--“Bisa saja yang terlihat baik di depanmu, justru adalah orang yang membawa belati dan ingin menusukmu secara diam-diam. “— *** Irriana mengusap wajahnya yang sembab oleh air mata. Saat ini dirinya sendiri. Duduk di salah satu kursi yang berada di koridor rumah sakit setelah menghindari Dave tadi. Senyuman tipis mengembang di bibirnya menjadi senyuman merekah hingga tak akan ada yang menyadari jika sebelumnya Irriana menangis. Saat ini, dirinya tak perlu bersandiwara menjadi wanita lemah lagi, karena orang yang akan menghalangi rencananya untuk membunuh musuh-musuhnya sebenarnya masih hidup sampai sekarang. Wanita itu memiliki kekuatan, dan dirinya memiliki otak licik sebagai senjata. Aneh. Tidak. Jangan menganggap dirinya aneh. Justru dirinya sudah lelah bersandiwara sebagai wanit

