bahwa dia akan menghabisi nyawan pacar Isabella itu jika ada hal buruk terjadi pada Isabella. Kalimat frotal yang mengerikan.
Beryl tidak pernah begini sebelumnya. Ini pertama kalinya, karena Isabella.
Beryl menatap kedatangan kedua sahabatnya.
“Ber…” Danis juga Azlio datang bersamaan seperti kembar-kembar nakal.
Beryl jadi ingat kartun gundul asal negara tetangga yang selalu di putar di televisi setiap pagi. Bahkan jam penayangannya sekarang di tambah. Beryl hampir tamat karena meski sudah berumur 22 tahun, Beryl masih jadi penikmatnya. Memang kekanak-kanakan, namun itu sepertinya bukan hal yang patut dipermasalahkan saat ini.
Beryl melihat apa yang dibawa sahabatnya.
Danis datang dengan dua kantong belanjaan seperti camilan, kuaci, dan minuman bersoda. Lalu Azlio membawa kotak makanan favoritnya disebuah rumah makan. Dua orang ini perhatian di waktu yang tepat. Beryl bersyukur memiliki teman mengerti kondisinya.
“Kenapa bisa Isabella masuk rumah sakit, Ber?” Azlio bertanya tidak sabaran. Kaget sekaligus panik saat melakukan panggilan grup dengan Danis untuk mengajak berdiskusi soal gebetan barunya.
Dengan amat santuy-nya Beryl bilang sedang di rumah sakit. Awalnya mereka mengira jika Beryl yang terkena luka tembak. Tapi itu bukan Beryl melainkan Isabella.
Dari sini Danis langsung bisa menyimpulkan bahwa ada yang tidak beres diantara Beryl dan Isabella. Dugaannya tepat
Danis terlihat lebih tenang. Pertanyaanya sudah diwakilkan Azlio meski rasanya dia tidak percaya pada apa yang dikatakan Beryl sewaktu di telepon. Isabella tertembak.
Mustahil perempuan itu bermain pistol sementara pekerjaannya selalu berada di klub malam.
“Dia tertembak.” Beryl menjelaskan kembali kronogis bagaimana Beryl bisa menemukan Isabella berada di rumah Nando.
Danis mulai menemukan sebuah kesimpulan, “Kalau bukan Nando yang melakukan pastilah si perempuan yang menembak Isabella itu punya dendam khusus. Soalnya, dimana-mana orang waras nggak mungkin melakukan hal sekonyol itu kalau awalnya nggak punya masalah,”
Azlio dengan khidmat mendengarkan pembicaran dua manusia keren ini. Tidak ingin merespon lebih takut-takut kalau salah bicara.
“Gue juga merasa ada yang nggak beres sama tuh orang,” Beryl menyisir rambut hitamnya ke belakang. Kebiasaan yang akhir-akhir ini sering dilakukan karena merasa stress menghadapi Isabella.
"Bagaimana pun juga Isabella tanggung jawab elo." Danis berujar.
Benar, lumrah jika Beryl sering stress beberapa waktu belakangan ini.
“Lo udah hubungin Prof.Warsono?” pertanyaan Azlio mengingatkan Beryl pada permintaan Isabella untuk tidak mengatakan apapun pada orang tua angkatnya.
Beryl menggeleng lemas, “Dia ngebuat gue berjanji buat nggak kasih tahu Prof.War. Gue bingung antara permintaan Prof.Warsono buat menjaga keponakannya atau janji gue pada Isabella.” Beryl semakin lemas.
“Dan lo nurut dengan Isabella, kan?” Danis bertanya lagi.
Beryl menatap dua sahabatnya, “Lalu gue bisa apa?” kalimatnya terdengar cukup pasrah. “Dengan cara gue menuruti permintaan Isabella. Itu juga salah satu cara gue melindungi keponakan Prof.Warsono, kan?”
Azlio dan Danis saling bertukar pandang. Rumit juga soal jalan percintaan Beryl. Beryl menolak dengan tegas kalau dia sudah jatuh hati pada Isabella. Namun malahan, apa yang dilakukan Beryl sangat menonjol untuk ukuran orang membenci.
Definisi benci dan cinta sulit dijelaskan.
“Untuk ukuran orang yang merasa hanya sebatas menjaga elo terlalu melangkah jauh, bro.” Danis menjadi pembicara paling punya arti disini. Kalimatnya jelas sebuah penjelasan mengenai bagaimana sebenarnya perasaan Beryl pada Isabella. Atau malahan sebenarnya semua orang tahu namun enggan memperjelas saja.
Dokter diikuti beberapa perawat keluar dengan wajah sumringah. Mungkin operasi berjalan lancar.
“Bagaimana, dok?” Beryl melontarkan pertanyaan. Melupakan pernyataan panjang Danis barusan. Isabella lebih penting.
Dokter dengan name tag Andik itu mengangguk cepat, “Operasi berjalan lancar.”
Helaan nafas lega mulai dirasakan tiga orang tersebut, “Namun untuk bisa dikatakan berhasil pasien harus sadar terlebih dahulu. Permisi.” ujarnya berpamitan meninggalkan ruang operasi.
Danis menepuk bahu Beryl mencoba menguatkan sahabatnya ini. “Dia nggak papa.” Paling tidak itu akan sedikit membantu Beryl tenang. Keharusan untuk orang-orang disekeliling Beryl untuk mendukung setiap langkahnya.
“Kita bakalan temenin elo kok. Santuy.”
Azlio tentu akan dengan senang hati menemani Beryl. Tidak mungkin juga meninggalkan Beryl sendirian mengurus Isabella. Azlio juga gabuts banget. Dekat-dekat dengan Beryl sebenarnya banyak nilai positif yang diperoleh. Salah satunya nilainya bisa selalu di atas rata-rata, bisa juga lulus diberbagai mata kuliah meski nilai ngepres.
Beryl menatap kedua sahabatnya, “Kalian nggak perlu ikut menjaga semalaman. Gue bisa sendiri.” Beryl beralasan.
Bagi Beryl dia yang punya tanggungan jadi tidak perlu ada orang lain yang mesti direpotkan untuk masalah Isabella.
“Kita sih, panik.” Danis memberikan penyataan ambigu.
Azlio dan Beryl melengos pada Danis.
“Kenapa?” kata mereka kompakan. Seperti tidak paham maksud dari kata panik.
“Takut lo nggak bisa menahan diri.” Danis terkekeh.
Satu-satunya orang yang tahu hubungan antara Beryl dan Isabella sudah sejauh apa hanyalah Danis. Rasanya Beryl menyesal pernah bercerita perihal ciuman yang pernah terjadi antara dirinya dan Isabella meski itu tidak pernah Beryl sengaja.
Beryl mengumpat dibalas tawa Danis. Sementara Azlio mengerutkan kening saking tidak mengerti bahasan dua orang di depannya. “Gue ketinggalan berita apa?” ujarnya seperti orang bodoh.
___________________________________
Isabella membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah Beryl duduk di sampingnya. Tatapan laki-laki itu seperti terkejut karena Isabella bangun dengan tiba-tiba.
Tanpa menunggu waktu lama Beryl segera memencet tombol yang ada di belakang tempat tidur Isabella. Tak berselang lama dokter beserta suster datang.
Isabella hanya diam saja ketika dokter mulai mengecek kondisinya. Suster mulai mencatat sesuatu yang tentu saja tidak Isabella mengerti. Keadaan seketika menjadi hening.
“Keadaannya sudah baik. Setelah ini penting untuk menjaga pola konsumsi makanan. Agar pemulihan luka bisa cepat.”
kata dokter siang itu.
Isabella hanya menjadi pendengar sementara Beryl seperti mencatat apa yang dikatakan dokter dalam otak cerdasnya. Isabella bisa menebaknya dari cara Beryl bersikap. Laki-laki pintar tak mungkin butuh kertas untuk mencatat. Dia sudah menyimpan semua di memori otak.
“Lo nggak bilang sama Prof.Warsono, kan?” kalimat pembuka percakapan diantara mereka saat hanya tersisa Isabella dan Beryl dalam ruangan.
Sejujurnya, Beryl sangat berharap Isabella mau menceritakan kronologis kejadian bagaimana Isabella bisa tertembak. Lama-lama Beryl bisa mati akibat rasa penasaran kalau Isabella terlalu lama bercerita.
