Peringatan Keras!

1064 Words
Melinda membuka pintu rumahnya dan ia kaget melihat siapa yang ada di ruang tamu. Rupanya ibunya, Anne sudah ada di ruang tamu. “Melinda,” ibunya mulai bicara, “kamu itu sudah tunangan dengan Reiner. Kamu jangan dekat dengan lelaki lain. Kamu paham?” Melinda menunduk, jemarinya meremas ujung rok. Dalam hatinya ia ingin sekali berkata, “Bu, Reiner selingkuh. Dia bawa perempuan lain ke hotel.” Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ia belum punya bukti yang bisa membuat ibunya percaya. “Iya, Bu… aku paham,” jawabnya lirih, meski hatinya berteriak. Ibunya menghela nafas panjang. “Tolong jaga sikapmu. Ibu nggak mau dengar kabar yang memalukan.” Melinda mengangguk, tapi begitu ibunya meninggalkan ruangan, matanya menerawang kosong. Tapi ia punya tekad harus punya bukti perselingkuhan Reiner. Malam harinya, kamar Melinda remang. Hanya cahaya ponsel yang menerangi wajahnya ketika ia duduk bersandar di ranjang. Pikirannya terus berputar, memutar ulang ucapan ibunya sore tadi dan bayangan Reiner bersama perempuan lain di hotel. Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Zico. (Zico: Sayang, kamu sudah tidur?) ( Zico: Kalau belum, aku cuma mau bilang… aku senang banget bisa habiskan waktu sama kamu hari ini.) Melinda menatap layar cukup lama. Ia hanya membaca pesan itu ia enggan membalas. Walaupun Zico sangat agresif Melinda belum memberikan hatinya pada Zco, bos tunangannya. Layar kembali bergetar. (Zico: Kalau aku boleh jujur… aku nggak sabar ketemu kamu lagi. Rasanya kangen itu nggak butuh waktu lama.) Melinda menghela napas, menutup mata sejenak, meletakkan ponsel di pangkuan, lalu ia membuka matanya menatap ke arah jendela. “kepada om-om itu sangat agresif sekali.” “Ah daripada aku mikirin om-om itu lebih baik aku fokus pada pencarian bukti perselingkuhan Reiner biar aku bisa lepas dari dia,” pikir Melinda kemudian. Keesokan sorenya itu, Melinda berangkat dari rumahnya untuk menjalankan rencana yang sudah ia pikirkan. Ia tahu Reiner biasanya pulang dari kantor pukul empat sore, jadi ia memarkir mobilnya di seberang kantor tunangannya itu, cukup jauh agar tak terlihat, namun masih bisa memantau. Tak lama, Reiner keluar, berbicara singkat dengan seorang rekan, lalu masuk ke mobilnya. Melinda menyalakan mesin dan mulai mengikuti, menjaga jarak aman. Jantungnya berdegup lebih cepat setiap kali lampu lalu lintas berubah. Perjalanan membawa mereka keluar dari pusat kota, menuju sebuah kawasan hiburan yang penuh kafe dan karaoke. Reiner memarkir mobil di depan sebuah gedung karaoke eksklusif. Dan di sana… seorang perempuan bergaun merah seksi sudah menunggunya. Melinda meremas kemudi, rasa marah bercampur sedih membuncah. “Akhirnya aku lihat sendiri…” pikirnya. Tapi ia tahu, melihat bukanlah cukup—ia butuh bukti. Ia meraih ponsel, bersiap mengambil foto dari kejauhan. Namun tiba-tiba suara ketukan di kaca jendela mobilnya membuatnya tersentak. Melinda menoleh—dan matanya langsung membesar. “Zico?” serunya kaget begitu menurunkan kaca. Zico berdiri di sana dengan kemeja santai, alisnya sedikit terangkat. “Melinda? Kamu ngapain di sini?” Melinda cepat-cepat menoleh ke arah gedung karaoke, tapi ternyata Reiner sudah pergi dengan wanita seksi itu. “Aku hanya mengantar teman,”jawab Melinda sekenanya. Melinda heran kenapa tiba-tiba Zico ada di sana. “Oya? Aku merasa curiga kamu berbohong,” tebak Zico. Melinda masih mencoba mencari alasan yang masuk akal, tapi Zico tidak berhenti menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Ia akhirnya menghela nafas panjang. “Zico… aku—” Belum sempat ia melanjutkan, pintu gedung karaoke itu terbuka. Reiner keluar sambil tertawa lepas, tangannya melingkar santai di pinggang perempuan bergaun merah yang tadi menyambutnya. Cahaya sore menyorot jelas wajah keduanya—terlalu dekat, terlalu intim untuk disebut hanya teman. Zico secara refleks menoleh ke arah itu. Tatapannya mengeras. “oh kamu lagi membuntuti Tunanganmu?” Melinda menutup mata sejenak, seperti mencoba menahan rasa sakit yang tiba-tiba membanjiri dadanya. “Iya…” jawabnya. Minda mengambil beberapa foto Reiner yang sedang menggandeng wanita seksi itu. Zico kembali melihat Reiner yang kini membantu perempuan itu masuk ke mobil. “Dan itu… jelas bukan kamu.” Melinda tersenyum pahit. “Makanya aku ada disini. Aku sudah curiga berbulan-bulan, dan… sekarang aku punya buktinya.” Ia mengangkat ponselnya, memperlihatkan foto yang baru saja ia ambil. Tangannya sedikit bergetar. “Sudahlah jangan pedulikan dia lagi, lebih baik kamu nikah sama aku saja,” ujat Zico. Zico berjalan santai ke arah pintu mobil Melinda. Tanpa banyak basa-basi, ia membuka pintu penumpang dan masuk. Melinda yang duduk dibalik kemudi mengerutkan dahi. “Kamu ngapain masuk ke mobilku?” Zico memasang wajah tak bersalah. “Antarin aku ke bengkel. Mobilku lagi masuk bengkel.” Melinda menghela napas, menatapnya dengan tatapan setengah malas. “Kenapa nggak naik taksi atau minta sopirmu?” Zico tersenyum lebar, menyandarkan punggung ke jok. “Karena aku mau sama kamu. Ayolah… kamu kan calon istriku.” Melinda melebarkan matanya. “Calon istri?” “Kita kan sudah pacaran sejak kemarin. Lagian juga Reiner dia sudah selingkuh. Apa lagi yang kamu harapkan darinya, sayang?” Tanya Zico. Melinda membuang nafasnya kasar. “Bengkelnya dimana?” Tanya Melinda akhirnya. Tak mau terus berdebat dengan Zico. “Dekat sini,” jawab Zico santai. “Tapi tenang, perjalanan kita bakal seru. Aku janji nggak akan bikin kamu nyesel nganterin.” Melinda meliriknya sekilas. Tanpa menjawab. Zico hanya tersenyum, tatapannya tidak pernah lepas dari Melinda sepanjang mobil melaju. Ada sesuatu dalam senyumnya—campuran rasa percaya diri dan kepuasan—seolah rencana besarnya sedang berjalan tepat seperti yang ia mau. Mobil melaju pelan di jalanan yang mulai padat. Melinda menggenggam setir sedikit lebih erat dari biasanya, matanya fokus ke depan, tapi pikirannya berputar-putar. Sejak tadi, rasa kesal terus mengganjal di dadanya. Ia sudah menunggu di dekat karaoke, berharap bisa membuntuti Reiner sampai dapat bukti lebih banyak. Tapi lelaki itu bergerak cepat, berpindah tempat tanpa memberi celah. Akhirnya ia kehilangan jejak. Zico yang duduk di sebelahnya melirik sekilas. “Kamu kelihatan murung. Apa yang kamu pikirkan?” Melinda menghela napas dalam, lalu menggeleng pelan. Aku udah hampir dapat apa yang aku mau. Tapi kamu datang menghancurkan rencanaku.” “Apa yang kamu mau?” tanya Zico, nadanya ringan tapi matanya penuh rasa ingin tahu. Melinda menahan diri. “Bukan urusanmu,” jawabnya singkat, meski hatinya tahu Zico pasti bisa menebak. Zico tersenyum tipis, seperti sudah mengerti arah pikirannya. “Kalau yang kamu maksud Reiner, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Lupakan dan tinggalkan dia dan hiduplah bersamaku.” “Aku ini sangat kaya Nona Melinda. Aku bos pacarmu,” ucapnya sombong. Melinda menepikan mobilnya dan mengatakan hal yang membuat Zico kaget.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD