KK | #6

1611 Words
Malam harinya, Kakek Wisnu tampak heran karena Rana tak kunjung keluar dari kamarnya. Beberapa kali dia sudah memanggilnya untuk makan malam. Namun tak kunjung dia lihat batang hidung gadis cantik itu. "Tumben sekali dia tidak langsung keluar." gumam Kakek Wisnu sembari melangkah menuju kamar Rana. Kriet Dengan perlahan Kakek Wisnu membuka pintu kamar Rana. Ruangan tersebut tampak gelap, sepertinya Rana belum sempat menyalakan lampunya. Kakek Wisnu menggeleng pelan, sebelum menekan sakelar lampu agar kamar Rana menjadi terang. "Rana.." panggil Kakek Wisnu pelan ketika melihat Rana berbaring membelakanginya. Awalnya Kakek Wisnu mengira jika Rana mungkin tengah tertidur. Namun dia melihat tubuh gadis itu beberapa kali menggigil. Juga terdengar rintihan samar dari bibirnya. Akhirnya dengan langkah kaki yang dia usahakan cepat, Kakek Wisnu berjalan mendekati Rana. Duduk di tepi ranjang gadis itu dengan hati-hati. "Kamu kenapa, Rana?" tanya Kakek Wisnu menarik pelan pundak Rana. Rana akhirnya menoleh dengan wajah pucat pasi dan dibanjiri keringat. Gadis itu menatap sang kakek dengan mata berkaca-kaca. "Sa-kit.." lirihan kecil itu membuat Kakek Wisnu khawatir."Apa yang sakit, Nak? Bicara pada Kakek." tanyanya lembut. Rana tidak lagi bersuara, namun tangannya bergerak menekan perutnya dengan ekspresi kesakitan. Kakek Wisnu yang menangkap sinyal itu akhirnya paham. "Perut kamu sakit? Sebentar ya, biar Kakek panggilkan bidan agar memeriksa kamu." Kakek Wisnu hendak beranjak, saat tangannya tiba-tiba ditahan oleh Rana."Nggak perlu, Kek. Perut Rana cuma sakit karena datang bulan." jawab gadis itu dengan suara pelan dan susah payah. Kekhawatiran Kakek Wisnu sedikit mereda mendengar jawaban Rana. Tadinya dia sudah berpikir yang tidak-tidak saat melihat kondisi gadis itu. Akhirnya pria tua itu kembali duduk di sisi ranjang milik Rana. Menatap sang cucu yang masih dalam kondisi lemas dan kesakitan. "Apa kamu butuh sesuatu, Rana? Katakan saja pada Kakek." ujar Kakek Wisnu menawarkan diri. Rana menggeleng lirih, menatap sang kakek dengan mata berkaca-kaca. Kakek Wisnu membalas tatapannya dengan prihatin. Walau begitu dia tidak tahu harus melakukan apa untuk meredakan rasa sakit yang Rana rasakan. "Biasanya apa yang kamu minum saat seperti ini, Sayang?" Kakek Wisnu bertanya sembari mengelus bahu Rana lembut. Rana tak langsung menjawab, melainkan terus menatap sang kakek yang begitu perhatian. Dalam hatinya timbul rasa haru karena merasa diperhatikan seperti ini. Padahal mereka baru bertemu setelah sekian lama. "Ibu biasanya kasih minyak kayu putih di perut Rana, Kek." jawabnya dengan suara lemah. Kakek Wisnu lantas mengangguk kecil, merasa lega karena akhirnya mendapat solusi. Dengan segera pria tua itu keluar dari kamar Rana, bermaksud mengambil minyak kayu putih yang selalu dia simpan di laci kamarnya. Rana menatap kepergian sang kakek dengan pandangan redup. Sentuhan di bahunya seketika hilang, menyisakan rasa kosong yang membuatnya kehilangan. Sisi manjanya ingin kembali merasakan sentuhan tersebut. Dan jika boleh jujur, Rana juga ingin sentuhan yang lebih dari sang kakek. "Kenapa setiap Kakek megang aku, rasanya aneh banget." gumam Rana menatap langit-langit kamarnya. Bunyi langkah kaki yang mendekat, menarik Rana dari lamunannya. Gadis itu menatap ke arah ambang pintu, tempat dimana Kakek Wisnu muncul. Di tangan pria tua itu terdapat botol berwarna hijau. Kakek Wisnu kembali mendudukkan dirinya di samping Rana. Lantas membuka tutup botol minyak kayu putih dengan mudah, membuat aroma khas menyeruak memenuhi kamar Rana. "Biar Kakek oleskan di perut kamu, ya." kata Kakek Wisnu. Rana mengangguk lirih sembari menarik baju yang dia kenakan ke atas hingga memperlihatkan perutnya. Kakek Wisnu langsung mendaratkan telapak tangannya yang hangat ke kulit putihnya. Meratakan minyak kayu putih tersebut dengan gerakan lembut. Mengirimkan rasa hangat, nyaman namun juga getaran lain dalam diri Rana. "Sudah mendingan?" tanya Kakek Wisnu masih belum menghentikan elusannya. Rana menggigit bibir bawahnya malu."Lumayan, Kek." Kakek Wisnu menarik napas lega."Kalau begitu biar Kakek bawakan makan malam kamu ke sini, ya." tawarnya. Rana ingin menolak karena merasa sungkan. Tapi Kakek Wisnu sudah lebih dulu beranjak pergi dari kamarnya. Membuat gadis itu dirundung rasa gelisah. "Kakek baik banget sama Rana." gumamnya terharu. Tak berselang lama, Kakek Wisnu kembali dengan sepiring makanan di tangannya. Menahan rasa nyeri di perutnya, Rana perlahan bangkit dan mendudukkan diri. "Rana bisa sendiri, Kek." ujar Rana cepat ketika Kakek Wisnu hendak menyuapinya. Gadis itu benar-benar merasa haru, namun juga merasa sungkan. Akhirnya Kakek Wisnu mengalah dan membiarkan Rana menghabiskan makan malamnya sendiri. Pria tua itu memilih duduk di sampingnya, sesekali mengusap titik-titik keringat di pelipis gadis itu. "Sudah?" tanya Kakek Wisnu begitu melihat piring Rana telah kosong. Rana mengangguk dengan pipi memerah. Kakek Wisnu kemudian mengambil piring tersebut dan meletakkannya di atas meja kecil yang berada tidak jauh dari ranjang Rana. "Makasih ya, Kek.. uudah baik banget sama Rana." ujar Rana dengan mata berkaca-kaca. Kakek Wisnu membalasnya dengan senyum lembut. Tangannya terulur, mengelus puncak kepala Rana dengan sayang. "Sudah sewajarnya Kakek bersikap seperti ini, Rana. Karena kamu kesayangan Kakek." kata Kakek Wisnu memamerkan senyum manisnya. Rana menggigit bibir bawahnya gugup dengan semburat merah menghiasi kedua pipinya. Gadis itu menatap Kakek Wisnu dengan pandangan yang sulit diartikan. Sebelum akhirnya... Cup "Rana sayang Kakek." suara Rana terdengar seperti sebuah bisikan, namun cukup bisa didengar oleh Kakek Wisnu. Pria tua itu membeku saat Rana tiba-tiba saja mendaratkan kecupan singkatnya pada bibirnya. Gelenyar aneh mulai dia rasakan, dengan d**a yang kian membuncah tiap detiknya. Kakek Wisnu menatap ke arah Rana dengan pandangan tak percaya. Sedangkan Rana tampak tertunduk di sampingnya dengan senyum malu. Tak tahan melihat pemandangan menggemaskan itu, Kakek Wisnu lantas menarik dagu Rana agar menatapnya. Dapat dia lihat wajah gadis itu yang semerah tomat. "Kamu nakal sekali, Sayang." suara Kakek Wisnu berubah sedikit berat dari sebelumnya. Tatapannya tertuju pada bibir ranum Rana yang berwarna pink alami. Rana semakin dilanda gugup, apalagi dengan kedekatan mereka saat ini. Tubuhnya kian memanas kala tangan Kakek Wisnu melingkari pinggangnya. Lantas mempertemukan bibir mereka dalam sebuah ciuman. Seperti sebelumnya, Rana kembali menegang kala Kakek Wisnu menciumnya. Aroma tembakau bercampur napas hangat pria tua itu perlahan mulai memenuhi indra penciuman Rana. Kakek Wisnu menggerakkan bibirnya perlahan, mencecap rasa manis dari bibir gadis itu. Secara naluriah, tangan Rana terangkat meremas pundak lebar Kakek Wisnu. Semakin merambat naik hingga sampai pada kepala belakang pria tua itu. Rana melampiaskan rasa asing yang dia rasakan tersebut dengan meremas rambut putih Kakek Wisnu. Menambah keintiman di antara keduanya. Cup.. cup.. cup Bunyi kecipak basah dua lidah yang saling beradu memenuhi ruangan sempit tersebut. Rana tampak terpejam, menikmati ciuman dari sang kakek. Bahkan gadis itu juga sesekali membalas lumatannya walau dengan gerakan amatir. Tangan Kakek Wisnu yang semula berada di pinggang Rana, perlahan mulai naik menuju gundukan kenyal yang terhimpit d**a bidangnya. Remasan lembut Kakek Wisnu layangkan pada kedua gunung kembar Rana. Membuat sang empu melenguh di sela ciuman mereka. Di sisi lain, Rana merasakan hasratnya semakin naik kala Kakek Wisnu menyentuh gunung kembarnya. Dia pernah mendengar jika wanita yang sedang datang bulan memiliki tingkat kesensitifan yang tinggi. Dan mungkin itulah yang dia rasakan saat ini. Rana jadi mudah terangsang akan sentuhan dari Kakek Wisnu. Unch.. Tautan bibir mereka terlepas, terdengar nyaring sesaat setelah Kakek Wisnu menarik wajahnya menjauh. Pria tua itu menatap Rana dengan pandangan berkabut. Kentara sekali tengah menahan gejolak di dalam dirinya. Melihat bagaimana Kakek Wisnu menahan diri, entah kenapa membuat sisi lain dalam diri Rana merasa tertantang. Gadis itu semakin merapatkan tubuhnya pada sang kakek. Sengaja menempelkan gunung kembarnya pada d**a pria tua itu. "Kakek.." suara lirih Rana membuat sekujur tubuh Kakek Wisnu merinding. Tangan lentik Rana meraba d**a Kakek Wisnu dengan gerakan sensual. Belum lagi tatapannya yang sayu, seakan mengundang pria tua itu untuk melakukan sesuatu terhadapnya. Merasa tidak sanggup menahan diri lagi, Kakek Wisnu dengan lembut mendorong tubuh Rana hingga berbaring. Ditindihnya tubuh ranum tersebut di bawah kungkungannya. Kakek Wisnu kembali menyerang bibir Rana. Kali ini dengan ciuman yang berbeda, lebih liar dan menggebu. Rana menyambut serangan tersebut dengan mengalungkan kedua lengan mungilnya di leher kokoh sang kakek. Bibirnya asyik dihisap oleh Kakek Wisnu. Sedangkan salah satu gunung kembarnya tak luput dari serangan pria tua itu. "Ahh.." Mendengar desahan samar dari bibir Rana, kian membuat Kakek Wisnu meradang. Suara merdunya seolah menjadi bahan bakar yang menyulut api di dalam diri pria tua itu. "Emnhh.. Kek-hhh.." Rana menjambak rambut belakang Kakek Wisnu dengan erat kala pria tua itu memperdalam ciumannya. Lidah mereka saling menari, meneteskan saliva yang saling bercampur. Namun, ciuman itu harus terhenti karena pasokan oksigen di dalam rongga d**a Rana mulai menipis. Kakek Wisnu yang paham lantas mengalihkan cumbuannya pada leher jenjang Rana. Meninggalkan jejak-jejak samar berwarna merah yang cukup kentara di kulit putihnya. "Ahh..emnh.." Rana tak sekalipun menghindar dari serangan yang Kakek Wisnu lakukan. Gadis itu justru memejamkan matanya, menekan kepala pria tua itu agar memperdalam cumbuannya. "Enak, hm?" suara berat Kakek Wisnu terdengar seksi di telinga Rana. Membuat perutnya yang tadinya kram sekaligus nyeri, kini terasa geli. Rana yang polos tampak mengangguk kecil dengan wajah memerah. Kakek Wisnu kembali dilanda rasa gemas, dan menggigit ujung hidung gadis itu main-main. "Lebih baik sekarang kamu istirahat supaya perut kamu tidak sakit lagi." Kakek Wisnu terpaksa menyudahi kesenangan mereka, tak ingin Rana kembali merasakan sakit pada perutnya. Rana langsung menurut walau dengan wajah memberengut. Gadis itu merasa kehilangan, ketagihan ingin merasakan sensasi asing yang selalu dia rasakan setiap Kakek Wisnu menyentuhnya. "Tapi Kakek jangan pergi." Rana setengah merengek, memperlihatkan sisi manjanya pada sosok tersebut. Kakek Wisnu menatapnya dengan pandangan menerka. Dalam pikirannya, apa mungkin Rana mulai menyukai kedekatan di antara mereka? Apa itu artinya dia telah berhasil membuat gadis itu luluh? "Apa boleh Rana minta sesuatu, Kek?" tanya Rana terdengar ragu sekaligus gugup. Kakek Wisnu mengernyit, mencoba menebak apa yang akan gadis itu minta."Tentu saja, Sayang. Kamu ingin apa, hm?" Melihat respon dari sang kakek membuat keberanian Rana mulai tumbuh. Gadis itu meraba wajah keriput Kakek Wisnu dengan jari-jari mungilnya. Menatap tepat pada manik pria tua itu yang tengah menyorotnya dengan dalam. "Tidur di sini sama Rana, Kek. Rana mau tidur sambil dipeluk Kakek." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD