Lho, EH?!!

1101 Words
“Aaaak! Nggak mau. Aya nggak mau baliikk!!” Satria melepaskan cengkraman tangannya dari potongan leher kaos oversize Araya. Pria dewasa seumuran Badai itu mengacak rambutnya, merasa kesal sekaligus takjub dengan ajaibnya kelakuan adik kecilnya. “Turun..” Pinta Satria yang belum menyempilkan uranium ke dalam nada suaranya. Araya menggelengkan kepala. Ia tak siap mental kalau harus menghadapi amarah maminya. Meskipun ada papinya yang akan selalu menjadi garda terdepan, pria yang katanya sempat pingsan itu pasti kalah dalam melawan ke-barbaran istrinya. ‘Demi Sempak! Kenapa My Papi harus jadi SSTI,’ jerit batin Araya, tak terima karena papinya termasuk ke dalam golongan suami-suami takut istri. “Hiks!” Araya mengeratkan pelukannya. Gadis yang menemplok mesra pada tiang listrik di depan rumah Fauzan itu, tiba-tiba saja merasa sedih karena dunia menganaktirikan dirinya. “Huwaa, Abang.. Kenapa Om Badai nggak mau sama Aya, waaaa!” Satria lelah. Pria yang ditugaskan untuk menjemput adiknya itu, melambaikan tangannya ke kamera pengawas, pertanda bahwa ia telah menyerah dan gugur dalam akasinya. Tak berselang lama dari itu, gema kemurkaan pun terdengar. “Araya Kusuma Dinataaa!! Turun apa mau Mami doain kesetrum tujuh hari, tujuh malem, Hah?!” Dibelakang Kinara, sang mami— Samhadi Dinata yang tak lain merupakan papi Araya pun berlari cepat untuk menghampiri anak bungsunya. “Aya Sayang, turun ya? ini mau magrib, Ay. Takutnya ada malaikat yang denger omongannya Mami, terus kulit kamu jadi keling kan nggak nice.” Araya memalingkan wajah, menghadap sang papi. Ia menggembungkan pipi sebelum kemudian meledakkan tangis. “Lama!” Tak sabar dengan drama si pembuat onar, Kinara Kusuma yang menganut gaya didik VOC pun menarik paksa tubuh Araya. “Andweee.. Tolong, Tolong! Saya mau diculik! Selamatkan saya dari Ibu Serigala ini. Toloong!!!” Adegan penjemputan pun terselesaikan dengan Araya yang diseret paksa oleh maminya. “Tamatlah sudah. Alkisah Aya.” Dendang Satria, melihat sang adik akhirnya mendapatkan lawan yang seimbang. Sayangnya dendangan itu justru memantik amarah dari pria yang menghadirkan Araya ke dunia. “Gara-gara kamu yang nggak becus nih, Sat. Sebagai hukuman karena udah bikin Mami kamu marah-marah, gaji kamu bulan ini Papi potong 50%.” “Loh, Pi! Nggak bisa gitu dong. Biang keroknya kan Aya, Pi!” Protes Satria sembari mengekori langkah kaki Samhadi “Bukan aku loh yang bikin Mami marah.” “Pi, Papiii..” Merasa tak akan membuahkan hasil jika ia merengek kepada sang papi, Satria pun mengalihkan targetnya kepada satu-satunya manusia yang pastinya dapat menyelamatkan hasil keringatnya. “Mi.. Bulan ini Papi motong gaji Abang lagi.” Mendengar aduan si sulung, Kinara yang tengah menjewer telinga Araya pun melepaskan jewerannya. “Kumat lagi kamu, Pi?!” lontar Kinara sembari menatap tajam suaminya. “Berapa kali Mami bilang, kalau yang salah Aya, ya yang dipotong jatah bulanannya Aya.” “Jangan mentang-mentang Abang bawahannya Papi, Papi terus seenaknya mulu aja ya!” Benar sekali, Pemirsa. Pemotongan gaji Satria bukanlah hal yang baru pertama kali dilakukan oleh papinya. Pemotongan ini sudah terjadi berkali-kali, dan pemicunya sudah tentu adalah the one and only, Araya Kusuma Dinata— adik terbrekelenya sepanjang masa. “Tolong ya, masalah keluarga nggak usah dibawa-bawa ke kerjaan. Rumah ya rumah, kantor, kantor!” imbuh Kinara, tegas sekali. “Kalau Papi masih begini aja…” Bla.. Bla.. Bla.. Disaat sang kepala keluarga tengah mendapatkan kultum akibat tindakan semena-menanya, anggota termuda dari KK mereka justru memanfaatkan momen tersebut untuk melarikan diri. Gadis cantik bernama Araya itu berjalan mengendap, melangkah tenang, lalu berlari sekuat tenaga, keluar dari rumahnya. Dengan nafasnya yang ngos-ngosan, Araya pun meliukkan pinggangnya, menatap daun pintu rumahnya yang ia biarkan tetap terbuka. “Semoga Papi tenang di surga.” Monolognya sebelum kemudian melangkah kembali, berniat untuk menyatroni rumah Fauzan yang tenang dan jauh dari huru-hara para pemiliknya. “Ojan, Yuhuuu!! Aya yang cakep, back!!” Seruan kelewat najis Araya membuat seseorang yang tengah menenggak air minumnya tersedak. “Uhuk, Uhuk!!” Badai, pria itu merupakan makhluk malang yang langsung terbatuk begitu telinganya menangkap suara Araya. Sial! Padahal ia berani keluar kandang karena mengira rumahnya sudah steril dari gangguan si setan cilik yang sukanya memporak-porandakan masa dudanya. “Dosa apa saya? Kenapa cobaan saya harus dia?” Monolog Badai yang melabeli Araya sebagai cobaan terbesar di dalam hidupnya. Menurut Badai, keberadaan Araya sebagai cobaannya bahkan mengalahkan cobaan gagalnya biduk rumah tangga yang ia bangun bersama dengan mantan istrinya. Gadis itu benar-benar cobaan terberat yang eksistensinya ingin sekali Badai lenyapkan. “Weh.. Masya Allah.. Pantesan jantung Aya dugeun-dugeun, ternyata eh ternyata, lagi ditungguin sama calon imam toh. Hehehe-hehe..” Nah kan, belum apa-apa saja sudah minta di-sleding tackle anaknya. “Cie Om Badai, ngeblush..” “Ngeblush Palamu!” lontar Badai, menghardik. Padahal wajahnya memerah karena kesal terhadap eksistensi si setan cilik yang selalu menggentayangi hari-harinya. Dasar Araya-nya saja yang ndablek. Sudah diperlihatkan reaksi sejelas itu, tapi malah dikaburkan dengan hal-hal yang membuat orang menjadi semakin kesal padanya. “Kamu kalau nyari Ojan, dia ada di kamar, lagi video call-an sama Papanya.” “Dih, siapa yang nyari Ojan. Tujuan Aya kesini kan buat ngapelin Om Badai.” Dengan tidak tahu malunya, Araya mendudukkan dirinya disamping Badai. “Om.. Om nggak lagi cemburu sama ponakan sendiri kan?” “Astagfirullah..” Saking tersesatnya pikiran Araya, Badai bahkan sampai melantunkan istighfar. Satu jam saja ia hanya berdua dengan Araya, pintu surga pasti akan terbuka lebar untuk menyambut kehadirannya. “Malah nyebut..” “Ya kamu ngomongnya yang enggak-enggak! Jadi orang jangan aneh-aneh, kenapa!” balas Badai ngegas. Nge-gasnya Badai itu dianggap Araya sebagai suatu defense mechanism, dimana Badai sengaja menyangkal untuk menutupi rasa cemburunya agar tidak terlihat olehnya. Menipiskan bibir, Araya lalu menepuk-nepuk punggung pria yang dicintainya. “Tenang, Om, tenang. Aya sama Ojan pure temenan kok.” Ucapnya santai, membuat Badai menarik nafasnya dalam-dalam. Sudahlah, menghadapi keajaiban pola pikir Araya memang tidak akan pernah ada habisnya. Demi menghemat sumbu nyawanya, ia lebih baik mengunci mulutnya rapat-rapat, lalu kabur secepat mungkin disaat ia memiliki kesempatan. “Btw, Om. Om ada makanan nggak? Aya laper nih. Orang rumah lagi pada war. Mau minta makan kan, jadi sungkan.” Kalau keduanya berada di dalam serial animasi manhwa, tokoh Badai pasti sudah didesain dengan berbagai efek, seperti disematkannya kolom pikiran berisi Badai yang hendak membunuh Araya dengan sekali tebas menggunakan jurus andalannya. .. atau kalau tidak, Badai akan menggunakan cara lain, yaitu dengan menurunkan petir agar nyawa anak itu ikut melayang seperti asap yang mengepul di kepalanya. ‘Nggak sadar banget dia, kalau dia yang bikin orang-orang nge-war.’ Akan jadi apa rumah tangganya jika ia khilaf lalu benar-benar menikahi trouble maker seperti Araya ini, ya? Lho, EH?!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD