Tak Peduli

707 Words
Meeting akhirnya selesai. Suasana ruangan yang tadi tegang perlahan mulai mencair. Beberapa staf sudah mulai beranjak, ada yang menenteng dokumen, ada yang menyiapkan laptop untuk rapat berikutnya. Lampu proyektor dimatikan, dan aroma kopi dari pagi tadi perlahan memudar. Namun Kenan sama sekali tak terdorong untuk ikut bersenang-senang. Ia hanya ingin menghilang, kembali ke dunianya sendiri yang sepi dan tertutup. Tapi, sebelum ia sempat melangkah keluar, suara berat kakaknya terdengar dari balik kursi panjangnya. “Kenan, antar Jessica dan managernya ke bawah.” Kenan berhenti, kaget. Dadanya sedikit berdegup. Matanya menoleh ke arah Jessica yang masih berdiri santai di dekat pintu, tatapannya netral, menunggu perintah yang… seharusnya tidak datang padanya. “Aku…?” Kenan menunjuk ke arah dirinya sendiri, nada suaranya setengah tidak percaya. “Kakak ada meeting lain, jadi nggak bisa nganter,” jawab Bella, nada tegas tapi praktis, seperti biasa. Kenan mendengus pelan. “Apa susahnya sih, Ken? Anter ke bawah doang,” gumam Ariko sambil menatap tajam. Kenan menghela napas panjang, menunduk sebentar. Tidak ada ruang untuk menolak. “Baik, saya antar ke bawah,” ucapnya datar, meski hatinya memberontak. Jessica dan Tia, mengikuti Kenan tanpa banyak bicara. Jalan mereka sunyi, hanya suara langkah kaki di lantai marmer yang terdengar. Kenan berjalan di depan, sikapnya profesional, wajahnya tetap datar. Jessica berdiri tepat di belakangnya, matanya selalu mengamati setiap gerakan, namun ia tidak mencoba untuk mengobrol. Sepanjang perjalanan ke lift, hanya ada satu suara yang memecah hening. “Kalau untuk pemotretannya nanti di lantai berapa, Pak?” tanya Tia dengan nada sopan. “Lantai 13,” jawab Kenan singkat. Ia menoleh sekilas ke arah Jessica. “Mungkin sebelum ke bawah, saya tunjukkan dulu ruangannya.” Jessica mengangguk, matanya tetap tenang, ekspresinya datar seperti biasa. Ketika mereka tiba di ruang brainstorming lantai 13, Kenan berhenti di depan dinding kaca yang penuh post-it warna-warni dan papan konsep. Ia menunjuk perlahan, menjelaskan. “Nah, di sini tim marketing dan kreatif biasanya brainstorming. Semua ide awal untuk campaign, termasuk visual dan konsep pemotretan, lahir dari sini.” “Buat iklan juga di sini?” tanya Tia penasaran. “Iya. Termasuk ide buat campaign yang akan kamu ikuti,” Kenan menambahkan, menatap sekilas ke arah Jessica. “Produk Home Seazon juga nantinya akan pakai kamu sebagai brand figure. Konsep visualnya soft-luxury, targetnya market premium kelas urban.” Jessica untuk pertama kalinya tersenyum kecil. Senyum itu halus, hampir tidak terlihat, tapi cukup membuat Kenan sedikit tersentak. “Saya nggak nyangka Bapak Kenan bisa menjelaskan semua ini dengan… rapi,” kata Jessica dalam Bahasa Indonesia yang agak terbata, tapi cukup jelas. Kenan menatapnya sekilas, tanpa ekspresi. “Saya kerja di sini. Tentu saya harus ngerti bagian dalamnya,” jawabnya singkat, nada tegas tapi bukan kasar. Jessica mengangguk pelan. Senyumnya tetap ada, tapi Kenan tidak terlalu memperhatikannya. Baginya, fokus tetap pada profesionalisme. Tapi diam-diam, Jessica mulai mengakui dalam hatinya, Kenan memang berbeda dari pria lain yang pernah ditemuinya. Tidak sok akrab, tidak terlalu ramah, dan paling penting… ia profesional. Setelah selesai menjelaskan, Kenan menoleh ke arah mereka. “Kalau tidak ada yang mau ditanyakan, saya antar ke bawah.” “Tidak, cukup,” jawab Tia mewakili. Kenan mengangguk, lalu berjalan lagi menuju lift, diikuti Jessica dan Tia. Lift menunggu mereka, pintunya terbuka dengan suara lembut. Kenan menekan tombol lantai dasar, dan selama perjalanan ke bawah, suasana tetap hening. Hanya suara dentingan lift dan detak sepatu mereka di lantai metalik yang terdengar. Kenan membuka ponselnya, membaca ulang pesan terakhir dari Marsha. > Jam 7 malam. Restoran Ronin. Lantai 2, dekat lounge. Sendiri.” Ia menarik napas panjang, mengusap wajahnya. Dadanya terasa sesak. Semoga ini bukan penyesalan kedua, batinnya. Jessica diam-diam memperhatikan Kenan. Ia memperhatikan cara pria itu berdiri, bahu tegap meski tampak gelisah, tangan yang sesekali mengetuk layar ponselnya, dan garis rahangnya yang tegang. Meskipun ia tidak tahu masalah apa yang sedang menimpa Kenan, ia bisa merasakan kegelisahan itu—dan entah kenapa, rasa ingin tahu muncul dalam hatinya. Lift berhenti di lantai dasar. Pintu terbuka, udara sejuk menyambut mereka. Kenan berjalan di depan, membuka pintu untuk Jessica dan Tia. "Terima kasih pak Kenan, sampai bertemu di kesempatan lain." Tia tersenyum diikuti Jessica meskipun dia kini fokus ke arah Mobil yang sudah datang siap membawanya pergi. "Sama-sama, hati-hati dijalan." Kenan berusaha ramah. To Be Continued…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD