Pagi ini Kakek Wisnu mengajak Rana untuk berkebun di salah satu ladang miliknya. Dengan mengendarai motor bututnya, mereka melewati rumah-rumah warga yang jaraknya saling berjauhan. Maklum saja, daerah tempat tinggal Kakek Wisnu memang terpencil dan tidak padat penduduk.
"Ladangnya masih jauh ya, Kek?" tanya Rana sembari memeluk pinggang sang kakek. Angin sepoi-sepoi menerbangkan helaian rambut panjangnya yang tidak diikat.
Kakek Wisnu masih fokus menghadap jalanan aspal yang mulai pudar dan berlubang. Kepalanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Sebelum akhirnya bersuara dengan sedikit keras, melawan angin yang menerpa wajahnya.
"Tempatnya ada di kaki bukit. Masih lumayan jauh dari sini." katanya.
Rana mengangguk paham dan memilih diam. Pelukannya pada perut sang kakek dieratkan. Kepalanya menoleh kesana kemari, melihat pemandangan indah yang memanjakan mata.
Ini pertama kalinya dia ikut Kakek Wisnu ke ladang. Biasanya Rana akan menolak ketika pria tua itu mengajaknya. Alasannya karena cuacanya yang panas. Padahal aslinya Rana takut kulitnya berubah menghitam karena tertimpa matahari.
Tapi kali ini Rana setuju untuk ikut karena merasa bosan di rumah. Kondisinya yang sedang datang bulan membuat suasana hatinya gampang berubah. Dan Kakek Wisnu bermaksud untuk menghibur Rana dengan membawanya ke ladang. Melakukan kegiatan yang semoga saja membuat Rana senang.
Sepanjang jalan menuju ladang, hanya beberapa orang yang mereka temui. Kebanyakan para pria berumur dan juga wanita dewasa. Sepertinya mereka juga hendak pergi ke kebun atau sawah mereka.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, Kakek Wisnu akhirnya menghentikan motornya di dekat semak-semak belukar. Rana pikir mereka telah sampai di tujuan. Tapi nyatanya, dia harus berjalan kaki sekitar 500 meter untuk sampai di ladang milik Kakek Wisnu.
"Akhirnya sampai juga." Rana mendesah lega begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah-tengah kebun.
Kakek Wisnu tersenyum kecil sembari meletakkan satu rantang berisi makanan dan capingnya di atas meja kayu."Apa kamu lelah, Rana?" tanyanya ikut duduk di samping gadis itu.
Rana mengangguk sembari mempoutkan bibirnya."Tempatnya jauh banget, Kek. Tapi udara di sini adem. Rasa capeknya jadi berkurang." jawabnya.
"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat saja dulu di sini. Kakek mau memotong rumput liar di sana." ujar Kakek Wisnu sembari menunjuk ke arah gerumbulan pohon jagung yang mulai lebat.
Rana menurut, membiarkan Kakek Wisnu pergi ke tempat yang dia tunjuk. Gadis itu melepaskan cardigan rajut yang semula dia pakai. Menyisakan kaos pendek putih yang melekat di tubuh atasnya.
Keringat yang membasahi tubuhnya mulai surut dan perlahan menghilang. Rana memejamkan matanya, menikmati angin segar yang menerpa wajahnya. Tempat ini benar-benar masih alami dan rindang.
Pondok di kebun milik Kakek Wisnu sebenarnya sederhana. Hanya ada satu ruang kosong yang cukup luas yang kini Rana tempati. Modelnya berbentuk seperti panggung, dengan bagian bawah yang dimanfaatkan sebagai dapur. Rana bisa melihat terdapat tungku dan kayu bakar yang tertumpuk rapi. Ada juga alat masak yang tergeletak di atas rak beserta alat makan dalam jumlah tidak banyak.
Rana menebak sepertinya Kakek Wisnu sering bermalam di pondoknya ini. Karena ada banyak persediaan lilin yang belum terbakar. Juga kasur lipat di pojok ruangan yang tertata rapi.
Merasa sudah cukup beristirahat, Rana memutuskan untuk menghampiri Kakek Wisnu yang hampir tidak terlihat. Dia harus menyibak beberapa pohon jagung agar sampai di tempat sang kakek berada. Beberapa kali daun-daunnya menyentuh kulit Rana. Membuat gadis itu merasa gatal dan mengeluh pelan.
"Kakek." panggil Rana dengan wajah memberengut.
"Loh, kamu ikut ke sini? Kenapa tidak di pondok saja? Di sini banyak nyamuk." kata Kakek Wisnu sedikit terkejut.
Rana menggeleng, memilih mendudukkan dirinya di belakang Kakek Wisnu."Tangan Rana gatal-gatal kena jagung, Kek." keluhnya.
Kakek Wisnu meringis, sembari menghentikan kegiatannya. Tangannya tampak kotor dipenuh tanah merah."Ya begitulah, Rana. Makanya Kakek selalu memakai baju lengan panjang. Ada bulu-bulu halus di daun jagung yang akan membuat gatal jika terkena kulit." jelasnya.
"Tapi kamu tenang saja, gatalnya tidak akan lama. Yang penting jangan digaruk terus agar tidak iritasi." lanjut Kakek Wisnu.
Rana mengangguk paham, sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menggaruk bagian kulitnya yang terasa gatal. Dia memilih untuk membantu Kakek Wisnu mencabuti rumput liar yang tumbuh di sekitarnya. Berusaha mengabaikan rasa gatal yang kadang menghampirinya dengan tiba-tiba.
Selama kegiatannya membersihkan rumput, Kakek Wisnu banyak menceritakan banyak hal pada Rana. Membuat suasana di antara mereka terasa hidup dan hangat. Sesekali Kakek Wisnu juga akan dengan usil melempar Rana dengan rerumputan yang baru dia cabut. Yang akan dibalas oleh Rana dengan hal yang sama.
Mentari hampir saja tenggelam ketika Kakek Wisnu dan Rana menyelesaikan kegiatannya. Keduanya tampak berjalan berdampingan menuju pondok. Pakaian mereka terlihat kotor, terkena noda tanah dan keringat. Begitu juga dengan tangan dan kaki mereka.
Kakek Wisnu menyuruh Rana untuk membasuh tangan dan kakinya lebih dulu di dekat gentong tanah liat berisi air bersih. Sedangkan dirinya mulai membakar kayu bakar untuk memasak air panas. Kakek Wisnu ingin membuat kopi dan juga teh untuk mereka.
Setelah tangan dan kakinya bersih, Rana kemudian naik ke atas pondok. Sebelum pulang, mereka akan makan terlebih dahulu untuk mengisi perut. Rana benar-benar sudah lapar setelah hampir seharian penuh bekerja di ladang.
Suara tangga yang dipijak, menarik perhatian Rana yang tengah sibuk menata makanan di atas meja. Kakek Wisnu datang membawa segelas kopi dan juga teh yang masih mengepulkan asap. Wajah pria tua itu terlihat bersih dan segar.
"Sebaiknya kita segera makan sekarang, Rana. Langitnya mulai mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan." ajak Kakek Wisnu mendudukkan dirinya di seberang.
Rana mengangguk sebagai jawaban, dan ikut duduk di depan sang kakek. Keduanya makan dengan lahap karena rasa lapar dan lelah sehabis bekerja seharian.
Rencananya, mereka akan kembali ke rumah setelah selesai makan. Tapi belum juga menghabiskan makanannya, hujan perlahan mulai turun membasahi tanah dan tumbuhan yang ada di sekitar pondok. Rintikannya terdengar nyaring, mengenai atap-atap pondok yang lapuk.
"Hujan, Kek." seru Rana.
Kakek Wisnu menghembuskan napas berat sebelum mengangguk. Raut wajahnya tampak tidak tenang karena mereka tidak memiliki rencana untuk menginap di ladang. Namun melihat hujan yang turun semakin deras, membuat keduanya semakin terjebak.
"Sepertinya malam ini kita harus menginap di sini." gumam Kakek Wisnu yang masih bisa didengar oleh Rana.
Gadis itu menoleh dengan raut tegang. Pasalnya dia tidak membawa pakaian ganti dan alat mandi apapun."Tapi, Kek.. Rana nggak bawa baju ganti. Masak Rana harus pakai baju ini semalaman?" keluhnya.
"Ada baju bersih milik Kakek di dalam kardus itu, Rana. Kamu bisa memakainya." ujar Kakek Wisnu memberi solusi.
Walau sedikit kesal, Rana akhirnya menghampiri kotak kardus yang Kakek Wisnu tunjuk. Di dalamnya terdapat beberapa lembar baju dan sarung yang tertumpuk rapi. Rana akhirnya mengambil salah satu baju berlengan panjang berukuran besar berwarna hijau pudar.
"Terus Rana harus mandi dimana, Kek? Nggak ada kamar mandi di sini." Rana kembali menghampiri Kakek Wisnu dengan wajah memberengut.
Kakek Wisnu tampak berpikir."Sebenarnya ada sungai kecil di dekat sini. Tapi dalam keadaan hujan seperti ini, tidak mungkin kita ke sana." katanya.
"Yahh.. terus gimana, Kek? Rana udah nggak betah pengen cepet-cepet mandi." Rana mulai merengek, dirinya benar-benar butuh untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.
