“Kamu belum lihat pemandangan dari sisi lain bukit ini. Ada spot bagus untuk foto.” Melinda menghela napas. “Zico, aku harus—” “Aku janji nggak lama,” potong Zico, senyumnya seperti senjata. “Anggap saja… bonus makan siang ini.” Mereka berjalan melewati jalan setapak berlapis batu, menuju tepi bukit. Dari sana, terlihat hamparan kota dengan langit yang mulai berubah oranye. Zico berdiri di belakang Melinda, jaraknya cukup dekat untuk membuatnya sadar akan kehadirannya. “Kamu tahu…” ucap Zico pelan, “aku sudah membayangkan momen seperti ini. Kamu dan aku. Tenang. Tanpa gangguan. Dan kalau boleh jujur… aku mau ini terjadi lebih sering.” Melinda menatap jauh ke cakrawala, berusaha mengabaikan degup jantungnya. “Kita cuma makan siang, Zico. Jangan berharap lebih.” “Tapi siapa bilang kita