“Sesuai janji gue,” pada akhirnya Beryl meluruskan pikirannya sendiri. Tidak boleh egois dan memaksa Isabella untuk bercerita. Kondisi Isabella juga belum stabil.
“Tapi kalau lo nggak pulang-pulang bukannya dia akan curiga dan minta bantuan gue buat mengawasi lo lagi?” kalimat Beryl merujuk pada Prof.Warsono yang tentu akan curiga saat keponakannya menghilang secara misterius.
Bagaimana ini?! Isabella berpikir keras
Isabella memilin jemarinya, “Bantuin buat sembunyiin gue…” Beryl seketika menatap Isabella dengan raut wajah bingung. Tidak mengerti permintaan Isabella untuk kali ini.
“Gimana?” tanya Beryl.
“Gue nggak mau ketemu orang-orang dulu, Ber. Gue nggak mau juga nemuin Nando. Gue udah sangat capek diatur sama dia.”
Isabella menghela nafas panjang lalu membuang perlahan lewat mulut. “Dan lo tahu…dia benar-benar nggak perduliin atau nyari gue sama sekali. Disana gue mau mati. Di rumah besar itu lo tahu sendiri kondisi gue kayak gimana.” Isabella menahan tangisnya. Teringat bagaimana cara Bianca menyudutkannya dengan banyak senjata tajam dan Isabella tidak bisa melakukan apapun kecuali berlari.
“Lo menyerah?” Beryl mengasumsikan penjelasan Isabella seperti kalimat putus asa. Tapi kenapa secepat itu juga Isabella bisa menyerah.
Isabella menggeleng, “Masih dengan ambisi tapi sekarang adalah waktu yang tepat buat rencana selanjutnya.”
Kening Beryl mengkerut, “Apa rencana elo?” Beryl ingin tahu. Sangat ingin tahu.
“Membunuh Nando.”
"Ternyata masih kekeuh pada ambisinya." ujar Beryl berbicara sendiri.
Tepat saat Isabella berhasil mengucapkan kalimatnya Nando masuk diikuti Danis dan Azlio di belakangnya. Awalnya dua orang itu menghadang Nando agar tidak masuk menemui Isabella namun Nando bersikeras tetap ingin masuk.
Aura permusuhan menguat di dalam ruangan.
Isabella yang melihat kedatangan Nando lebih dahulu otomatis menarik tengkuk Beryl dan menciumnya dengan paksa.
Mata Beryl melotot, “Apa ini rencana Isabella?” batin Beryl bertanya-tanya.
Ketiga orang yang baru saja datang dibuat membeku di tempat.
“Berengsekkk…” Nando menarik kerah baju Beryl lalu meninjunya dengan keras. Beryl sedikit oleng akibat pukulan tiba-tiba.
“Dari awal gue udah ngira ada yang nggak beres diantara kalian.” Tembaknya seolah menuduh selama ini Isabella dan Beryl memang berselingkuh di belakangnya.
Beryl mengusap sudut bibirnya. Sementara Danis berada di tengah-tengah mereka.
“Nggak baik pakai cara kotor kayak gini. Ada orang sakit disini.” ujarnya sangat tenang
Nando menatap tajam Isabella. Emosinya seketika memuncak.
Plakkk…
Satu tamparan mendarat sempurna di pipi Isabella. Dan gilanya Isabella malah tertawa puas. “Ayo lanjutkan, sayang. Seperti biasanya. Kali ini mau apa?! Ambil nyawa sekalian juga boleh.” ujar isabella dan membuat Beryl, Danis, serta Azlio tak bisa berkata-kata.
“Apa sesering itu Isabella menerima perlakuan buruk dari pacarnya ini?” batin Beryl mencoba memecahkan teka teki.
“Adik elo. Si Bianca itu hampir bunuh gue dengan permainan konyolnya. Dia ngajakin gue main petak umpet dan pakai segala macam senjata buat nyakitin gue. Puassss?” teriak Isabella menggema dalam ruangan. Teriakan Isabella persis orang kesurupan.
“Dimana elo ketika gue butuh?! Kenapa nggak nyariin gue?” katanya merujuk pada Nando yang seolah mencampakkan Isabella saat dirinya dalam posisi sulit. Isabella menunjukkan kesalahan sang pacar.
Nando tidak bisa berkata apapun. Dia seolah kehilangan kata-katanya.
Benar, Nando memang tidak mencari Isabella sama sekali padahal dia tahu keluarganya tidak sama sekali menyukai keberadaan Isabella disisinya. Nando hanya berfokus pada klien-nya malam itu. Melupakan Isabella yang hampir mati karena ketidakperduliannya. Betapa tidak becusnya dirimu dalam menjaga Isabella. Nando menyalahkan diri sendiri.
“Mana yang lo bilang bakalan jagain gue. Lo omdo doang, Do.” Isabella meluapkan segala yang dia rasakan. “Seharusnya gue sadar lo hanya mencintai Diana bukan gue!”
Beryl tidak kuat mendengar amukan frustasi Isabella. Tangannya mendorong tubuh Nando. “Lo pulang dan urusin adik elo. Kalau main tangan bukan sama Isabella.” Tembaknya menahan diri untuk tidak menonjok Nando sekarang.
Melihat dari cara Isabella bercerita semua sangat gampang Beryl tangkap. Isabella hampir terbunuh jika saja Beryl telat datang lebih awal.
“Lo nggak ada kuasa untuk mengambil alih Isabella dari gue!” Nando mulai egois. Dia berhak bukan untuk mengklaim Isabella sebagai miliknya. Isabella miliknya, paten.
Nando beralih pada Isabella, “Aku nggak pernah nyamain kamu sama Diana, Bella. Kalian orang yang berbeda dan aku nggak berhak buat menyamakan itu.”
“Lo hanya butuh tubuh gue, sialannn…” Isabella memberontak.
Beryl, Danis, Azlio tidak bisa berkutik. Melihat pertengkaran yang terjadi jelas ini bukan masalah sepele.
Nando kembali lagi pada Beryl mencoba meraih lehernya untuk mencekik namun berhasil digagalkan, “Lo nggak layak ambil nyawa orang lain. Lo bukan Tuhan!” Beryl mendesis penuh peringatan.
Ucapan Beryl menyinggung Nando. Seperti kalimat barusan adalah sindiran halus bahwa Nando pernah dengan sangat egoisnya mengambil hak hidup orang lain. Nando tidak mengerti bagaimana Beryl bisa tahu kisah kelam masa lalu itu.
“Lo pergi dari sini. Ini masalah gue dan Isabella.” Nando sebisa mungkin harus bisa berakting, tidak boleh memperlihatkan sikap curiga di mata orang-orang dalam ruangan ini.
“Gue mau tetap disini!” Beryl mulai keras kepala. Tidak akan meninggalkan Isabella bersama Nando.
“Lo bukan siapa-siapa Isabella.” Nando masih bersabar.
Beryl tersenyum kecut, “Mulai saat ini Isabella adalah milik gue!” ucap Beryl tanpa sadar. Membuat Isabella terkejut di tempat tidur.
Nando murka dia hendak menyerang Beryl namun gagal karena beberapa penjaga keamanan rumah sakit datang untuk menghentikan aksinya.
“Lepasiiin…” Nando mencoba melawan namun nihil. Tangannya ditahan sehingga dia tidak bisa bergerak.
“Bawa aja ke kantor polisi, pak. Dia rusuh.” Azlio mulai kompor.
“Gue nggak akan biarin lo lolos, bancii...” kata Nando saat petugas keamanan menariknya secara paksa.
Beryl menghela nafas lega. Tatapannya langsung beradu dengan Isabella. Terjadi kebisuan beberapa detik sampai akhirnya Beryl memilih permisi keluar. Jujur dia keceplosan sampai mengucapkan kalimat yang entahlah. Beryl malu berhadapan dengan Isabella.
Danis dan Azlio meminta izin pada Isabella untuk menemani Beryl.
“Ya… kalian tenangin dia, deh.” Isabella mulai mengerti situasi.
Setelah semua pergi Isabella merasa ada kupu-kupu terbang di area perutnya. Entah kenapa dia jadi salah tingkah begini mengingat-ingat kalimat frontal Beryl.
“Seenggaknya dia selamatin gue buat yang kesekian kalinya,”