Hilang Fokus

824 Words
Ruang meeting lantai sembilan sudah dipenuhi suasana formal sejak tadi. Proyektor menyala, layar putih menampilkan logo SEAZON GROUP, sementara beberapa staf mondar-mandir menyiapkan presentasi. Namun fokus ruangan itu langsung terpecah saat pintu terbuka. Dua pasang mata di ujung meja—Bella Aura Seazon dan Ariko Muchler Seazon—serempak menoleh. Kenan masuk dengan langkah malas. Rambutnya rapi setengah niat, jas hitam dikenakan seadanya, dan dasi masih menggantung tak presisi, meski Alex tadi sudah berulang kali mencoba merapikannya. “Tumben masih inget ruang meeting,” sindir Bella sambil menyeruput kopi. Tatapannya tajam, senyumnya tipis—tipikal kakak yang galak setengah mati tapi sesungguhnya paling protektif. Kenan menarik kursi dan duduk. “Kenapa? Kangen?” “Enggak juga.” Bella menyilangkan kaki. “Cuma penasaran berapa lama kamu bisa nahan diri buat nggak ribut sama Papa.” Kenan mengangkat alis, hendak membalas, tapi suara berat Ariko lebih dulu masuk. “Kamu udah dewasa, Ken.” Nada Ariko tenang, tapi tegas. “Kamu harus bisa bedain mana urusan pribadi, mana profesional. Papa bener. Perjodohan ini nggak seburuk yang kamu pikir.” Kenan menoleh cepat. “Jadi Kakak setuju?” “Kalau itu bisa memperkuat nama keluarga ini, kenapa nggak?” Ariko duduk tegak, posturnya seperti pemimpin yang terbiasa mengambil keputusan besar. Kenan mendengus pelan. “Hebat. Semua hal di hidup aku bisa dijadiin strategi bisnis.” Sebelum debat itu berubah lebih panas, pintu kembali terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah santai tapi terukur. Rambut coklat panjangnya terurai rapi, mata coklat hangat dengan tatapan tenang, dan senyum sopan yang tak berlebihan—kelasnya terasa. Blus putih elegan dipadukan dengan celana kain krem, profesional tanpa terlihat kaku. Kenan sekilas melirik. Wajah itu… familiar. Tapi ia tak ingat di mana. “Oh, akhirnya kamu datang juga,” sapa Bella sambil berdiri dan memeluk wanita itu singkat. “Maaf, tadi kejebak macet parah,” jawab wanita itu ringan. Ariko ikut berdiri, menyalami dengan ramah. “Makasih ya udah datang, Sica.” Kenan hanya mengangguk sekilas. Tak tertarik. Tak berusaha mengingat. Pikirannya sedang di tempat lain. Hingga Ariko berkata, “Ken, kenalin. Ini Jessica Diandra Alderald." Hening. Kenan menoleh sebentar. Tatapannya singkat, dingin. Ia mengangguk tipis tanpa sepatah kata, lalu kembali menunduk ke ponselnya. Di layar itu, satu nama masih bertahan—Marsha. Pesannya belum dibalas. Aku cuma mau bicara. Kita nggak harus balik. Aku cuma… pingin ngerti kenapa kamu nyerah. Kenan mengetik cepat, lalu menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi. Jessica menangkap gestur itu tanpa komentar. Tatapannya netral, nyaris dingin. Meeting pun dimulai. Ariko berdiri di depan layar. “Seazon Group akan membuka divisi baru: Seazon Food. Lini kuliner premium yang akan kita bawa ke pasar internasional. Target awal: Asia Tenggara, lalu mulai ke negara Eropa.” Bella mengambil alih. Slide berganti, menampilkan konsep visual. “Brand ini bukan sekadar makanan. Ini gaya hidup. Image-nya harus eksklusif, clean, dan relatable untuk pasar global.” Kenan diam. Fokusnya masih di layar ponsel. Hingga notifikasi masuk. Marsha: Aku nggak mau kamu jemput. Jam 7 malam. Restoran Ronin, lantai 2, dekat lounge. Cuma sebentar. Aku nggak mau drama. Dadanya terasa sesak. Kenan menatap layar cukup lama. Pertemuan itu nyata. Malam ini. “Kenan?” Tak ada respons. “KENAN.” Bella menaikkan suara. Alex langsung menyikut lengan Kenan. "Bro. Fokus. Lu disebut.” Kenan mengangkat wajah. “Hah?” Bella menatapnya serius. “Kita mau kamu pegang proyek Seazon Food.” Ruangan hening sejenak. Kenan masih tak bereaksi. “Dan,” Bella melanjutkan, suaranya mantap, “Kita akan melibatkan Jessica sebagai bagian dari proyek ini.” Kenan menoleh spontan. “Sebagai brand face dan strategic model,” jelas Bella. “Bukan sekadar wajah iklan.” Jessica tetap duduk tenang, tangannya terlipat di atas meja. Bella menekan remote. Slide baru muncul—profil Jessica. “Jessica punya engagement kuat di market lifestyle dan kuliner...Belum lagi merupakan salah satu aktris yang berpengaruh saat ini. Image-nya bersih, dewasa, dan dipercaya. Dia bukan cuma model, tapi modal branding kita untuk masuk pasar premium. Audience-nya tepat.” Kenan menelan ludah. “Jadi… aku harus ambil proyek ini?” “Iya,” jawab Bella lugas. “Kamu urus konsep bisnisnya. Jessica membantu membentuk citra produk. Ini kolaborasi.” Ariko menambahkan, “Secara profesional, ini keputusan terbaik.” Kenan bersandar. Kepalanya mendadak penuh. Di satu sisi, ia ingin kabur—dari meeting ini, dari proyek ini, dari semua tuntutan hidupnya. Di sisi lain… sekarang ia benar-benar terjebak harus bekerja dengan perempuan asing yang bahkan tak ia kenal, sementara hidup pribadinya sendiri sedang hancur. Jessica akhirnya bicara. Suaranya tenang, jelas. “Kalau ada batasan profesional yang perlu dijaga, saya terbuka untuk dibicarakan.” Nada itu… dewasa. Tidak menuntut. Tidak memaksa. Kenan menatapnya lebih lama kali ini. Lalu kembali menunduk. Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak tiga bulan terakhir, pikirannya teralihkan—meski hanya sedikit—dari nama yang masih menghantuinya. Dan ia belum tahu… bahwa pertemuan di ruang meeting lantai sembilan ini. adalah awal dari kekacauan hidupnya yang sesungguhnya. To Be Continued…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD