Tawaran Big Boss

1319 Words
“Tadi kamu kesini dengan siapa?” Alis Reiner terangkat, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengira akan ditanya soal proyek atau laporan, tapi ternyata bukan. “E… saya diantar oleh tunangan saya, Melinda. Bos,” jawabnya cepat, mencoba terdengar santai. “Kebetulan mobil saya masuk bengkel.” Zico mengangguk pelan, tapi sorot matanya seperti sedang menimbang sesuatu. Zico berkata dalam hati, “jadi namanya Melinda.” Yang tidak Reiner ketahui—di balik tatapan tenang itu—Zico menyadari betul siapa tunangan yang dimaksud. Karena semalam, perempuan itulah yang menabrak mobil mewahnya. Zico menyandarkan tubuhnya di kursi, mengamati setiap reaksi Reiner. “Tunanganmu… dia sering antar jemput kamu ke kantor?” tanyanya santai, seolah hanya basa-basi. Reiner menggeleng. “Nggak juga, Bos. Baru kali ini. Biasanya saya bawa mobil sendiri.” Zico mengangguk pelan, bibirnya membentuk senyum samar. “Cantik, ya?” Nada suaranya ringan, tapi matanya menyimpan sorot lain—sorot orang yang sedang menguji. Reiner tertawa kecil. “Iya, Bos. Saya beruntung banget punya tunangan sepertinya.” Zico menatapnya beberapa detik, lalu memutar kursinya menghadap jendela. “Hmm… perempuan seperti itu memang layak dijaga. Jangan sampai lepas.” Ia tidak menoleh lagi, membiarkan kalimat itu menggantung di udara. Reiner mengangguk, tidak mengerti sepenuhnya maksud bosnya. Ia hanya merasa percakapan ini aneh. Karena tiba-tiba bosnya bertanya tentang tunangannya, Melinda. Sementara itu, di sudut kota, Melinda memarkir mobilnya di bengkel langganan. Bagian depan mobilnya penyok dan lecet akibat menghantam mobil Zico semalam. Pemilik bengkel, Pak Surya, langsung keluar menyambut. “Waduh, Nona Melinda… ini kenapa mobilnya?” Melinda menghela napas, mencoba tersenyum. “Ah, nggak sengaja nyenggol mobil orang, Pak. Tolong beresin secepatnya ya, saya nggak mau ayah saya sampai tahu.” Pak Surya mengangguk, sudah terbiasa dengan permintaan itu. “Bisa, Nona. Tapi… lecetnya lumayan dalam, ganti beberapa bagian.” “Berapapun biayanya, beresin saja,” ujar Melinda cepat. Ia menatap mobilnya yang mulai didorong masuk ke area servis. Dalam hati, ia berdoa semoga tidak ada yang menghubungkan insiden ini dengan dirinya—terutama orang di balik kemudi mobil mewah itu. Hal yang belum Melinda tahu orang itu kini sedang duduk di belakang meja CEO dan ia bos nya Reiner, tunangannya. Sementara itu di perusahaan tempat Reiner bekerja. Reiner keluar dari ruangan CEO dan ia berkata, “dasar bos aneh. Tiba-tiba manggil hanya mau muji Melinda.” Dan di meja kerjanya, Zico memandang layar laptop yang sudah lama terbuka namun tak ia sentuh. Tumpukan berkas di sisi kanan hanya jadi pajangan. Pikirannya tak lagi fokus pada deadline yang menunggu, melainkan pada satu nama yang terus berputar di kepalanya—Melinda. “Harus ada cara untuk mendekatinya,” batinnya. Senyum tipis mengembang di bibirnya saat sebuah ide mulai terbentuk. Zico mencari kontak Melinda yang ia simpan tadi malam. Tanpa pikir panjang ia menelpon dan Melinda langsung mengangkat panggilan itu. “Hallo,” ucap Melinda dari seberang telepon. “Melinda, kamu dimana? Saya Zico, pemilik mobil mewah yang kamu tabrak. Ada yang ingin saya bicarakan tentang kerusakan mobil saya,” ucap Zico. Melinda pun menyebut tempat ia berada sekarang. Saat itu juga Zico berdiri dan keluar dari ruangannya, tujuannya jelas. Menemui Melinda. Langkah Zico terasa ringan siang itu. Ia mengemudikan mobilnya tanpa hambatan, seakan alam mendukungnya mendekati Melinda. Setibanya di depan butik. Dari jauh, ia melihat sosok yang ia pikirkan—Melinda—berdiri di depan sebuah butik, memegang ponselnya sambil sesekali melirik ke arah jalan. “Hai Mel," sapa Zico, nada suaranya terdengar santai. Melinda mengangkat kepala, matanya membesar. “Kamu tahu namaku?” Zico mengangguk, tatapannya turun sebentar ke mobilnya yang terparkir tak jauh, bempernya masih menyisakan bekas kerusakan. “Ngomong-ngomong, soal mobilku yang rusak kemarin… aku rasa kita perlu bicara soal ganti ruginya.” Melinda mengerutkan dahi. “Berapa? Aku akan transfer,” ujarnya cepat. Zico tersenyum lebar, matanya berkilat. “Bukan uang yang aku mau.” Melinda menatapnya curiga. “Lalu apa?” Zico mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya menurun seolah menyampaikan rahasia. “Kamu jadi pacarku saja.” “Hah!” Melinda hampir tersedak udara. “Kamu… bercanda?” Zico menggeleng perlahan. “Serius. Kamu jadi pacarku. Tenang saja, saya sangat kaya. Apapun yang kamu mau, akan kuberikan.” Kata-kata itu menggantung di udara. Melinda terdiam, pikirannya melayang pada pengkhianatan Reiner—lelaki yang ia percayai sepenuh hati namun tega membawa perempuan lain menginap di hotel. Dadanya sesak, tapi juga terbakar oleh rasa ingin membalas. Mungkin… ini kesempatan. Zico menatapnya dalam-dalam, sabar menunggu. “Bagaimana?” tanyanya, suaranya lembut namun penuh tekanan. Melinda akhirnya menarik napas panjang. Diamnya bukan lagi tanda keterkejutan, tapi pertimbangan. Ia tak pegang uang untuk ganti rugi kerusakan mobil Zico. Bisa saja minta pada ayahnya, Andhika tapi ia akan kena marah ayahnya. Melinda menatap Zico cukup lama, seakan menimbang setiap kata yang baru saja ia dengar. “Kalau aku setuju… kita mulai kapan?” suaranya terdengar tenang, tapi ada getaran samar di dalamnya. Zico terangkat alisnya, separuh terkejut separuh senang. “Sekarang juga,” jawabnya tanpa ragu. Melinda tersenyum tipis. “Oke. Aku setuju.” Jawaban itu membuat Zico menatapnya lebih lama. Ia tak menduga Melinda akan menerima secepat itu. “Kamu serius?” tanyanya sekali lagi, memastikan. “Serius,” ucap Melinda mantap, meski di dalam hatinya, ada arus lain yang bergejolak—bayangan Reiner bersama perempuan lain di hotel terus menghantam pikirannya. Kalau Reiner bisa bersenang-senang, kenapa ia harus diam dan meratapi? Tak butuh waktu lama, Zico langsung mengajaknya naik mobil dan mereka meluncur menuju restoran mewah di pusat kota. Sepanjang perjalanan, Zico beberapa kali meliriknya. “Aku penasaran… kenapa kamu mau terima tawaranku?” Melinda mengalihkan pandangan ke luar jendela, menatap kerlip lampu kota. “Karena aku mau mencoba sesuatu yang baru,” jawabnya singkat. Zico mengerutkan dahi. “Sesuatu yang baru? Atau… seseorang yang baru?” Melinda hanya tersenyum samar tanpa menatapnya. “Mungkin… dua-duanya.” Zico tertawa kecil, ia tahu jika Melinda sudah punya tunangan. Ia penasaran kenapa Melinda tetap menerima permintaannya jadi pacar. Namun, saat itu ia memilih untuk menikmati waktu yang baru saja ia dapatkan. Ia tidak keberatan jadi selingkuhan. “Selama ini aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Jadi Melinda juga akan aku dapatkan,” ucap Zico dalam hati. Ketika mereka tiba di restoran, Zico menarik kursi untuk Melinda seperti seorang gentleman. “Apapun yang kamu mau, tinggal bilang.” Melinda menatapnya sejenak, bibirnya melengkung. “Hati-hati. Kalau aku minta terlalu banyak, jangan menyesal.” Zico tersenyum tipis. “Aku sudah bilang, aku sangat kaya. Melinda.” Melinda bertanya, “darimana kamu tahu namaku?” “Dari seseorang. Kamu akan tahu nanti. Kita fokus ke makan siang kita ya!” Pinta Zico. Melinda pun mengangguk. Keduanya pun mulai memesan makanan, dan menikmati hidangan banyak hal yang Zico tanyakan. Termasuk bertanya kenapa Melinda tidak membawa mobil dan Melinda menjelaskan jika mobilnya sedang diperbaiki karena ia tak mau ayahnya tahu jika ada lecet di mobilnya.. zico pun mengerti dan berkata, “aku yang akan bayar biaya perbaikannya.” “Sungguh?” Tanya Melinda tak percaya. Zico menjawab, “sudah ku katakan sejak awal, aku ini sangat kaya Nona Melinda.” Melinda pun tersenyum. Ia berkata dalam hati, “royal sekali om om ini.” Keduanya pun makan siang bersama. Tak banyak yang mereka bicarakan. Tapi Zico beberapa kali menatap Melinda dengan penuh minat. Usai makan, Zico mengantarkan Melinda pulang. Mobilnya melaju pelan menembus jalanan kota yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya ke wajah Melinda yang terlihat lebih tenang daripada saat pertama mereka bertemu. Namun, Zico masih menyimpan rasa ingin tahu. Tentang kejujuran Melinda. Ia melirik sekilas ke arah perempuan di sebelahnya. “Melinda… apa kamu punya pacar selain aku?” Melinda tersenyum tipis, pandangannya tetap lurus ke depan. “Ya… tapi dia selingkuh,” jawabnya datar. “Dia bawa perempuan menginap ke hotel. Aku pura-pura nggak tahu.” Zico menahan tawa kecil, tapi sudut bibirnya terangkat. “Reiner, ya, pacarmu?” Melinda sontak menoleh tajam, matanya menyipit penuh curiga. “Kok kamu tahu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD