Anvaya Dante Sadajiwa

1337 Words
“Oh, Ah...” “Ah, yes Babe! Yes... please... please! Please fas—Oh handsome, sungguh kamu sudah selesai?” Mata bulat berbulu lentik palsu itu seketika terbuka saat pinggul pria di atasnya ini berhenti bergerak, lalu menarik diri. Suara tidak ada seksi-seksinya. Justru rancau yang menjijikkan itu—yang terlalu berisik ditelinganya membuat Dante kehilangan mood-nya, seketika wajah sang perempuan yang bahkan Dante sendiri lupa namanya itu, berubah menjadi tatapan muram penuh protes. “Kenapa? Aku hampir klimaks!” tanyanya saat berusaha menahan tangan Dante agar mau meneruskan kesenangan mereka, namun ia tepis seketika. Dia menjauh, tanpa berniat menutupi tubuhnya langsung melepas pelindung yang masih melekat dan melemparnya ke tempat sampah. Matanya melirik nakal pada bagian pusat tubuh Dante yang masih menegang, “hei, kamu bahkan masih—“ Tanpa menoleh apalagi berniat menjawab, meski sadar tatapan perempuan itu terus mengikutinya, Dante menuju brangkas. Mengambil sejumlah uang, kemudian melemparnya ke atas ranjang. Lebih tepatnya di hadapannya. “Kurasa itu cukup untukmu. Kompensasi, juga ongkos taksi.” “Apa?!” Dia tidak terima, langsung turun dari ranjangnya. “Kamu tidak bisa memperlakukanku begini?” Persetan! Drama murahan! Dante menahan diri untuk tidak mengumpat lebih kasar. Ia tidak suka membuang waktu, apalagi perlu menenangkan dirinya yang setengah jalan malam ini. Tanpa menjawab, Dante meraih ponselnya dan bicara dengan orang kepercayaannya. “Hans, pastikan kirim orang ke sini untuk menarik Julia ini pergi jika sampai lima belas menit tidak terlihat turun dari apartemenku.” Mata wanita itu melebar sempurna, tengkuknya seketika merinding bukan hanya membayangkan orang-orang Dante akan menyeretnya. Tapi, cukup dengan suara dingin dan tatapan telak yang akhirnya membuat dia segera beranjak memunguti pakaiannya dan memakainya. “Kamu b******k!” makinya dengan sisa keberaniannya. “Ya, aku memang b******k. Tidak ada laki-laki baik-baik yang akan mengajakmu having s*x Nona... dan kamu mengizinkan itu terjadi. Kamu sudah sepakat, saat setuju ikut denganku.” Perempuan itu menahan kesal, setelah berpakaian tidak juga angkat kaki yang membuat Dante menaikkan satu alisnya, “tunggu apa lagi?” Tatapan Dante mengikuti gerakan perempuan itu yang tentu saja tidak akan melewati beberapa lembar uang yang Dante berikan. Ia memungut dan mengantunginya, kemudian berkata, “satu lagi, namaku bukan Julia... Entah itu nama siapa yang kamu sebut tadi.” “Ya, aku tidak mengingat namamu... mungkin nama yang kusebut barusan, nama perempuan yang bertemu di pesta minggu lalu, bulan lalu... Tidak penting mengingatnya termasuk mengingatmu.” Dante berbalik menuju kamar mandi setelah mengatakan dan memastikan perempuan itu pergi dari sana. Dia menarik napas dalam-dalam, memilih menuntaskan kebutuhannya sendiri dengan air dingin malam ini. Setelah selesai, ia berjalan keluar dan memilih tidur sebab besok awal minggu baru dimulai dan dia tidak bisa kacau karena keadaan malam ini. *** Anvaya Dante Sadajiwa masih berbaring, tubuh atletisnya terlilit selimut linen abu gelap. Udara kamar sejuk, terlalu hening seperti rutinitas yang sudah tertanam, hal pertama yang ia lakukan bukan membuka mata lebar, melainkan memastikan terbangun hanya seorang diri. Pandangan matanya menyapu ruangan. Sepi. Tas maupun pakaian perempuan yang semalam datang jelas sudah tak terlihat. Sepatu hak tinggi yang sempat tergeletak di dekat karpet juga sudah menghilang. Ia tidak lupa jika semalam, bahkan tidak tuntas sudah bosan dan mengusir perempuan itu dari sana. “Hm!” Dengan kepala masih sedikit berat, ia duduk perlahan di sisi ranjang, meraih botol air kaca dan menuangkan ke gelas dan meneguk butir obat pereda sakit kepalanya dari laci kecil di samping tempat tidur. Tangannya terlatih, dingin, cekatan, seperti segala sesuatu dalam hidupnya yang selalu terjadwal. Tangannya masih memegang gelasnya, tangan lain meraih ponsel dan mulai membuka pesan-pesan yang ia abaikan sampai detik ia membuka satu pesan dari Ibunya. Tangannya menggenggam gelas terlalu erat sebelum begitu saja melempar gelasnya ke lantai. Suara benturan kaca dan ubin kerasnya terdengar nyaring. Garis-garis rahangnya mengeras, cukup gelas, ia menahan keinginan juga untuk melempar ponsel dalam genggamannya sampai telepon masuk dari Hans, orang kepercayaanya yang harus merangkap atur agendanya selama sekretaris baru belum ada. Ia angkat tanpa menatap layar. “Ya, bicaralah!” suaranya serak, berat, dingin. “Selamat pagi, Pak Dante. Saya ingin mengingatkan agenda hari ini untuk meeting jam sepuluh, lalu setelah makan siang, menggantikan Komisaris Utama bertemu dengan dengan Pak Harsono dari pihak Global Maxs.” Dante segera bangun, kakinya turun mengenakan sandal khusus dalam rumahnya. Ia berjalan menuju kamar mandi. “Apa mereka sudah menemukan sekretaris baru? Mencari sekretaris untukku saja tidak becus!” tanyanya datar. Padahal jelas ia yang seringnya membuat masalah, tidak betah para sekretarisnya. “Sudah mulai hari ini, Pak. Namanya Reema Kanaya.” Hans menjawab dengan sabar. Hening sejenak. Dante menghela napas pelan. Namanya asing. “Pastikan kali ini sekretaris dengan otak, dan cekatan. Bukan seperti jalang penggoda, seperti yang terakhir! Ceroboh, bodoh!” Ia mengingatkan berulang. Hans menarik napas dalam-dalam, “kali ini dipastikan sesuai standar yang Pak Dante inginkan. Cerdas, cekatan.” Dante menutup teleponnya. Tidak ada waktu berlama-lama. Beberapa menit kemudian, Dante muncul dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit basah, jubah mandi hitam menempel rapi di tubuhnya. Ia berjalan ke ruang wardrobe—ruangan yang lebih luas dari kamar tidur biasa pada umumnya. Ia menoleh ke pecahan gelas yang dilemparnya tadi, sudah dibersihkan. Tempat tidurnya pun sudah rapi. Ia memilih satu set pakaian dan memakainya. Wajah dingin, mata gelap, dan raut yang nyaris tak memberi ruang untuk kelembutan. Pagi ini akan panjang. Dan ia tidak punya waktu untuk kesalahan pertama terutama yang dilakukan sekretaris barunya nanti. *** “Hans,” panggilnya, “jika Mamiku menanyakan agendaku, bilang aku sangat sibuk sampai tidak bisa menuruti kencan buta yang dia atur terus-menerus.” “Tapi, Pak—“ “Tidak ada tapi-tapi, Hans.” Potongnya cepat, membuat Hans terdiam, Dante mengepalkan tangannya menatap keluar jendela, “mereka mengharapkan pernikahan dariku?” Hans melirik melalui kaca spion tengah. “Mereka yang membuat pernikahan seperti neraka dimataku.” Gumamnya. “Dan perempuan-perempuan itu, dimataku sama saja.” “Dari sekian banyak yang dekat sama Pak Dante, apa tidak ada yang bisa membuat Bapak jatuh cinta?” “Tidak ada. Cinta? Hanya omong kosong, Hans... Jika benar cinta itu ada, dan aku menemukan perempuan yang bisa membuatku bertekuk lutut mencintainya, maka akan kupastikan hanya dia satu-satunya perempuan yang akan kunikahi.” Perkataannya bertepatan dengan mobil hitam mengilap berhenti mulus di depan lobi gedung Sadajiwa Konstruksi. Seorang petugas keamanan langsung membukakan pintu belakang, dan dari dalam Dante turun dengan langkah pasti. Sepatu yang digunakannya begitu licin dan mengkilap. Setelan jas jatuh sempurna di bahu tegap, dan kacamata hitam membingkai sorot matanya yang dingin, nyaris tak terbaca. Dari luar, ia terlihat seperti pria yang punya segalanya. Dan memang begitu kenyataannya. Begitu pintu lift terbuka ke lantai dua puluh tiga, aroma khas ruangannya menyambut lebih dulu. Aroma ruangan yang khas. Namun pagi ini, ada sesuatu yang sedikit berbeda. Seseorang asing berdiri di luar pintu ruangannya. Perempuan. Wajah baru. Dia... Dante menghentikan langkahnya sejenak. Melepas kaca mata hitamnya untuk mengintai tubuh ramping, pakaian rapi, rambut tertata sederhana, dan sorot mata yang mencoba terlihat tenang meski ada gugup yang samar. Ia menilai dalam satu lirikan cepat—cara berdiri, cara menempatkan tangan saat membungkuk memberi salam, bahkan detak gugup di tulang rahang yang mengeras tanpa sadar. Hans bilang siapa tadi namanya? Yena, Lena.... batinnya coba mengingat nama yang sebenarnya sederhana tapi dasarnya Dante tidak terlalu peduli, kecuali wajahnya menarik perhatian dengan cara yang tidak seharusnya terjadi di hari pertama. “Selamat pagi, Pak Dante. Saya Reema Kayana, sekretaris baru Anda.” Suaranya sopan, jernih. Tidak terlalu lembut, tapi tidak juga kasar. Nada yang biasanya mudah ia abaikan. Dante menatapnya. Diam. Tidak menjawab salam perkenalan yang ia siapkan dan latih sebaik mungkin. Matanya mengunci wajahnya. Begitu halus, begitu muda. Namun, tidak cukup menghentikan penilaian penampilannya. “Ini perempuan yang terpilih menjadi sekretaris saya?” Tanyanya pada Hans dan lainnya yang bertugas mendampingi Reema. Nasa dengan meremehkan, tatapan dingin yang menusuknya. Memindai dari ujung kepala hingga kaki, tentu saja membuat kepercayaan diri Reema dikuliti habis-habisan, “gaya pakaian apa ini? Gayanya kampungan sekali, sangat tidak mencerminkan sekretaris yang pantas untuk bekerja dengan saya! Sama sekali merusak pandangan saya!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD