Terus Digoda

1178 Words
Zico tersenyum santai, seolah informasi itu bukan hal besar baginya. “Reiner karyawanku. Aku CEO di perusahaan tempat dia kerja.” “Hah?” Melinda membelalak, tubuhnya sedikit menegak. “Kamu… bosnya Reiner?” Zico mengangguk pelan, menatap Melinda “Sekarang, kamu mengerti kan… kalau aku bilang aku bisa memberikan apapun yang kamu mau, itu bukan sekadar omong kosong.” Melinda terdiam, otaknya mulai merangkai potongan-potongan fakta yang baru saja ia dengar. Ada sesuatu yang terasa berbahaya… sekaligus menarik dalam diri lelaki ini. Mobil terus melaju, dan siang itu menjadi awal dari permainan yang jauh lebih rumit dari yang Melinda bayangkan. Mobil berhenti tepat di depan rumah Melinda. Melinda membuka pintu, lalu menatap Zico sejenak. “Terima kasih sudah mengantar,” ucapnya singkat. “Apa kamu tak mempersilahkan aku masuk dulu?” Tanya Zico sambil tersenyum. “Tidak.” Jawab Melinda singkat. Ia lalu berbalik dan masuk ke dalam rumah. Tapi sikap Melinda yang cuek seperti itu membuat ia semakin suka. “Jual mahal sekali dia. Tapi dia sudah jadi pacarku sekarang,” ucapnya kemudian. Perlahan, Zico melajukan mobilnya kembali ke jalan utama. Jemarinya mengetuk-ngetuk setir, dan senyum samar muncul di bibirnya. “Ini gila…” gumamnya, suaranya nyaris tertelan deru mesin. Pikirannya melayang pada fakta, Melinda, perempuan yang kini ada di hatinya, adalah tunangan Reiner—karyawannya sendiri. Zico menggeleng kecil, seolah tak percaya. “Aku berhubungan dengan gadis yang sudah bertunangan dengan karyawanku… dan aku jadi selingkuhan.” ia terkekeh lirih. “Tapi gimana lagi? Aku suka sama dia.” Setelah menempuh perjalan cukup jauh. Roda mobil mewah milik Zico berputar mulus memasuki gerbang besi otomatis yang perlahan terbuka. Hingga mobil berhenti di depan rumah mewah bergaya modern dengan dinding kaca besar. Mesin mobil dimatikan Begitu masuk, ia disapa keharuman ruangan yang tertata rapi. Ia melangkah ke kamarnya yang ada di lantai atas lalu masuk ke kamar mandi. Air mengalir membasahi tubuhnya, membawa pergi sisa lelah dan aroma jalanan. Beberapa menit kemudian, Zico keluar dengan hanya mengenakan kaos tipis dan celana santai. Ia menuju ranjang yang luas, tirai jendela terbuka memperlihatkan taman belakang rumahnya. Sore harinya di rumah Melinda. Di kamarnya yang bernuansa putih dan pink Melinda memikirkan makan siangnya tadi dengan Zico. “Bodoh sekali. Aku tadi menerima jadi pacarnya Zico? Ya ampun. Apa yang aku pikirkan tadi? Hanya karena menabrak aku jadi selingkuh seperti ini? Apa bedanya aku dengan Reiner.” “Ah pusing!” Seru Melinda tak habis pikir pada dirinya sendiri. Malam harinya Zico berbaring di atas ranjang kamarnya, namun matanya tak kunjung terpejam. Pikirannya kembali pada wajah Melinda. Senyum tipis muncul di bibirnya. “Melinda… kamu akan jadi milikku. Seutuhnya,” gumamnya pelan. Zico mulai menyusun rencana di kepalanya. Ia tahu harus bergerak pelan, menyingkirkan Reiner dari hati Melinda, sambil membuat Melinda semakin nyaman bersamanya. Pertemuan ‘kebetulan’ berikutnya dan sedikit sentuhan perhatian yang tidak mungkin Reiner berikan. Baginya, ini bukan sekadar permainan. Ini adalah misi. Dan malam itu, di kamar mewahnya, Zico resmi memutuskan: ia akan menjalin hubungan dengan Melinda… tanpa sepengetahuan tunangannya sendiri. Lampu kamar dipadamkan, tapi senyum licik itu masih melekat di wajahnya. Sinar matahari pagi menembus tirai tipis kamar Zico, membuatnya mengerjap pelan. Jam di nakas menunjukkan pukul enam. Dengan rambut masih sedikit berantakan dan suara serak khas baru bangun tidur, Zico meraih ponselnya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mencari nama Melinda di daftar kontak. Jarinya menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum suara lembut di seberang menjawab. “Halo?” Zico tersenyum, memejamkan mata sejenak. “Sayang… sedang apa?” suaranya rendah dan hangat, nyaris seperti bisikan. Di ujung sana, Melinda terdiam sepersekian detik. Ia yang baru bangun kaget dengan panggilan sayang dari Zico. “baru bangun.” “Oh pacarku baru bangun. Kamu adalah orang yang aku pikirkan saat aku bangun,” ucap Zico santai, meski di dalam hatinya ia menikmati setiap reaksi yang akan keluar dari mulut perempuan itu. Melinda menghela napas kecil. “sudah dulu. Aku mau mandi.” Zico tersenyum makin lebar, tatapannya menerawang ke langit-langit kamar. “Nanti sore. Kita jalan lagi, sayang.” Melinda menolak dengan keras, “tidak bisa. Aku ada acara keluarga.” Setelah itu panggilan diputuskan Melinda. Zico menatap layar ponselnya, “aku akan terus mengejarmu, Nona.” Suatu pagi, di akhir pekan. Sinar matahari menembus tirai tipis kamar Melinda. Ia baru saja selesai sarapan ketika ponselnya berdering. Nama Zico muncul di layar. “Pagi, sayang,” suara Zico terdengar hangat dan penuh energi. Melinda singkat. “Pagi.” “Aku di depan rumahmu,” jawabnya santai. “Hah?” Tanya Melinda. “Ayo ikut aku sebentar. Aku mau nunjukin sesuatu.” Melinda sempat ragu, tapi rasa penasaran mengalahkan logikanya. Ia keluar, dan di sana Zico sudah menunggu dengan mobilnya yang mengkilap. “Cepat, masuk,” katanya sambil membuka pintu. Melinda pun menuruti permintaan Zico. Ia penasaran apa yang akan ditunjukan pria itu. Melinda pun menurut. Ia berharap ibunya tidak menyadari kepergiannya. Mereka melaju menuju sebuah taman indah di tepi danau. Udara pagi yang sejuk dan suara burung membuat suasana terasa tenang. Zico membawakan segelas kopi hangat untuk Melinda. “Kenapa bawa aku ke sini?” tanya Melinda sambil duduk di bangku kayu. Zico menatapnya lama, seolah menembus pikirannya. “Karena aku mau kamu tahu, di dunia ini masih ada laki-laki yang bisa menghargaimu. Yang nggak akan buang-buang waktunya buat orang lain saat sudah punya kamu.” Melinda terdiam. Kata-kata itu menghantam hatinya, mengingatkan pada luka yang masih segar. Dan entah kenapa, ia mulai merasa nyaman berada di dekat Zico… terlalu nyaman. Disisi lain di sebuah ruangan karaoke yang remang-remang, Reiner duduk berdekatan dengan seorang perempuan bergaun ketat. Musik pop berdentum, namun tawa mereka terdengar lebih keras. Reiner merangkul pinggang perempuan itu, membisikkan sesuatu yang membuatnya terkikik. Mereka saling menatap, lalu bibir mereka bertemu dalam ciuman singkat yang berlanjut pada pelukan mesra. Bagi Reiner, pagi itu hanyalah hiburan. Tanpa ia sadari, di waktu yang sama, tunangannya sedang membiarkan hatinya terbuka sedikit demi sedikit… untuk pria lain. Setelah dari danau, Zico mengajak Melinda ke sebuah Cafe. Zico dengan santai mencondongkan tubuhnya. Jaraknya begitu dekat hingga Melinda bisa merasakan aroma parfumnya. “Aku senang kamu mau keluar lagi sama aku,” ucap Zico sambil menatap matanya lekat-lekat. Melinda menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangan. “Jangan bikin aku terbiasa, Zico…” suaranya pelan, nyaris seperti peringatan untuk dirinya sendiri. “Kenapa? Aku cuma mau ada di dekat kamu,” jawab Zico, senyumnya tulus tapi matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Perlahan, Melinda sadar bahwa jarak di antara mereka semakin tipis—bukan hanya secara fisik, tapi juga di hatinya. Ia seharusnya tidak merasa seperti ini. Ia sudah bertunangan. Namun entah kenapa, bersama Zico ia merasa dihargai… sesuatu yang tak lagi ia dapatkan dari Reiner. Beberapa bulan terakhir. Bahkan setelah bertemu Zico ia lupa harus membuktikan perselingkuhan tunangannya itu. Siang harinya mobil Zico tiba di rumah Melinda. Dan Melinda keluar setelah Zico membukakan pintu. “Sampai jumpa lagi sayang,” ucap Zico sambil berdiri di samping mobilnya. Melinda hanya mengangguk. Dan berjalan ke arah pintu. Melinda membuka pintu rumahnya dan ia kaget melihat siapa yang ada di ruang tamu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD