Gagal Menjerat Calon Imam
“Jan, Jan..”
Fauzan, pemuda yang dipanggil Araya dengan panggilan Ojan itu, mengalihkan atensinya dari mobile game yang sedang ia mainkan.
Pemuda itu mengedikkan dagu, seolah tengah mempertanyakan maksud dibalik pemanggilan namanya.
“Gue mau nanya serius, lo jawabnya juga wajib serius pokoknya.”
“Hmm..” gumam Fauzan, tanda bahwa ia akan melakukan sesuai dengan apa yang sahabatnya minta.
Sembari mencomot keripik kentang hasil jarahannya, Araya, gadis berusia 17 tahun yang baru saja menyuapkan keripik ke dalam mulutnya itu, membuka kembali mulutnya, “menyuyut yo..”
Krauk.. Krauk..
“iype..”
“Si Anjing! Telen dulu ngapa!” Sentak Fauzan yang kesal karena kelakuan ajaib Ayara, pasti akan membuyarkan konsentrasinya. Ia tak mau sampai turun rank, terlebih, saat ini ia sedang menggunakan hero andalannya yang masuk ke dalam 10 MMR tertinggi di Indonesia.
Sentakan Fauzan yang datang bak petir di siang bolong itu kontan membuat Araya tersedak. Tak ayal, ia pun segera menyambar kaleng cola dan menenggaknya cepat.
Huk.. Huk..
Nahas, bukannya merasa lebih baik, soda yang ia minum justru membuat tenggorokan Araya blubuk-blubuk. Gadis itu megap-megap, membuat sahabatnya mau tak mau merelakan matcmaking dan pencapaian hero andalannya.
Setelah berlari cepat untuk mengambilkan segelas air dari dapurnya, Fauzan, pemuda yang sudah 10 tahun menemani segala kegoblokan Araya, mengulurkan gelas ditangannya. “Cepet minum. Nggak asyik kalau lo mati disini, Ay.”
Mendengar itu, mata cantik Araya pun membulat sempurna.
Masa iya sih, hanya karena tersedak cola, ia bisa tinggal nama?
Karena tak ingin mati konyol apalagi disaat ia masih belum bisa mendapatkan label halal dari Om Badainya, dengan cepat, Araya pun menerima gelas pemberian Fauzan.
Eukkk!
Setelah tak menyisakan setetes pun air, gadis itu langsung bersendawa.
Menyadari kenajisannya yang tidak ada anggun-anggunnya, Araya terkekeh dengan sendirinya. Gadis itu menampakkan cengiran lebarnya kepada Fauzan yang menatap jijik ke arahnya.
“Nggak usah nyengir lo. Gara-gara lo gue afk.”
“Yaelah, Jan. Turun sebintang doang. Ntar gue gendong deh.” Ucapnya enteng, padahal selama ini dirinyalah yang selalu menjadi beban untuk tim mereka.
“Mumpung lo udah afk, mending lo fokus ke gue aja.. yang mau gue tanyain penting banget soalnya.”
Fauzan memutar bola matanya, jengah. “Kayak ada yang penting aja di idup lo.” Cibirnya kemudian, karena memang, Araya ini anaknya tidak pernah mementingkan apa-pun yang terjadi di dalam hidupnya.
“Adalah! Om Badai. Dia penting banget keleus.”
Oh, iya, Om Badai, Fauzan sampai lupa kalau ada pengecualian saat menyangkut omnya.
Mendengar nama omnya disebut-sebut, apa yang akan ditanyakan oleh sahabatnya ini, pasti tidak jauh dari perihal adik papanya itu.
Meskipun musyrik, tapi kalian wajib percaya!
“Back to topic ke gue yang pengen nanya yak..”
“Kebanyakan intro lo, Ay. Cepetan! Lo mau nanya apa?”
Ayara menaik-turunkan alisnya. Gadis dengan kaos oversizenya itu, lalu bertanya, “menurut lo, Om Badai sukanya cewek yang kayak gimana?”
Nah kan! Fauzan bilang juga apa. Benar tentang omnya kan?! Sekedar informasi saja, adik papanya itu seorang duda dan si sableng Ayara sudah mengincarnya sejak omnya masih terikat status pernikahan dengan mantan tantenya.
“Jawab weh, jangan diem aja!”
Setelah menatap Araya dari atas ke bawah dan kembali lagi ke kepala anak itu, Fauzan yang sempet mengekeh seolah meremehkan pun, melontarkan balasannya, “Yang pasti sih, yang nggak kayak lo, Ay..”
Sumpah, Fauzan ingin tertawa. Namun apa yang disampaikannya ini fakta. Kata omnya, kalau hanya ada satu wanita di dunia dan itu hanyalah Araya, omnya akan dengan senang hati memperpanjang masa dudanya, bahkan sampai ajal menjemput dirinya.
Entahlah, mungkin Araya memang bukan tipe perempuan yang disukai omnya. Jangankan omnya, ia saja tidak akan mau kalau harus berakhir dengan Araya.
‘Ribet, Cuy! Banyak tingkah emejingnya!’ batin, Fauzan.
Kembali ke topik pembicaraan mereka, Araya yang masih tak percaya pun, mempertanyakan keseriusan dibalik jawaban yang Fauzan berikan padanya.
“Serius?”
Ketika Fauzan menganggukan kepala, pekikan kemurkaannya pun mengudara dengan bebasnya, “Anjing!” Tak lupa, ia juga meloloskan geplakan maut ke kepala Fauzan.
“Gue kurang apa, emang? Bibit, bobot, bebet, semuanya jelas ya! Muka.. Liat! Sebelas dua belas sama Angel..”
Gawat! Disaat seperti ini, otaknya malah tiba-tiba nge-blank. Padahal ia kan sedang membela sekaligus mempromosikan diri ke hadapan calon keponakannya.
“Ang-ngel..” Sayangnya, meski sudah kesulitan untuk menemukan tokoh wanita cantik dengan nama Angel, nyatanya Araya dan otak sejengkalnya masih bersikeras sampai Fauzan menyeletukkan sebuah kata.
“Lelga?”
“Gue catok congor lo ya, Jan! Bisa nggak, ngasih sarannya yang mudaan dikit?!” Amuknya lagi, yang malah sewot dengan bantuan yang diberikan Fauzan ditengah kekrisisan mesin berpikirnya.
“Kalau ngasih saran jangan yang pernah punya skandal!”
“Ya gue taunya itu.” Lontar Fauzan sambil mengedikkan bahunya.
Masih tak terima, Araya pun keukeh. “Ya jangan lo sebut kan bisa! Kayak nggak ada Angel-Angel yang bukan janda aja!”
Disaat kedua remaja itu bersitegang hanya karena sebuah nama, sosok yang menjadi pusat dari pertengkaran mereka muncul.
Seperti namanya, pria berusia 27 tahun itu melaju cepat. Keberadaan seorang gadis di rumah peninggalan kakaknya menjadi satu-satunya alasan mengapa Badai ingin segera melewati ruang keluarga mereka.
“Satu, Dua, Tiga! Yang gerak nikahin Aya sekarang juga!” Teriak Araya dengan tangan memeluk erat-erat Fauzan.
Radar per-Badaian Araya sangatlah kuat. Untuk itulah, Araya memeluk Fauzan agar sang sahabat tak melakukan sedikitpun pergerakan.
Setelah beberapa detik, Araya melepaskan pelukannya.
Gadis itu sudah bersiap untuk menagih hasil dari kekalahan pujaan hatinya. Namun sayang, alih-alih mendapati Badai yang tetap berjalan, Araya justru melihat Badai yang meniarapkan tubuhnya di atas undakan anak tangga.
“OM BADAIIIII!! Aaaaakkkk!!!”