"Emnh.." Rana tampak kewalahan menerima serangan dari Kakek Wisnu. Pria tua itu terlihat begitu bersemangat, sampai-sampai Rana bisa merasakan bibirnya kebas karena dihisap terus oleh sang kakek. "U-Udah, Kek." suara Rana terdengar lirih. Namun tetap dapat didengar oleh Kakek Wisnu. Pria tua itu akhirnya melepaskan tautan bibir mereka. Menarik diri dari Rana yang tampak terengah dengan d**a naik turun. Gairah Kakek Wisnu masih belum padam. Melihat gundukan kenyal milik Rana yang mengintip dari balik handuk kecil yang dia pakai, membuat tongkat saktinya yang berada di bawah sana kian membengkak. "Kamu masih kedinginan, hm?" tanya pria tua itu mengelus sisi wajah Rana. Rana tak menjawab, melainkan menatap Kakek Wisnu dengan pandangan sayu. Hal itu membuat sang kakek menarik sudut bibir

