Fauzan menghela napasnya dalam sekali hembusan.
Melihat omnya masih tak bergerak, ia yang merasa kasihan pun, menyambangi pria yang mendadak dang— eh, salah, salah! Mendadak cosplay menjadi tentara perbatasan maksudnya.
“Om, udah, Om.” Ujar Fauzan. Tangannya yang seharusnya menepuk bagian tubuh Badai, terulur hingga melewati kepala omnya itu.
Sebelum mengatakan jika omnya sudah bisa bergerak, Fauzan rupanya lebih dulu menggasak kotak pizza bawaan omnya.
Fauzan yakin, pizza itu pasti akan diselundupkan omnya ke kamar. Kalau sudah begitu, ia yang memiliki tamu agung setengah kuyang ini, kemungkinan besar tak akan mendapatkan bagian selain hanya kotaknya saja.
“Taroh!”
Bukannya melakukan apa yang Badai perintahkan, Fauzan malah bersiul dengan wajah menghindari tatapan maut yang dilayangkan Badai kerahnya. “Du-Duru-Dudu..’’
Grab!
Usai mendapatkan apa yang memang menjadi buruannya, Fauzan pun bangkit berdiri untuk kabur ke satu-satunya sisi yang tak akan mungkin berani omnya dekati.
“Ojan balikin!” Seru Badai yang ikut bergegas bangkit, meninggalkan posisi tiarapnya.
Fauzan kontak melemparkan kotak pizza ditangannya ke pangkuan Araya.
Pendaratan sempurna sebuah kotak kotak pizza membuat si sableng pecinta duda itu tersenyum sangat lebar.
Senyuman tersebut tampak sangat mengerikan dimata Badai. Alhasil, Badai yang tak ingin menambah panjang rasa lelahnya, memilih untuk merelakan cemilan sorenya.
“Bu-Buat kalian aja..” Pria itu lalu kabur. Menapaki cepat anak tangga tanpa pernah mau menoleh kepada penyihir cilik yang sudah memporak-porandakan masa dudanya.
Melihat itu, Araya tentu saja berdecih. Hilang sudah kesempatannya untuk melancarkan aksi melobi agar dinikahi oleh om duda incarannya.
“Jan, kayaknya dugaan gue tentang Om Badai yang lavender married, bener deh. Liat aja tuh! Masa dideketin cewek secakep gue, dianya malah kayak orang dikejar Vexana jaman old.”
Fauzan mencoba menahan tawa yang ingin menyembur dari mulutnya. Kalau tawa itu sampai benar-benar keluar, Araya bukan lagi akan menjadi Vexana sebelum di revamp, melainkan Balmond yang akan melayangkan skill ultimate-nya untuk menggeprek kepalanya.
“Masa iya hompimpa? Apa itu ya alesan yang bikin Tante Maudy nyerein Om Badai?”
Pernikahan yang menurut Araya adem ayem itu tiba-tiba saja kandas. Padahal kan ia masih belum berhasil memelakori hubungan mereka. Kegagalannya jelas tak memiliki andil dalam hancurnya rumah tangga yang sering diganggunya.
‘Gue gangguin juga nggak ngaruh. Bukannya ngamuk, Tante Maudy-nya malah ngakak,’ batin Araya, mengingat kembali respon aneh mantan calon madunya.
‘Anying!’ Ingatan itu justru menguatkan dugaan Araya tentang penyimpangan orientasi laki-laki yang disukainya.
Ya, coba pikir saka! Mana ada suami istri yang bercerai tanpa adanya orang ketiga?! Papinya yang dulu duda saja, bercerai karena istrinya menyeleweng dengan pemilik agensi tempatnya menjadi artis Ibu Kota.
Tanpa adanya pelakor, hubungan mereka harusnya masih berjalan sampai sekarang.
Plak!
“Anjing, Ay! Pedes!” teriak Fauzan yang lagi-lagi mendapatkan kebrutalan padahal ia tak sedang melakukan setitik pun dosa kepada sahabatnya.
Merasa bersalah kepada Fauzan yang telah menjadi sasaran kemarahannya, Araya pun meminta maaf. “Sorry, Sorry.. Gue panik, Jan.”
Dari raut wajahnya, Araya memang terlihat seperti orang yang panik dimata Fauzan.
“Hah? Kok dadakan gini? Lo kan bukan tahu bulat, Ay..” tanya Fauzan serius, sekilas seperti orang benar.
Kalau kalian tanya mengapa Araya dan Fauzan bisa bersahabat, jawabannya tentu karena mereka berada di dalam satu frekuensi yang sama.
Otak keduanya sama-sama kurang se-ons, meski terkadang gejala kurang itu tak bergitu kentara terlihat pada diri Fauzan.
“Sibal!!” tak pelak, Araya pun memaki.
Berharap apa coba ia dari seorang Fauzan. Tidak tiba-tiba dangdut saja sudah alhamdulillah, pikirnya.
Karena pasrah dengan pertemanannya, Araya hanya menatap kasihan hingga kepanikannya pun ikut menular pada diri pemuda itu.
“Se-Serius lo, Ay. Lo panik kenapa?”
“Lo nggak lagi keinget sama kita yang gagal masuk jurusan Bisnis kan?” beruntun, Fauzan bertanya.
Pertanyaan itu kontan membuat kedua mata Araya mengerjap dengan bibir tipisnya yang menganga.
Sial!
Gara-gara ingin menyambut kepulangan calon imamnya, ia jadi melupakan masalah terpenting yang membuatnya sampai tidak berani berdiam diri di rumah mewahnya.
“Tenang, Pren.. Kertas penerimaan jurusannya kan udah kita bakar. Kita pasti aman.” Ucap Fauzan, menepuk-nepuk punggung Araya.
Dua anak ini dasarnya memang tukang lawak. Untung saja Araya naksirnya pada Badai. Kalau perasaan itu jatuh ke Fauzan, dunianya pasti tidak akan baik-baik saja. Khususnya untuk keluarga besar keduanya yang mungkin akan terkena serangan mental sampai-sampai bisa masuk ke liang lahat.
Perlahan, hati keduanya menenang, sampai… BRUAK!! Terdengarlah suara bantingan pintu yang lantas membuat dua anak manusia itu spontan saling berpelukan.
Mendapati jantungnya berdetak kencang, Araya pun mencicit, “K-Kok perasaan gue nggak enak, Jan..”
“Sam-Sama, Ay..” balas Fauzan, yang ternyata merasakan hal serupa dengan apa yang Araya rasakan.
Sedetik kemudian, bantingan keras itu berubah menjadi suara pria yang memanggil murka nama Araya.
“ARAYA DIPRAJA!!”
Mengenali si pemilik suara, Araya pun tercekat. “HIKK!!” Saking takutnya Araya, gadis itu bahkan sampai mengeratkan pelukkan ditubuh sahabatnya.
“OJJaaaaaaan!!”
Hal yang sama pun dilakukan Fauzan kala seseorang berteriak memanggil nama panggilannya.
“Tamat riwayat kita, Ay..” lirih pemuda itu pada akhirnya.
“Aya, dimana kam.. Nah, ini dia anaknya, hahahaha!” Satria, kakak tiri satu ayah Araya, pria itu langsung tertawa evil ketika menemukan batang hidung adiknya.
“Aya..” Awalnya ia memanggil lembut nama sang adik. Namun kelembutan itu sirna, berganti dengan teriakan maha dahsatnya. “MAKSUDNYA FAKULTAS SENI RUPA ITU APA, HAH?!!”
Terkejut dengan apa yang teman sekaligus tetangganya tanyakan, Badai pun menodong Satria dengan, “Dia juga, Sat?”
Mata Satria pun menatap Badai sebelum beralih pada sosok yang menjadi subjek dari pertanyaannya.
“What? Maksud lo juga? Jangan bilang si Ojan di seni rupa juga?!” sentak Satria, bertanya balik dengan nada ngegasnya.
Fauzan yang tengah menjadi topik utama sesaat, tiba-tiba saja berdoa demi keselamatan hidupnya.
“Bapa kami di surga..”
Mendengar itu, pelukan Araya mengendur. “Jan, kita kan islam, Jan. Nyebut, Pe’ak!”
“Pan-Panik gue, Ay..”
“Idih! Sepanik-paniknya ya jangan log out-lah! Ka’bah mana Ka’bah! Ngadep sana buruan!”
Melihat dua anak itu masih bisa asik sendiri padahal mereka para orang tua sedang kebakaran jenggot, Badai dan Satria pun kembali mengolak pita suaranya.
“ARAYA!”
“OJAN!!”
Jeritan pertanda dunia akan runtuh itu membuat sepasang anak manusia yang ditakdirkan untuk bersahabat, melepaskan pelukan ditubuh keduanya.
Sebelum dunia mereka benar-benar runtuh, kedua anak itu bergegas bangkit, dan memposisikan diri mereka ke dalam posisi pertaubatan dengan berlutut sambil menangkupkan telapak tangan di depan d**a.
“Am-Ampun Calon Imam..”
Gemas karena adiknya masih saja melawak, Satria yang tak tahan pun menoyor kepala Araya.
“Bener-bener kamu ya, Ay. Lupain dulu obsesi kamu ke Badai. Sekarang, kamu jawab yang bener dulu pertanyaan dari Abang.”
Araya mengangguk-anggukkan kepalanya keras, membuat rambut panjangnya terkibas ke depan dan belakang.
“STOP!! Nggak usah iklan sampo! Cerita anak durhaka yang bikin Papinya pingsan nggak bisa diangkat jadi iklan.”
Fauzan tertawa saat Araya menghentikan anggukkannya hingga membuat rambutnya menutupi seluruh wajah tengilnya.
“Diem kamu, Jan! Beraninya kamu ketawa padahal nggak ada bedanya sama dia!” amuk Badai yang langsung mengehantikan tawa Fauzan.
“Bener-bener biangkerok ini anak dua. Rapihin rambut kamu yang kayak Vexana jaman old itu, Ay! Abis itu jawab, kenapa dari sekian banyak pilihan, kamu milihnya seni rupa buat jurusan ke-duanya?”
Mendengar suara sang kakak yang melembut, ketakutan di dalam diri Araya pun menghilang. Ia dengan percaya diri menjawab, “Apa lagi kalau bukan buat ngelukis masa depan indahnya Aya sama Om Badai, Bang. Ehehe..” Tak lupa gadis itu juga menyengir lebar dibalik juntaian rambut panjangnya.
“Ka-Kamu, Jan?” Badailah yang bertanya. Saking merindingnya ia dengan jawaban Araya, pria itu bahkan sampai tergagap, hampir menghilangkan suara yang keluar dari tenggorokannya.
“Ojan nggak ngisi, Om.. yang ngisi lembar jurusan Ojan, Aya semua. Katanya ponakan harus nurut sama Tantenya.”
Kali ini Fauzanlah yang mendapatkan toyoran dari tangan Badai. Pria itu benar-benar kesal dengan jawaban yang diberikan keponakannya.
“Si g****k ini! Emangnya dia Tante kamu?! Kapan Om nikah sama perempuan bentukannya kayak dia, Jan?! Kapan?!”
Meskipun Satria suka sakit kepala dengan kelakuan terlewat menguras emosi Araya, tapi sebagai seorang kakak, Satria jelas tidak akan terima jika adiknya direndahkan.
Maka untuk alasan itu, ia yang marah pun, langsung menyerang Badai dengan kalimatnya. “Adek gue kenapa emang, Dai? You think gue mau punya adek ipar tua bangka kayak lo?! Ngimpi aja sono! Ampe dunia kebelah jadi dua juga nggak bakalan gue kasih restu si Aya nikahin lo!”
“Ya lo liat sendiri aja Adek lo kayak gimana, Bro! Dia..” Badai tak sanggup melanjutkan kalimatnya karena gadis yang saat ini menjadi alasan dibalik perdebatan mereka, tengah melayangkan ciuman jarak jauh ke arahnya.
“Liat, Liat!” Paksa Badai membuat Satria memalingkan wajah.
“Heh!! Nggak usah kesurupan kamu, AY!”