"Begini saja, kamu mandi di dekat gentong tempat cuci tangan tadi, ya. Airnya pasti sudah penuh karena hujan." ujar Kakek Wisnu sedikit tidak yakin sebenarnya.
Rana terlihat ingin menolak usulan tersebut. Pasalnya tempatnya sangat terbuka, tidak ada penghalangnya sama sekali. Tapi karena dia juga sudah tidak betah dengan keadaan tubuhnya yang lengket, Rana akhirnya terpaksa menurut.
Rana melepaskan seluruh pakaiannya dan menutupi tubuhnya dengan sarung. Gadis itu tidak mungkin mandi dalam keadaan tela-njang bulat di tempat terbuka seperti ini. Belum lagi dia juga akan merasa malu jika sampai Kakek Wisnu melihatnya.
Walau tidak nyaman, Rana tetap menyelesaikan mandinya. Gadis itu lantas melepaskan sarung basah yang tadi menutupi tubuhnya dan berganti dengan handuk lusuh yang tidak begitu lebar. Kain itu hanya bisa menutupi sebagian d**a dan pahanya saja.
"Kek, Rana udah selesai kalau Kakek mau mandi." kata Rana sekembalinya dari bawah.
Kakek Wisnu yang tadinya sedang menata alas untuk tidur mereka seketika menoleh. Netranya membola kala melihat penampilan Rana dalam balutan handuk pendek yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang aduhai. Tanpa sadar, pria tua itu menatapnya tanpa berkedip.
Rana merasa heran tidak mendapat tanggapan dari sang kakek. Gadis itu akhirnya berjalan menghampirinya, menepuk pundaknya pelan."Kek, Rana udah selesai mandi. Kakek nggak mau mandi?" katanya lagi.
Kakek Wisnu akhirnya tersadar dari lamunan joroknya. Pria tua itu menjilat bibirnya yang tiba-tiba kering. Lantas menyusuri tubuh Rana dari ujung kaki sampai rambut dengan pandangan mesoomnya.
"Ka-Kamu sudah selesai ternyata." gumamnya pelan yang masih bisa didengar oleh gadis itu.
"Lebih baik Kakek mandi sekarang aja. Mumpung hujannya masih belum terlalu deras." timpal Rana memberi saran.
Tapi bukan Kakek Wisnu jika langsung menurut. Melihat penampilan Rana petang ini tentu saja tidak ingin pria tua itu lewatkan. Dia ingin kembali merasakan kehangatan gadis itu. Apalagi beberapa hari lalu dia belum sempat melihat gundukan kenyal milik Rana yang membuatnya penasaran.
"Nanti saja, Rana. Kakek masih harus menata tikar ini untuk tempat kita tidur." ujar Kakek Wisnu beralibi. Padahal dia masih ingin berlama-lama melihat cucu seksinya itu.
Rana menggigit bibirnya resah karena itu artinya dia tidak bisa berganti baju sekarang. Padahal dia sudah menahan rasa dingin dan tidak nyaman sejak tadi.
"Kamu sepertinya kedinginan." tebak Kakek Wisnu melihat beberapa kali Rana menggigil.
Rana mengangguk, hendak menyuarakan keluhannya. Tapi tiba-tiba saja Kakek Wisnu menarik tangannya. Membuatnya yang tidak siap akhirnya jatuh terduduk di atas pangkuan pria tua itu.
"Kek.." pekik Rana terkejut.
Kakek Wisnu terkekeh, membelai bahu polos Rana dengan lembut."Kakek akan memberikan kamu kehangatan, Sayang." ujarnya pelan, penuh tipu muslihat.
Rana mulai merasa resah karena rasa asing itu datang lagi. Namun dia tidak menghindar, justru membiarkan Kakek Wisnu menyentuhnya.
Didekapnya tubuh mungil itu dengan erat dari belakang. Sengaja lengannya sedikit menekan bagian d**a Rana. Membuatnya dapat merasakan betapa kenyalnya gundukan itu yang tidak berpenghalang.
"Ini juga bentuk rasa sayang Kakek pada kamu, Sayang." Kakek Wisnu berbisik, tepat di depan telinga Rana. Mengirimkan gelenyar aneh pada tubuh gadis muda itu.
Rana mulai terpancing."Kek.." lirihnya pelan sembari menoleh ke arah pria tua itu.
Tak tahan melihat bibir ranum Rana yang tampak menggoda, Kakek Wisnu akhirnya langsung menyerang gadis itu dengan liar. Mencium bibir Rana dengan rakus, yang dibalas oleh gadis itu dengan tak kalah panas.
"Ahh.. bibir kamu manis sekali, Sayang." erang Kakek Wisnu dengan suara beratnya. Kepalanya kembali menunduk, menciumi bibir ranum gadis muda di depannya.
***