BAB 6

1043 Words
" Oh sudah berani muncul rupanya " ucap Kanaya saat melihat Amira adik Andika datang. Tentu saja semua yang ada di sana menoleh ke arah Naya, kecuali Shaka yang memang selalu minim ekspresi. Naya yang di tatap banyak orang terlihat hanya tersenyum sinis, tatapannya lurus pada Amira yang kini di peluk oleh Bu Dina. " Ka Kak Naya ngomong sama aku? " ucap Amira terbata. " Ehh..loh, kok Mas Shaka? " ucap Amira lagi terkejut entah sungguh terkejut atau pura - pura terkejut. Namun seperti biasa Shaka hanya diam enggan menanggapi. " Ma, Kak, ini gimana maksudnya? " tanya Amira dengan wajah yang terlihat bingung. Naya bertepuk tangan terlihat senyum manis terbit di wajahnya. " Amira Amira, kamu polos banget ya, saking polosnya sampe bikin aku eneg " ucap Naya. " Naya! " Bentak Andika. " Jangan bentak adek gue sialan! " ucap Gio dengan lantangnya. Terlihat Naya menoleh pada sang kakak, lalu mengangguk pelan pertanda dirinya tidak apa - apa. " Andika! " ucap Naya tegas. Degh! Dada Andika tiba - tiba terasa nyeri saat mendengar Naya memanggil dirinya dengan sebutan namanya saja, biasanya Naya akan bermanja memanggilnya dengan sebutan sayang. " Sayang " ucap Andika. Namun Naya segera mengangkat satu telapak tangannya pertanda ia ingin Andika berhenti bicara. " Ini acara ku, ku harap kau dan keluarga mu keluar dari sini " ucap Naya. " Sayang, kita harus bicara " ucap Andika. " Nggak ada yang perlu di bicarakan lagi " ucap Naya. " Tapi sayang " ucap Andika. " Berhenti memanggilku seperti itu! " Bentak Naya. " Kak Naya! " ucap Amira membentak Kanya. " Apa! kau mau pura - pura lemah lembut, kau mau bertingkah sebagai penyelamat kali ini? " ucap Naya menatap tajam Amira. " Ka, kak, Kak Naya ngomong apa " ucap Amira takut - takut. " Oke karna kamu sekarang bertingkah jadi orang bodoh, maka aku yang akan bertingkah menjadi orang pintar, bukan kah hidup ini harus seimbang, iyakan? " ucap Naya seraya tersenyum sinis. Naya yang sejak tadi berbicara dengan posisi masih duduk di kursi akad, kini berdiri, terlihat dengan sangat jelas balutan kebaya putih dengan desain yang terlihat sederhana namun ada butiran beberapa mutiara di beberapa titik terlihat pas dan cantik melekat di tubuh Kanaya. Terlihat Andika terpana dengan kecantikan mantan calon istrinya itu, bahkan Andika tak berkedip saat melihat penampilan Kanaya sampai tak sadar jika Naya kini berada di hadapan nya. " Tak tak tak " Suara jentikan jari Naya menyadarkan Andika. " Kau tau bukan, jadwal untuk hari ini sudah dua keluarga susun jauh - jauh hari, matang dan rapi " ucap Naya. Terlihat Andika mengangguk kaku. " Kalau kau tau, kau kemana tadi hah? " Bentak Naya seraya menunjuk Andika. " Sa, Na Naya, aku bisa jelaskan " ucap Andika terbata. " Nggak perlu, aku udah tau, kau sedang mengurus adik tirimu itukan! " ucap Naya seraya menunjuk ke arah Amira tanpa menatap ke arah Amira. " Naya! " Pak Boby kelepasan membentak Kanaya. " Jangan bentak anakku! " kini Giliran pak Bagas yang membentak Pak Boby. Pak Boby langsung kicep saat mendapat bentakan tatapan tajam dari pak Boby. " Naya sayang, dengarkan mama dulu ya nak, Amira sedang ujian, malah hari ini belum selesai ujian tapi Amira bela - belain datang demi kamu dan Andika " ucap Bu Dina, karena memang Amira berkata jika ia tidak bisa hadir di acara penting sang kakak karena ada jadwal ujian, dan berjanji akan pulang ke esokan harinya. " Yakin tan, anak tante itu sedang ujian? bukan sedang bermesraan sama kakak laki - lakinya " ucap Naya pada Bu Dina. " Naya! " Bentak Andika. Namun belum sempat Andika kembali bersuara, Naya menunjukkan layar ponselnya pada seseorang yang kebetulan berada di dekatnya. " coba anda lihat, apakah pantas seorang kakak adik seperti ini, apalagi mereka bukan saudara kandung " ucap Naya pada orang itu. Orang itu mendelik saat melihat dua foto disana, dimana ada satu Andika yang tengah terlelap, di sampingnya Amira berada di sampingnya dengan menggunakan selimut tapi bahunya terekspos seolah tidak mengenakan pakaian, foto satunya lagi Andika yang tengah duduk dengan mata terpejam, dengan posisi merengkuh tubuh Amira. " Anda lihat siapa pengirimnya, dan waktu di kirim " ucap Naya. " Amira Putri, jam delapan pagi " ucap Orang itu. Naya tersenyum dan mengangguk pada orang itu, lalu meminta ponselnya lagi. " Bohong! " ucap Bu Dina. Naya memperlihatkan ponselnya pada Andika. " Sa, sayang aku bisa jelasin, ini nggak seperti yang kamu kira, aku cuma mau jemput Mira, katanya demam, jadi rencana nya mau sekalian ku bawa pulang biar bisa datang ke acara kita, tapi aku kesiangan bangunnya " Jelas Andika. " Bodoh! " ucap Kanaya singkat. " Kak Naya, maaf kalau gara - gara aku Kak Dika jadi terlambat " ucap Amira sedih. " Nggak! nggak aku maafin, kamu sengaja " ucap Naya. " Kak Naya " ucap Amira. " Kamu masih punya ingatan kan, kalau nomor kamu yang kirim pesan ini " ucap Naya. " Kak, ponsel aku, ponsel aku " ucap Amira bingung. " Ponsel kamu hilang? ponsel kamu di hack! " ucap Naya. " Udah, aku nggak mau ada keluarga Winata lagi di sini, tolong usir mereka " ucap Naya. " Mira! bisa kamu jelaskan " ucap Andika pada Amira. " Heh Dika! Jangan ribut di sini, ribut saja di rumah kalian, kalau nggak tau jalan keluar biar satpam yang seret " ucap Naya, lalu Naya berbalik dan tatapan matanya bertemu dengan Shaka yang kini menatap dirinya. Naya menunduk lalu melanjutkan langkahnya dan kembali duduk di samping suaminya. Sementara Amira, di seret paksa oleh Andika, di belakang keduanya terlihat Pak Roby dan Bu Dina mengikuti tanpa berkata apapun dengan wajah menunduk. ------------- Setelah acara akad selesai meskipun terganggu dengan kedatangan Andika, akhirnya semuanya berjalan dengan lancar. Dan kini Naya dan Shaka, tengah duduk berdampingan di ranjang kamar Naya tanpa berkata apapun. Keduanya di minta beristirahat karena malam hari adalah acara resepsi mereka, jadi semua keluarga termasuk Naya dan Shaka di minta beristirahat dahulu agar tidak terlalu lelah nanti. Shaka tiba - tiba berdiri, dan melangkah menuju kearah pintu, saat melihat Shaka memegang knop pintu, Kanaya refleks bersuara. " Mau kemana? " tanya Kanaya. Shaka menoleh, " Kau mau ku sentuh? " Bukannya menjawab Shaka malah bertanya kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD